Antara Mudik, Silaturahmi, dan Halal bihalal

Mudik untuk silaturahmi dan berhalal bihalal, mungkin tujuan yang paling pas bagi orang-orang yang pulang kampung saat menghadapi hari raya Idul Fitri atau lebaran.

Sehingga harus kita luruskan niat kita apabila kita mudik atau pulang kampung niatnya adalah untuk silaturahmi dan ber-halal bihalal.

Suasana Tenggulang2017-06-29
Suasana Halal bihalal (balal – badan) di Tenggulang Baru (Kissparry)

Untuk itu kissparry sedikit menguraikan arti dan makna ketiga kalimat itu yaitu mudik, silaturahmi, dan halal bihalal di bawah ini.

Mudik

Siap-mudik-2017-06-22
Persiapan mudik anggota Kissparry 2017 (Sekayu)

Mudik adalah kegiatan pulang ke kampung halaman dari perantauan yang disebabkan karena pekerjaan, setelah memeroleh pekerjaan dan telah menetap ditempat rantau untuk beberapa bulan, bahkan bertahun-tahun, dan telah menetap ditempat rantau.

Mudik menjadi hal yang biasa bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, yang saat ini sudah diikuti oleh beberapa negara lainnya. Awal mula merantau biasanya adalah untuk mencari penghidupan lain, sebut saja bekerja, baik bekerja untuk orang lain, instansi, institusi, perusahaan, ataupun bekerja untuk diri sendiri, sebagai penjual bakso, warung makan, dan usaha lainnya yang dikelola sendiri, bisa jadi menjadi bos besar di kota seberang yang jauh dari kampung halaman.

Disebut kampung halaman karena disanalah tempat dilahirkan dan dibesarkan. Ada juga yang di plesetkan (dibikin humor), “saya mau ke kampung dan kampung sudah ketemu tapi halaman berapa saya cari belum ketemu”.

Perjalanan mudik 2017 (Kissparry)
Perjalanan mudik 2017 (anggota Kissparry Sekayu)

Kegiatan mudik yang paling ramai hingga menyebabkan kemacetan adalah menjelang hari raya Idul Fitri, karena orang akan berbondong-bondong menuju kampung halaman mereka, dari tempat rantau.

Tempat rantau yang paling banyak menjadi tujuan adalah dari ibu kota Jakarta (dan sekitarnya), kemudian kota-kota besar lain seperti Surabaya dan sekitarnya. Karena hari raya Idul Fitri adalah saat yang sangat penting dan tepat untuk bersilaturrahmi dan berhalal-bi-halal atau bermaaf-maafan adalah saat-saat merayakan kemenangan setelah puasa ramadhan (Id al-fitri).

Bahkan kata mudik sudah mendunia, bila Anda mencari kata mudik lewat google akan ditemukan di Wikipedia bahwa Mudik, or Pulang Kampung, is an Indonesian term for the activity where migrants or migrant workers return to their hometown or village during major holidays. Mudik is identical to the annual homecoming tradition that occurs ahead of major religious holidays, especially Lebaran (Eid al-Fitr). Although the mudik homecoming travel prior of lebaran took place throughout most of Indonesian urban centers, the highlight is on the nation’s largest urban agglomeration; Greater Jakarta, as millions of Jakartans exit the city by various means of transportation, causing mass exodus from the city, overwhelming train stations and airports and also clogging highways, especially the Trans-Java toll road and Java’s Northern Coast Road.

Diterjemahkan kurang lebih berikut ini. Mudik, atau Pulang Kampung, adalah istilah Indonesia untuk kegiatan dimana migran atau pekerja migran kembali ke kampung halaman atau desa mereka selama liburan panjang. Mudik identik dengan tradisi pulang ke kampung halaman tiap tahun (tahunan) yang terjadi menjelang liburan keagamaan utama, khususnya Lebaran (Idul Fitri). Meskipun mudik umumnya pelaksanaannya sebelum lebaran berlangsung di sebagian besar pusat kota di Indonesia, namun sorotan utama adalah pada aglomerasi urban terbesar di negara ini (Indonesia) yaitu dari Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), saat jutaan orang kota Jakarta keluar dari kota menuju kampung halaman masing-masing, dengan berbagai sarana transportasi, menyebabkan eksodus massal dari kota, stasiun kereta api, dan bandara yang luar biasa, dan juga kemacetan di jalan raya, terutama jalan tol Trans-Jawa dan Jalan Pantai Utara (Pantura) Jawa.

