Lanjut ke konten

Kisah Sukses Berkah Mendengar Aturan Disampaikan dengan Cerewet

Kisah inspiratif ini sangat penting untuk kita simak bersama terutama jika sering dihadapkan pada aturan ini dan itu.

Kisah ini sudah pernah muncul beberapa waktu yang silam, dan terkait kebenaran kisah berikut ini mungkin masih diperlukan penelitian lebih lanjut, namun terlepas dari itu semua, aturan yang berlaku dan selalu disampaikan oleh salah seorang yang kemudian terkesan cerewet sebenarnya untuk kebaikan bersama.

Cerita ini menggambarkan kita yang menganggap betapa cerewetnya orang yang lebih tua, dengan menyampaikan aturan ini dan itu, namun dibalik itu sebenarnya mereka juga sangat menyayangi.


Ceritera Sore :

BUAH MANIS KECEREWETAN
(Kisah berikut ini adalah tentang apa yang terjadi di rumahtangga)
🙏🌻🌺❤🙏

Seorang putra tidak suka tinggal di rumah, karena ayah ibunya selalu ‘ngomel’, ia tak suka bila ibunya mengomelinya untuk hal-hal kecil ini….

“Nak ! Kalau keluar kamar matikan kipas anginnya.”
“Matikan TV, jangan biarkan hidup tapi tak ada yang menonton !

“Simpan pena yang jatuh ke kolong meja di tempatnya !”

Tiap hari dia harus ta’at pada hal-hal ini sejak kecil, saat bersama keluarga di rumah.

Maka tibalah hari ini, saat dia menerima panggilan untuk wawancara kerja…

“Dalam hati dia berkata : “Begitu mendapat pekerjaan, saya akan sewa rumah sendiri.
Tak akan ada lagi omelan ibu ayah,” begitu pikirnya.

Ketika hendak pergi untuk interview, ibunya berpesan :

“Nak ! Jawablah pertanyaan yang diajukan tanpa ragu-ragu.

Bahkan jika engkau tidak tahu jawabannya, katakan sejujurnya dengan percaya diri….”

ibunya memberinya uang lebih banyak dari ongkos yang dibutuhkan untuk menghadiri wawancara….

Setiba di pusat wawancara, diperhatikannya bahwa tidak ada penjaga keamanan di gerbang.

Meskipun pintunya terbuka, gerendelnya menonjol keluar, dan bisa membuat yang lewat pintu itu menabrak atau bajunya tersangkut grendel.

Dia geser gerendel ke posisi yang benar, menutup pintu dan
masuk menuju kantor.

Di kedua sisi jalan dia lihat tanaman bunga yang indah.
Tapi ada air mengalir dari selang dan tak ada seorang pun disekitar situ.
Air meluap ke jalan setapak.

Diangkatnya selang dan diletakkannya di dekat salah satu tanaman dan melanjutkan kembali langkahnya.

Tak ada seorang pun di area resepsionis.
Namun, ada petunjuk bahwa wawancara di lantai dua. …

Dia perlahan menaiki tangga.

Lampu yang dinyalakan semalam masih menyala, padahal sudah pukul 10 pagi.

Peringatan ibunya terngiang di telinganya :

“Mengapa kamu meninggalkan ruangan tanpa mematikan lampu ?”

Dia merasa agak jengkel oleh pikiran itu, namun dia tetap mencari saklar dan mematikan lampu.

Di lantai atas di aula besar dia lihat banyak calon duduk menunggu giliran.

Melihat banyaknya pelamar, dia bertanya-tanya, apakah masih ada peluang baginya untuk diterima ?

Diapun menuju aula dengan sedikit gentar dan menginjak karpet dekat pintu bertuliskan “Selamat Datang” …

Diperhatikannya bahwa karpet itu terbalik. Spontan saja dia betulkan, walau dengan sedikit kesal.

Dilihatnya di beberapa baris di depan banyak yang menunggu giliran, sedangkan barisan belakang kosong.

Terdengar suara kipas angin, dimatikanya kipas yang tidak dimanfaatkan dan duduk di salah satu kursi yang kosong….

Banyak pria memasuki ruang wawancara dan segera pergi dari pintu lain.

