Ternyata, Suamiku Milik Ibunya

“TERNYATA, SUAMIKU MILIK IBUNYA”
(Sebuah Cerpen Renungan untuk Istri dan Calon Istri)

Pagi itu, langit tampak cerah tidak ada mendung, mentari bersinar terang menyinari bumi dengan sinar mentari pagi yang khas. Angin sepoi-sepoi, lemah lembut membelai kepada siapa saja pagi itu. Namun pagi yang cerah tidak mampu menyinari hati Sarah yang lagi galau, karena semalam habis bertengkar dengan suaminya.

Selepas suami berangkat kerja, pagi-pagi sekali, waktu itu bisa dikatkan pagi-pagi sekali untuk orang yang akan bertamu atau bertandang ke rumah seseorang. Sarah bergegas ke rumah orang tuanya untuk mengadu.

Pagi-pagi sekali, Sarah mengetuk pintu rumah ibunya, rumahnya jaraknya lumayan jauh, pasti Sarah berangkat dari rumah lebih pagi dari waktu itu. Ia menggendong anaknya dan membawa satu tas besar di tangan kanannya.

Assalamu’alaikum“, Sarah sambil mengetuk pintu lagi.
Sepertinya suara anaknya, Sarah, “Wa’alaikum salam waroh matullah“, jawab ayah dan ibu sarah serentak.
Ibu itu sepertinya suara anak kita, kok kelihatannya sambil sesenggukan, Sarah langsung membuka pintu dan masuk.

Dari matanya yang sembab dan merah, ibunya sudah tahu kalau Sarah, pasti habis bertengkar lagi dengan suaminya, karena beberapa waktu yang lalu Ia menelpon ibunya dan bercerita tentang masalah pertengkaran itu.

Meski heran, karena biasanya Sarah hanya sebatas menelpon sambil menangis jika bertengkar dengan suaminya.
Ayah Sarah yang juga keheranan, segera menghampiri Sarah dan menanyakan masalahnya.

muslimah-650x330

Ayo duduk, Sarah” sang ayah mempersilakan duduk.
“Kenapa? Bertengkar lagi dengan suamimu ya?” tanya ayah Sarah.

“Iya, ayah”, jawab Sarah lirih sambil sesenggukan.

Anak yang di gendongnya, di ajak oleh neneknya, ibu Sarah.
ayo cu, ikut nenek“, ajak ibu Sarah pada anak yang sedang di gendong Sarah.

Kebetulan adik Sarah ada disini, sehingga anak Sarah kemudian diserahkan kepada adik Sarah untuk diajak jalan-jalan ke taman dibelakang rumah.

Sarah mulai menceritakan awal pertengkaran dengan suaminya tadi malam.

Sarah kecewa berat karena suaminya telah membohongi Sarah selama ini.

Sarah menemukan buku rekening suaminya terjatuh di dalam mobil.
Sarah baru tahu, kalau suaminya selalu menarik sejumlah uang setiap bulan, di tanggal yang sama.
Sementara Sarah tahu, uang yang Sarah terima pun sejumlah uang yang sama.

Berarti sudah satu tahun lebih, ayah….., suamiku membagi uangnya, setengah untuk Sarah, setengah untuk yang lain. Jangan-jangan ada wanita lain??“, ungkap Sarah.

Ayah Sarah hanya menghela nafas, wajah bijaksananya tidak menampakkan rasa kaget atau pun marah.

“Sarah…, dengarkan,
yang pertama,
langkahmu datang ke rumah ayah sudah dilaknat Allah dan para Malaikat-Nya, karena meninggalkan rumah tanpa seizin suamimu, pasti kamu tidak izin suamimu”, kalimat itu dilontarkan ayahnya, sontak membuat Sarah kebingungan.

Sarah mengira ia akan mendapat dukungan dari ayahnya.

