Semua tulisan dari Eswede Weanind

Saya bertempat tinggal di Kota Semarang

Bunga untuk Ibuku | 34, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 34
(Tien Kumalasari)

Wijan merasa aneh. Bagaimana bibik bisa mengira seorang bernama Bejo sebagai ayahnya?

“Bik, aku agak kurang jelas, bibik bertemu seseorang bernama Bejo, lalu bibik mengira dia bapak?”

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 34, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 33, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU  33
(Tien Kumalasari)

Hasti menatap nanar kearah seseorang yang mengetuk pintu. Wajahnya muram, dan ingin segera menutupnya kembali. Tapi seseorang itu menahan dengan tangannya yang amat kuat.

“Tolong dengarkan aku, Hasti.”

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 33, Cerbung Tien Kumalasari

Kunjungan Singkat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Jembatan Ampera


Ketika disepakati tidak menyeberang ke pulau Kemaro merupakan pulau kecil di Sungai Musi, tiba-tiba ada ide mengunjungi museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) Palembang yang letaknya berdekatan dengan Jembatan Ampera.

Lanjutkan membaca Kunjungan Singkat di Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Jembatan Ampera

Bunga untuk Ibuku | 31, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 31
(Tien Kumalasari)

Simbok mengibaskan tangannya ke arah Bejo, ketika melihat bahwa Bejo terus menatap dompet itu, seperti orang bingung.

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 31, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 30, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 30
(Tien Kumalasari)

Pak Rangga menatap Barno dengan tatapan tajam. Tak percaya Barno mengatakan hal yang sama sekali tak diduganya. Barno yang baik, yang setia mengabdi kepada pekerjaannya, tega melakukan hal sekejam itu?

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 30, Cerbung Tien Kumalasari