ADA CINTA DIBALIK RASA 09
(Tien Kumalasari)
Usman berdiri beberapa saat, sampai Raharjo dan tamunya melangkah keluar menuju pintu.
Anjani diam membisu, tak bereaksi, meneruskan menyendok makanannya seperti terburu-buru, karena ingin segera pulang setelah makan.
“Itu tadi pak Raharjo. Pengusaha batik terkenal. Pabrik ku sering mengambil batik dari sana.”
Anjani terkejut. Perusahaan batik? Raharjo? Apa ada hubungannya dengan perusahaan yang dia tadi melamarnya? Sudah tua tapi kharismatik. Pasti iya. Anjani tersenyum dalam hati. Kelak kalau dia diterima, dia akan menjadi karyawan pak Raharjo. Pria setengah tua yang karismatik, murah senyum dan matanya teduh.
“Kalau kamu melamar ke sana, aku bisa merekomendasikan agar kamu bisa diterima di sana.”
Anjani tak menjawab. Ia tak mau lagi menambah utang budinya kepada Usman, dengan tambahan rekomendasi dari dia. Anjani bahkan berharap agar dia tak diterima diperusahaan batik itu, kalau nanti Usman merasa berjasa. Tapi tidak, Anjani tidak mau mengatakan ke mana dia melamar. Lebih-lebih mengatakan bahwa dia besok akan memenuhi panggilan wawancara.
“Kamu makan begitu cepat. Mau nambah lagi? Pesan apa?”
“Tidak, ini sudah cukup,” katanya sambil menutupkan sendok garpunya di atas piring, lalu meneguk minumannya, dan mengelap bibirnya.
Ketika membuka tas kecilnya, dia teringat pada gelang motenya yang hilang. Harapan untuk menemukannya sudah pupus. Gelang itu hanya terbuat dari mote. Ketika orang menemukannya, pasti menganggap bahwa benda itu tak berharga. Barangkali sudah dibuang ke tempat sampah. Sedih Anjani memikirkannya.
“Memikirkan apa? Dari tadi seperti melamun.”
“Sudah makan, saya ingin segera pulang.”
“Sebentar, ini belum terlalu malam. Bagaimana kalau jalan-jalan ke mal? Disana ada butik terkenal, kamu boleh memilih baju atau pesan model baju seperti yang kamu inginkan..”
“Baju untuk apa? Di rumah sudah banyak baju. Meskipun tidak mahal, tapi cukup untuk saya.”
“Apa kamu lupa? Maksudku baju untuk pernikahan kita nanti. Meskipun masih lama, tapi kita bisa pesan yang bagus, dari desainer terkenal, jangan sampai memalukan, aku ini pengusaha. Masa sama dengan orang biasa,” ucapnya sombong. Membuat Anjani kembali merasa mual. Sudah tua mau menikah dengan suasana mewah, memalukan.
“Bagaimana menurutmu?”
“Aku belum memikirkannya,” jawabnya singkat.
“Kalau kita memilih yang terbaik, tidak bisa cepat selesai, pasti memakan waktu, bisa berbulan-bulan.”
“Entahlah,saya belum ingin memikirkannya.”
“Kita lihat saja sekarang, barangkali kamu bisa memilih.”
“Kapan-kapan saja, saya hanya ingin cepat pulang. Tidak bisa meninggalkan bapak terlalu lama.”
“Ayahmu kan tahu, bagaimana anak muda yang sudah bertunangan pergi berdua. Masa tidak bisa memaklumi.”
Anjani hampir tertawa, mentertawakan ucapan ‘anak muda’ yang terucap dari bibir Usman. Muda apanya? Pemikiran itu memunculkan senyuman sinis di bibir Anjani.
“Kamu jangan mentertawakan aku. Biarpun aku agak tua, tapi jiwaku masih muda. Kamu bisa membuktikannya nanti.”
Anjani tak menjawab. Ia menghabiskan minumannya dengan wajah kesal.
Sebenarnya Usman merasa kesal karena Anjani selalu menunjukkan sikap menjengkelkan setiap sedang bersamanya. Bukan hanya wajahnya yang masam, tapi ucapannya tajam setajam silet. Tapi Usman berusaha sabar.
