Tradisi Syawalan (Kupatan) di Kalangan Masyarakat Jawa

Syawalan, kupatan, atau bodho syawal, bodho kupat, merupakan tradisi di kalangan masyarakat Jawa setelah berlebaran (hari raya Idul Fitri).

Disebut syawalan karena pelaksanaannya pada bulan syawal, dan ini ada hanya setelah lebaran, bahkan sebagian orang menyebut bodho syawal. Sedangkan disebut kupatan karena kebanyakan orang saat syawalan membuat kupat, bahkan ada doa bersama diantara warga dengan masing-masing membawa kupat, dan setelah doa selesai terjadilah tukar-menukar kupat. Ada pula yang membuat acara berebut kupat.

Dibeberapa tempat syawalan juga identik dengan apem, dan karena apem inilah kemudian ada yang menyelenggarakan grebeg syawal dengan pesta apem, yakni dengan berebut apem. Apem sendiri adalah makanan yang terbuat dari adonan tepung (terigu, beras) diberi bahan pengembang, kadang ada yang memberi tambahan rasa pengharum atau vanili, kemudian dikukus atau dipanggang dengan alat penanak apem. Bentuk apem biasanya bulat.

Saat syawalan atau kupatan disamping ada kupat kebanyakan warga masyarakat juga membuat lepet. Terkadang membuat atau menyajikan kupat dan lepet tanpa apem, atau ketiganya.

Bukan saja kupat, lepet, dan apem saja, acara syawalan dibeberapa tempat juga disajikan aneka buah-buahan dan makanan lainnya, sebut saja di Klaten, acara syawalan sangat meriah karena ribuan orang akan berebut ribuan ketupat yang disusun dalam gunungan yang sebelumnya diarak. Ribuan ketupan tentu disusun menjadi puluhan gunungan, yang bersamaan itu juga disediakan gunungan yang berisi aneka buah dan sayur mayur. Setelah berebut kupat, ada yang disantap di tempat dan ada pula yang dibawa pulang.

Meskipun ada yang merayakan kupatan (bodho kupat), namun biasanya sudah ada yang membuat kupat saat lebaran, termasuk Kissparry (Semarang) juga sudah menyajikan kupat dan lontong saat lebaran. Kupat atau lontong di makan bersama sayur opor atau sambel goreng, terasa nikmat sekali, boleh dicampur keduanya. Apem juga demikian ada sebagian warga yang membuat apem saat lebaran.

Di Kaliwungu Kendal beda lagi, tradisi syawalan lebih meriah lagi karena disana hadir pasar tiban siang dan malam. Dijual aneka jajanan, makanan, pakaian, bahkan ada permainan seperti komedi putar, tong setan, dan lain-lain.

Lain lagi ketika syawalan di Pekalongan, Kudus, Demak, dan lain-lain. Khusus didaerah kami dulu (Boyolali), apem dibuat/disajikan saat lebaran, sedangkan kupat dan lepet disajikan/dibuat saat kupatan.

Apem

Berbicara apem, makanan ini sangat khas, bentuknya bulat, proses pembuatan seperti membuat roti, tetapi apem dipanggang diatas wajan dengan olesan sedikit minyak goreng atau mertega.

Apem terbuat dari adonan tepung terigu atau tepung beras, diberi bahan pengembang roti, diberi sedikit garam dan gula, diaduk rata dengan sedikit air. Bila telah jadi adonan, terkadang diberi tambahan rasa pewangi (vanili), atau kalau mau alami diberi pandan wangi (pandan wangi ditumbuk diambil airnya).

Lepet

Bakal lepet atau slongsong lepet tidak banyak bentuknya. Lepet dibuat dari janur kuning dengan bentuk semi bulat lonjong, didalamnya diisi dengan adonan beras ketan dan santan kelapa.

Apabila kupat dibuat dari janur dengan dianyam sedangkan lepet dibuat dari janur hanya dilipat-lipat dan setelah diisi dengan beras ketan, lipatan janur diikat. Kemudian dimasak kedalam wadah yang berisi air, dimasukkan kedalamnya.

Ketupat atau Kupat

Bakal kupat atau slongsong dibuat dengan berbagai macam bentuk atau variasi. Kupat dibuat dari janur kuning atau janur hijau, dan bisa dicampur keduanya janur kuning dan janur hijau, namun untuk mudahnya biasanya hanya yang kuning saja atau yang hijau saja, dan kebanyakan janur yang masih kuning.

Janur dan slongsong kupat-Maryadi-Twsari
Janur kuning dan Slongsong Kupat (foto Maryadi Tawangsari Teras Boyolali)

Orang-orang di desa kebanyakan membuat slongsong kupat sendiri, meskipun juga ada yang membeli dari pasar, karena di pasar juga banyak pedagang yang menjual slongsong kupat. Bahkan sudah ada yang menjual kupat yang sudah masak, sehingga tidak perlu memasak sendiri. Kissparry Semarang juga membeli kupat yang sudah masak.

Slongsong kupat, untuk menjadi kupat yang siap disantap, harus diproses lebih lanjut, yakni slongsong kupat dimasuki beras yang sudah bersih kira-kira setengahnya dari besarnya slongsong, kemudian direbus hingga beras mengembang memenuhi besarnya slongsong kupat, yang dibutukan untuk merebus kupat waktunya kurang lebih 3 jam hingga 5 jam, dan setelah masak jadilah kupat.

Cara merebus, masukkan slongsong kupat yang sudah diisi dengan beras ke dalam wadah (dandang/panci besar) kemudian air dimasukkan kedalam wadah hingga kupat terendam semua. Besarnya tempat menanak kupat menyesuaikan jumlah kupat yang akan direbus/dimasak. Kemudian nyalakan api dibawahnya. Menanak kupat dengan kayu bakar akan lebih cepat daripada menanak kupat dengan kompor gas. Dan lamanya proses menanak kemungkinan besar air didalam wadah akan menguap, sehingga sekiranya airnya berkurang maka air harus ditambah dengan air yang hangat.

Kupat atau ketupat yang telah siap disantap seperti gambar dibawah ini, berarti kupat telah masak. Sebelum disantap kupat karus diangkat dari wadah atau dandang dan digantung disuatu tempat hingga kadungan airnya mengering, dan kupat juga tidak terlalu panas.

Kupat-Sunaidi
Ketupat pengeringan setelah di rebus (gambar Sunaidi Tawangsari Teras Boyolali)
Ketupan ala Sumber Lawang Sragen masih panas baru masak persiapan kupatan
Ketupat masih panas baru masak, siap di santap (Sumber Lawang, Sragen – dok Iin)
Kupat-sambel-pecel-krupuk-sumber-lawang-Sragen
Kupat, sambel pecel, plus krupuk, ala Sumber Lawang Sragen (dok Iin)

Ternyata tradisi kupat di Sragen, kupat dimakan bersama sambel pecel dan krupuk, makan sambil lesehan, wah… katanya juga enak banget.

Bodho kupat atau kupatan juga dikenal syawalan atau bodho syawal merupakan tradisi dikalangan orang Jawa, bersamaan dengan itu biasanya juga membuat lepet dan apem. Syawalan atau kupatan dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya lebaran.

Masyarakat jawa mempercayai bahwa sunan Kalijaga adalah orang yang berjasa dalam hal mentradisikan kupat beserta makna filosofis yang terkandung dalam makanan khas ini.

