Merenungi Sikap Budi Luhur dalam Falsafah Budaya Jawa

Ilmu memilah-milah atau bahasa Jawanya ngelmu metani sudah ada sejak nenek moyang masyarakat Jawa, yang memang banyak pitutur atau petuah, yang petuah itu bisa menjadi sebuah sikap hati orang Jawa yang mengikuti petuah tersebut, dan memang petuah ini sudah sangat populer di kalangan Jawa.

Apabila kita merenungi petuah sikap hati masyarakat Jawa, banyak sekali petuah-petuah yang bisa kita jadikan sebuah pengetahuan dan bisa kita resapi kemudian kita aplikasikan didalam kehidupan sehari-hari.

Ngelmu Metani merupakan pengetahuan untuk introspeksi diri berbagai pemahaman terutama tentang budaya Jawa. Jadi didalamnya ada kritik, koreksi diri sekaligus memberikan pemahaman baru sesuai konteks, dalam hal ini tentang budi luhur.

Caranya memang benar, yaitu dengan memilah atau memilih (Metani) berbagai istilah dengan beserta pemahamannya.

Merenungi Sikap Hati Jawi

Budi luhur atau berbudi luhur merupakan sikap terpuji yang Ilahi.

Budi luhur mampu bagaimana cara bersikap sebaiknya pada orang lain, apa yang bisa dan apa yang tidak bisa dilakukan dan dikatakan.

Dia awas ketika barangkali engkau betul, tetapi jangan memakai cara seperti itu “ngono yo ngono ning ojo ngono”.

Kendalikan diri ketika barangkali kita harus menyakiti seseorang, tapi tidak akan menghancurkan “tego larane nanging ora tego patine”.

Yakin, tidak ada gunanya marah-marah pada kejelekan orang lain karena yang baik akan nampak dan yang jelek akan kelihatan “becik ketitik olo ketoro”.

Tetap akan bersikap baik tidak hanya pada orang baik tapi juga pada orang buruk “sapa becik den beciki, sapa ala den beciki“.

IMG20171224210530 -
Silaturahmi, bincang-bincang ringan, Kissparry Pusat

Selalu sadar bahwa, sesama bukan untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan, melainkan, sesama adalah ngumpulkan kebersamaan untuk saling membutuhkan gotong-royong dan saling menolong “mangan ora mangan nek kumpul“.

Maka selalu peduli kalau sedikit dibagi sedikit, kalau banyak dibagi banyak “ono sethithik didum sithik, ono akeh didum akeh“.

Orang berbudi-luhur seakan-akan menyinarkan kehadiran Allah dalam manusia bagi lingkungannya.
Aamiin !

Kiriman Drs. Daryono, M.S.I.
Dosen Universitas Semarang (USM)

Catatan: Untuk versi MedSos silakan buka Menu SMART pilih SubMenu Hikmah, Inspirasi, dan Motivasi pilih SubMenu Judul tersebut, atau klik https://kissparry.com/portfolio/merenungi-sikap-hati-orang-jawa/

Baca juga Ngelmu Metani tentang Makna Sabar dalam Falsafah Budaya Jawa (Sabarnya Hati Jawi)

 

Iklan

2 tanggapan untuk “Merenungi Sikap Budi Luhur dalam Falsafah Budaya Jawa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.