BUNGA UNTUK IBUKU 35
(Tien Kumalasari)
Wijan menatap Bejo yang tampak sudah merasa lega, mengira tugas menyerahkan dompet kepada yang punya sudah selesai, karena si dompet sudah diterima oleh anak Raharjo.
“Ya sudah Nak, bawalah dompetnya, dan serahkan kepada ayahmu kalau dia sudah kembali. Aku sudah tidak punya beban, karena amanah simbok sudah terlaksana dengan baik. Terima kasih sudah mau datang ke gubug simbok. Tapi ngomong-ngomong kok sampeyan berdua ini datang kemari, ada apa ya. Atau … barangkali memang tahu bahwa dompet Raharjo ada di rumah ini?”
Wijan dan bibik saling pandang. Mereka sendiri tidak tahu, mengapa datang ke rumah gubug ini. Hanya ingin bertemu Bejo, dan membuktikan kalau wajahnya persis dengan ayahnya?
Bejo tampak tersenyum.
“Rupanya yang namanya Raharjo itu orang baik, sehingga Gusti Allah menuntun sampeyan berdua untuk datang kemari, demi dompet yang ditemukan simbok,” kata Bejo dengan mata berbinar.
“Bapak mirip sekali dengan ayah saya,” kata Wijan, dengan tatapan sedih.
Bejo tertawa lebar.
“Ya ampun Nak, saya hanya orang kampung, sedangkan ayahmu orang yang kaya raya. Masa iya wajah saya mirip?” Bejo mengelus wajahnya.
Wijan menghela napas. Bahkan saat tertawapun, Bejo sangat mirip ayahnya. Hal itu membuat Wijan masih terus menatapnya.
“Sebentar Pak, Bapak kan belum bercerita, bagaimana simboknya Bapak bisa menemukan dompet itu.?” bibik bertanya, sementara Wijan yang terus menerus menatap Bejo yang ingin menanyakan hal yang sama, belum sempat menanyakannya.
“Aku juga ingin menanyakan hal yang sama Bik.”
“Pada suatu hari, simbok menemukan saya terdampar di tepi sungai. Kata simbok, tadinya saya sedang mencari ikan. Karena hujan deras dan sungai banjir, saya hanyut. Untunglah kemudian simbok menemukan saya, lalu menyeretnya ke rumah. Dompet itu ditemukan di dekat saya terbaring pingsan. Barangkali Raharjo hanyut bersama-sama saya, entah sekarang ada di mana.”
Bejo tampak seperti prihatin.
“Setelah hanyut itu, saya jadi tak ingat apa-apa, kecuali nama saya Bejo, anaknya simbok,” lanjutnya.
Mata Wijan berbinar. Perkataan Bejo bahwa dia tak ingat apa-apa, menumbuhkan sebuah harapan. Bejo adalah ayahnya, tapi hilang ingatan. Tapi mengapa ada simbok, mengapa Bejo anaknya simbok?
“Ada yang lucu ketika saya ditemukan simbok,” kata Bejo yang kemudian terkekeh geli.
“Kenapa Pak, apa yang lucu?” tanya bibik.
“Entah bagaimana, saya mengenakan sepatu hanya sebelah.”
“Apa?” Wijan berteriak.
“Saya memakai sepatu hanya sebelah, simbok kalau ingat juga selalu terkekeh geli. Ia mengira saya menemukan sepatu hanya sebelah. Tapi sepatu itu pas di kaki saya. Simbok menyuruh saya membuangnya saja, tapi setiap kali saya ingin membuangnya, ada rasa sayang, begitu. Entah kenapa,”
Bejo menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Sepatu itu masih Bapak simpan?” kata Wijan bersemangat.
“Ada, tuh, dipojokan,” kata Bejo sambil menunjuk ke arah sudut rumah, dimana sepatu dan kaos kaki masih teronggok di sana.
Wijan memburu ke arah sepatu sebelah yang ditaruh di pojokan rumah. Ia mengambilnya, lalu merangkul Bejo dengan sangat erat.
“Bapak ….” suara Bejo bergetar ketika mengucapkannya. Bibik melongo melihatnya.
