RENUNGAN YANG MENENTRAMKAN JIWA


Assalamu’alaikum Wr wb. Bismillahirrahmanirrahim.

MUTIARA HIKMAH
🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾🌾
RENUNGAN YANG MENENTRAMKAN JIWA…

Aku belajar dgn lebih banyak diam, daripada lebih banyak bicara…

Aku belajar bersabar dari sebuah kemarahan…

Aku belajar mengalah dari sebuah keakuan,

Aku belajar tersenyum dari suatu kesedihan…

Aku belajar tegar dari suatu kehilangan…

Hidup adalah BELAJAR…..
Belajar bersyukur meskipun tak puas…
Belajar ikhlas meskipun tak rela….
Belajar taat meskipun berat…
Belajar memahami meskipun tak sehati…
Belajar sabar meski terbebani…
Belajar memberi walaupun tak seberapa ….
Belajar mengasihi meski tersakiti….
Belajar tenang meski gelisah…
Belajar percaya diri meski sulit…
Belajar tabah meski ujian banyak menerpa…

Aku belajar…
bahwa tidak setiap saat hidup ini indah, kadang ALLAH menyapaku melalui berbagai cara.
Tetapi aku tahu bahwa DIA tidak pernah meninggalkanku,
Sebab itu aku belajar menikmati hidup dengan bersyukur…

Aku belajar….
bahwa tidak semua yang kuharapkan bisa menjadi kenyataan,
kadang ALLAH membelokkan rencanaku KARENA TAK SESUAI DENGAN RENCANA-NYA.
Tetapi aku tahu bahwa itu lebih baik dari yang mampu kurencanakan,
sebab itu aku belajar menerima semua itu dengan sukacita.

Aku belajar….
bahwa ujian itu pasti datang dalam hidupku, karena Allah pasti menguji ummatNYA yang beriman…

Aku tak mau dipengaruhi setan untuk marah dan emosi,
aku tak mau menyalahkan orang lain,
juga tidak mungkin aku berkata “ALLAH” tidak adil.
Karena aku tahu bahwa semua itu tidak akan melampaui kekuatanku,

sebab itu aku belajar menghadapinya dengan sabar dan tawakal….

Aku belajar….
bahwa tidak ada kejadian yang harus disesali & ditangisi, karena semua adalah rancangan-NYA yang indah.

Maka dari itu aku belajar bersabar, bersyukur & bersukacita dalam segala perkara.
Karena semua itu menyehatkan jiwa & menyegarkan hidupku…
• Ketika “Kaki” sudah tak kuat berdiri… “BERSIMPUHLAH”…

• Ketika “Tangan” sudah tak kuat menggenggam… “LIPATLAH”…

• Ketika “Kepala” sudah tak kuat ditegakkan… “MENUNDUKLAH”…

• Ketika “Hati” sudah tak kuat menahan kesedihan, “MENANGISLAH “…

• Ketika “Hidup” sudah tak mampu untuk dihadapi, “BERSABARLAH”, “BERSUJUDLAH “,” BESERAH DIRILAH”, “BERDO’A-LAH”…

ALLAH selalu setia bersama kita…
dan apa saja yang kita minta dalam DO’A dengan penuh keyakinan, DIA akan mengabulkannya…
Dengan syarat, kita harus selalu bertakwa padaNya…

ALLAH mendengar lebih dari yang kau katakan…

ALLAH menjawab lebih dari yang kau minta…

ALLAH memberi lebih dari yg kau inginkan…

Karena, di belakangmu ada kekuatan yang tak terhingga…
di hadapanmu ada kemungkinan tanpa batas, disekitarmu ada kesempatan yang tiada akhir…
Lebih dari itu, di atasmu ada ALLAH yang selalu menyertaimu…
Yakinilah…

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.…
(QS Al Baqarah [2] ayat 153)

Ingatlah saudaraku…

Cinta Allah kpd hambanya abadi, seperti lingkaran tak berawal dan tak berakhir…
Semoga kita mampu merasakan cintaNYA..Aamiin YRA.
Barakallahu fii kum …🙏 Semoga kita mendapat rakhmat Nya.

by Pudji @baakk

 

Renungan Kasih Sayang (tak Terbayang)


Renungan Kasih Sayang (Tak Terbayang)

BAGI YANG BELUM BACA, SEGERA BACA INI. 