Bagi pemudik sebaiknya melakukan perjalanan dengan niat untuk silaturahmi atau halal bihalal di kampung halamannya. Jangan mudik dengan niatan pamer, misalkan tahun kemarin pulang kampung dengan mobil biasa, tahun ini pulang dengan mobil yang lebih baru.

Wiyoto Balik sampe Cikampek
Suasana arus balik di Cikampek (kiriman Wiyoto @Ngemplak)
Wiyoto Mudik-Balik sampe Cikampek dari Boyolali Jawa Tengah
Suasana Mudik-Balik di Cikampek dalam kepadatan arus Tol Cikampek (foto Wiyoto)

Tidak sedikit pemudik yang membagikan angpao (amplop berisi uang) di jalan-jalan yang dia lalui sebagai bentuk sedekah atau zakat kepada kepanyapu jalan, orang-orang renta di pinggir jalan (yang sengaja berjajar dipinggir jalan). Ketika sampai di kampung halamannya juga membagikan sedekah kepada anak-anak kecil.

Mudik memiliki peran dalam pemerataan ekonomi warga masyarakat, mampu dan kurang mampu, kota ke desa-desa atau wilayah. Karena dapat dipastikan setiap pemudik akan membelanjakan uangnya dimana dia lewati atau singgahi. Oleh sebab itu pemudik sudah sepantasnya kalau mempersiapkan diri dengan mengumpulkan uang atau menabung.

Berapa besar persiapan materi atau uang untuk bisa mudik? masing-masing akan berbeda-beda tergantung moda transportasinya. Setelah moda transportasi kemudian uang saku selama perjalanan dan biaya ditempat tujuan akhir.

Apakah akan membagikah sedekah atau tidak? Misal dari Jabodetabek ke Solo Jawa Tengah, dengan 5 orang, naik kereta api. Untuk ongkos perjalanan sampai ke tujuan setidaknya siap uang minimal Rp 2.500.000,- (2500K – PP), biaya makan selama perjalanan Rp 100.000 x 5 x 2 = Rp 1.000.000,- (1000K – PP), biaya ditempat tujuan Rp 1.500.000,- (1500K) maka setidaknya menyiapkan uang sebesar Rp 5.000.000,- (5000K). Bagaimana kalau menyewa mobil atau rental mobil dikemudikan sendiri? Sewa Rp 350.000,- x 5 hari = Rp 1.750.000.- biaya bahan bakar 650KM adalah Rp 500.000,- x 2 (PP) = Rp 1.000.000,- biaya makan dijalan bisa ditekan dengan membawa. Dapat digambarkan bahwa setiap mudik setidaknya menyiapkan dana sebesar Rp 7.000.000,-.

Bagaimana kalau Saudara Kissparry dari perantauan di Kalimantan mudik ke Solo Jawa Tengah, biaya moda pesawat saat ini sekitar 1750K perorang sekali jalan, kalau 4 orang Rp 1.750.000 x 4 x 2 (PP) = Rp 14.000.000,- transport lokal Rp 350.000 x 2 = Rp 700.000,- biaya makan Rp 100.000 x 4 x 2 = Rp 800.000,- biaya ditempat misalkan Rp 1.500.000,- maka untuk mudik perlu biaya sebesar Rp 17.000.000,-, kumpul-kumpul 4 – 5 tahun baru bisa mudik perbulan Rp 400.000,- dan kalau misal perbulan Rp 200.000 berarti 8 tahun baru bisa mudik, akhirnya solusinya mudik tidak saat lebaran, risikonya tidak jumpa kerabat lain yang sama-sama perantau.