Tapi Bejo mendorong tubuh Wijan sambil berteriak.
“Hei, apa katamu? Aku belum pernah menikah, bagaimana bisa punya anak? Sebesar kamu pula?”
“Bapak adalah ayahku, aku sangat yakin.”
“Hanya karena wajahku mirip? Mana mungkin aku ayahmu. Kamu bingung karena sudah lama kehilangan ayah kamu, lalu mengira orang yang mirip adalah benar-benar ayahmu.”
Wijan mengambil ponselnya, ia menunjukkan sebuah gambar sepatu. Sepatu sebelah milik ayahnya dan kaos yang ditemukannya saat dia menyusuri sungai itu.
“Lihatlah ini. Ini sepatu yang sebelah lagi. Milik Bapak yang tercecer. Pasangan sepatu yang itu,” kata Wijan yang merasa menyesal karena tadi tidak membawa sepatu itu. Soalnya dia juga tak berpikir akan mencocokkan sepatu yang ditemukan sebelah lagi.
Bejo tampak bingung.
“Bukankah itu sepatu bagus? Mana mungkin simbok membelikan aku sepatu sebagus itu,” Bejo masih belum bisa menangkap perkataan Wijan tentang foto sepatu yang ditunjukkannya.
“Bapak, waktu itu mobil Bapak mengalami kecelakaan. Terjerumus ke jurang didekat sungai. Bapak mungkin tercebur ke sungai dan hanyut, karena waktu itu hujan lebat dan sungai di sana banjir.”
“Saya menyusuri sungai itu untuk mencari Bapak, pertama-tama menemukan kaos kaki, kemudian menemukan sepatu hanya sebelah. Saya yakin itu sepatu Bapak. Masa anaknya tidak mengenali sepatu bapaknya?”
“Lalu apa? Yang sebelah lagi aku temukan saat memancing, aku pakai, lalu aku hanyut, begitu?” sela Bejo yang merasa Wijan hanya mendongeng.
Wijan tiba-tiba merasa sedih, karena orang yang diyakini sebagai ayahnya tetap tak bisa menerima apa yang diuraikannya. Ia mengusap air mata yang menetes, dengan punggung tangannya.
Bibik yang merasa iba, juga ikut bingung harus mengatakan apa.
“Pak, sesungguhnya Bapak itu bukan anaknya mbok Supi. Bapak itu orang kaya, pengusaha besar di sebuah kota, yang menghilang dalam sebuah kecelakaan mobil. Lalu Bapak hilang ingatan, sehingga tidak ingat bahwa mas Wijanarko ini adalah putra Bapak.”
“Bu, Ibu ini bagaimana? Katakan saya hilang ingatan, memang betul, karena tak banyak yang saya ingat dalam hidup saya ini, tapi simbok saya kan tidak hilang ingatan juga? Nama saya Bejo, belum nenikah, hanyut ketika sedang mencari ikan di sungai. Kurang jelas apa?””

Wijan kembali mengusap air matanya. Ia mendekap sepatu sebelah dengan kaus kaki di dalamnya itu, ke dadanya.
“Nak Wijanarko, jangan sedih. Barangkali ayah kamu akan ditemukan di tempat lain. Saya akan ikut mendoakan,” kata Bejo, tulus.
“Oh, iya Nak, coba dompetnya itu dibuka dulu, apa isinya sudah benar. Saya lihat dari tadi nak Wijanarko belum membuka isinya secara utuh.
Saya tidak mengambil apa-apa dari dompet itu, meskipun saya pernah membuka dan mengeluarkan isinya, tapi hal itu saya lakukan karena saya mencoba ingin tahu, barangkali ada petunjuk tentang pemilik dompet itu, karena sebelum meninggal, simbok wanti-wanti agar saya bisa mengembalikan dompet itu ke pemilliknya.
Tapi saya hanya bisa membaca sebuah nama di KTP, yang sebenarnya sudah tidak jelas. Raharjo. Dan alamatnyapun tulisannya putus-putus.
Saya menemukan alamatnya setelah meminta tolong kepada setiap orang yang saya temui, agar ikut mengeja alamat yang ada di KTP itu.