Suami dan istri harus baca.
Begitu juga para calon suami dan calon istri, wajib baca.

Insya Alloh cerita ini bisa diambil sebagai hikmah..

“Teeng…”
Terdengar denting bunyi jam 1 kali, menandakan jam 01.00 dini hari.

“Assalamu’alaikum…!”

Ucapnya lirih Abdurrahman saat masuk rumah, ketika baru pulang kerja karena harus menyelesaikan pekerjaan hingga larut, sampai di rumah pukul 01 dini hari. Abdurrahman karena biasa membawa kunci rumah sendiri, sehingga bisa masuk rumah.

Tak ada orang yang menjawab, Dia tahu istri dan anak-anaknya pasti sudah tidur.

Biarlah malaikat yang menjawab salamku,” gumamnya dalam hati.

Diletakkanlah tas, ponsel dan kunci-kunci di meja.

Setelah itu, barulah Abdurrahman menuju kamar mandi sekalian berwudlu kemudian berganti pakaian, kebiasaan yang ia lakukan yaitu berwudlu sebelum pergi tidur.

Semua tertidur pulas, tak ada satu-pun yang terbangun, untuk sekedar menyapa.

Segera dia beranjak menuju kamar tidur.
Pelan-pelan dibukanya pintu kamar.
Dia tidak ingin menggangu istrinya yang sedang pulas tidur.

Benar saja istrinya tidak terbangun, tidak menyadari kehadiran suaminya.
Kemudian Abdurrahman duduk di pinggir tempat tidurnya.
Dipandanginya dalam-dalam wajah Qonitat istrinya.

Abdurrahman teringat perkataan almarhum ayahnya, dulu sebelum dia menikah.

Ayahnya berpesan :
“Jika kamu sudah menikah nanti:
• Jangan berharap kamu punya istri yang sama persis dengan keinginanmu.
Karena kamu pun juga tidak sama persis dengan maunya.
• Jangan pula berharap mempunyai istri yang punya karakter sama seperti dirimu. Karena suami istri adalah dua orang yang berbeda.
Dia bukan untuk disamakan tapi untuk saling melengkapi.

Dan..
° Jika suatu saat ada yang tidak berkenan di hatimu,
atau kamu merasa jengkel, marah, dan perasaan tidak enak yang lainnya, maka..
lihatlah ketika istrimu tidur..”

“Kenapa Yah, kok waktu dia tidur?”, tanyanya kala itu.

Ayahnya menjawab, “Nanti kamu akan tahu sendiri”

Waktu itu, dia tidak sepenuhnya memahami maksud ayahnya,
tapi ia tidak bertanya lebih lanjut,
karena ayahnya sudah mengisyaratkan untuk membuktikannya sendiri, kelak.

Malam itu, Abdurrahman mulai memahaminya.
Malam itu, dia menatap wajah istrinya lekat-lekat.
Semakin lama dipandangi wajah istrinya, semakin mengguncang perasaan di dadanya.
Wajah polos istrinya saat tidur benar-benar membuatnya terkesima.
Raut muka tanpa polesan, tanpa ekspresi, tanpa kepura-puraan, tanpa dibuat-buat.
Pancaran tulus dari kalbu.

Memandanginya menyeruakkan berbagai macam perasaan.
Ada rasa sayang, cinta, kasihan, haru, penuh harap dan entah perasaan apa lagi yang tidak bisa ia gambarkan dengan kata-kata.

