Mencari Manager Tigatan

Sebuah kisah inspiratif, untuk orang tua manager dan calon manager.

Ada sebuah perusahaan berbadan hukum sebut saja perusahaan tersebut bernama PT. Usaha Besar. Suatu saat perusahaan ini membutuhkan calon manager. Perusahaan ini sengaja memasang iklan guna merekrut pegawai baru yang akan dijadikan manager perusahaan, dengan memasang iklan di koran agar banyak yang membacanya sehingga banyak yang akan disaring.

Iklan itu berbunyi: MENCARI MANAJER TIGATAN
Sebuah perusahaan multi nasional mencari calon seorang manager minimal pendidikan Diploma Tigatan (Tangguh, Tanggap, Tanggon), dari semua Jurusan.

Perusahaan ini termasuk besar dan memiliki beberapa cabang. Datanglah beberapa pelamar, dan disaringlah pelamar-pelamar itu, diambil yang memiliki nilai akademis tinggi, dan mengerucut tinggal 2 orang.

Diantara 2 orang itu kemudian dipanggil untuk wawancara awal, dan keduanya dinyatakan lulus seleksi calon manager di perusahaan itu.

Tibalah saatnya akan bertemu dengan seorang Direktur untuk wawancara akhir.

Pemuda pertama masuk, dari Curiculum Vitae (CV)-nya sang direktur mengetahui bahwa prestasi akademis pemuda itu sangat baik.

Dia bertanya, “Apakah Anda mendapat beasiswa di sekolah …?”
Pemuda itu menjawab, “TIDAK”.

“Siapa yang membayar biaya sekolah …?”, tanya Direktur.
“Orangtua,” jawabnya.

“Di mana mereka bekerja ……?”, lanjut Direktur.

“Mereka bekerja sebagai tukang cuci pakaian.”, jawab pemuda itu.

Direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya.
Pemuda itu menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna.

DIrektur bertanya lagi, “Pernahkah Anda membantu orangtua Anda mencuci pakaian?”

Pemuda menjawab dengan lancar, “Tidak pernah.
Orangtua saya selalu ingin saya belajar dan membaca buku lebih banyak.
Selain itu, orangtua saya bisa mencuci pakaian lebih cepat dari saya.”

Direktur mengatakan,
“Saya punya permintaan.
Ketika Anda pulang hari ini,
temui dan bersihkan tangan orangtua Anda.
Dan silakan kemari lagi untuk menemui saya besok pagi.”

Pemuda itu merasa sedih.
Ketika ia kembali ke rumah,
Ia pun berfikir agar besok pagi kalau menghadap Direktur siap menjawab semua pertanyaan, maka harus bisa menjawab dan tidak bohong atau mereka-reka.

Sesampai di rumah si Pemuda, meminta orangtuanya membiarkan dia membersihkan tangan mereka.
Seketika itu orangtuanya heran dan merasa aneh. “Ada apa ini”, gumam ibu pemuda itu.
Senang… terharu…
tapi dengan perasaan campur aduk,

Mereka menjulurkan tangan mereka kepada sang anak, dan pemuda itu membersihkan tangan ibunya perlahan-lahan.
Airmatanya meleleh perlahan saat ia melakukan itu.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat ……
Tangan orangtuanya begitu kusut, dan….
begitu banyak lecet di tangan mereka.

Beberapa luka lecet itu membuat mereka
mengeluh sakit saat ia menyentuhnya,
“Aduh nak agak perih”, rintih ibunya. Padahal keseharian kalaupun perih sang ibu mampu menahannya.

Ini adalah pertama kalinya pemuda itu menyadari
bahwa sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap hari inilah
yang memungkinkan dia untuk membayar biaya
sekolah.

Lecet-lecet di tangan adalah harga yang harus dibayar orang tuanya
untuk pendidikan, kegiatan sekolah dan masa depannya.

Setelah membersihkan tangan orangtuanya,
pemuda ìtu diam-diam mencuci semua pakaian yang masih tersisa.
Malam itu, orangtua dan anak berbincang untuk waktu yang sangat lama.

Keesokan paginya, pemuda itu pergi ke kantor Direktur.
Direktur melihat airmata di mata pemuda itu,
kemudian sang Direktur bertanya:
” Apa yang telah Anda lakukan di rumah Anda kemarin ….?”

Pemuda itu menjawab,
“Saya membersihkan tangan orangtua saya,
juga mencuci semua pakaian yang tersisa sampai selesai.”

“Pelajaran apa yang Anda peroleh..?”, tanya Direktur.

“Saya sekarang tahu apa artinya cinta dan pengorbanan orang tua saya.
Tanpa orangtua saya, saya tidak akan menjadi diri saya hari ini “, jawab pemuda dengan lirih.

Dengan membantu orangtua saya,
saya baru menyadari betapa sulit mencapai tujuan kalau dilakukan sendiri.
“Saya menghargai pentingnya saling membantu dalam keluarga.”, ungkap pemuda itu.

Direktur mengatakan,
“Inilah yang saya cari pada diri seorang manajer.
Saya ingin merekrut orang yang dapat menghargai bantuan orang lain.
Orang yang tahu penderitaan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu,
Orang yang tidak menempatkan uang sebagai satu-satunya tujuan hidup.”

“Anda diterima kerja.”, pungkas Direktur
“Terima kasih, Direktur, saya telah diterima di perusahaan ini”, pemuda membalas jawaban sang Direktur.

“Sekarang pulanglah dan sampaikan salam saya kepada ibumu, besok pagi Saudara sudah bisa langsung bergabung bersama kami”, pintanya.

Hikmah dari Kisah Inspiratif ini.

Wahai para orang tua…..
Seorang anak, yang terlalu dilindungi,
dimanjakan apa pun yang ia mau,
akan mengembangkan “mentalitas hak” dan
akan selalu mengutamakan dirinya sendiri.

Dia akan mengabaikan upaya orangtuanya.

Jika kita menjadi orangtua yang terlalu melindungi,
bukan berati mencintai anak-anak dengan cara yg benar.
Bukankah malah menghancurkan mereka…?

Boleh membiarkan anak tinggal di sebuah rumah besar,
makan makanan yang baik, belajar piano, menonton TV layar lebar.

Tapi ketika Anda membersihkan rumah,
ajak mereka juga melakukannya.

Setelah makan,
biarkan anak-anak mencuci piring dan mangkuk sendiri.

Bukan karena tidak punya uang untuk membayar pembantu,
tetapi karena ingin mencintai anak-anak dengan cara yang benar.
Agar mereka mengerti, kendati orangtua mampu.

Suatu hari kita akan menjadi tua dan tak berdaya.
Betapa bahagia mempunyai anak yang mengerti.

Didik dan bimbinglah anak Anda
agar belajar bagaimana menghargai jerih payah orang tua,
juga orang orang lain dalam mencapai tujuan. Begitupun sebaliknya.

Orang tua juga harus menghargai anak, supaya menjadi teladan anak-anak untuk mengerti bagaimana cara menghargai jerih payah orang lain yang benar.

Pengertian

Tangguh artinya memiliki karakter sekaligus kekuatan, seorang yang tangguh tentu saja mempunyai ilmu yang di dukung karakter.

Tanggap artinya mampu mendengar dan mengerti, dan apa yang didengar dan melaksanakannya, seseorang yang tanggap tentu saja akan dapat melakukan sesuatu dengan benar.

Tanggon artinya dapat diandalkan, seorang yang tanggon tentu saja akan bertanggung jawab dari apa-apa yang ia kerjakan.

Semoga bermanfaat.

Diolah dari artikel kiriman LikKasjo @Kissparry

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.