Sayang tidak menemukan penghuni rumah besar itu,” Bejo menceritakannya dengan panjang lebar.
“Kecuali itu, kartu-kartu lain yang tampaknya seperti kartu bank, sudah rusak. Barangkali sudah terendam air selama berhari-hari,” lanjutnya.
Wijan menatap Bibik.Ada rasa heran, seorang dusun yang lugu, bisa tahu kartu bank. Tidak mungkin kan, simbok punya karti ATM atau sebangsanya?
Keyakinan bahwa Bejo adalah ayahnya semakin kuat. Ia harus membawanya dan mengajaknya pulang. Butuh penanganan dokter untuk membuat ingatannya kembali utuh.
“Bagaimana kalau pak Bejo kita bawa pulang ke rumah Bapak? Kita akan membawanya ke dokter,” kata Wijan meminta pendapat bibik.
“Ya Mas, saya setuju. Kita ajak pak Bejo pulang ke rumah bapak.”
“Apa? Sampeyan akan mengajak saya ke mana? Tidak bisa. Simbok menitipkan ladang di belakang agar saya memetik sayuran untuk dijual ke pasar. Kalau tidak, saya harus makan apa?”
Wijan merasa sangat sedih. Ia memegang tangan Bejo dengan lembut.
“Begini Pak, Bapak tadi kan bilang bahwa Bapak tidak ingat apa-apa? Bagaimana kalau kami mengajak Bapak ke kota, lalu bapak akan saya bawa ke dokter.”
“Tidak … tidak … saya tidak punya cukup uang. Untuk makan besok saja saya harus menjual lembayung yang akan saya petik besok pagi,” katanya lugu, membuat Wijan kembali menitikkan air mata.
“Pak, untuk ke dokter Bapak tidak perlu mengeluarkan uang. Di dompet ini ada uang yang banyak. Nanti Bapak berobat dengan uang ini.”
“Tunggu. Kamu itu tidak bisa sembarangan memakai uang yang bukan milik kamu. Walaupun itu milik bapakmu, tapi tanpa seijin dia, mana bisa kamu memakai uangnya?”
Wijan menghela napas panjang, sedih dan kesal.
“Begini, Bapak kan sudah menemukan dompet ini. Nah, sebagai imbalannya, saya akan membawa Bapak ke dokter.”
“Sama saja. Apapun alasannya, dompet itu harus sampai ke tangan bapakmu dulu.”
“Tidak. Saya yang akan bayar biayanya.”
“Kamu, anak kecil, punya uang?”
“Pak, mas Wijan ini anaknya orang kaya. Jadi sudah tentu punya uang sendiri yang cukup banyak. Menurut saya, mas Wijan ini maksudnya baik. Dia ingin membalas budi karena kebaikan Bapak. Lagipula apa Bapak tidak ingin ingatan Bapak kembali seperti semula? Satu lagi Pak, orang lupa ingatan itu, lama-lama kalau dibiarkan bisa menjadi penyakit gila lho,” kata bibik mencoba menakut-nakuti.
“Apa? Bisa menjadi gila?”
“Sekarang Bapak masih bisa bicara dengan baik, mengatakan segala sesuatu dengan baik, tapi kalau dibiarkan, otak akan rusak, lama-lama bisa menjadi gila. Lha kalau orang gila itu kan polahnya nggak karuan. Bicara nggak karuan, tingkah lakunya ya nggak jelas. Mau, Bapak seperti itu?”
Bejo terdiam. Gambaran yang dikatakan bibik membuatnya berpikir. Dia lupa segalanya, masa lalunya. Yang dia tahu hanya ketika sadar dan melihat simbok, dan merasa bahwa dia anaknya simbok. Selebihnya entahlah.
“Apa Bapak nggak ingin sembuh?”
“Mau ya Pak, ini sudah sore. Sebelum gelap kita pergi. Bapak tidak usah khawatir tentang makanan. Di sana, semuanya tersedia, makanan, pakaian. Dan Bapak akan mendapat pengobatan yang baik. Apa tidak senang, bisa mengingat masa lalu Bapak?”
