CUKAT, TRENGGINAS, MITAYANI

Jika dimasa sulit, misalnya saat gagal panen, huru-hara, bencana alam, dan ketika orang-orang disekitarnya sudah “pasrah bongkokan” (menyerah, ambruk), tetapi ada sebagian orang yang masih bisa bertahan hidup.

Jika ketika jalan keluar seperti telah tertutup dan tinggal menunggu “kematian”, sementara masih ada orang yang tampak tegar, itu dapat diperkirakan bahwa diantara mereka ada orang yang memiliki sifat CUKAT, TRENGGINAS, dan MITAYANI.

Ketiga kata ini memang hampir jarang dijadikan ucapan sehari-hari. Walaupun kata itu berasal dari bahasa Jawa, tapi jarang diucapkan. Sehingga diantara kita jarang mendengarnya. Bahkan orang yang mempunyai sifat itu juga sulit mendefinisikan dirinya sendiri.

Dalam Bahasa Jawa, CUKAT bermakna cepat atau cekatan. TRENGGINAS bermakna terampil. Adapun MITAYANI bermakna dapat diandalkan. Licin seperti belut, lincah seperti tupai. Kalau dalam pewayangan, sifat itu dimiliki Si Wanara Seta, Hanoman. Kera putih andalan Prabu Ramawijaya saat menyerang Dasamuka Raja Alengka.

Sifat itu, seperti nilai Kepatrian sebelumnya, terbentuk karena tuntutan alam yang dialami orang tua transmigran. Terutama transmigran dimasa lalu. Beratnya perjuangan dan tuntutan hidup yang dihadapi, mendorong lahirnya kreatifitas mengatasi kesulitan.

Diantara mereka berpikir dan berusaha keras agar persoalannya dapat diatasi. Baik persoalan berkaitan dengan kekurangan makanan, ancaman binatang buas, maupun paceklik yang berkepanjangan. Satu sama lain saling berupaya, dan ternyata ada yang berhasil. Maka, keberhasilan menemukan solusi itu menjadi puncak-puncak prestasi.

Upaya mengatasi permasalahan itu kemudian menyebar atau ditularkan, dan dijadikan nilai yang “diugemi” masyarakat. Sehingga ketika ada persoalan yang mirip, masyarakat itu sudah punya solusinya. Solusi itu sering dimunculkan dalam ungkapan kalimat “belajar dari pengalaman“.

Agar ungkapan tiga kata itu tidak hilang dari perbendaharaan kata kita, sudah selayaknya kita melestarikan nilai itu. Melestarikannya tidak cukup dengan mengingatnya, tetapi yang terpenting mengembangkan nilai yang terkandung dalam arti kata itu, dalam realitas problematika kekinian.

Pelatihan agar melahirkan ketrampilan hidup perlu dilakukan. Karena nilai itu masih sangat relevan. Kader yang handal umumnya lahir dari masa sulit. Dia terbukti mampu mengatasi masalah.

Dengan sikap tegar, tanpa menunggu disuruh-suruh, memimpin kelompoknya keluar dari kesulitan.

Allah Akbar.


Cukat, Trengginas, lan Mitayani adalah Nilai Kepatrian yang ke-5


Baca juga Nilai Kepatrian lainnya:

Terima kasih

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

Semangat Silaturahmi & Persaudaraan

Iklan
%d blogger menyukai ini: