Arsip Tag: Seni Budaya

Bunga untuk Ibuku | 37, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU  37
(Tien Kumalasari)

Wijan sudah sampai di tempat gadis itu berdiri, tapi yang dicarinya tak tampak lagi bayangannya. Wijan mencari ke sana kemari, tanpa hasil.

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 37, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 36, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 36
(Tien Kumalasari)

Pak Rangga menatap Wijan tak mengerti. Wijan mengedipkan sebelah matanya, sementara bibik sudah membuka pintu gerbang, langsung menuju rumah.

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 36, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 35, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU  35
(Tien Kumalasari)

Wijan menatap Bejo yang tampak sudah merasa lega, mengira tugas menyerahkan dompet kepada yang punya sudah selesai, karena si dompet sudah diterima oleh anak Raharjo.

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 35, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 34, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 34
(Tien Kumalasari)

Wijan merasa aneh. Bagaimana bibik bisa mengira seorang bernama Bejo sebagai ayahnya?

“Bik, aku agak kurang jelas, bibik bertemu seseorang bernama Bejo, lalu bibik mengira dia bapak?”

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 34, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 33, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU  33
(Tien Kumalasari)

Hasti menatap nanar kearah seseorang yang mengetuk pintu. Wajahnya muram, dan ingin segera menutupnya kembali. Tapi seseorang itu menahan dengan tangannya yang amat kuat.

“Tolong dengarkan aku, Hasti.”

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 33, Cerbung Tien Kumalasari