Aku Perlu Ditemani Sejenak

Cerita pendek, diangkat dari kisah nyata, merupakan cerita hikmah, bagi pasangan suami istri dan calon suami-istri. Simaklah, mungkin ada pelajaran untuk Anda. Dua orang yang sama-sama baik tapi mengapa perkawinan bisa tidak bahagia? 

Aku Perlu Ditemani Sejenak

Saya sebut saja Putri, putra pertama dari dua bersaudara putri dari pasangan ayah dan ibu saya. Kami berasal dari keluarga berkecukupan meskipun tidak kaya. Ayah saya adalah seorang pegawai, yang setiap pagi berangkat ke kantor dan setiap sore tentu pulang dari kantor.

Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, dari kacamata Putri.
Sejak kecil saya melihatnya begitu gigih menjaga keutuhan keluarga.

Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur untuk ayah karena lambung ayah kurang baik. Setelah itu, masih harus memasak nasi untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan…

Terkadang salah satu dari kami, anaknya dibangunkan untuk membatu ibu, namun itu sangat jarang, kecuali ibu juga agak kurang enak badan.

“Putri tolong besok bantu ibu ya, malam ini ibu agak nggak enak badan”, kata ibu memintaku untuk membantunya

Akupun menjawab, “baik bu, Putri siap membantu, tapi kalau tidak bangun sendiri seperti waktu ibu bangun, tolong dibangunkan”

Sehabis memasak, biasanya ibu bersih-bersih alat masak langsung, setelah itu mencuci pakaian, bersih-bersih rumah (menyapu dan ngepel lantai), menyeterika, dan tiap siang atau sore ibu selalu menyikat panci supaya tidak ada noda sedikitpun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan rumah agar tidak berdebu, padahal pagi atau siang hari biasanya sudah melakukan hal itu.

Ibu adalah seorang wanita yang sangat rajin.
Namun, di mata ayah, ibu bukan pasangan yang baik.
Tidak hanya sekali ayah menyatakan kesepian dalam perkawinan, tapi saya tidak memahaminya…

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan, setiap hari berangkat kerja tepat waktu dan saat libur ayah punya waktu untuk mengantar kami ke sekolah. Ia seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berprestasi dalam pelajaran.

Ayah adalah seorang laki-laki yang baik di mata anak-anak, ia besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami.

Hanya saja, di mata ibu, ia bukan pasangan yang baik. Kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam-diam. “Ada apa bu?” saya kadang mencoba bertanya, tetapi dengan cepat ibu seperti tidak ada apa-apa dan tidak menangis, padahal kalau kadang saya mengintipnya jelas ibuku menangis.

Saya melihat dan mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka. Seharusnya mereka layak mendapat perkawinan yang baik. Saya bertanya pada diri sendiri, “Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia?”

Kejadian itu terus berlangsung, sepertinya terus berjalan sendiri-sendiri, dan akhirnya kami tumbuh dewasa dan saatnya berumah tangga.

Setelah dewasa, akhirnya saya memasuki perkawinan dan perlahan-lahan saya mengetahui jawaban itu…

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, rajin bekerja dan mengatur rumah dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri.

Karena hati dan pikiran kami seolah masih melayang dan melajang, padahal dihadapan kami sudah ada buah hati kami, anak kecil mungil cantik dan lucu.

Kamipun juga berkunjung ke rumah orang tua suami (mertua) dan sebaliknya, namun rasanya hambar, dan tetap saja saya merasa ada yang kurang beres.

Anehnya, saya tidak merasa bahagia, dan suami saya sepertinya juga tidak bahagia.
Saya merenung, mungkin rumah kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dengan giat saya membersihkan rumah, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap tidak bahagia. Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan rumah, suami saya berkata, “temani aku sejenak mendengar alunan musik!”

Dengan mimik tidak senang saya berkata, “Apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum dipel?”

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan Ibu. Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkawinan mereka. Ada beberapa kesadaran muncul…

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suami saya, dan teringat akan ayah yang tidak mendapat apa yang dia butuhkan dalam perkawinannya.

Waktu ibu habis untuk membersihkan rumah pada hal yang dibutuhkan ayah adalah menemaninya. Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan. Ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih namun ibu jarang menemani ayah. Ia berusaha mencintai ayah dengan caranya.

Betapapun demikian saya harus sadar, dengan kesadaran tersebut membuat saya berusaha untuk tidak membuat kesalahan yang sama. “Jangan hanya gara-gara tidak menemapi untuk mendengarkan musik, yang suami minta, kemudian jadi menambah persoalan dan perselisihan keluarga”, itulah yang saya pikirkan.

Akhirnya saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suami saya, “Apa yang kau butuhkan?”

“Aku membutuhkanmu untuk menemaniku… Rumah kotor sedikit tidak apa-apa..” ujar suamiku.

“Baik kalau memang begitu”, jawabku.

Saya kira dia perlu rumah yang bersih, ada yang memasak, dan seterusnya dan lain sebagainya.

“Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.”, suamiku memberi penjelasan atas keinginannya.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Kami meneruskan menikmati kebutuhan masing-masing, dan baru saya sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia.

Kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara yang diinginkan pasangan kita.

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja. Begitu juga suami saya, dia menderetkan sebuah daftar kebutuhan saya.

Puluhan kebutuhan yang panjang dan jelas. Misal, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk setiap pagi, memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat, dan seterusnya.

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang sulit. Suatu waktu suami saya berpendapat dan berkata “dengarkan aku, jangan memberi komentar”. Dan akhirnya saya juga diam, dan ini adalah kebutuhan suami.

Kalau saya memberinya usul, dia bilang dirinya merasa tampak seperti orang bodoh. Menurut saya, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya, kalau tidak saya hanya mendengarkan dengan serius…

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun jauh lebih bermakna dalam pernikahan kami…

Bertanya pada pasangan kita, “Apa yang kau inginkan?” ternyata dapat menghidupkan pernikahan.

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah dan ibu tidak bisa bahagia, MEREKA TERLALU BERSIKERAS MENGGUNAKAN CARA SENDIRI DALAM MENCINTAI PASANGANNYA, BUKAN MENCINTAI PASANGANNYA DENGAN CARA YANG DIINGINKAN PASANGANNYA.

Putri tidak mungkin merasa sudah sangat lelah melayani suami tercinta, namun ternyata dia tidak menghargai usaha itu… Akhirnya, kita kecewa dan hancur.

SETIAP ORANG PANTAS DAN LAYAK MEMILIKI SEBUAH PERKAWINAN YANG BAHAGIA, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan oleh pasangan kita.

Namun, Putri tetap berjuang untuk selalu bahagia, dan mengubur semua rasa kecewa, dengan selalu berkomunikasi dengan suami.

Munculnya buah hati kami (si Mungil), sedikit demi sedikit mengubah kehidupan kami untuk selalu menerima apa adanya, ibarat suami adalah pakaian istri dan istri adalah pakaian dari suami.

Sepertinya kami mulai menyadari hal itu, dan kami merasa bahagia, meskipun tidak 100%.

SEMOGA ANDA BERBAHAGIA JUGA

Putri (nama samaran)

Kiriman : Imam S
Ilustrasi : Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s