Kissparry Semarang mudik ke Kissparry Pusat di Palembang, coba dihitung biayanya. Moda pesawat 5 orang pergi-pulang (PP) Rp 2.200.000 x 5 = Rp 11.000.000,- ditambah biaya makan Rp 120.000 x 5 x 2 = Rp 1.200.000,- ditambah biaya perjalanan lokal Rp 1.000.000,- biaya pengeluaran ditempat Rp 1.500.000,- total semua Rp 14.700.000,-. Jumlah ini kalau dibagi dengan Rp 400.000,- perbulan = 14.700.000 : 400.000 = 36 bulan atau 3 tahun untuk mengumpulkan sejumlah uang tersebut. Oleh karena itu Kissparry punya program kumpul keluarga besar Kissparry tiap 3 tahun sekali.

aMudik-Balik-Lebaran-2017-07-02 at 235437c
Suasana Mudik (Balik) yang Nyaman modatrans Kereta Api (KA) pada Lebaran 2017 Keluaraga Sragen (dok Andry — Kissparry Jakarta)

Besarnya biaya mudik tersebut maka sekali lagi, bagi pemudik sebaiknya melakukan perjalanan dengan niat untuk silaturahmi atau halal bihalal di kampung halamannya.

Silaturahmi
صِلَة الرَّحِم

Silaturahmi berasal dari kata shilah dan ar-rahmi. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an) wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu.
Di dalam al-Quran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat.

Silaturahmi-Sekayu 2017-04-02 at 12.39.11
Silaturahmi di Sekayu 2017, dari keluarga Pematang dan Ranau Sumatera Selatan

Sehingga silaturahmi secara khusus dapat diartikan sebagai hubungan kekerabatan atau hubungan kasih sayang. Namun pada saat ini kata silaturahmi sudah sangat populer di negeri ini, bahkan di berbagai kesempatan misal pertemuan warga kampung, kata silaturahmi tidak luput digunakan sebagai kata pembuka, misal “pertama marilah kita bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kita telah dapat bersilaturahmi, berkumpul dalam acara pertemuan rutin warga”. Apakah ini sudah bisa diartikan salah kaprah? Kalau dilihat dari sisi asal bahasa, bisa dikatakan demikian, namun tidak perlu dipersoalkan.

Silaturahim atau silaturahmi yang dimaksud sebenarnya adalah ditujukan untuk mempererat hubungan kekerabatan, persaudaraan dengan utamanya saudara kandung, karena bagi yang memutuskannya memeroleh ancaman. Sehingga yang dimaksud silaturrahim adalah menjalin hubungan baik dengan kerabat, sanak, atau saudara yang masih memiliki hubungan rahim atau hubungan darah dengan kita.

Pengertian dan manfaat silaturrahim yaitu dijabarkan berikut ini (kami ambil dari almanhaj.or.id).

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî:

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِمَا يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ فَقَالَ النَّبِيُّ : لَقَدْ وُفِّقَ أَوْ قَالَ لَقَدْ هُدِيَ كَيْفَ قُلْتَ ؟ فَأَعَادَ الرَّجُلُ فَقَالَ النَّبِيُّ : تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصِلُ ذَا رَحِمِكَ فَلَمَّا أَدْبَرَ قَالَ النَّبِيُّ : إِنْ تَمَسَّكَ بِمَا أَمَرْتُ بِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturahmi”. Setelah orang itu pergi, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Silaturahmi juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الرَّحِمُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ تَقُولُ مَنْ وَصَلَنِي وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَنِي قَطَعَهُ اللَّهُ

“Ar-rahim itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa menyambung silaturahmi lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَشَعَرْتَ أَنِّي أَعْتَقْتُ وَلِيدَتِي قَالَ أَوَفَعَلْتِ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ أَمَا إِنَّكِ لَوْ أَعْطَيْتِهَا أَخْوَالَكِ كَانَ أَعْظَمَ لِأَجْرِكِ

“Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?” Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda, “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturahmi dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturahmi, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang yang menyambung silaturahmi itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturahmi ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturahmi dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

“Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikan.” [Muttafaq ‘alaihi].

Begitu pula firman Allah Ta’ala:

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۙ أُولَٰئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ

“Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [ar-Ra’d/13:25].

Dari Jubair bin Mut’im bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidaklah masuk surga orang yang suka memutus, ( memutus tali silaturahmi)”. [Mutafaqun ‘alaihi].

Memutus tali silaturahmi yang paling besar, yaitu memutus hubungan dengan orang tua, kemudian dengan kerabat terdekat, dan kerabat terdekat selanjutnya. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ قُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْإِشْرَاكُ بِاللَّهِ وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ

”Maukah kalian aku beritahu tentang dosa terbesar di antara dosa-dosa besar?” Beliau mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Maka para sahabat menjawab: ”Mau, ya Rasulullah,” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua”.