Sehingga tak mungkin ada yang bisa menebak apa yang ditanyakan dalam wawancara.

Tibalah gilirannya, dia masuk dan berdiri di hadapan pewawancara dengan agak gemetar dan pesimis….

Sesampainya di depan meja, pewawancara langsung mengambil sertifikat, dan tanpa bertanya langsung berkata :
“Kapan Anda bisa mulai bekerja ?”

Dia terkejut dan berpikir, “apakah ini pertanyaan jebakan, atau tanda bahwa telah diterima untuk bekerja disitu ?”
Dia bingung.

Apa yang Anda pikirkan ?” tanya sang boss lalu melanjutkan :

“Kami tidak mengajukan pertanyaan kepada siapa pun di sini.

Sebab hanya dengan mengajukan beberapa pertanyaan, kami tak akan dapat menilai siapa pun.

Tes kami adalah untuk menilai sikap orang tersebut…

Kami melakukan tes tertentu berdasarkan sikap para calon…

Kami mengamati setiap orang melalui CCTV, apa saja yg dilakukannya ketika melihat gerendel di pintu, selang air yang mengalir, keset “selamat datang”, kipas atau lampu yang tak perlu…

Anda satu-satunya yang melakukan.
Itu sebabnya kami memutuskan untuk memilih Anda !”

Hatinya terharu, dia ingat ibunya….
Dia yg selalu merasa jengkel terhadap disiplin dan omelan ibu ayahnya.

Kini dia menyadari bahwa justru omelan dan disiplin yg ditanamkan orang tuanyalah yang membuatnya diterima pada perusahaan yang diinginkannya…

Baca Juga : Kisah Tukang Bangunan Menjelang Pensiun

Kekesalan dan kemarahannya pada ibunya seketika sirna…

…..Hanya Anda satu-satunya yang melakukan apa yang kami harapkan dari seorang manajer, yaitu kepedulian dan perhatian pada lingkungan sekitar dengan tulus maka kami putuskan menerima Anda bekerja disini…….

ibu ! Ma’afkan anakmu, bisiknya dalam hati penuh rasa haru dan bersyukur.

Dia akan minta maaf kepada ibunya, dia akan ajak ibunya melihat tempat kerjanya…
Dia pulang ke rumah dengan bahagia…

Apapun yang orang tua katakan pada anaknya, adalah “demi kebaikan anak-anak itu sendiri”, untuk menyiapkan masa depan yang baik !

“Batu karang tak akan menjadi patung yang indah bernilai tinggi, jika tak dapat menahan rasa sakit saat pahat bekerja memotongnya”…

Untuk menjadi pribadi yang indah, kita perlu menerima dan mematuhi nasehat yang baik.

Kebiasaan baik akan muncul dari perilaku buruk yang dipahat dan “dibuang” dari diri kita…

Ibu menggendong anak di pinggangnya untuk memeluk, memberi makan dan untuk membuatnya tidur..

Tetapi ayah mengangkat anak dan mendudukkan di pundaknya, untuk membuatnya melihat dunia yang tidak bisa dilihat anaknya…

Ayah dan ibu adalah pahlawan, yang kasih sayangnya layaknya guru yang mendampingi anak sepanjang kehidupan…

Perlakukanlah orangtua sebaik-baiknya, agar jadi contoh dan bimbingan dari generasi ke generasi, yang menerima estafet kehidupan…

Semoga bermanfaat…😘
Dan semoga kita selalu bersyukur atas segala yang diberikanNya…🙏


Baca Juga : Ketika Terjepit Keadaan Keuangan: Kisah, Hikmah, dan Renungan

Baca Juga : Ternyata, Suamiku Milik Ibunya, Renungan untuk Isteri dan Calon Isteri

Baca Juga : Kemiskinan Membuat Ayahku Nekat Transmigrasi, Kisah (Nyata) Perjalanan

Taman Depan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Musi Banyuasin

Baca Juga : Manfaat Makan Buah di Saat Perut Kosong

diunggah: Kissparry (dari medsos)
editor: Eswedewea

Kissparry Lihat Semua

Fortuga Kissparry, forum keluarga Kissparry, dokumentasi, publikasi, dan terus menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: