GEMATI

Gemati adalah Nilai Kepatrian ke-2

Walaupun jarang disebut dalam pembicaraan sehari-lagi, ketika ada yang mengucapkan kata “Gemati”, alam sadar kita langsung “nyambung”. Itu menunjukkan, bahwa kita pernah melihat, mendengar, atau mengalami sifat yang berkaitan dengan kata GEMATI.

Ini buktinya, ada yang mengatakan: “Aku ngerti sih, faham. Tapi bahasa Indonesiane opo yo sing pas? Perhatiaaan banget pokoke, sing banget-bangetlah. Sayang bangetlah yo ngono ikulah artine.. hehehe”

Ada juga yang lebih rinci menjelaskan: “Gemati itu sikap sayang kepada suatu barang, orang, hewan, tanaman, dan sebagainya. Dimana sifat sayang tersebut dibarengi dengan sikap mau dan mampu memelihara, melindungi, menempatkan pada tempatnya, dan bahkan mampu mendidik/memelihara hingga dewasa dan bermanfaat atau barang jadi.

Contoh dalam bentuk kalimat: “Walah.. gematine si Adin ngingu pitik, pitike akeh endoge akeh jan untung bener.”

Ungkapan lain: “Hmm..senenge ndelok mbak Sartini, gemati momong adike. Dadi ibuke wis ora susah maneh nyambi nyambut gawe…”

Ada juga: “Wah hebat Mas Sigit, gemati banget tandur semangka, saben dina di sirami, disemprot, diwolak-walik, dipageri. Saben esuk sore ditiliki tekan panen. Dadi panene kasil lan akeh”…..!

Walaupun sesama petani, warga transmigran lebih mempunyai sifat gemati. Misalnya, ketika punya cangkul, cangkulnya dirawat baik-baik. Setelah macul, dibersihkan dan disimpan. Dapat hadiah sarung, sarungnya dirawat. Dicuci dengan sabun klerak, distrika, disimpan dan diberi kapur barus. Mengapa demikian gematinya?

Kita semua tahu. Permukiman transmigrasi umumnya jauh dari pertokoan dan keramaian. Jadi, jika transmigran ingin punya cangkul, maka harus pergi ke kota. Harga cangkulnya mungkin hanya Rp 50.000. Tapi ongkos belinya bisa Rp 200.000. Karena itu, ketika mempunyai barang, harus diawet-awet, dirawat, agar berguna dalam waktu lama. Punya mug (cangkir alumunium) bocor, daripada dibuang, ditambal saja dengan patri. Bisa digunakan lagi.

Demikian orang tua kita mengajarkan kepada kita. Sehingga ketika kita beli barang, diberi amanah, mendapat jabatan, tambah kenalan, dan lainnya, jadi gemati. Termasuk gemati kepada Rumah PATRI. Kalau bukan kita yang gemati, mau kesiapa lagi..?


Baca Juga Nilai Kepatrian yang lain:

Terima kasih

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Semangat Persaudaraan

%d blogger menyukai ini: