Mudik untuk silaturahmi dan berhalal bihalal, mungkin tujuan yang paling pas bagi orang-orang yang pulang kampung saat menghadapi hari raya Idul Fitri atau lebaran.
Sehingga harus kita luruskan niat kita apabila kita mudik atau pulang kampung niatnya adalah untuk silaturahmi dan ber-halal bihalal.

Untuk itu kissparry sedikit menguraikan arti dan makna ketiga kalimat itu yaitu mudik, silaturahmi, dan halal bihalal di bawah ini.
Mudik
Mudik adalah kegiatan pulang ke kampung halaman dari perantauan yang disebabkan karena pekerjaan, setelah memeroleh pekerjaan dan telah menetap ditempat rantau untuk beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun, dan telah menetap ditempat rantau.

Mudik menjadi hal yang biasa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, yang saat ini sudah diikuti oleh beberapa negara lainnya. Awal mula merantau biasanya adalah untuk mencari penghidupan lain, sebut saja bekerja, baik bekerja untuk orang lain, instansi, institusi, perusahaan, ataupun bekerja untuk diri sendiri, sebagai penjual bakso, warung makan, dan usaha lainnya yang dikelola sendiri, bisa jadi menjadi bos besar di kota seberang yang jauh dari kampung halaman.
Disebut kampung halaman karena disanalah tempat dilahirkan dan dibesarkan. Ada juga yang di plesetkan (dibikin humor), “saya mau ke kampung dan kampung sudah ketemu tapi halaman berapa saya cari belum ketemu”.
Kegiatan mudik yang paling ramai hingga menyebabkan kemacetan adalah menjelang hari raya Idul Fitri, karena orang akan berbondong-bondong menuju kampung halaman mereka, dari tempat rantau.
Tempat rantau yang paling banyak menjadi tujuan adalah dari ibu kota Jakarta (dan sekitarnya), kemudian kota-kota besar lain seperti Surabaya dan sekitarnya. Karena hari raya Idul Fitri adalah saat yang sangat penting dan tepat untuk bersilaturrahmi dan berhalal-bi-halal atau bermaaf-maafan adalah saat-saat merayakan kemenangan setelah puasa ramadhan (Id al-fitri).
Bahkan kata mudik sudah mendunia, bila Anda mencari kata mudik lewat google akan ditemukan di Wikipedia bahwa Mudik, or Pulang Kampung, is an Indonesian term for the activity where migrants or migrant workers return to their hometown or village during major holidays.

Mudik is identical to the annual homecoming tradition that occurs ahead of major religious holidays, especially Lebaran (Eid al-Fitr). Although the mudik homecoming travel prior of lebaran took place throughout most of Indonesian urban centers, the highlight is on the nation’s largest urban agglomeration; Greater Jakarta,
as millions of Jakartans exit the city by various means of transportation, causing mass exodus from the city, overwhelming train stations and airports and also clogging highways, especially the Trans-Java toll road and Java’s Northern Coast Road.
Diterjemahkan kurang lebih berikut ini. Mudik, atau Pulang Kampung, adalah istilah Indonesia untuk kegiatan dimana migran atau pekerja migran kembali ke kampung halaman atau desa mereka selama liburan panjang.
Mudik identik dengan tradisi pulang ke kampung halaman tiap tahun (tahunan) yang terjadi menjelang liburan keagamaan utama, khususnya Lebaran (Idul Fitri). Meskipun mudik umumnya pelaksanaannya sebelum lebaran berlangsung di sebagian besar pusat kota di Indonesia, namun sorotan utama adalah pada aglomerasi urban terbesar di negara ini (Indonesia) yaitu dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi),
saat jutaan orang kota Jakarta keluar dari kota menuju kampung halaman masing-masing, dengan berbagai sarana transportasi, menyebabkan eksodus massal dari kota, stasiun kereta api, dan bandara yang luar biasa, dan juga kemacetan di jalan raya, terutama jalan tol Trans-Jawa dan Jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa.
Bagi pemudik sebaiknya melakukan perjalanan dengan niat untuk silaturahmi atau halal bihalal di kampung halamannya. Jangan mudik dengan niatan pamer, misalkan tahun kemarin pulang kampung dengan mobil biasa, tahun ini pulang dengan mobil yang lebih baru.