Ia ingin menunjukan kesan baik dihadapan Anjani, agar kelak dia mengerti, betapa sabar dan penuh pengertiannya laki-laki yang dianggapnya tua dan dia seperti mentertawakannya, walau dalam hati..
“Baiklah, kamu benar-benar tak ingin jalan-jalan dulu? Lihatlah, aku tadi melihat rembulan sedang bersinar terang. Suasananya sangat romantis, kalau kita berjalan berduaan bermandikan cahaya bulan pasti sangat menyenangkan.”
Bbbuaaahhh, romantis? Rokok, makan, gratis? Anjani teringat canda teman-temannya ketika ada yang berucap kata ‘romantis’. Sungguh mengerikan dia beromantis ria dengan laki-laki tua yang tak tahu diri ini.
“Lebih baik kita pulang,” kata Anjani tandas.
“Baiklah, ayo kita pulang,” katanya menahan kekesalan hati. Tapi Usman berjanji, suatu saat nanti apabila sudah menjadi istrinya, ia akan mengurung sang istri muda dan cantik ini di dalam sangkar emas.
***
Estiana sedang duduk di teras bersama suaminya. Sebenarnya mereka sedang menunggu kepulangan Anjani yang sedang bepergian bersama Usman.
“Ke mana sebenarnya mereka?” tanya Marjono.
“Namanya juga sedang pacaran, mengapa Bapak memikirkannya? Yang penting mereka bahagia.”
“Apakah menurutmu Anjani benar-benar suka sama pak Usman?”
“Mengapa tidak? Tak ada seorangpun tidak menyukai pria baik seperti nak Usman.”
“Aku melihat wajah Anjani, seperti tidak tampak bahagia.”
“Bapak mengada-ada. Kalau tidak bahagia, mengapa mau diajak ke mana-mana?”
“Bapak itu tidak usah berpikir yang bukan-bukan. Yang penting kita mendapatkan menantu yang baik, yang bukan saja memperhatikan calon istrinya, tapi juga sangat peduli pada orang tuanya,” lanjutnya
“Rasanya lebih baik aku tidak usah operasi saja.”
“Apa? Mengapa Bapak berkata begitu? Bukankah kalau tidak segera dioperasi maka penyakit Bapak itu bisa merenggut nyawa? Bapak mau, segera mati?” kata Estiana dengan nada tinggi tanpa rasa hormat kepada suaminya.
“Aku sudah merasa lebih baik. Lagi pula jangan lebih membebani orang lain dengan penyakitku ini. Sudah banyak kita menerima kemudahan, jadi aku sudah bisa menerima takdirku. Apakah aku akan segera meninggal, atau masih diperkenankan hidup lebih lama, aku berserah kepada kemauan Yang Maha Kuasa.”
“Tidak bisa begitu Pak, jadwal operasi sudah ditentukan. Bapak tinggal menjalani, karena nak Usman sudah mencukupi semua biaya untuk operasi nanti.”
“Apa tidak bisa dibatalkan?”
“Bapak ingin mengecewakan orang yang sudah begitu baik kepada kita? Dia pasti kecewa kalau Bapak membatalkannya. Dengar Pak, semua biaya sudah dibayar. Setelah Bapak sehat, maka kita segera menikahkan Anjani. Apa Bapak tidak ingin melihat Anjani bahagia?”
“Benarkah Anjani bahagia?”
“Omong kosong apa yang Bapak katakan itu. Sudah, sudah, aku tidak mau mendengarnya. Mengecewakan orang yang sudah berbaik hati kepada kita, akan sangat membuatnya sakit hati,” kata Estiana yang segera meninggalkan suaminya masuk ke dalam rumah.
Marjono masih duduk di teras, termenung untuk beberapa saat lamanya.
Ia mencoba mengurai apa yang sebenarnya terjadi pada keluarganya. Bisa mendapatkan perawatan yang sangat baik sehingga dirinya nyaris sembuh, lalu membiayai operasi yang akan dilakukan dokter segera, besok bulan depan, lalu anak gadisnya tiba-tiba mengaku suka kepada laki-laki setua Usman? Apa itu benar? Ada prasangka buruk yang melintas dibenaknya, yang ia belum bisa mengatakannya.
Tiba-tiba sebuah mobil memasuki halaman. Marjono melongok ke arah depan, lalu melihat Anjani turun dari mobil setelah Usman membukakan pintunya.