Ayah Sarah melanjutkan berbicara,
yang kedua,
mengenai uang suamimu, kamu tidak berhak mengetahuinya.
Hakmu hanyalah uang yang diberikan suamimu ke tanganmu.
Itu pun untuk kebutuhan rumah tangga.
Jika kamu membelanjakan uang itu tanpa izin suamimu, meskipun itu untuk sedekah, itu tak boleh”, lanjut ayahnya.

“Sarah.., suamimu menelpon ayah dan mengatakan bahwa sebenarnya uang itu memang diberikan setiap bulan untuk seorang wanita.
Suamimu tidak menceritakannya padamu, karena kamu tidak suka wanita itu sejak lama.
Kamu sudah mengenalnya, dan kamu merasa setelah menikah dengan suamimu, maka hanya kamulah wanita yang memilikinya”.

“Suamimu meminta maaf kepada ayah karena ia hanya berusaha menghindari pertengkaran denganmu. Ayah mengerti karena ayah pun sudah mengenal watakmu”, mata ayah mulai berkaca-kaca.

“Sarah…,
kamu harus tahu,
setelah kamu menikah maka yang wajib kamu taati adalah suamimu.
Jika suamimu ridho padamu,
maka Allah pun Ridho.
Sedangkan suamimu, ia wajib taat kepada ibunya.

Begitulah Allah mengatur laki-laki untuk taat kepada ibunya.
Jangan sampai kamu menjadi penghalang bakti suamimu kepada ibundanya”.

“Suamimu, dan harta suamimu adalah milik ibu nya”.
Ayah mengatakan itu dengan tangis. Air matanya semakin banyak membasahi pipinya.

Sarah semakin diam membisu kehilangan kata-kata yang akan disampaikan kepada ayahnya. Karena dalam hatinya bak disambar petir, dengan maksud mencari pembelaan, namun yang didapat adalah sebaliknya.
Ayah Sarah melanjutkan penjelasan kepada anaknya yang hanya terpaku mendengarkan nasihat ayahnya.

Seorang ibu melahirkan anaknya dengan susah payah dan kesakitan,
kemudian ia membesarkannya hingga dewasa hingga anak laki-lakinya menikah, ia melepasnya begitu saja.

Kemudian anak laki-laki itu akan sibuk dengan kehidupan barunya, bekerja untuk keluarga barunya. Mengerahkan seluruh hidupnya untuk istri dan anak-anaknya.

Anak laki-laki itu hanya menyisakan sedikit waktu untuk sesekali berjumpa dengan ibunya. sebulan sekali, atau bahkan hanya1 tahun sekali, bahkan mungkin lebih dari itu.

Iya, ayah” sesekali Sarah menimpali kata ayah.

“Kamu yang sejak awal menikah tidak suka dengan ibu mertuamu.
Kenapa?
Karena rumahnya kecil dan sempit?
Sehingga kamu merajuk kepada suamimu bahwa kamu tidak bisa tidur disana.
Anak-anakmu pun tidak akan betah disana.”, itu kamu katakan pada ayah.

“Ketahuilah Sarah.., mendengar ini ayah sakit sekali”, ayahpun menyampaikan yang tadinya nada tinggi, sontak melemah dan kelihatan air matanya berlinang.

“Lalu, jika kamu saja merasa tidak nyaman tidur di sana.
Bagaimana dengan ibu mertuamu yang dibiarkan saja untuk tinggal disana?”, ayah masih menyampaikan perasaannya.

“Uang itu diberikan untuk ibunya. Suamimu ingin ayahnya berhenti berkeliling menjual gorengan”, ayah memberi tahu.

“Dari uang itu ibu suamimu hanya memakainya secukupnya saja, selebihnya secara rutin dibagikan ke anak-anak yatim dan orang-orang tidak mampu di kampungnya. Bahkan masih cukup untuk menggaji seorang guru ngaji di kampung itu”, lanjut ayah.

Sarah membatin dalam hatinya, uang yang diberikan suaminya sering dikeluhkannya kurang. Karena Sarah butuh banyak pakaian untuk mengantar jemput anak sekolah.

Sarah juga sangat menjaga penampilannya untuk merawat wajah dan tubuhnya di spa.
Berjalan-jalan setiap minggu di mall. Juga berkumpul sesekali dengan teman-temannya di restoran.

