Hikmah Silaturahmi, Kernet itu Sukses

HIKMAH SILATURAHMI

Cerita ini saya dapatkan saat saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), di kisahkan pada saat mata pelajaran Bahasa Indonesia. Guru kelas saya tersebut masih saudaraku juga, putranya Pak Dhe (Pak Tuo), keseharian aku memanggilnya guruku dengan sebutan Mas.

Saat itu termasuk memberi motivasi di kelas. Dikarenakan ceritanya begitu mengenang di dalam fikiran saya, sehingga sampai kini saya tidak melupakan. Hal itu karena kami adalah perantau juga.

“Ada seorang mahasiswa dari Kota Medan yang merantau sambil kuliah di Jakarta, sebut saja namanya Ucok. Ia tidak memiliki keluarga di Jakarta, dan hanya dengan modal nekat saja, si Ucok ingin ke kota di Jawa. Pergi ke Jakarta hanya membawa bekal sekedar untuk naik bus sampai Jakarta.”, guruku mulai mengisahkan.

Di Jakarta Ucak tinggal dibawah jembatan seperti halnya kawan-kawan tuna wisma yang mengadu nasip di Jakarta.  Setiap hari Ucok bekerja sebagai kernet angkutan kota, untuk membiayai hidup sehari-hari dan sebagian di tabung. Ucok berniat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, ia ingin kuliah di perguruan tinggi yang siap menerimanya, karena ia hanya lulusan SMA (SLTA) yang sudah agak lama lulus.

Meskipun ia kuliah tetapi tetap saja sebagai seorang kernet harus Ucok lakoni. Setiap penumpang yang naik dan sudah punya pekerjaan tetap selalu mengajak kenalan dan minta alamat, tidak berhenti sampai minta alamat tetapi berkunjung untuk bersilaturahmi kerumah orang tersebut dan diagendakan dalam buku agenda hariannya, di sela-sela bekerja dan kuliah, ia selalu menyempatkan untuk berkunjung ke orang-orang yang ia kenal.

Karena Ucok termasuk sopan, ramah, dan rendah hati banyak orang yang dikunjunginya kemudian menganggap ia sebagai keluarga.  Kenalan yang sering dikunjungi mulai dari Lurah sampai dengan pengusaha sukses. Di buku agendanya sudah lebih dari 1.000 orang yang menganggapnya seperti keluarga.

Kawan-kawan kampusnya menganggap Ucok mahasiswa yang stres karena pekerjaannya keliling berkunjung ke semua orang yang dikenal, dan hidupnya di kolong jembatan. Tetapi tidak sedikit yang segan terhadap Ucok karena termasuk mahasiswa genius.

Setelah selesai kuliah dan wisuda kegiatan masih sama, bukanya mencari kerja. Kawan dekat di kampus merasa heran dengan si Ucok, karena ia tetap menjadi kernet angkota dan tinggal di kolong jembatan, terlebih Ucok seorang sarjana dengan IP 3,99 nyaris 4,00 (sempurna).

Semenjak kuliah Ucok telah merencanakan akan membuka usaha, namun bagaiman cara mencari modal? Ketika awal bulan Ucok mulai berfikir keras untuk melaksanakan rencananya dengan mengumpulkan modal untuk usaha yang telah direncanakan semenjak kuliah tersebut. “Bagaimana saya mencari modal, tetapi hanya sebagai kernet angkot, dan hasilnya ditabung?”, fikirannya mulai kasak-kusuk. “Hal ini tidak mungkin karena untuk kebutuhan hidup saja pas-pasan, mencari pinjaman di bank lebih tidak mungkin lagi, jaminannya apa, tidur saja di kolong jembatan” fikirannya menegaskan.

Ucok memberanikan diri untuk mencoba mencari pinjaman kepada orang-orang yang pernah ia kunjungi selama ini. “Saya harus mencoba mencari pinjaman, semoga mereka percaya kepada saya dan bersedia meminjami”, gumamnya. Kemudian mulailah menyusun strategi, dan memilih orang-orang yang akan dikunjungi lebih awal.

Dalam bulan pertama Ucok mengunjungi 300 orang kenalan yang sudah dirintis selama kuliah dengan meminjam uang sebesar Rp 500.000,- dengan surat perjanjian uang tersebut akan dikembalikan selama 6 bulan, karena alasan untuk modal usaha dan kepercayaan mereka yang sudah dipupuk Ucok selama kuliah, maka usahanya tidak sia-sia, artinya di bulan pertama Ucok sudah mengantongi Rp 150.000.000,-. Uang yang terkumpul disimpan di bank, seluruh kenalan sejumlah 3.000 orang berhasil didatangi dalam waktu 3 bulan, semua kenalannya meminjamkan uang kepada Ucok, berarti sudah mengumpulkan 3.000 orang kali Rp 500.000 sama dengan Rp 1.500.000.000,-.

Dengan bekal ilmu menejemen yang diperoleh selama kuliah, uang tersebut digunakan untuk membeli supermarket tiga lantai dengan isinya (waktu itu) seharga Rp 1.350.000.000. Cadangan Rp 150.000.000 untuk pengembalian pinjaman 300 orang pertama.

Usahanya Ucok semakin berkembang dan maju karena ia berhasil mengajak seluruh kenalannya untuk belanja di supermarketnya dengan memberikan diskon khusus. Dengan sendirinya Ucok sudah memiliki pelanggan tetap kurang lebih 3.000 orang.

Sampai jatuh tempo 6 bulan seluruh pinjaman dengan 3.000 orang tepat waktu. Ucok beruntung dari 3.000 orang yang dipinjami 1.000 orang tidak mau dikembalikan, karena sudah menganggap Ucok sebagai keluarga dan diberi pelayanan yang ramah disupermarketnya.

Saya tidak tahu pasti nama orang dalam kisah tersebut, dan kami mohon maaf jika kebetulan ada kesamaan nama atau kejadian ini, dan mungkin ada yang kurang sesuai dengan Cerita Motivasi aslinya.

Hikmah yang dapat diambil adalah Silaturahmi, ulet, tekun  dan kepercayaan merupakan modal yang tidak ternilai.

Referensi : Cerita Mas Ismanta

By.  Likkasjo

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s