Demikianlah, betapa besar dosa seseorang yang durhaka kepada orang tua. Dosa itu disebutkan setelah dosa syirik kepada Allah Ta’ala. Termasuk perbuatan durhaka kepada kedua orang tua, yaitu tidak mau berbuat baik kepada keduanya. Lebih parah lagi jika disertai dengan menyakiti dan memusuhi keduanya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam shahîhain, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَهَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ قَالَ نَعَمْ يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

”Termasuk perbuatan dosa besar, yaitu seseorang yang menghina orang tuanya,” maka para sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah orang yang menghina kedua orang tuanya sendiri?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Ya, seseorang menghina bapak orang lain, lalu orang lain ini membalas menghina bapaknya. Dan seseorang menghina ibu orang lain, lalu orang lain ini membalas dengan menghina ibunya”.

Wahai orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bertakwalah kepada Allah Azza wa Jalla. Dan marilah kita melihat diri kita masing-masing, sanak keluarga kita! Sudahkah kita menunaikan kewajiban atas mereka dengan menyambung tali silaturahmi? Sudahkah kita berlemah lembut terhadap mereka? Sudahkah kita tersenyum tatkala bertemu dengan mereka? Sudahkah kita mengunjungi mereka? Sudahkah kita mencintai, memuliakan, menghormati, saling menunjungi saat sehat, saling menjenguk ketika sakit? Sudahkah kita membantu memenuhi atau sekedar meringankan yang mereka butuhkan?

Ada sebagian orang tidak suka melihat kedua orang tuanya yang dulu pernah merawatnya kecuali dengan pandangan yang menghinakan. Dia memuliakan istrinya, tetapi melecehkan ibunya. Dia berusaha mendekati teman-temannya, akan tetapi menjahui bapaknya. Apabila duduk dengan kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia sedang duduk di atas bara api. Dia berat apabila harus bersama kedua orang tuanya. Meski hanya sesaat bersama orang tua, tetapi ia merasa begitu lama. Dia bertutur kata dengan keduanya, kecuali dengan rasa berat dan malas. Sungguh jika perbuatannya demikian, berarti ia telah mengharamkan bagi dirinya kenikmatan berbakti kepada kedua orang tua dan balasannya yang terpuji.

Ada pula manusia yang tidak mau memandang dan menganggap sanak kerabatanya sebagai keluarga. Dia tidak mau bergaul dengan karib kerabat dengan sikap yang sepantasnya diberikan sebagai keluarga. Dia tidak mau bertegus sapa dan melakukan perbuatan yang bisa menjalin hubungan silaturahmi. Begitu pula, ia tidak mau menggunakan hartanya untuk hal itu. Sehingga ia dalam keadaan serba kecukupan, sedangkan sanak keluarganya dalam keadaan kekurangan. Dia tidak mau menyambung hubungan dengan mereka. Padahal, terkadang sanak keluarga itu termasuk orang-orang yang wajib ia nafkahi karena ketidakmampuannya dalam berusaha, sedangkan ia mampu untuk menafkahinya. Akan tetapi, tetap saja ia tidak mau menafkahinya.

Para ahlul-‘ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan waris dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada mereka apabila orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari penghasilan, sedangkan ia dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang dilakukan seorang ayah untuk memberikan nafkah. Maka barang siapa yang bakhil maka ia berdosa dan akan dihisab pada hari Kiamat.

Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dikutip dari kompas.com, silaturahmi memiliki manfaat dikaji secara ilmiah. Manfaat ini tentu tidak hanya terkait dengan hubungan dengan sanak saudara, tetapi hubungan secara umum antar teman.

Berbahagialah Anda yang memiliki banyak teman dan sahabat. Pasalnya, beberapa penelitian terbaru menemukan bukti bahwa menikmati kehidupan sosial yang aktif dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Para ilmuwan percaya bahwa menghabiskan sebahagian waktu dengan teman atau sahabat akan membuat hidup lebih sehat secara mental dan fisik

Berikut adalah lima (5) alasan ilmiah yang menunjukkan pengaruh kehadiran seorang teman pada tingkat kesehatan seseorang :

1) Mengurangi risiko demensia

Memiliki kehidupan sosial yang sangat aktif dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer yang cukup besar sekitar 70 persen, menurut temuan baru yang diterbitkan dalam Journal of International Neuropsikologi Society.