“Tapi nanti setelah sembuh, saya boleh kembali kemari kan?”
“Kalau Bapak sudah sembuh, Bapak boleh melakukan apa saja yang Bapak inginkan. Kemari atau ke manapun yang Bapak mau.”
Dengan Wijan dan Bibik yang bergantian membujuknya, akhirnya Bejo mau mengikuti kata-katanya. Tak lupa, Wijan menyuruh bibik membungkus sepatu dan kaos kaki ayahnya.
Wijan bersedia pulang ke rumah ayahnya, setelah mendengar bahwa rumah itu kosong setelah ibu tirinya ditahan polisi.
Wijan menelpon taksi, yang biarpun agak lama datangnya, tapi dengan cepat bisa membawanya ke rumah Raharjo. Tidak usah menunggu angkutan umum yang belum tentu ada, mengingat hari mulai senja.
*
Sudah malam ketika taksi yang membawa Bejo bersama Wijan dan bibik sampai di depan rumah. Mereka turun, dan Bejo langsung berteriak.
“Ini rumah Raharjo, aku pernah datang kemari. Mau apa kita ke sini?” kata Bejo sambil menujuk ke arah rumah.
“Kita akan menunggu kepulangan pak Raharjo di sini,” kata bibik, sementara Wijan sedang mencari nomor pak Rangga yang semula sudah di buangnya. Untunglah masih tersimpan di ponselnya, biarpun nomor sudah berubah.
Pak Rangga heran menerima nomor tak dikenal. Ia tak ingin mengangkatnya, tapi dering panggilan itu terus berbunyi.
“Hallo,” akhirnya pak Rangga menjawabnya.
“Selamat malam pak Rangga, saya Wijanarko.”
“Wijanarko?” pak Rangga berteriak.
“Iya. Saya ada di depan rumah, tapi gerbang digembok, apa Bapak menyimpan kuncinya?”
“Tentu saja. Aduh, kemana saja kamu Wijan? Kejadian yang menimpa keluarga kamu sungguh membuat saya prihatin.”
“Iya Pak. Saya sudah membawa bapak pulang.”
“Apa?” pak Rangga berteriak kembali.
“Iya. Iya ini kami masih di luar gerbang.
“Tunggu, aku akan ke situ. Secepatnya.” Pak Rangga langsung menutup ponselnya.
“Bisa mendapatkan kuncinya Mas?” tanya bibik.
“Bisa.pak Rangga sendiri yang akan membawanya kemari.”
Bejo menatap rumah itu tak berkedip. Lampu teras yang selalu menyala itu membuat rumah kosong tak berpenghuni itu tampak terang, tapi lengang.
iba-tiba Bejo teringat pada sebuah bayangan beberapa hari yang lalu. Dua orang sedang bercanda di teras itu. Seorang gadis kecil, dan pemuda yang …. Bejo menatap Wijan.
a melihat anak muda yang bercanda itu seperti Wijan. Bejo mengerjapkan matanya berkali-kali. Heran atas apa yang pernah dilihatnya dalam bayangan yang tak jelas, karena tiba-tiba bayangan itu hilang.
Bejo mengusap wajahnya dengan kedua tangan.
“Ada apa Pak,” tanya Wijan.
“Tidak. Tidak apa-apa.”
Sebuah mobil berhenti, Wijan mendekat, dan melihat pak Rangga turun dari mobil, yang segera merangkulnya erat.
“Syukurlah kamu sudah kembali. Mana pak Raharjo?”
Wijan menoleh ke arah Bejo yang masih menatap ke arah rumah. Pak Rangga melihatnya agak heran, karena pakaian Raharjo yang tampak aneh. Ia menyerahkan kunci kepada bibik. Kemudian dia bergegas mendekati Raharjo, dan merangkulnya.
“Alhamdulillah, Pak Raharjo, akhirnya Bapak kembali,” katanya penuh haru.
Bejo mendorong tubuh pak Rangga.
“Bapak salah, saya bukan Raharjo. Saya Bejo.”
Pak Rangga terpaku di tempatnya berdiri.
*
Besok lagi ya. — berambung —
by Tien Kumalasari
Kissparry