Dalam batin, Dia bergumam,
“Wahai istriku, engkau dulu seorang gadis:
∝ Yang leluasa beraktivitas,
∝ Banyak hal yang bisa kau perbuat dengan kemampuanmu. Lalu aku menjadikanmu seorang istri.
∝ Menambahkan kewajiban yang tidak sedikit.
∝ Memberikanmu banyak batasan,
∝ Mengaturmu dengan banyak aturan.

Dan aku pula..
∝ Yang menjadikanmu seorang ibu.
∝ Menimpakan tanggung jawab yang tidak ringan.
∝ Mengambil hampir semua waktumu untuk aku dan anak-anakku.”

Wahai istriku..
Engkau yang dulu bisa melenggang kemanapun tanpa beban,
kini aku memberikan beban di tanganmu,
dan dipundakmu..

  • Untuk mengurus keperluanku,
  • Guna merawat anak-anakku, juga
  • Memelihara kenyamanan rumahku.

Kau relakan waktu dan tenagamu melayaniku dan menyiapkan keperluanku.
Kau ikhlaskan rahimmu untuk mengandung anak-anakku.
Kau tanggalkan segala atributmu untuk menjadi pengasuh anak-anakku.
Kau buang egomu untuk menaatiku.
Kau campakkan perasaanmu untuk mematuhiku.

Wahai istriku..
Di kala susah, kau setia mendampingiku.
Ketika sulit, kau tegar di sampingku.
Saat sedih, kau pelipur laraku.
Dalam lesu, kau penyemangat jiwaku.
Jika aku gundah, kau penyejuk hatiku.
Kala aku bimbang, kau penguat tekadku.
Bila aku lupa, kau yang mengingatkanku.
Ketika aku salah, kau yang menasehatiku.

Wahai istriku..
Telah sekian lama engkau mendampingiku.
Kehadiranmu membuatku menjadi sempurna sebagai laki-laki.
Lalu, atas dasar apa aku harus kecewa padamu..?!
Dengan alasan apa aku marah padamu..?!
Andai kau punya kesalahan atau kekurangan.
Semuanya itu tidak cukup bagiku untuk membuatmu menitikkan air mata.

Akulah yang harus membimbingmu.
Aku adalah imammu.

Jika kau melakukan kesalahan.
Akulah yang harus dipersalahkan karena tidak mampu mengarahkanmu.

Jika ada kekurangan pada dirimu.
Itu bukanlah hal yang perlu dijadikan masalah.

Karena kau insan, bukan malaikat.

Maafkan aku istriku..
Kaupun akan kumaafkan jika punya kesalahan.

Mari kita bersama-sama membawa bahtera rumah tangga ini hingga berlabuh di pantai nan indah, dengan hamparan keridhoan Alloh azza wa jalla.

Segala puji hanya untuk Alloh azza wa jalla yang telah memberikanmu sebagai jodoh untukku.”

Tanpa terasa air matanya menetes deras di kedua pipinya.
Dadanya terasa sesak menahan isak tangis.
Segera ia berbaring di sisi istrinya pelan-pelan.
Tak lama kemudian ia pun terlelap.

•®•®•
Teeng..teeng..

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali.

Qonitat, istri Abdurrahman terperanjat sambil terucap :
“Astaghfirulloh, sudah jam dua..!”

Dilihatnya sang suami pulas di sampingnya.
Pelan-pelan ia duduk,
sambil berdoa memandangi wajah sang suami yang tampak kelelahan.

“Kasihan suamiku, aku tidak tahu kedatanganmu.
Hari ini aku benar-benar capek,
sampai-sampai nggak mendengar apa-apa.
Sudah makan apa belum ya dia..?!”, gumamnya dalam hati.

Ada niat mau membangunkan, tapi ach.. tidak tega.
Akhirnya dia cuma pandangi saja wajah suaminya.

Semakin lama dipandang, semakin terasa getar di dadanya.
Perasaan yang campur aduk, tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

Hanya hatinya yang bicara :

“Wahai suamiku, aku telah memilihmu untuk menjadi imamku.
Aku telah yakin bahwa engkaulah yang terbaik untuk menjadi bapak dari anak-anakku.
Begitu besar harapan kusandarkan padamu.
Begitu banyak tanggungjawab kupikulkan di pundakmu.”

