Aphelion, Keadaan di Bumi Bertambah Dingin

Anda pasti merasakan akhir-akhir ini cuaca di sekitar kita terasa dingin terutama di malam dan pagi hari. Hal tersebut karena posisi Bumi berada di titik terjauh dari Matahari, itulah yang disebut dengan Aphelion.

Ketika Kissparry memperoleh pesan di Medsos bahwa udara dingin di Indonesia akhir-akhir ini disebabkan Aphelion. Masuk akal juga ya… tetapi Kissparry tidak menyebarkannya.

Aphelion atau tidak yang kami ingat ketika musim kemarau biasanya cuaca di pagi hari cukup dingin. Apalagi Kissparry kecil tinggal di Boyolali.

Aphelion dan Perihelion

Sejak dahulu juga sudah sering terjadi, namun paling-paling bertanya-tanya, kok dalam beberapa hari terakhir ini dingin banget ya.

Nah sekarang ini telah tahu jawabannya, karena kita di Bumi sedangkan Bumi berada di titik APHELION. Begitulan informasi yang beredar di media sosial (Medsos).

Pada 6 Juli 2018, Bumi berada di titik Aphelion yaitu posisi Bumi berada jauh dari matahari, itu menyebabkan suhu Bumi menjadi lebih dingin dan mencapai titik minimumnya.

Terasa dingin bukan hanya tanggal 6 Juli saja tetapi beberapa hari sebelumnya dan beberapa hari sesudahnya.

Dalam bidang astronomi, ada sebuah istilah bernama Aphelion. Orbit Bumi itu tidak bulat sempurna, tapi berbentuk elips. Bumi mengorbit di Matahari dalam waktu 365 hari.

Aphelion berarti jarak terjauh yang dicapai Bumi dalam orbitnya mengelilingi Matahari. Sedangkan kebalikannya adalah Perihelion, yaitu jarak terdekat Bumi dengan Matahari.

Maka itu, akan ada waktunya Bumi berada di titik terjauhnya dan juga di titik terdekatnya dengan Matahari.

Aphelion tahun ini terjadi 6 Juli 2018 pukul 23.48 WIB.
Karena puncaknya terjadi saat malam hari, maka kita yang berada di Indonesia dan sekitarnya tidak bisa melihat peristiwa ini, hanya saja suhu udara menjadi lebih dingin.

Kita telah mengetahui istilah baru Aphelion dan Perihelion, dalam ilmu pengetahuan Bumi dan Antariksa.

Suhu Dingin di Indonesia karena Hembusan Angin dari Australia

Beberapa sumber menyebutkan bahwa Aphelion tidak berkait dengan udara dingin yang di Indonesia, yang terjadi akhir-akhir ini.

Bahkan informasi yang disampaikan di kompas.com mengenai Aphelion bikin suhu udara dingin dinyatakan informasi hoax dan informasi yang dilebih-lebihkan. Fenomena Aphelion yang bikin suhu udara dingin merupakan informasi hoaks.

Sebenarnya fenomena aphelion ini adalah fenomena astronomis yang terjadi setahun sekali pada kisaran bulan Juli. Sementara itu, pada waktu yang sama, secara umum wilayah Indonesia berada pada periode musim kemarau.

Hal ini menyebabkan seolah aphelion memiliki dampak yang ekstrem terhadap penurunan suhu di Indonesia.

Padahal pada faktanya, penurunan suhu di bulan Juli belakangan ini lebih dominan disebabkan karena dalam beberapa hari terakhir di wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, NTB, dan NTT kandungan uap di atmosfer cukup sedikit.

Hal tersebut terlihat dari tutupan awan yang tidak signifian selama beberapa hari terakhir. Uap air dan air merupakan zat yang cukup efektif dalam menyimpan energi panas. Rendahnya kandungan uap air ini menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh bumi ke luar angkasa saat malam hari tidak tersimpan di atmosfer dan energi yang digunakan untuk meningkatkan suhu atmosfer di atmoster lapisan dekat permukaan bumi tidak signifikan.