Anjani langsung masuk ke rumah, menyalami dan mencium tangan ayahnya.
“Sudah pulang, Jani?”
“Iya Pak, hanya makan, lalu pulang. Pak Usman membawakan oleh-oleh untuk Bapak, akan saya bawa kebelakang,” katanya sambil langsung masuk ke dalam rumah, sementara Usman segera duduk di hadapan calon mertuanya.
“Kok Bapak sendirian?
“Iya, ibu Jani baru saja masuk.”
Tiba-tiba Usman mengeluarkan kotak kecil yang tadi di simpan di saku bajunya, lalu diletakkannya di atas meja, di depan Marjono.
“Ini apa Pak Usman?”
“Ini tadi sebenarnya saya beli untuk Anjani, tapi Anjani tidak mau menerimanya, mungkin sungkan. Jadi saya tinggalkan saja di sini, agar nanti Anjani menyimpannya.”
“Oh, apa ini? Kelihatannya bagus?” pekik Estiana yang tiba-tiba keluar dari dalam.
Ia membuka kotak itu dan matanya berkilat-kilat. Segera diambilnya gelang permata dari kotaknya lalu dilingkarkannya di pergelangan tangannya.
“Bagus kan Pak? Lihat. Sangat menyenangkan bila memiliki benda berharga seperti ini. Apa Bapak bisa membelikannya?”
Marjono menatap istrinya dengan kesal.
“Itu tadi sebenarnya untuk Anjani Bu, tapi karena dia menolaknya, maka saya bawa saja ke sini, barangkali nanti Anjani mau memakainya,” kata Usman yang kesal melihat tingkah Estiana.
“Iya Nak, ibu tahu. Biar saya menyimpannya dulu, nanti akan saya berikan pada Anjani,” kata Estiana dengan riang, nada suaranya terdengar seperti berdendang.
“Pak Usman jangan memberikan apapun lagi kepada kami, sudah banyak yang Pak Usman lakukan,” kata Marjono dengan wajah muram.”
“Tidak apa-apa Pak, sebenarnya saya membelikan gelang itu, karena gelang Anjani hilang, tapi Anjani belum mau menerimanya.”
“Jangan khawatir Nak, nanti dia pasti mau. Masa dibelikan calon suami akan menolak, tadi pasti dia hanya sungkan,” kata Esiana sambil menimang-nimang gelangnya dengan mata berkilat-kilat.
Wajah Marjono gelap seperti awan.
“Sebenarnya saya mau bilang, Pak Usman. Seandainya saya tidak usah dioperasi saja bagaimana ya? Operasi itu kan mahal. Lagi pula saya sudah merasa lebih baik.”
“Bapak jangan begitu. Meskipun Bapak merasa lebih baik, tapi nyatanya dokter menyarankan untuk operasi, berarti ada yang masih kurang dalam menyempurnakan kesehatan Bapak.”
“Tapi, Pak ….”
“Lagi pula saya sudah menitipkan uang yang cukup untuk biaya operasi itu. Jadi Bapak tidak perlu khawatir. Pokoknya saya ingin Bapak segera sehat, lalu saya bisa menikah dengan Anjani.”
“Sudahlah Pak, jangan banyak alasan. Menjalani sesuatu untuk kebaikan saja kok susahnya bukan main.”
Marjono tak menjawab. Ia merasa, istrinya selalu memaksakan kehendak, dan cenderung tidak punya malu. Tapi Marjono tidak ingin berdebat. Ketika ia agak merasa kesal sedikit saja, dadanya sudah terasa sesak.
“Ya sudah Pak, karena sudah malam, saya mohon pamit,” katanya sambil berdiri.
Ia mendekati Marjono dan mencium tangannya, lalu ia menyalami Estiana. Entah mengapa ia enggan mencium tangan calon ibu mertuanya tersebut.
“Tolong bilang sama Anjani, bahwa saya pulang, ya Bu.”
“Ya Nak, tentu. Nanti akan saya sampaikan pada Anjani. Barangkali karena capek dia sudah masuk ke kamarnya.”
Ketika Usman mendekati mobilnya, Estiana lupa mengantarkan seperti biasanya. Ia langsung masuk kedalam, lalu masuk ke dalam kamarnya. Dengan wajah berseri dia terus menatap gelang itu. Yakinlah bahwa Estiana tak akan memberikannya pada Anjani.