Wahai suamiku..

  • Ketika aku sendirian..
    Kau datang menghampiriku.
  • Saat aku lemah..
    Kau ulurkan tanganmu menuntunku.
  • Dalam duka..
    Kau sediakan dadamu untuk merengkuhku.
  • Dengan segala kemampuanmu..
    Kau selalu ingin melindungiku.

Wahai suamiku..

  • Tak kenal lelah kau berusaha membahagiakanku.
  • Tak kenal waktu kau tuntaskan tugasmu.
  • Sulit dan beratnya mencari nafkah yang halal,
    tidak menyurutkan langkahmu.
  • Bahkan sering kau lupa memperhatikan dirimu sendiri,
    demi aku dan anak-anak.

Lalu..
Atas dasar apa aku tidak berterimakasih padamu.

Dengan alasan apa aku tidak berbakti padamu?
Seberapa pun materi yang kau berikan,
itu hasil perjuanganmu,
buah dari jihadmu.

Walau kau belum sepandai da’i dalam menasehatiku,
Tapi..
Kesungguhan & tekadmu beramal sholeh,
mengajakku dan anak-anak istiqomah di jalan ALLAH..

Membanggakanku dan membahagiakanku.

Maafkan aku wahai suamiku..
Akupun akan memaafkan kesalahanmu.

Alhamdulillah.. segala puji hanya milik ALLAH.
Yang telah mengirimmu menjadi imamku.

Aku akan taat padamu untuk mentaati ALLAH.
Aku akan patuh kepadamu untuk menjemput ridho-Nya..”

ربنا هب لنا من أزواجنا وذريتنا قرة أعين واجعلنا للمتقين إماما

“Robbana hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrota ‘ayun waj’alna lil muttaqiina imaama”……….

Barakalallahu fiikum

by Sunaryo @kissparry

Mari PUKUL KEPALA iBLiS


Mari PUKUL KEPALA iBLiS

Ustaz Azhar Idrus Berkata:
Kita relax and bace ni..
Perbualan antara
Rasulullah & iblis…

Rasulullah bertanya :

Apa yg kau rasakan jika
melihat seseorang dari umatku hendak Solat

Iblis menjawab :

Aku merasa Panas dinding dan Gementar

Rasulullah :
“kenapa?”

Iblis :

“Sebab setiap seorang hamba berSujud 1X
kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 Darjat”

Rasulullah :
“Jika seorang umatku berPuasa?”

Iblis :
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka”

Rasulullah :
“Jika ia berHaji?”

Iblis :
“Aku seperti orang Gila”

Rasulullah :
“Jika ia membaca Al-Quran?”

Iblis :
“Aku merasa meleleh laksana air timah di atas Api”

Rasulullah :
“Jika ia berSedekah?”

Iblis :
“Itu sama saja org tersebut membelah tubuhku dgn gergaji”

Rasulullah :
“Mengapa boleh begitu?“

Iblis:
”sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan
baginya, iaitu :

  1. Keberkahan dlm hartanya,
  2. Hidupnya disukai,
  3. Sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara
    dirinya dgn api neraka,
  4. Terhindar dari segala macam musibah akan
    terhalau dr dirinya,

Rasulullah :
“Apa yg dapat mematahkan pinggangmu?”

Iblis :
“Suara kuda perang di jalan Allah.”

Rasulullah :
“Apa yg dapat melelehkan tubuhmu?”

Iblis :
“Taubat org yg bertaubat”

Rasulullah :
Apa yg dpt membakar hatimu?”

Iblis :
“istighfar di waktu siang & malam”

Rasulullah :
“Apa yg dpt mencoreng wajahmu?”

Iblis :
“Sedekah yg diam2”

Rasulullah :
“Apa yg dpt menusuk matamu?”

Iblis :
“Solat fajar”

Rasulullah :
“Apa yg dpt memukul kepalamu?”