2) Membuat Anda tetap fit

Penelitian terbaru dari para peneliti Australia yang diterbitkan dalam International Journal of Behavioral Nutrition dan Aktivitas Fisik menemukan bahwa teman atau memiliki pengaruh langsung pada tingkat aktivitas fisik dan kebiasaan makan.

3) Mempertajam Otak Anda

Untuk menjalin komunikasi yang baik dengan teman-teman melalui instant messaging atau media jejaring sosial akan mendorong fungsi kognitif Anda.

Ini seperti memecahkan teka-teki silang, sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ahli dari University of Michigan, USA.

4) Meningkatkan kesehatan jauh lebih baik

Memiliki hubungan yang saling mendukung dapat menunda proses penuaan. Penelitian terbaru dari Brandeis University menemukan bahwa jaringan sosial yang kuat – terutama bila dikombinasikan dengan latihan fisik – dapat menunda penurunan kesehatan hingga sepuluh tahun.

5) Hidup lebih lama

Hubungan yang kuat dengan teman-teman dan keluarga dapat meningkatkan peluang Anda untuk bertahan hidup hingga sekitar 50 persen, menurut Penelitian terbaru oleh para ilmuwan dari Universitas Brigham Young.

6) Berjiwa awet muda

Lebih banyak bersosialisasi dgn teman atau sahabat / keep relationship membuat kita tetap punya jiwa muda atau semangat muda terus walaupun umur terus bertambah.

Kegiatan silaturahmi atau silaturahim setelah puasa ramadan akan berbeda maknanya karena akan sangat terkait dengan tradisi orang Indonesia untuk ber-halal bi halal (boleh dengan boleh) atau saling maaf memaafkan.

Halal bi Halal

Halal bi halal lebih umum dilaksanakan secara berkelompok dalam suatu tempat tertentu, namum sebagian orang Jawa akan mengatakan halal bi halal atau balal saat silaturahmi pada saat hari raya Idul Fitri (lebaran).
Contoh percakapan ringkas.
“Mau ke mana kamu mas Din sekeluarga kok rombongan bawa motor”
“Ya… ini mau balal (halal bi halal) ke Njolegi (Mojolegi), mumpung mudik”

GitoSuwarno-Ngemplak3c
Silaturahmi halal bihalal keluarga Gito Suwarno Tawangsari Boyolali 2017

Inilah halal bihalal yang dilakasnakan secara terbatas, dan kalau secara umum biasanyanya dilaksanakan di auditorium, gedung, atau ditanah lapang (lapangan) dengan tenda sebagai atapnya.

Konon, tradisi halal bi halal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I (lahir 8 Apri 1725), yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Untuk menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah shalat Idul Fithri diadakan pertemuan antara raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri. Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam dengan istilah halal bi halal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bi halal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.

Suasana Tenggulang2017-06-29
Suasana Halal bihalal (balal – badan) di Tenggulang Baru (Kissparry – pusat)

Namun istilah ‘halalbihalal’ lahir ketika Indonesia nyaris mengalami disintegerasi.

Dikutip dari situs www.nu.or.id yang ditulis salah satu pengurus NU K.H Masdar Farid Mas’udi, tahun 1948 menjadi salah satu tahun terberat bagi bangsa Indonesia.

Tiga tahun setelah menyatakan diri lepas dari penjajahan, situasi politik tak kunjung kondusif. Indonesia dilanda gejala disintegerasi bangsa.

Elite politik saling bertengkar, tidak mau duduk semeja berbicara solusi. Saling serang dan saling melancarkan propaganda.

Di sisi lain, aksi pemberontakan belum juga habis. DI/TII di Jawa Barat dan PKI di Madiun, misalnya.

Di pertengahan bulan Ramadhan, Presiden ketika itu, Ir Soekarno berpikir bagaimana menyelesaikan masalah itu.

Ia kemudian memanggil K.H Wahab Chasbullah ke Istana untuk meminta pendapat.

K.H Wahab pun menyarankan Bung Karno untuk menggelar acara silaturahim antarelite politik. Sebab, Hari Raya Idul Fitri tinggal menghitung hari.

