Mendengar Khutbah Jumat


Berikut ini artikel tentang mendengarkan khutbah Jumat, kiriman dari Medsos, semoga bermanfaat


Jepang

DIANTARA ADAB MENDENGAR KHUTBAH JUM’AT

Saudaraku Kaum Muslimin rohimakumulloh…

Alhamdulillah, pagi hari ini kita berada di hari yang mulia lagi, yaitu Hari Jum’at.

Seperti biasa, pembahasan kita pagi ini, masih terkait dengan hukum-hukum seputar ibadah sholat Jum’at.

Ya, terutama tentang adab-adab yang perlu diperhatikan ketika mendengar khutbah Jum’at, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama

Jika memungkinkan, hendaknya kita duduk dekat dengan imam/khotib, untuk bisa mendengar dan memperhatikan dengan seksama khutbah dan nasehatnya imam/khotib.

Hal ini berdasarkan hadits Samuroh bin Jundub ridhiyallohu anhu, bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

احضروا الذكر وادنوا من الإمام، فإن الرجل لا يزال يتباعد حتى يؤخر في الجنة وإن دخلها

“Hadirilah dzikir (yakni khutbah jum’at), dan dekatlah dengan imam. Sebab seseorang itu senantiasa berjauhan (dari khotib/imamnya) hingga dia pun akan diakhirkan masuk surga, meskipun dia (juga) akan memasukinya.”

[HR Abu Dawud no. 1108, dihasankan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dlm Shohih Abi Dawud (1/304)]

Juga berdasarkan hadits Aus bin Aus rodhiyallohu anhu, bahwa Nabi shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, kemudian berpagi-pagi ke masjid untuk sholat Jum’at, berjalan dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam, dan mendengar serta tidak berbuat sia-sia, maka setiap langkahnya (untuk menuju sholat Jum’at) akan mendapatkan pahala puasa dan sholat malam satu tahun penuh.”

[HR Abu Dawud no. 345, At-Tirmidzi no. 496, Ibnu Majah no. 1087 dan An-Nasa’i no. 1380, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dlm Shohih Abi Dawud, Shohih At-Tirmidzi, Shohih Ibni Majah dan Shohih An-Nasa’i]

Kedua

Apabila seseorang mengantuk ketika mendengar khutbah, dianjurkan untuk berpindah ke tempat duduk yang lainnya.

Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma, bahwa Nabi shollallohu alaihi was sallam bersabda :

إذا نعس أحدكم وهو في المسجد فليتحول من مجليه ذلك إلى غيره

“Apabila salah seorang dari kalian mengantuk ketika berada di masjid, maka hendaklah dia berpindah dari tempat duduknya ke tempat yang lainnya.”

Dalam lafadz menurut redaksi Imam At-Tirmidzi :

إذا نعس أحدكم يوم الجمعة فليتحول من مجلسه

“Apabila salah seorang dari kalian mengantuk pada hari Jum’at, maka hendaklah dia berpindah dari majelisnya (tempat duduknya).”

[ HR Imam Abu Dawud no. 1119, At-Tirmidzi no. 526 dan Imam Ahmad dlm Al-Musnad (1/22, 32, 135), dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani rohimahulloh dlm Shohih Abi Dawud (1/208) ]

Ketiga

Sebagian ulama melarang mendengar khutbah Jum’at dengan duduk sambil memeluk lutut atau betis, yang disebut dengan Duduk Hibwah atau Duduk Ihtiba’.

Dalilnya adalah hadits Sahl bin Mu’adz bin Anas, dari bapaknya :

أن رسول الله صلى الله عليه و سلم نهى عن الحبوة يوم الجمعة والإمام يخطب

“Bahwasannya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam melarang dari duduk hibwah (ihtiba’) yang dilakukan ketika imam sedang khutbah di hari Jum’at.”

[ HR Ahmad (3/439), At-Tirmidzi no. 514, Abu Dawud no. 1110 dan Al-Baihaqy (3/235) ]

Tetapi hadits ini diperselisihkan oleh para ulama tentang keshohihannya.

Syaikh Al-Albani rohimahulloh menghasankannya dalam Shohih Abi Dawud (1/206).

Akan tetapi guru kami, Syaikh Yahya bin Ali Al-Hajuri hafidzohulloh menyatakan dho’ifnya hadits ini, dalam kitab beliau Ahkamul Jum’ah wa Bida’uha (hal. 261).

Kemudian beliau juga membawakan riwayat-riwayat yang lainnya dari hadits Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma, sebagaimana yang diriwayatkan Ibnu Majah (no. 1134), tetapi sanadnya juga dho’if.

Kemudian juga dalam hadits Jabir rodhiyallohu anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Ady dlm Al-Kamil fii Dhu’afaa’ir Rijal (4/188), sanadnya pun juga dho’if.

Intinya, semua hadits yang menjelaskan larangan duduk hibwah atau Ihtiba’ ketika mendengar khutbah Jum’at, tidak ada satu pun yang shohih.

Sebaliknya, guru kami, Syaikh Yahya Al-Hajury hafidzohulloh membawakan riwayat-riwayat yang shohih dari para ulama salaf, bahwa mereka justru banyak yang melakukan duduk dengan cara hibwah/ihtiba’, yang menunjukkan bolehnya hal tersebut.

