BUNGA UNTUK IBUKU 43
(Tien Kumalasari)
Nilam cemberut ketika kakaknya memelototinya. Bukannya berhenti, ia melanjutkan pertanyaannya kepada sang ayah.
Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 43, Cerbung Tien KumalasariBUNGA UNTUK IBUKU 43
(Tien Kumalasari)
Nilam cemberut ketika kakaknya memelototinya. Bukannya berhenti, ia melanjutkan pertanyaannya kepada sang ayah.
Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 43, Cerbung Tien KumalasariBUNGA UNTUK IBUKU 42
(Tien Kumalasari)
Hasti duduk di sebuah bangku di warung itu, lalu memesan nasi ayam panggang dan segelas teh hangat. Ada dua orang lain yang sedang makan, tapi ia tak begitu memperhatikannya. Ia merasa sangat letih, dan juga lapar.
Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 42, Cerbung Tien Kumalasari BUNGA UNTUK IBUKU 41
(Tien Kumalasari)
Wijan sangat terkejut melihat ‘sang ayah’ jatuh terkapar, dan kemudian tidak bergerak-gerak. Pak Rangga melompat dari dalam mobil, memburu Bejo yang terjatuh.
Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 41, Cerbung Tien KumalasariBUNGA UNTUK IBUKU 40
(Tien Kumalasari)
Nilam menatap wajah ‘ayahnya’ dengan mulut manyun. Bejo membalas tatapan itu dengan tersenyum tipis. Sungguh Bejo merasa heran, mulut yang mengerucut bak pantat ayam itu seperti sangat dikenalnya.
Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku, 40 Cerbung Tien Kumalasari(Tien Kumalasari)
Bejo tertegun. Ia mendorong tubuh gadis kecil itu perlahan. Ia heran, di mana-mana orang mengira dia adalah orang lain. Siapa pula bapak gadis ini?
Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 39, Cerbung Tien Kumalasari