***
Hari itu Anjani bangun lebih pagi. Setelah menyiapkan teh hangat untuk sang ayah, menyediakan cemilan, lalu memasak untuk sarapan.
Setelah itu ia mandi, dan bersiap pergi ke kantor Raharjo Sentosa untuk wawancara.
Tiba-tiba ia berharap, pemilik perusahaan itu adalah benar pak Raharjo yang ditemuinya semalam. Menurut perasaannya, pak Raharjo itu baik, seperti majikan tempatnya bekerja sebelum ini.
Ketika ia melewati ruang tengah, dilihatnya sang ayah sedang menikmati teh pagi, tapi wajahnya tampak muram.
“Jani, kamu jadi wawancara hari ini?”
“Iya Pak, makanya pagi-pagi Anjani sudah bersiap-siap. Takut terlambat.”
“Ini masih sangat pagi.”
“Daripada terburu-buru. Doakan ya Pak.”
“Duduklah sebentar.”
Anjani duduk di hadapan ayahnya, meraih cemilan yang tersedia. Ibunya belum kelihatan keluar dari kamarnya. Mungkin belum bangun, atau entahlah.
“Apakah kamu benar-benar menyukai pak Usman?”
Anjani menatap ayahnya. Ia merasa sang ayah tidak mempercayainya. Tapi ia akan berusaha membuat perasaan ayahnya tidak terganggu atas kesediannya dinikahi Usman. Ia tak ingin sang ayah merasa bersalah karena penyakitnya, sehingga membuatnya terpaksa mau menikah dengan bandot tua.
“Bukankah Bapak sudah pernah menanyakannya?”
“Tapi bapak kurang yakin dengan jawaban kamu.”
Anjani mengulaskan senyuman.
“Bapak harus percaya pada Anjani.”
“Apa kamu kehilangan gelang?”
“Oh, iya. Tapi hanya gelang mainan.”
“Gelang mainan bagaimana? Gadis dewasa seperti kamu, menyimpan gelang mainan?”
Anjani tertawa kecil, tapi ada kesedihan tergurat di sana.
“Waktu Anjani masih kecil, sering meminta ibu agar membawakan roti lebih banyak, agar Anjani bisa berbagi dengan kawan Anjani yang kurang mampu.”
“Biar bapak tebak, lalu dia memberi kenang-kenangan berupa gelang, yang kamu simpan sampai sekarang?”
“Gelang itu adalah gelang mote buatan Anjani. Anjani membuat dua, yang satu Anjani simpan, satunya Anjani berikan kepadanya sebelum kami berpisah.”
“O, begitu. Tapi kemudian gelang kamu hilang?”
“Iya Pak, Anjani sedih. Padahal Anjani berharap bisa bertemu dia pada suatu hari nanti, dan gelang itu sebagai tanda bahwa kami pernah bersahabat.”
“Sungguh manis kedengarannya. Lalu kamu belum pernah bertemu dengannya?”
“Sejauh ini belum pernah. Justru gelang itu hilang,” kata Anjani dengan wajah sedih.
“Ya sudah, tidak usah dipikirkan. Kalau Allah menghendaki kalian bisa bertemu, pasti kalian akan bertemu.”
Anjani mengangguk.
“Dan pak Usman menggantikannya dengan gelang berlian.”
Anjani menggelengkan kepalanya.
“Anjani tidak mau menerimanya.”
“Anak baik. Apa yang kamu lakukan itu sudah benar. Tidak boleh menerima pemberian dari seseorang tanpa alasan jelas.”
“Dan berlebihan.”
Pak Marjono mengangguk senang.
“Apa kamu tahu? Sesungguhnya bapak tidak rela kamu menjadi istri pak Usman. Seandainya bisa, bapak ingin membatalkannya.”
Dan ketika itu, Estiana muncul dengan wajah masam, karena dia mendengar apa yang dikatakan suaminya.
***
Besok lagi ya.
–bersambung– silakan ikuti kisah selanjutnya Klik Disini
oleh Tien Kumalasari
diunggah Indarsih Weanind
editor Kissparry
Ada Cinta Dibalik Rasa | 09, Cerbung Tien Kumalasari
tags: cerbung, cerita bersambung, Tien Kumalasari, Kumalasari, Tien, Seni Budaya, Bahasa Indonesia, kisah, cerita,