Sarah menyesali sikapnya yang tak ingin dekat-dekat dengan mertuanya yang hanya seorang tukang gorengan.

Tukang gorengan yang berhasil,
menjadikan suaminya seorang sarjana,
mendapatkan pekerjaan yang di idam-idamkan banyak orang,
dan berhasil mandiri,
hingga Sarah bisa menempati rumah yang nyaman dan mobil yang bisa ia gunakan setiap hari.

“Ayaaah, maafkan Sarah”, tangis sarah meledak.
Ibunda Sarah yang sejak tadi duduk di samping Sarah segera memeluk Sarah.

“Sarah…
kembalilah ke rumah suamimu.
Ia orang baik nak…,
bantulah suamimu berbakti kepada orang tuanya.
Bantu suamimu menggapai surga-Nya, dan dengan sendirinya, ketaatanmu kepada suamimu bisa menghantarkanmu ke surga”,
Ibunda sarah membisikkan kalimat itu ke telinga Sarah.

Sarah hanya menjawabnya dengan anggukan, ia menahan tangisnya.
Batinnya sakit, menyesali sikapnya.

“Terima kasih ayah ibu, saya mohon diri”, Sarah mohon diri, sembil mencium tangan ibu dan memeluknya serta dilakukan hal yang sama kepada ayahnya.

“Assalamu’alaikum”, pamit sarah
“Wa’alaikum salam warohmatullah”, jawab ayah dan ibu serentak.
“Hati-hati di jalan”, pesan ibu.

Sarah pun bergegas pulang untuk menghadap suaminya, namun karena suaminya masih bekerja, sehingga sampai di rumah Sarah langsung beres-beres rumah, memasak, dan malakukan hal-hal lain yang biasanya tidak dilakukan.

Rumah itu, nampak lebih rapi dari biasanya, bunga-bunga di tata rapi, seluruh ruang diberi pengharum sehingga tampak lebih menyegarkan. Hampir seharian Sarah menata setiap sudut ruangan, dan tidak lupa mengurus anaknya.

Ketika suaminya datang, Sarah bergegas memeluk dan sambil menangis memohon maaf kepada suaminya, atas prasangka yang salah selama ini.

Maafkan saya suamiku“, Sarah sambil menangis sesenggukan sambil memeluknya, kemudian mencium tangannya.
“Sekali lagi maafkan aku, mas, selama ini telah berprasangka buruk kepadamu”, lanjut Sarah.

“Iya, nggak apa-apa, ayo duduk, saya maafkan dan mari kita saling memaafkan”, balas suami Sarah.

“Terima kasih, karena telah mau memaafkan saya, silakan berkemas dulu, setelah itu baru nanti malam saya akan menyampaikan sesuatu padamu”, pesan Sarah kepada suaminya.

Kemudian Sarah menyampaikan berbagai hal yang disampaikan ayah dan ibu Sarah, ketika Ia bertandang ke rumah ayah ibunya, malam itu juga.

Di lain hari, Sarah pun mengajak suaminya bersilaturahmi kepada ibu kandung suaminya alias mertua dirinya.

Suaminya meneteskan air mata menatap istrinya yang di tangan istrinya tertenteng 4 liter minyak goreng untuk mertuanya.

Tetesan air mata suami bukan masalah jumlah liternya
tapi karena perubahan istrinya yang senang dan nampak ikhlas hendak datang kepada orang tuanya alias mertua istrinya.

Seterusnya Sarah berjanji dalam hatinya, untuk menjadi istri yang taat pada suaminya.

Sesekali waktu, Sarah bukan mengajak suaminya ke Mall tapi minta anjangsana ke rumah mertuanya dan juga orang tuanya.

tamat

Disadur dan diolah dari kiriman LikKasjo melalui Medsos
Artikel asli dapat dibaca di SMART, dengan title sama
Ilustrasi Google

Keterangan:

Merajuk adalah sikap yang menunjukkan rasa tidak senang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s