Pendakian Gunung Lawu yang Penuh Misteri, Kisah Nyata

Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Lawu, gunung penuh legenda dan misteri ini letaknya di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, tepatnya terletak di tiga kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah), dan Kabupaten Ngawi, Kabupaten Magetan (Jawa Timur).

Terkenalnya gunung tersebut, dikarenakan gunung Lawu termasuk gunung tertua atau gunung purba, yang menyimpan banyak misteri.

Gunung Lawu juga ada yang meyakini apabila gunung tersebut bisa untuk tempat mengasingkan diri (Jawa: bersemedi ngalap berkah) atau meditasi untuk sarana memohon sesuatu kepada Sang Pencipta Alam Semesta, mengingat gunung ini termasuk gunung purbakala.

Gunung tinggi yang satu-satunya di puncak gunung ada beberapa warung makan, yang berjualan untuk kebutuhan para pendaki dan pengunjungnya, ya, hanya di Gunung Lawu. Namun sebenarnya keberadaan warung tersebut juga karena gunung Lawu setiap harinya selalu ada yang mendaki, bahkan mungkin ada yang menginap di atas gunung pada waktu-waktu tertentu.

Begitu KissParry (Semarang) bercerita kepada KissParry Junior bahwa kami pernah mendaki ke Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur salah satu provinsi di Indonesia itu, yang mengasyikkan, terbersit fikiran sang Kissparry Junior untuk mencoba menaklukkannya, dengan mendakinya ke puncak Lawu.

Namanya saja anak muda, perjalanan ke Gunung Lawu dilakoninya dengan berkendara roda dua. Sedianya bersama beberapa teman-temannya, namun yang dua motor urung, sehingga tinggal dua motor yang melanjutkan perjalanan hingga Magetan Jawa Timur, yang dua hanya sampai di Tawang Mangu Karanganyar.

Sepeda motor Honda Supra-X Helm-in yang menemani perjalanan sudah di Lokasi

Rute yang dilalui dari Semarang ke arah Solo, kemudian Solo ke Karanganyar melewati Tawangmangu kemudian perjalanan dilanjutkan ke arah Tlogo Sarangan, dan berhenti di Cemoro Sewu. Berangkat dari Semarang pukul 05.30 WIB, dengan waktu tempuh kurang lebih 4 jam perjalanan.

BenQ Corporation
Base Camp rute awal pendakian ke Lawu

Sebelum berangkat, Kissparry sudah pesan kepada rombongan Kissparry Junior agar memulai pendakian di malam hari, sehingga sesampai di lokasi ada cukup waktu untuk beristirahat. Disamping itu juga pendakian di malam hari biasanya lebih banyak teman atau rombongan yang lain.

Namun kisahnya menjadi lain karena tim yang hanya berdua, berangkat mendaki sekitar pukul 10.30 WIB sebelum siang bolong (bedug: Jawa).

Jalur pendakian ke Puncak Lawu ada 4 Jalur (namun gambar di bawah baru ada 2 jalur, karena jalur yang 1 adalah jalur baru, dan 1 jalur lagi tidak direkomendasikan), yaitu Base Camp Cemoro Kandang (trak terpanjang) di Karanganyar, Base Camp Cemoro Sewu di Magetan, dan Base Camp Candi Cetho di Karanganyar. Namun beredar kabar ada 1 jalur lagi yaitu Base Camp Jogorogo desa Giri Ngawi Jawa Timur (tidak direkomendasikan).

Peta Jalur Pendakian Lawu (foto Google)

Pendaki kali ini memilih jalur Cemoro Sewu, karena jalur pendakian relatif lebih mudah meskipun sedikit terjal dibanding jalur Cemoro Kandang yang dengan trak terpanjang dan berkelok. Sehingga jalurnya sama sewaktu KissParry mendaki Lawu.

Cuaca Cerah, Siang Mulai Pendakian

Pendakian diawali lebih awal di siang hari yang cerah, dengan harapan bisa menikmati suasana pegunungan di siang hari, dan perjalanan pendakian bisa lebih santai. Hal tersebut tentu dengan persiapan bekal yang lebih, disamping itu siap-siap jas hujan untuk persiapan kalau hujan.

Setelah berembug berdua (tim) dan memberitahukan (izin) kepada pemangku wilayah di Base Camp awal Gunung lawu, selepas makan siang, pendakian diawali, hanya berdua saja, berangkat sekitar pukul 10.30 WIB.

aAlif_GL_WP_20150204_003
Mendaki Gunung Lawu di siang hari

Dalam hitung-hitungan waktu, tim berharap sore hari sebelum matahari terbenam sudah berada di sekitar puncak Lawu.

Perjalanan pendakian lancar-lancar saja, karena ada burung penunjuk yang mengikuti tim pendakian, burung itu adalah burung Jalak Gading, menurut penjelasan dari pemangku wilayah apabila diikuti burung Jalak maka harus lebih waspada dan hati-hati, kemudian luruskan niat hanya untuk mengagungkan kebesaran Tuhan.

Burung ini tidak terbang panjang, tetapi terbang hinggap, terbang hinggap mengiringi langkah pendakian kami berdua, bahkan sampai-sampai pada saat tim istirahat, burung tersebut juga ikuti berhenti.

 

aGunungLawu_Alif_CT_3(8)
Berpose di Gunung Lawu

Terasa lelah istirahat sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan menawan, di sekeliling Gunung Lawu.

aIstirahat_WP_20150204_004
Istirahat melepas lelah, mencari tempat yang tinggi (Gunung Lawu)

Tibalah lokasi yang harus dihindari untuk istirahat lama ditempat ini, di area yang mengandung belerang. Ditempat ini disarankan tidak lebih dari 40 menit.

Suasana terang di Gunung Lawu, Lokasi Belerang

Sehingga sesuai pesan dari penjaga base camp agar tidak terlalu lama ditempat ini, tim segera melintasinya, karena kalau tidak tahan bau belerang bisa mual-mual dan muntah-muntah yang pada akhirnya tubuh akan lemas.

Suasana mulai gelap di Gunung Lawu di lokasi yang sama (Lokasi Belerang)

Suasana Mulai Gelap, Cari Tempat Istirahat

Sesuai rencana, tim pendakian yang hanya berdua, sejak awal merencanakan apabila suasana mulai gelap maka segera mencari tempat untuk beristirahat. Perkiraan waktu tempuh sesuai rencana, dan masih cukup waktu untuk mencari lokasi yang lumayan nyaman untuk beristirahat, kebetulan sudah lepas POS 5 atau pos terakhir.

Akhirnya harus bersiap-siap untuk bermalam dan istirahat. Di depan warung yang tutup itu (teras) tim beristirahat dengan menambahkan jas hujan. Saat mulai bersiap istirahat, saat itu pula mulai ada keanehan-keanehan. Meskipun begitu, tim tidak menuju ke warung Mbok Yem, yang saat itu juga masih buka, dan satu-satunya warung yang buka, karena warung lainnya sudah tutup.

aKabut_WP_20150204_010
Sebagian tempat mulai berkabut, Gunung Lawu

Setelah ini tim harus hemat baterei, dan sedikit hemat bahan makanan, karena ternyata perjalanannya siang hari lebih banyak menguras tenaga sehingga berpengaruh terhadap persediaan bahan makanan dan terutama minuman.

Namun tim sejak awal pendakian tetap optimis terkait makanan dan minuman, karena di puncak Lawu (3265 MDPL) ada warung yang buka berjualan makanan dan minuman, yaitu Warung Mbok Yem yang katanya buka 24 jam.

Tim pendaki sekitar pukul 16.30 WIB sudah berada di sekitar Sendang Derajat, sudah di sekitar Hargo Dalem, setelah melihat peta (saat kisah ini diketik). Disitulah tempat untuk mengambil istirahat, kebetulan ada warung yang tutup (sebelum warung Mbok Yem yang terkenal).

Situasi yang Misteri Mulai Bermunculan

Burung jalak yang mengikuti tim masih saja terus mengikuti, bahkan sampai saat rebahan istirahat, si burung juga ikut berhenti dan hanya melompat-lompat di sekitar pemberhentian. Bagi tim diikuti burung sebagai penunjuk jalan itu juga termasuk kisah dan keanehan tersendiri, karena tidak semua pendaki pendapat kawalan burung tersebut, kata penduduk setempat.

Diluar perkiraan, ternyata selepas POS V, menjelang gelap situasi mulai gerimis disertai angin kencang, sehingga cuaca terasa sangat dingin. Angin kencang yang menghembus dedaunan mengakibatkan suara-suara menakutkan. Kalau boleh mengatakan ada badai ringan, sehingga segera mengambil tempat untuk berhenti, mencari tempat yang aman di bawah pohon.

