Sejarah Jembatan Ampera, Palembang

Ke Palembang tidak lengkap jika tidak mengunjungi Jembatan Ampera, selain letaknya di pusat Kota Palembang di bawahnya mengalir Sungai Musi (750 KM) yang merupakan sungai terpanjang kelima di Indenesia setelah Sungai Batang Hari (800 Km), Sungai Barito (909 Km), Sungai Mahakam (920 Km), dan Sungai Kapuas (1.143 Km).

Disekitar Jembatan juga berdiri bangunan sejarah yaitu Masjid Agung Palembang, Benteng Kuto Besak, dan Pasar 16 Ilir.

Panjang : 1.117 m  (bagian tengah 71,90 m), Lebar : 22 m, Tinggi : 11.5 m dari permukaan air, Tinggi Menara : 63 m dari permukaan tanah, Jarak antara menara : 75 m, jembatan Ampera ini menghubungkan daerah Seberang Uli dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.

Kota Palembang sebelum dibangun jembatan ini terbelah menjadi dua bagian oleh Sungai Musi. Angkutan antara Seberang Ulu dan Seberang Ilir menggunakan klotok dan tongkang, dan karena itulah kemudian muncul gagasan untuk membuat jembatan penghubung.

Sebenarnya gagasan pembuatan jembatan tersebut sudah dicetuskan sejak tahun 1906, namun baru pada tahun 1957 realisasi terwujudnya jembatan menjadi jelas setelah dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya (Harun Sohar), dan Gubernur Sumatera Selatan (H. A. Bestari). Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya.

Bung Karno (Presiden RI ke-I) menyetujui usulan pembangunan itu dengan masing-masing kakinya di kawasan Ulu ada 7 dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota. Pada tanggal 14 Desember 1961 dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan biaya kontrak sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00).

Setelah 1957 dibentuk panitia dan Desember 1961 ditunjuklah pelaksana pekerjaan, bulan April 1962 mulai peletakan batu pertama. Biaya pembangunan jembatan diambil dari dana rampasan perang Jepang, bahkan pelaksanaannya juga menggunakan tenaga ahli dari negara tersebut.

ampera-1967

Pada awalnya, jembatan ini, dinamai Jembatan Bung Karno. Menurut sejarawan Djohan Hanafiah, pemberian nama tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada Presiden RI pertama itu. Bung Karno secara sungguh-sungguh memperjuangkan keinginan warga Palembang, untuk memiliki sebuah jembatan di atas Sungai Musi.

Peresmian pemakaian jembatan dilakukan pada tahun 1965, sekaligus mengukuhkan nama Bung Karno sebagai nama jembatan. Setelah terjadi pergolakan politik pada tahun 1966, nama jembatan itu pun diubah menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat). Pada saat itu, jembatan ini adalah jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Pada awalnya, bagian tengah jembatan ini bisa diangkat ke atas dengan peralatan mekanis agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Untuk mengangkat jembatan diberi dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 30 menit.

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.

jembatan-amper-1970

Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dapat mengganggu arus lalu lintas di atasnya.

Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.

Karena perkembangan dan kemajuan Kota Palembang arus transportasi yang melalui Jembatan Ampera sangat padat, untuk menghindari kemacetan dan mengingat usia jembatan, di buatlah Jembatan Musi II.

Jembatan Musi II Palembang
Jembatan Musi II Palembang

By : Likkasjo (LK) – Muba Palembang

Referensi :
  • id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Ampera
  • Museum Balaputra Dewa Palembang
Iklan

One thought on “Sejarah Jembatan Ampera, Palembang”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s