Iblis :
“Solat berjemaah”

Rasulullah :
“Apa yg paling mengganggumu”

Iblis :
“Majlis para ulama”

Rasulullah :
“Bagaimana cara makanmu?”

Iblis :
“Dengan Tangan kiri dan jariku”

Rasulullah:
“Dimanakah kau menaungi anak2mu
di musim panas?”

Iblis :
“Dibawah kuku Manusia”

Rasulullah :
“Siapa temanmu wahai iblis?”

Iblis :
“PenZina”

Rasulullah :
“Siapa teman tidurmu?”

Iblis :
“Pemabuk”

Rasulullah :
“Siapa tamumu?”

Iblis :
“Pencuri”

Rasulullah :
“Siapa utusanmu?”

Iblis :
“Tukang Sihir (Dukun)”

Rasulullah :
“Apa yg membuatmu Gembira?”

Iblis :
“Bersumpah dgn Cerai”

Rasulullah :
“Siapa kekasihmu?”

Iblis :
“Org yg meninggalkan Solat Jumaat”

Rasulullah :
“Siapa Manusia yg paling
memBahagiakanmu?”

Iblis :
“Org yg meninggalkan Solatnya dgn Sengaja”

*sebarkannya biar
bagi 1 dunia tahu apa kelemahan Iblis.

“* Nabi berpesan Sebarkan walau sepotong ayatku*”

Indahwati

SEMUA DITINGGALKAN


✅Muhasabah Diri
💥KISAH SEDERHANA DALAM MENGHADAPI HIDUP💥 @ im3n

” Harta kita itu adalah apa yang kita bagikan …
Kalau yang kita simpan itu justru harta orang lain … Karena saat kita meninggalkan dunia ini, harta itu akan langsung berpindah tangan kepada ahli waris dan tidak bermanfaat untuk yang meninggal … Padahal seumur hidup kita kerja keras mengumpulkan harta tsb

😭 Meninggal itu ternyata tidak membawa apa-apa … Hanya selembar kain kafan berlapis tiga dengan diikat tali …

😭 Tidak memiliki kantung untuk menaruh uang apalagi ATM yang dipersiapkan untuk memberi tips malaikat …

😭 Tak ada kantung untuk menyelipkan kartu nama orang penting biar jalan menuju surga mulus …

😭 Tak dapat dimodifikasi model ala-ala hijab syari yang modis … hanya boleh satu model aja … yakni Pocong …

😭 Meski baju tiga lemari, Tidak bisa satupun dipakai / dibawa untuk ganti baju …

😭 Meski punya tanah/rumah dimana-mana, tetap saja harus tinggal di dalam kubur…

😭 Meski memiliki deposito banyak di bank, tidak bisa dicairkan di dalam kubur …

😭 Meski punya banyak mobil mewah, tetap saja pergi ke kubur naik keranda …

😭 Meski punya gadget mahal dengan camera editor yang keren, tetap saja tidak bisa buat selfie dalam kubur …

😭 SEMUA DITINGGALKAN …

Dan sayangnya, Meninggal itu tidak bisa direncanakan … tidak bisa ditentukan tanggalnya … Bisa nanti, bisa besok, bisa lusa … bisa kapan aja … Semua tergantung kehendak Allah Subhanallahu Wa Ta’ala

Sementara harta kita yang sesungguhnya masih sangat sedikit, karena kita terlalu sibuk mengumpulkan harta yang dipersiapkan untuk orang lain …

Saudaraku …
Marilah bersama2 kita kumpulkan harta kita pada BANK SEMESTA milik Allah Subhanallahu Wa Ta’ala …

Kita akan melihat SALDO harta kita pada saat kita kembali kepadaNya …

Walaupun kita berangkat hanya menggunakan kain putih saja tanpa perbekalan …

Namun … Insyaallah sesampainya disana Allah akan kembalikan Seluruh Tabungan Kita di alam Semesta Milik Allah Subhanallahu Wa Ta’ala …