Angin kencang dengan suara-suara terdengar menakutkan tidak berlangsung lama, dan cuaca kembali cerah. Maka segera melanjutkan perjalanan hingga menemukan warung-warung (Hargo Dalem), ditempat ini sebelum senja tiba (Jawa: Surup). Jelasnya.

Menjelang maghrib yang remang-remang itu terdengar jelas ditelinga tim KissParry Jr dikejauhan seperti ada kerumunan orang, bercakap-cakap ramai sekali, seperti pasar, dan ketika KJr ingin mendekati tempat keramaian tersebut dilarang oleh teman yang satunya. Kebetulan tim berdua mendengar akan hal yang sama, sehingga bisa saling berbisik dan bercakap tentang awal dari keanehan yang dijumpai.

Setelah itu ada seperti orang yang menghampiri dibelakang warung pakai sepatu bot, KissParry Jr berusaha untuk mengikuti gerak langkah kaki tersebut, lagi-lagi si burung juga mengikuti. Namun karena di depan ada kabut tebal, sehingga berhenti tidak melanjutkan langkah mengikuti langkah kaki itu. Tak lama kemudian burung putar-putar mendekat, dan entah saat itu yang ada dalam benak fikirannya adalah “aku harus berhenti” kenangnya.

Benar saja, tiba-tiba kabut tebal segera bergeser, dan ternyata batu terakhir tempat pijakan saat berhenti, di depannya adalah jurang yang terjal. Alhamdulillah dalam fikiran KissParry Jr tidak terus melangkah, kalau terus berarti terjerumus masuk jurang. Akhirnya segera bergegas kembali ke tempat istirahat, yaitu warung kosong.

Sudah dua kali kejadian tiba-tiba, yaitu cuaca langsung ekstrim dan usai, kemudian suara orang berjalan menghampiri. Sedangkan untuk suara keramaian seperti pasar tidak didatangi karena teman yang satunya takut dan melarang.

Keanehan berikutnya yaitu seperti ada orang yang memanggil-manggil temannya, ada orang berkerumun, hanya seperti bercakap-cakap, ternyata setelah ditelusur tidak ada orang, sama sekali.

Setelah itu seperti ada bau masakan dan ada orang memasak, tetapi lagi-lagi dicari sumber bau tidak ada api tidak ada. Situasi benar-benar semakin misterius.

Selepas maghrib, ketika sudah mulai sedikit tertidur sepertinya ada yang jalan menghampiri namun setelah di tengok, tidak ada orangnya, dan itu beberapa kali, akunya.

Seperti ada orang yang pukul-pukul semak belukar, ada ranting jatuh dan lain-lain. Dan yang paling merinding yaitu bau bunga serbak mewangi sepoi-sepoi bersama angin (ah bikir merinding, tapi tim tetap tenang, sambil omat-amit berdoa), sepertinya situasi semakin misterius dan menakutkan yang mencekam.

Disekitar warung Mbok Yem juga terdengar ramai banget orang berkerumun, ingin rasanya mendekat, tapi lagi-lagi temannya melarang ke arah keramaian tersebut, dan menyarankan tetap ditempat saja, sambil berdoa tentunya.

Dalam situasi seperti itu, dengan sendirinya istirahat tidak dapat nyenyak. Dia berharap suasana seperti ini semoga segera berlalu, dan itu terjadi kalau sudah banyak pendaki yang datang menyusul. Begitu ada yang terasa aneh, ditengoknya, namun lagi-lagi tidak ada apa-apa. Teman KissParry Jr Alif hanya bilang takut, semoga segera ada teman-teman yang datang, dia mengharap.

Akhirnya sekitar pukul 20.00 WIB, benar-benar ada rombongan pendaki lain yang istirahat di dekat tim beristirahat, dari sinar senter dari kejauhan datang lagi rombongan lainnya. Dan hati fikiran tim mulai tenang, karena banyak temannya.

Ternyata yang datang tertatih-tatih, bahkan ada yang dipapah karena lemas habis muntah-muntah, entah kelelahan atau keracunan di area belerang. KissParry pun ikut berperan membantu mengatasi teman-teman sesama pendaki yang datang, dalam keadaan sakit tersebut.

Dan setelah itu suasana tambah ramai, sehingga misteri itu sepertinya telah berlalu, meskipun masih teringat betul beberapa kejadian aneh. Tim segera shalat Isya, mumpung banyak teman.