K.H Wahab berpendapat, umat Islam disunahkan bersilaturahim pada Hari Raya Idul Fitri.

Bung Karno sepakat dengan substansi usul itu. Namun, ia kurang ‘sreg’ dengan judul ‘silaturahim’.

Bagi Bung Karno, istilah itu terlalu biasa. Harus dicari istilah lain agar pertemuan itu menjadi momentum dan mengena bagi para elite yang hadir.

K.H Wahab kemudian menceritakan sebuah alur pemikiran yang menjadi kunci ke penemuan istilah ‘halalbihalal’.

Pemikiran itu diawali dengan situasi di mana elite politik tidak mau bersatu karena saling merasa diri benar dan orang lain salah.

Dalam Islam, saling menyalahkan adalah dosa. Di sisi lain, dosa adalah haram hukumnya.

Nah, supaya elite politik lepas dari dosa (haram), maka satu sama lain harus dihalalkan.

Mereka harus duduk satu meja dan bicara satu sama lain. Saling memaafkan, saling menghalalkan.

‘Thalabu halal bi thariqin halal’. Artinya, mencari penyelesaian masalah atau mencari keharmonisan hubungan dengan cara mengampuni kesalahan (memaafkan).

Alur pemikiran itu kemudian membawa K.H Wahab pada sebuah istilah yang hingga saat ini dikenal luas di Indonesia, halalbihalal.

Usul itu diterima dengan baik oleh Bung Karno. Saat Idul Fitri tiba, ia mengundang seluruh tokoh politik ke Istana untuk mengikuti acara halalbihalal.

Untuk pertama kalinya semenjak perbedaan pendapat di antara mereka muncul, para elite politik yang berbeda-beda itu duduk di satu meja dan momen tersebut dinilai babak baru menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itu, acara tatap muka, berbincang-bincang serta saling bersalam-salaman tersebut diikuti oleh instansi pemerintah hingga masyarakat luas hingga saat ini.

Kalimat halal bi halal memang pas dikalangan orang Jawa, bukan hanya maaf memaafkan akan tetapi juga saling meng-halal-kan.

Bagaimana sebaiknya maaf memaafkan itu?

Sesuai ajaran agama Islam, untuk maaf memaafkan tidak harus menunggu hari raya (lebaran), tetapi minta maaf dan memberi maaf harus dilakukan setiap saat dan setiap waktu sesuai dengan kebutuhan. Sehingga kita harus mudah meminta maaf juga mudah memberi maaf.

Balal di kalangan orang Jawa

Orang Jawa biasa mengatakan sesuatu dengan diringkas, misal Kambil Loro atau Kerambil Loro disebutnya dengan Mbiloro, demikian pula Halal bi Halal juga disebutnya Balal, kamipun sering menyebutnya balal apabila kami lakukan hanya silaturrahmi ke beberapa tujuan untuk silaturahmi saat lebaran. “Saya akan balal ke pakdhe Kromo, siapa yang ikut?”, contohnya.

Lebaran-di-Ngroto-2017-07-02c
Halal bihalal Kissparry Semarang ke Ngroto Sumber Lawang Sragen 2017

Ditempat silaturahmi atau halal bihalal atau balal telah disiapkan aneka makanan kecil dan minuman, bahkan untuk tempat saudara (agak jauh) telah disiapkan pula makan besar yang biasanya berupa lontong atau kupat, atau kalau di desa dulu makan yang disiapkan yaitu kebanyakan soto, karena lontong opor biasanyanya sudah ada di rumah masing-masing.

Berbahagialah orang-orang yang bisa mudik, dan berbahagia pula orang-orang yang kedatangan pemudik, disana akan terjadi silaturahmi, dan terjadilah halal bi halal atau balal (dalam lingkup kecil). Meskipun terkadang biaya mudik cukup besar, yang dikumpulkan dari tabungan berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, apabila penghasilan dirantau hanya biasa-biasa saja. Untuk yang berpenghasilan banyak, mungkin bisa mudik setahun sekali.