Diantaranya, atsar yang diriwayatkan Al-Imam Abu Dawud (no. 1111), dari Ya’la bin Syaddad bin Aus, dia berkata :

“Aku pernah menyaksikan Baitul Maqdis bersama Mu’awiyah rodhiyallohu anhu, kemudian beliau mengimami kami sholat Jum’at. Dan aku perhatikan, ternyata kebanyakan orang yang ada di dalam masjid ketika itu adalah para Sahabat Nabi shollallohu alaihi wa sallam. Maka aku melihat mereka duduk ihtiba’, sedangkan imam ketika itu sedang berkhutbah.”

Kemudian Al-Imam Abu Dawud rohimahulloh yang meriwayatkan atsar ini berkata :

“Ibnu Umar rodhiyallohu anhuma biasa duduk ihtiba’ ketika imam sedang berkhutbah…”

“Dan tidaklah sampai kepadaku berita tentang orang yang membenci duduk seperti ini, kecuali Ubadah bin Nusayyin (yakni seorang Tabi’in dari negeri Syam).”

Atsar tersebut di atas, dinyatakan oleh Syaikh Yahya hafidzohulloh : “Atsar ini sholih (yakni shohih) dgn penguatnya.”

[ Ahkamul Jum’ah, hal. 262 ]

Kemudian beliau juga membawakan riwayat-riwayat atsar yang lainnya, sampai akhirnya beliau berkata :

“Maka diketahui dengan yakin (berdasarkan atsar-atsar tersebut di atas), tentang bolehnya duduk ihtiba’ ketika khotib sedang khutbah di hari Jum’at. Hal itu karena dho’ifnya hadits yang melarangnya, dan tetapnya (shohihnya riwayat) tentang duduk ihtiba’ dari kebanyakan para ulama salaf, ridhwanallohu alaihim (semoga Alloh meridhoi mereka semua).”

[ Ahkamul Jum’ah, hal. 263 ]

Al-Imam Al-Iroqy rihimahulloh juga menegaskan :

“Kebanyakan ahli ilmu (yakni para ulama) berpendapat tidak dimakruhkan (yakni tdk dibenci, duduk ihtiba’ itu). Dan mereka telah menjawab/menjelaskan bahwa hadits-hadits dalam bab ini (yakni tentang larangan duduk ihtiba’), semuanya adalah dho’if.”

[ Nailul Author (3/285-286), karya Imam As-Syaukani rohimahulloh ].

Demikianlah beberapa adab yang perlu diketahui, khususnya ketika seseorang mendengar khutbah yang disampaikan khotib di hari Jum’at.

Sebenarnya masih banyak yang lainnya, tetapi semoga yang sedikit ini bermanfaat bagi kita semuanya, barokallohu fiikum….

Surabaya, Jum’at pagi yang sejuk, 19 Jumadil Ula 1440 H / 25 Januari 2019 M

Akhukum fillah, Abu Abdirrohman Yoyok WN Sby

Silahkan joint pada channel telegram kami :

https://t.me/joinchat/AAAAAFFt2cVSmpS0g2Gsvw

Semoga bermanfaat bagi kita semuanya.

Kiriman Medsos
Di unggah oleh Kissparry
Editor Eswedewea

Renungan Fajar 2019, Secangkir Kopi Pagi


Di awal tahun 2019 ada baiknya kita sejenak merenung dengan membaca Renungan Fajar 1 Januari 2019, tiada lain untuk upaya kita dalam meningkatkan ketakwaan.

Lanjutkan membaca Renungan Fajar 2019, Secangkir Kopi Pagi

Doa Akhir Tahun dan Awal Tahun Baru Hijriyah


Doa Akhir tahun ini dicantumkan oleh Sayid Utsman bin Yahya dalam karyanya Maslakul Akhyar sebagai berikut.

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْه وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِي وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّي وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

Allâhumma mâ ‘amiltu min ‘amalin fî hâdzihis sanati mâ nahaitanî ‘anhu, wa lam atub minhu, wa hamalta fîhâ ‘alayya bi fadhlika ba‘da qudratika ‘alâ ‘uqûbatî, wa da‘autanî ilat taubati min ba‘di jarâ’atî ‘alâ ma‘shiyatik. Fa innî astaghfiruka, faghfirlî wa mâ ‘amiltu fîhâ mimmâ tardhâ, wa wa‘attanî ‘alaihits tsawâba, fa’as’aluka an tataqabbala minnî wa lâ taqtha‘ rajâ’î minka yâ karîm.

Artinya, “Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Karenanya aku memohon ampun kepada-Mu. Ampunilah aku.

Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah pupuskan harapanku. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

Berikut ini lafal doa awal tahun :

اَللَّهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِه، وَالعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

Artinya: Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Dan atas karunia-Mu yang besar dan mulia kemurahan-Mu, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba.

Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini.

Aku pun meminta tolong-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat.

Kepada-Mu, aku meminta aktivitas keseharian yang mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.

Cara Mencari Siaran Televisi Parabola pada Frekuensi Siaran yang Di Kunci atau Diacak


Kissparry sempat bingung bagaimana mencari siaran TV Indonesia saat Open Ceremony Asean Games 2018 yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, dan untungnya NET TV menyiarkan. Namun tiba-tiba SCTV dan TVRI yang tadinya nggak bisa kok jadi bisa munculkan gambar acara Open Ceremony.

Lanjutkan membaca Cara Mencari Siaran Televisi Parabola pada Frekuensi Siaran yang Di Kunci atau Diacak

Doa di Jumat yang Penuh Berkah


Doa Di jum’at Yang Penuh Berkah. Lanjutkan membaca Doa di Jumat yang Penuh Berkah