NGELMU METANI
Ngrenungi Sikap Hati Jawi
#Budi Luhur : Sikap Terpuji Yang Ilahi
Budi luhur mampu bagaimana cara bersikap sebaiknya pada orang lain, apa yang bisa dan apa yang tidak bisa dilakukan dan dikatakan.
Dia awas ketika barangkali engkau betul, tetapi jangan memakai cara seperti itu “ngono yo ngono ning ojo ngono”.
Kendalikan diri ketika barangkali kita harus menyakiti seseorang, tapi tidak akan menghancurkan “tego larane nanging ora tego patine”.
Yakin, tidak ada gunanya marah-marah pada kejelekan orang lain karena yang baik akan nampak dan yang jelek akan kelihatan “becik ketitik olo ketoro”.
Tetap akan bersikap baik tidak hanya pada orang baik tapi juga pada orang buruk “sapa becik den beciki, sapa ala den beciki“.
Selalu sadar bahwa, sesama bukan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan, melainkan, sesama adalah ngumpulkan kebersamaan untuk saling membutuhkan gotong-royong dan saling menolong “mangan ora mangan nek kumpul“.
Maka selalu peduli kalau sedikit dibagi sedikit, kalau banyak dibagi banyak “ono sethithik didum sithik, ono akeh didum akeh“.
Orang berbudi-luhur seakan-akan menyinarkan kehadiran Allah dalam manusia bagi lingkungannya.
Aamiin !
Salam hangat untuk semuanya.
Kiriman Drs. Daryono, M.S.I.
Dosen Universitas Semarang (USM)