Mudik bukan hanya ajang silaturahmi dan halal bihalal, yang lebih penting dari adalah untuk menengok orang tua, sanak saudara, kerabat, tetangga lama, dengan bertatap muka secara langsung, maka tali persaudaraan akan semakin rekat dan akrab. Karena kalau tidak ada kunjungan dan bertemu langsung, bisa jadi suatu ketika sewaktu berada di luar kota dan bertemu di jalan atau suatu acara tidak saling menyapa karena sudah lupa wajah saudaranya tersebut.

Tradisi Kupatan (Bodho Kupat)

Kupat-Sunaidi
Ketupat (gambar Sunaidi di Boyolali) dibikin bersamaan hari raya lebaran

Meskipun ada yang merayakan kupatan (bodho kupat), namun biasanya sudah ada yang membuat kupat saat lebaran, termasuk kissparry (Semarang) juga sudah menyajikan kupat dan lontong saat lebaran. Kupat atau lontong di makan dengan sayur opor atau sambel goreng, terasa nikmat sekali, boleh dicampur keduanya.

Ketupan ala Sumber Lawang Sragen masih panas baru masak persiapan kupatan
Ketupan ala Sumber Lawang Sragen masih panas baru masak persiapan kupatan (koleksi IIN-Kissparry di Sragen)

Ternyata tradisi kupat di Sragen dimakan bersama sambel pecel dan krupuk, makan sambil lesehan, wah…  katanya juga enak banget.

kupat-sambel-pecel-krupuk-sumber-lawang-sragen.jpeg
Kupat sambel pecel plus krupuk ala Sumber Lawang Sragen (koleksi Iin Kissparry)

Bodho kupat atau kupatan juga ada dikalangan orang Jawa, kupatan biasanya dilaksanakan tujuh hari setelah hari raya lebaran. Kupat adalah terbuat dari anyaman janur kuning/hijau umumnya berbentuk persegi empat, namun bisa dibuat macam-macam bentuk misalnya gunung, dan setelah janur dianyam kemudian dimasuki beras kira-kira setengah dari besarnya kupat, kemudian direbus hingga beras mengembang memenuhi besarnya anyaman janur, kurang lebih 3 jam hingga 5 jam di rebus, dan setelah masak jadilah kupat.

Saat bodho kupat yang disajikan bukan kupat dan lontong tetapi biasanya kupat dan lepet.

Masyarakat jawa mempercayai bahwa sunan Kalijaga adalah orang yang berjasa dalam hal mentradisikan kupat beserta makna filosofis yang terkandung dalam makanan khas ini.

Secara filosofis, makanan khas “Kupat” ini memiliki banyak makna. Di antara makna itu adalah :

a.    Kata “kupat” berasal dari bahasa jawa “ngaku lepat” (mengakui kesalahan). Ini suatu isyarat bahwa kita sebagai manusia biasa pasti pernah melakukan kesalahan kepada sesama. Maka dengan budaya kupatan setahun sekali ini kita diingatkan agar sama-sama mengakui kesalahan kita masing-masing, kemudian rela untuk saling memaafkan.

b.    Bungkus kupat yang terbuat dari janur (sejatine nur), ini melambangkan kondisi umat muslim setelah mendapatkan pencerahan cahaya selama bulan suci Ramadan secara pribadi-pribadi mereka kembali kepada kesucian/jati diri manusia (fitrah insaniyah) yang bersih dari noda serta bebas dari dosa.

c.    Isi kupat yang bahannya hanya berupa segenggam beras, namun karena butir-butir beras tadi sama menyatu dalam seluruh slongsong janur dan rela direbus sampai masak, maka jadilah sebuah menu makanan yang mengenyangkan dan enak dimakan. Ini satu simbol persamaan dan kebersamaan persatuan dan kesatuan. Dan yang demikian itu merupakan sebuah pesan moral agar kita sama-sama rela saling menjalin persatuan dan kesatuan dengan sesama muslim dan seluruh bangsa.

Semoga bermanfaat.

Diolah dari berbagai sumber.

Referensi:

  1. https://en.wikipedia.org/wiki/Mudik
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Mudik
  3. https://kissparry.wordpress.com/2017/02/18/pengertian-forum-silaturahmi-keluarga-forturga-kissparry/
  4. https://almanhaj.or.id/3158-menyingkap-keabsahan-halal-bi-halal.html
  5. http://nasional.kompas.com/read/2017/06/28/10085501/sejarah.halalbihalal
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s