Tak Ada Yang Terlewat dan Tak Ada Yang Tak Terhitung … Semua Sesuai Dengan HisabNya …

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

_🍃🕋🍃___

by Indahwati @konde

 

MENGAPA ALLAH MENDATANGKAN MUSIBAH


MENGAPA ALLAH MENDATANGKAN MUSIBAH

Allah penguasa alam raya. Dengan kuasa-Nya, Allah dapat berbuat apa saja tanpa ada seorang pun yang mampu menghalanginya. Kita dan semua yang kita saksikan dalam kehidupan ini pun milik-Nya. Dengan hikmah-Nya yang maha tinggi, Allah berkenan memberi apa saja kepada kita, Allah pun mampu mengambilnya dari kita. Allah berkehendak mengaruniakan kebaikan yang kita inginkan, Allah pun berhak menurunkan musibah yang tidak kita harapkan.

Musibah, bencana dan malapetaka ada dalam kuasa-Nya pula. Kehidupan manusia di dunia ini hampir tak pernah sepi dari musibah yang datang silih berganti. Dari yang kecil sampai yang besar. Dari yang ringan sampai yang berat. Dari yang sedikit hingga yang banyak. Ada musibah yang bersifat umum dan ada yang bersifat individu. Ada musibah yang tidak melibatkan manusia dan ada musibah yang melibatkan manusia zalim.

Allah Mahabijaksana. Musibah adalah sunnah-Nya. Segala yang diperbuat-Nya selalu mengandung hikmah yang agung. Lalu, untuk tujuan apakah Dia mendatangkan musibah kepada manusia?

Pertama: Sebagai hukuman bagi orang-orang yang mansekutukan-Nya dan kufur kepada-Nya.

Allah akan menurunkan musibah kepada orang-orang yang ingkar, kufur dan menyekutukan-Nya, sebagai hukuman dan azab atas perbuatan mereka yang sangat buruk. Kekufuran dan syirik adalah dosa yang paling besar. Orang-orang yang memperbuatnya memang pantas mendapat hukuman dari Allah, apabila mereka telah mendapatkan peringatan dari para utusan-Nya.

Dalam sejarah manusia, musibah dan azab pernah turun kepada kaum-kaum terdahulu. Kaum Nabi Nuh Allah tenggelamkan dalam musibah banjir bandang. Kaum Nabi Hud, Shaleh dan Syu’ab Allah tiupkan angin yang membinasakan kepada mereka. Fir’aun dan bala tentaranya juga Allah tenggelamkan ke dalam samudera. Kaum Nabi Luth Allah balikkan tanah mereka lalu Allah hujani mereka dengan baru-baru kerikil yang panas. Kisah-kisah mereka Allah ceritakan dalam Al Qur`an agar menjadi pelajaran bagi manusia yang datang setelah mereka.

Allah berfirman,

وَمَا هِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ

“dan siksaan itu Tiadalah jauh dari orang-orang yang zalim.” (QS. Huud: 83)

Kedua: Sebagai hukuman atas dosa-dosa dibawah syirik dan kekufuran, untuk mensucikan hamba-hamba-Nya.

Diantara sebab datangnya musibah yang menimpa manusia di dunia baik pada diri, keluarga atau harta mereka adalah karena perbuatan dosa dan maksiat yang mereka kerjakan, juga sebagai hukuman dari Allah atas mereka. Allah berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu Maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuuraa: 30)

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari dirimu sendiri.” (QS. An Nisaa`: 79) Ibnu Katsir berkata, “Maksud ‘dari dirimu’ adalah dengan sebab dosamu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ingatlah, sungguh Allah akan menghalangi rizki seorang hamba disebabkan dosa yang dikerjakannya.” (HR Ibnu Majah, Ahmad, Hakim: Shahih Isnad)

Jika Allah menghendaki kebaikan atas hamba-Nya, Allah akan menyegerakan akibat dari kesalahan yang diperbuatnya di dunia dan tidak menangguhkannya di akhirat. Hingga ia bertemu dengan Allah di akhirat nanti dalam keadaan bersih dari kesalahan.

