Semua tulisan dari Eswede Weanind

Saya bertempat tinggal di Kota Semarang

Bunga Untuk Ibuku | 10, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 10
(Tien Kumalasari)

Mendengar kakaknya memarahi Wijan dengan kata kasar, Nilam ikut naik pitam. Ia mendekati sang kakak dan menarik tangannya.

“Kenapa Mbak Hasti begitu jahat sama mas Wijan? Memang kenapa kalau mas Wijan punya ponsel baru?”

Lanjutkan membaca Bunga Untuk Ibuku | 10, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga Untuk Ibuku | 09, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 09,
(Tien Kumalasari)

Nilam heran mendengar dering ponsel dari dalam kamar Wijan. Ia segera menarik tangan Wijan untuk masuk ke dalamnya.

“Mas Wijan punya ponsel?” tanya Nilam heran.

“Iya, baru saja bapak memberikannya. Tapi kok sudah ada yang menelpon? Memangnya siapa yang tahu nomor kontak aku? Aku saja belum tahu.”

“Coba lihat Mas, dan angkat.”

Lanjutkan membaca Bunga Untuk Ibuku | 09, Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 08 Cerbung, Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 08
(Tien Kumalasari)

Nilam melompat berdiri, menatap ke arah laju mobil ibunya.

Wijan meraih tangannya dan memintanya kembali duduk. Wajah Nilam gelap bagai mendung.

“Ibu bersama siapa tadi?”

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 08 Cerbung, Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 07 Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU 07
(Tien KUmalasari)

Wajahnya berseri, ketika panggilan telponnya diangkat oleh Baskoro.

“Pagi, cantikku,” jawaban dari seberang.

“Bas, jangan lupa ingatkan ke dealer, kirimnya jangan lama-lama. Nanti kita makan siang bersama, seperti biasanya.”

“Oke, bidadari cantik, siap, laksanakan.”

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 07 Cerbung Tien Kumalasari

Bunga untuk Ibuku | 06, Cerbung Tien Kumalasari


BUNGA UNTUK IBUKU  06,
(Tien Kumalasari)
 
Bu Rusmi mencubit lengan Baskoro, dengan cubitan mesra, membuat Baskoro seperti sedang melayang diudara.

Lanjutkan membaca Bunga untuk Ibuku | 06, Cerbung Tien Kumalasari