Catatan yang Tertinggal

Rasanya masih seperti sebuah mimpi. Ketika menginjakkan kaki di bumi Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatra Selatan. Memang bukan kali pertama. Tapi kunjunganku (tentu dengan anak dan istriku) kali ini terasa sangat istimewa. Yah, karena aku dapat bertemu dengan saudara sekandungku, beserta seluruh anggota keluarga mereka, di sini. Walaupun ada satu adik perempuanku, Uplik, tidak dapat ikut berkumpul karena dalam masa-masa awal kehamilan anak ke-3. Ngidam istilahnya.

Mengapa seperti sebuah mimpi? Rencana demi rencana telah disusun dengan sedemikian rapinya oleh mas Wardi (kakak tertua dari kami enam bersaudara), dua setengah tahun silam, tepatnya awal tahun 2014. Tapi apalah daya, program rencana tersebut tidak berjalan  sebagaimana yang diharapkan. Hanya mas Wardi sajalah yang tetap aktif menabung. Walhasil, acara temu kangen dan silaturahmi pun terancam batal.

Kebetulan acara temu kangen ini diputuskan bertempat di rumah om Naryo di Sekayu, yang notabene jaraknya relatif dekat dengan tempat tinggalku, bila dibanding dengan saudaraku yang lain. Jadi aku putuskan untuk tetap pergi, terlepas apakah acara itu jadi atau tidak.

Sebenarnya ada semacam kesepakatan tak tertulis antara aku dan om Naryo untuk saling bergantian silaturahmi bila lebaran tiba. Dan tahun 2016 adalah giliranku. Karena menjelang lebaran aku punya kesibukan yang tak bisa aku tinggalkan, maka kuputuskan untuk pergi pada bulan Desember, seperti rencana acara kumpul keluarga berlangsung.

otm dari Rimbo Bujang, Tebo, Jambi ke Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan
otw dari Rimbo Bujang, Tebo, Jambi ke Sekayu, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan

Mulailah aku menghubungi Sri Wahyuni dan Uplik (dua adik perempuanku) di Batam. Kepada mereka kuberi tahu bahwa aku akan pergi ke Sekayu. Juga kutanyakan apakah mereka berencana silaturahmi dengan Simbok (panggilan kami kepada ibu). Di luar dugaan Sri yang semula aku ragukan untuk pergi ternyata bersedia. Dan Uplik, karena alasan yang telah aku sebutkan di atas, dengan berat hati membatalkan niatnya. Kepada adikku di Tenggulang Baru , Ndakir, ah.. gampang pikirku karena jaraknya lebih dekat lagi dengan Sekayu, hanya puluhan kilo meter dibanding aku yang ratusan kilometer. Sementara kepada Mas Wardi yang di Semarang Jawa Tengah, aku enggan untuk bertanya. Alasan kesehatan beliaulah yang membuatku enggan bertanya. Tetapi niatku dan Sri untuk pergi ke Sekayu tetap aku ceritakan kepada beliau, juga adikku si Ndakir, dan pastilah Simbok diberi tahu.

Tetapi mas Wardi memutuskan tetap akan hadir tanpa khawatir akan kondisi kesehatan beliau. Inilah yang membuat kami, aku khususnya, sangat bangga dengan beliau. Bangga akan semangat dan ketegaran beliau dalam menghadapi ujian ini.

Akhirnya, tak ada ungkapan yang dapat kuutarakan di sini. Selain kebanggaanku menjadi bagian dari keluarga ini. Bangga sebagai anak dari Bapak Kismo dan Ibu Pariyem.

Semoga rencana temu kangen di Batam tahun 2019 dapat berlangsung seperti yang kita rencanakan.

Halooo Batam, wait us.

We are coming ….

Tinggalkan Balasan
Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan

Iklan

3 tanggapan untuk “Catatan yang Tertinggal”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s