Begitu rebahan lagi tetap saja ada yang aneh, si burung Jalak masih saja di dekat KissParry Jr saat tidur istirahat. Dan akhirnya tim bisa istirahat lebih nyenyak. Meskipun kadang-kadang masih saja ada suara-suara aneh, seperti orang memukul-mukul semak belukar, ada yang jalan-jalan kearah tempat istirahat, meskipun tidak ada jejaknya.

Istirahat santai menunggu Fajar di puncak Lawu

Istirahat di Puncak Lawu, Hargo Dalem sambil menunggu pagi untuk ke Puncak Hargo Dumilah, menyisakan sejuta kenangan yang tak terlupakan, kenangnya. Tidur yang tidak pulas.

Pukul 02.30 WIB tim KissParry Jr sudah berkemas melanjutkan perjalanan mendaki bersama beberapa rombongan yang lainnya, dan tidak lupa berkunjung ke warung Mbok Yem, yang buka 24 jam untuk menghangatkan bada dengan pesan minuman teh panas dan mie instan, teman KissParry pesan kopi.

Ditempat itu kami diam tidak cerita keanehan yang baru saja sore itu dialaminya, dan tidak saling bercerita kepada yang lain, paling kenalan dan tanya dari mana, karena pesan dari petugas pintu gunung Lawu, saat di atas harus lebih hati-hati, apalagi menjumpai yang aneh-aneh agar didiamkan saja bila perlu, dan jangan menantang alam. Tim memilih untuk diam tidak menceritakan hal yang aneh kepada sesama pendaki.

Setengah jam cukup berada di warung Mbok Yem untuk minum tes dan makan mie instan, sekitar pukul 03.00 WIB tim melanjutkan perjalanan ke arah puncak Argo Dumilah, atau boleh dikatakan tempat yang lebih tinggi dengan tujuan menyaksikan matahari terbit.

Beberapa kali istirahat, karena rasa kantuk masih saja menggelayut, dan tidak sempat mengabadikan dengan berfoto, karena ingin hemat baterai. Perjalanan ke puncak Hargo Dumilah terbilang sangat santai, karena jelas sudah sangat dekat.

Suasana Puncak Lawu

Sekitar pukul 04.00 WIB pagi fajar, tim KissParry sudah berada di sekitar puncak Hargo Dumilah. Niat untuk melihat matahari terbit, tercapai, karena cuaca pagi itu sangat cerah.

Fajar Menyingsing dan Matahari Terbit

Sang fajar nampak mulai menyingsing, meskipun angin sepoi-sepoi masih terasa dingin, namun hati sudah sangat lega, karena sebentar lagi pasti sang surya akan menampakkan diri, artinya alam yang tadi nampak gelap akan terlihat terang-benderang.

aPagi_puncak_Lawu_WP_20150205_003
Jelang fajar di puncak Lawu

Suasana sudah mulai terang, pancaran sinar matahari pagi ke bumi sudah membuat suasana dingin menjadi lebih hangat.

Suasana Pagi di Puncak Lawu mode Foto Panorama (foto KissParry)

Fenomena yang menarik tentunya, ketika berada di tempat yang lebih tinggi kita bisa menyaksikan hadirnya matahari lebih awal dari pada yang berada di dataran rendah. Disamping itu sudah barang tentu kita bisa meyaksikan apa-apa yang terlihat dibawah dari kita, namun biasanya tertutup oleh awan, mengingat awan berada lebih bawah dari tempat berada.

Memandang awan disinari sang surya

Terpancarnya sang surya matahari pagi menyinari bumi membuat suasana terasa lebih damai dan lebih tenang juga senang, mengingat akan fenomena misteri menjelang matahari terbenam sangat berbeda rasanya. Bila sore itu terasa mencekam karena membuat takut dengan keanehan-keanehan yang dijumpai, ketika fajar menyingsing dan sang surya mulai hadir, seakan keanehan sore dan malam itu sudah terlupakan.

aIndahnya_Lawu_WP_20150205_026
Matahari pagi mulai bersinar terang, Puncak Lawu

Hargo Dumilah Puncak Gunung Lawu

Lega rasanya, ketakutan yang dialami hampir sepanjang sore malam hari terbayar sudah, dengan melihat tugu puncak Hargo Dumilah 3265 DPL. Tim tidak segera berfoto di tempat tersebut, namun memilih untuk menelusuri area sekitar puncak, dengan menikmati alam dan keagungan Tuhan. Si burung masih terlihat di sini, entah yang lain melihat atau tidak, KissParry Jr tidak menanyakannya.