Pada bulan Juli, wilayah Australia berada dalam periode musim dingin. Sifat dari massa udara yang berada di Australia tersebut dingin dan kering, serta adanya pola tekanan udara yang relatif tinggi di Australia menyebabkan pergerakan massa udara dari Australia ke Indonesia semakin signifikan sehingga berimplikasi pada penurunan suhu udara yang cukup signifikan pada malam hari di beberapa wilayah Indonesia, khususnya Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Nusa Tenggara Timur.

Ditegaskan oleh Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin, kondisi cuaca yang terjadi saat ini tak ada hubungannya dengan aphelion. Suhu udara itu dipengaruhi distribusi panas di bumi akibat perubahan tahunan posisi matahari. Seperti di kutip dari liputan6.com dari akun facebook-nya.

Sementara itu Menurut Kepala Bagian Humas Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Hary Tirto Djatmiko, suhu dingin terjadi karena Indonesia mengalami puncak musim kemarau pada Juli sampai Agustus ini.

“Dengan indikator aktifnya monsun Australia, Indonesia mendapatkan pengaruh dari aliran massa dingin dari Australia yang menuju ke Asia,” ujar Hary dalam keterangannya kepada Liputan6.com, di Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Aliran massa dingin itu, jelas dia, menyebabkan perubahan suhu menjadi lebih dingin di sejumlah wilayah Indonesia yang berada di sebelah selatan garis khatulistiwa. Mulai dari Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTT, Bali.

“Adapun yang beredar di media sosial mengenai suhu di Bandung yang mencapai 15°C saat ini bukanlah yang terdingin. Suhu minimum yang terjadi di Bandung pernah 12,4°C pada Juli 1986 dan di Lembang pernah 9,8°C pada Juli 1991. Artinya suhu sekarang masih berada di tatanan normal,” jelasnya.

Ia menegaskan, saat ini Indonesia memang berada di puncak musim kemarau yang ditandai dengan suhunya lebih dingin, siang lebih panas, anginnya lebih kencang. “Masyarakat diingatkan tak perlu khawatir dan resah. Yang penting mempersiapkan diri menghadapi udara dingin ini,” kata Hary.

Simpulan Ringan

Bila kita perhatikan gambar di atas tentang Aphelion yang dikatakan suhunya bertambah dingin, tetapi saat Pherihelion di wilayah Indonesia juga terasa dingin.

Saat bulan Juli di pengaruhi udara dingin yang berhembus dari Australia ke Indonesia, sedang pada bulan Januari Desember di pengaruhi oleh musim penghujan di Indonesia.

Kita perlu membayangkan saat berada di puncak gunung, mengapa begitu dingin, bahkan puncak Jaya di Indonesia juga ada salju abadi, termasuk puncak gunung Himalaya dan sekitarnya.

Artinya semakin ke atas itu juga bisa bertambah dingin, padahal semakin ke atas berarti semakin dekat dengan matahari. Tetapi kalau terus lebih mendekati Matahari tertuanya semakin panas. Keatasnya berapa jauh ini juga menjadi pertanyaan.

Yang jelas ini tentang hoaks atau tidak masyarakat awam tahu apa yang ada dan terjadi pada fenomena alam ini.

Sehingga seperti Kissparry yang tadinya tidak kenal istilah Aphelion menjadi tahu, istilah tersebut. Kissparry juga yakin yang melempar informasi ke masyarakat tentang Aphelion juga kalangan yang tahu tentang Bumi dan antariksa, kemudian di balas oleh orang yang tahu pula.

Semoga bermanfaat

Oleh Kissparry
Editor Kissparry Wea
Diolah dari berbagai sumber, diantaranya telah terbit, dan sumber utama dari Medos.

  • artikel di Kompas.com dan telah tayang dengan judul “[HOAKS] Aphelion Terkait Suhu Dingin di Indonesia”, penulis Mela Arnani
  • artikel di Liputan6.com dan telah tayang dengan judul “Suhu Dingin Dikaitkan dengan Aphelion, Ini Penjelasan Lapan”, penulis Muhammad Ali
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s