Dengan demikian, jika musibah datang menyapa kita, segeralah melakukan evaluasi diri dan bertobat kepada-Nya.

Ketiga: Untuk meninggikan derajat hamba-hamba-Nya

Allah menguji manusia dengan musibah dan nikmat, agar menjadi jelas kesyukuran orang yang beriman dan kesabarannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak Allah menetapkan suatu ketetapan bagi seorang mukmin melainkan menjadi kebaikan baginya. Hal itu tidak dimiliki kecuali oleh orang yang beriman. Jika ia mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya. Begitu pun jika ia ditimpa dengan musibah, maka ia bersabar dan itu pun menjadi kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Dari sisi ini musibah menjadi cara Allah untuk meninggikan derajat seorang hamba, meluhurkan keutamaannya dan menambah pahalanya.

Keempat: Untuk membedakan orang yang jujur dan orang yang dusta dalam pengakuan imannya

Dunia adalah tempat ujian. Ujian datang diantaranya dalam bentuk musibah yang tidak diinginkan kehadirannya. Orang-orang yang mengaku beriman akan Allah uji, sejauh mana kebenaran dan kejujuran pengakuannya sebagai orang yang beriman. Allah berfiman,

الم (1) أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut: 1- 3)

Setiap orang yang mengatakan, “Aku beriman” akan diuji oleh Allah. Jika ia bersabar dan teguh, maka ia berarti jujur dalam imannya. Namun jika ia menyimpang dan berpaling dari agamanya tatkala mendapat ujian, maka ia berarti dusta dalam pengakuannya.

Kelima: Untuk membuat hamba-hamba-Nya berserah diri, mengadu dan berdoa kepada-Nya

Seorang mukmin, jika ia mendapat musibah, ia akan segera mengadu, tunduk, berserah diri dan berdoa kepada Allah. Ia juga akan memperbanyak ibadah, bersedekah dan shalat karena ia menyadari bahwa Allah-lah satu-satunya yang berkuasa mengangkat musibah itu dan menolong orang-orang yang kesusahan jika mereka memohon kepadanya.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Diantara hikmah ujian (yang Allah timpakan kepada orang beriman) adalah membuat mereka kian tunduk dan merendahkan diri kepada Allah, merasa butuh dan memohon pertolongan kepada-Nya.”

Dengan demikian, musibah bagi orang yang beriman juga bertujuan menjaga keimanan mereka dan kelurusan jalan hidup yang ditempuhnya. Andai mereka terus-menerus diberikan kesenangan, kemenangan dan kemudahan hidup, bisa jadi mereka menjadi lalai dan lupa kepada Allah dan agamanya.

Keenam: Mengingatkan hamba-Nya kepada akhirat

Sebagaimana yang telah dikatakan diatas, musibah adalah sunnatullah di dunia ini. Dunia bukan tempat kenikmatan. Mencari kesenangan dan kenikmatan selama-lamanya dan terus-menerus tidak mungkin akan didapatkan di dunia ini. Di dunia ini bercampur antara nikmat dan bencana, antara kemudahan dan kesusahan, antara kesenangan dan kesedihan. Jika begitu hakikat dari kehidupan dunia, maka musibah yang datang kepada seorang hamba sejatinya dapat mengingatkannya ke negeri akhirat, tempat cita-cita untuk meraih segala kenikmatan dapat ditambatkan.

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي كَبَدٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad: 4)

Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, susah payah dalam menghadapi musibah-musibah di dunia, dan kesulitan-kesulitan di akhirat.”

Wallahu a’lam, wa shallallahu wa sallam ‘alaa nabiyyinaa Muhammad.

Abu Khalid Resa Gunarsa – Subang, 5 Rabi’ul Akhir 1435 H (07 Maret 2013)

Pudjiwati Soedjono @konde