Suasana di puncak Lawu sangat ramai dengan kehadiran para pendaki yang terus berdatangan, namun sebenarnya banyak pendaki yang telah sampai di area sekitar puncak, entah di Hargo Dalem ataupun yang lainnya.

Hargo Dumilah Puncak Gunung Lawu

Tugu puncak Lawu di Puncak Hargo Dumilah, diberi penanda untuk memudahkan para pendaki menujunya, juga untuk berfoto ditempat tersebut. Untuk mengambil gambar harus rela antri.

Agro Dumilah Puncak Lawu 3265 M DPL

Di sekitar puncak Hargo Dumilah, tim tidak terlalu lama, hanya sekitar sampai pukul 07.00 WIB, karena masih banyak yang akan dikunjungi, misalkan Pasar Dieng atau Pasar Setan atau Pasar Bubrah, yang menjelang sore itu benar-benar seperti pasar.

Kissparry Junior Alif dan temannya di Puncak Lawu

Tim mampir ke warung Mbok Yem untuk sarapan pagi, dan setelah cukup beristirahat sambil menikmati teh panas, kemudian melanjutkan perjalanan ke area yang lainnya.

warung-mbok-yem-puncak-lawu
Warung Mbok Yem Puncak Lawu (Hargo Dalem)

Setelah itu segera untuk bergegas turun dari Gunung Lawu untuk menuju base camp di Cemoro Sewu.

Sisi Lain di Puncak Gunung Lawu

Burung yang mengikuti tim, masih setia muncul, dan tim tidak berani berbuat yang aneh-aneh termasuk memetik bunga Edelweis

Ada beberapa tempat yang bisa disinggahi di sekitar puncak Lawu, kegiatan di puncak boleh dikatakan dibatasi dan harus segera turun gunung. Meskipun seperti itu kita masih cukup waktu untuk mengunjungi beberapa obyek atau tempat yang ada.

Tempat-tempat yang dikunjungi setelah dari Puncak Hargo Dumilah yaitu diantaranya: Pasar Dieng yang dikenal juga Pasar Setan atau Pasar Bubrah, Gua Sigolo-golo, Telaga Kuning, Sendang Macan, dan beberapa puncak Lawu lainnya.

Warung Mbok Yem yang buka 24 jam sangat membantu dan menolong para pendaki, terutama yang kehabisan bekal, meskipun harganya sedikit lebih mahal, kalau dibanding harga makanan di kota mungkin hampir sama.

Mbok Yem juga menyediakan tempat istirahat, tidak memungut dengan menentukan tarif, namun pengunjung bisa memberi uang jasa seiklasnya saja.

Telaga Kuning Puncak Gunung Lawu (pagi masih agak gelap) Dok pribadi
Telaga Kuning Puncak Gunung Lawu (siang hari) Dok Google

Disamping itu flora dan fauna yang ada di gunung Lawu juga menjadi daya pikat tersendiri, antara lain bunga Edelweis. Disekitar puncak lawu juga banyak ditumbuhi pepohonan atau dedaunan sebagai bahan-bahan obat-obatan dan jamu, sehingga hampir setiap hari pula ada warga sekitar yang mencari bahan obat atau jamu disekitar lereng puncak Gunung Lawu.

Gua Sigolo-golo Gunung Lawu
View dari atas Gunung Lawu
View Panorama Gunung Lawu.

Pendakian kali ini memang terasa lain, dengan beberapa pengalaman yang ditemuinya, termasuk beberapa hal misteri Gunung Lawu yang tentu tidak akan terlupakan.

Dengan berangkatnya lebih awal untuk pendakian ternyata membawa banyak pengalaman selama berada di Gunung Lawu.

Sekitar pukul 07.00 WIB tim (KissParry Jr Alif dan temannya) sudah meninggalkan puncak Hargo Dumilah untuk sarapan dan segera bergegas turun dari puncak Lawu, dan tentu sambil menghampiri tempat-tempat yang sudah disebutkan di atas.

Alhamdulillah sekitar pukul 15.30 WIB tim sudah berada di base camp Cemoro Sewu, dengan membawa sejuta kenangan yang tak terlupakan dari Gunung Lawu.

 

Semoga bermanfaat, dan tetaplah semangat dan selalu bersyukur kepada-Nya.

KissParry (WN)

Iklan

4 tanggapan untuk “Pendakian Gunung Lawu yang Penuh Misteri, Kisah Nyata”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s