Tidak sedikit pemudik yang membagikan angpao (amplop berisi uang) di jalan-jalan yang dia lalui sebagai bentuk sedekah atau zakat kepada kepanyapu jalan, orang-orang renta di pinggir jalan (yang sengaja berjajar dipinggir jalan). Ketika sampai di kampung halamannya juga membagikan sedekah kepada anak-anak kecil.
Mudik memiliki peran dalam pemerataan ekonomi warga masyarakat, mampu dan kurang mampu, kota ke desa-desa atau wilayah. Karena dapat dipastikan setiap pemudik akan membelanjakan uangnya dimana dia lewati atau singgahi. Oleh sebab itu pemudik sudah sepantasnya kalau mempersiapkan diri dengan mengumpulkan uang atau menabung.
Berapa besar persiapan materi atau uang untuk bisa mudik? masing-masing akan berbeda-beda tergantung moda transportasinya. Setelah moda transportasi kemudian uang saku selama perjalanan dan biaya ditempat tujuan akhir.
Apakah akan membagikah sedekah atau tidak? Misal dari Jabodetabek ke Solo Jawa Tengah, dengan 5 orang, naik kereta api. Untuk ongkos perjalanan sampai ke tujuan setidaknya siap uang minimal Rp 2.500.000,- (2500K – PP), biaya makan selama perjalanan Rp 100.000 x 5 x 2 = Rp 1.000.000,- (1000K – PP), biaya ditempat tujuan Rp 1.500.000,- (1500K) maka setidaknya menyiapkan uang sebesar Rp 5.000.000,- (5000K).
Bagaimana kalau menyewa mobil atau rental mobil dikemudikan sendiri? Sewa Rp 350.000,- x 5 hari = Rp 1.750.000.- biaya bahan bakar 650KM adalah Rp 500.000,- x 2 (PP) = Rp 1.000.000,- biaya makan dijalan bisa ditekan dengan membawa. Dapat digambarkan bahwa setiap mudik setidaknya menyiapkan dana sebesar Rp 7.000.000,-.
Bagaimana kalau Saudara Kissparry dari perantauan di Kalimantan mudik ke Solo Jawa Tengah, biaya moda pesawat saat ini sekitar 1750K perorang sekali jalan, kalau 4 orang Rp 1.750.000 x 4 x 2 (PP) = Rp 14.000.000,- transport lokal Rp 350.000 x 2 = Rp 700.000,- biaya makan Rp 100.000 x 4 x 2 = Rp 800.000,- biaya ditempat misalkan Rp 1.500.000,-
maka untuk mudik perlu biaya sebesar Rp 17.000.000,-, kumpul-kumpul 4 – 5 tahun baru bisa mudik perbulan Rp 400.000,- dan kalau misal perbulan Rp 200.000 berarti 8 tahun baru bisa mudik, akhirnya solusinya mudik tidak saat lebaran, risikonya tidak jumpa kerabat lain yang sama-sama perantau.
Kissparry Semarang mudik ke Kissparry Pusat di Palembang, coba dihitung biayanya. Moda pesawat 5 orang pergi-pulang (PP) Rp 2.200.000 x 5 = Rp 11.000.000,- ditambah biaya makan Rp 120.000 x 5 x 2 = Rp 1.200.000,- ditambah biaya perjalanan lokal Rp 1.000.000,- biaya pengeluaran ditempat Rp 1.500.000,- total semua Rp 14.700.000,-.
Jumlah ini kalau dibagi dengan Rp 400.000,- perbulan = 14.700.000 : 400.000 = 36 bulan atau 3 tahun untuk mengumpulkan sejumlah uang tersebut. Oleh karena itu Kissparry punya program kumpul keluarga besar Kissparry tiap 3 tahun sekali.

Besarnya biaya mudik tersebut maka sekali lagi, bagi pemudik sebaiknya melakukan perjalanan dengan niat untuk silaturahmi atau halal bihalal di kampung halamannya.