Secara filosofis, makanan khas “Kupat” ini memiliki banyak makna. Di antara makna itu adalah :

a. Kata “kupat” berasal dari bahasa jawa “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Ini suatu isyarat bahwa kita sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan kepada sesama. Maka dengan budaya kupatan setahun sekali ini kita diingatkan agar sama-sama mengakui kesalahan kita masing-masing, kemudian rela untuk saling memaafkan.

b. Bungkus kupat yang terbuat dari janur (sejatine nur), ini melambangkan kondisi umat muslim setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan suci Ramadan secara pribadi-pribadi mereka kembali kepada kesucian/jati diri manusia (fitrah insaniyah) yang bersih dari noda serta bebas dari dosa.

c. Isi kupat yang bahannya hanya berupa segenggam beras, namun karena butir-butir beras tadi sama menyatu dalam seluruh slongsong janur dan rela direbus sampai masak, maka jadilah sebuah menu makanan yang mengenyangkan dan enak dimakan. Ini satu simbol persamaan dan kebersamaan persatuan dan kesatuan. Dan yang demikian itu merupakan sebuah pesan moral agar kita sama-sama rela saling menjalin persatuan dan kesatuan dengan sesama muslim dan seluruh bangsa.

Jenis dan Bentuk Kupat (Ketupat)

Agar bervariasi dan tidak menimbulkan kejenuhan, sekaligus hiburan, biasanya kupat dibuat dalam berbagai bentuk atau jenis. Dengan berbagai bentuk tersebut besarnya kupat bisa bervariasi dan hal tersebut bisa disesuaikan selera perut masing-masing.

Bentuk kupat yang kami sajikan, adalah bentuk atau jenis kupat yang ada disekitar kami yang memang benar-benar dibikin kupat untuk disantap, dan bukan untuk manambah variasi kupat. Nama juga menggunakan nama yang kami kenal.

1.Kupat sinto

Ketupat ini merupakan ketupat yang sudah lazim atau banyak ditemukan, juga biasanya bentuk kupat yang paling banyak dibuat oleh masyarakat kampung.
Bentuk ini pula yang biasa dijual di pasar-pasar, baik slongsong atau kupat masak.

Mengapa disebut kupat Sinto?
Kami belum bisa menjelaskan… tunggu saja…

Kupat sinto-C-Mar
Kupat Sinto (dibuat/foto Maryadi Tawangsari)

2.Kupat Bawang

Bentuk kedua yang sering dibuat adalah kupat bawang. Mungkin karena bentuknya seperti bawang sehingga namanya disebut ketupat bawang.

Kupat bawang0
Kupat Bawang (dibuat/foto oleh Maryadi Tawangsari)
Kupat bawang isi
Ketupat Bawang Isi (foto Susanto Fawaz Tenggarong Kalimantan)

3.Kupat Tumpeng (Kupat Tumpi)

Bentuk ketupat seperti tumpeng yang dikenal kalangan orang Jawa, sehingga namanya kupat tumpeng. Isi dari kupat tumpeng lebih besar dari kupat yang lainnya, cocok untuk yang suka makan besar.

Kupat tumpeng-c-Jims
Kupat Tumpeng (dibuat/foto Jims Firdos Tawangsari Teras Boyolali)

4.Kupat Luar

Berikutnya adalah kupat luar. Disebut kupat luar karena bentuknya ringkas, keluar dari biasanya, bentuknya juga kecil. Cocok disantap oleh kaum wanita, yang biasanya suka diet.

Kupat luar-C-Maryadi
Kupat Luar (dibuat/foto Maryadi Tawangsari Teras Boyolali)

5.Kupat Kodok (Katak)

Kupat kodok memang bentuknya seperti kodok atau katak.

Kupat kodok
Kupat Kodok (dibuat/foto Maryadi Tawangsari Teras Boyolali)

Itulah beberapa jenis ketupat atau kupat yang sering dibuat oleh masyarakat Boyolali Jawa Tengah.

Semoga dapat menambah wawasan, dan bermanfaat untuk pengetahuan. Namun boleh dipraktikkan. Dan terima kasih untuk para kontributor Kissparry di Tawangsari Teras Boyolali dan Tenggarong Kalimantan. (KP)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s