Memaafkan Kekinian Ala Eropa, Kisah

Memaafkan kadang sesuatu yang sangat sulit dilakukan, digenggamnya erat-erat sulit melepaskan apa itu yang namanya pintu maaf, terlebih tradisi orang Jawa kuna penganut aliran keraton (padahal bukan), maksudnya orang ternama kadang demikian, yang lebih aneh diikuti kalangan biasa, dulu ada istilah ‘dadi godhong emoh nyuwek, dadi banyu emoh nyawuk’.

Lain dulu dan tentu lain sekarang, apakah masih ada tradisi model Jawa kuna, ibaratnya “dadio godhong emoh nyuwek, dadio banyu emoh nyawuk”, mungkin saja dimasa kini masih ada yang demikian itu. Kalaupun ada semacam itu, biasanya diawali dengan “padudon” atau berdebat dan adu pendapat yang berujung saling sindir.

Berdebat atau adu pendapat boleh sepanjang dalam suatu jalur diskusi dalam hal menyamakan persepsi atau pandangan. Hal seperti ini pun perlu ada latihan atau dilatih dalam organisasi yang mapan.

Terkadang kita perlu berkaca atau mencontoh hal-hal kelihatannya sepele tapi sangat berarti, terkait dengan hal memaafkan kesalahan orang lain, terlebih hal tersebut tidak disengaja.

Kali ini kita akan berkaca pada kejadian kecil yang memiliki makna yang luas, bagaimana seorang Eropa bisa memaafkan kesalahan, yang kemudian menjadi judul tulisan ini. Kisah Kissparry dapatkan dari kiriman Medsos. Judulnya Kissparry bikin menarik “Memaafkan Kekinian Ala Eropa”.

Apakah ada memaafkan model sekarang dan model dulu, sepertinya sama saja. Mari simak saja kisahnya, Anda akan menemukan memaafkan yang kekinian.

saling-memaafkan-ilustrasi-_120404154737-473
Ilustrasi saling bermaafan (republika)

Kisah…. memaafkan…

Saat itu kami makan di sebuah rumah makan cukup ternama, seorang gadis remaja melayani kami.

Saat ikan pesanan kami akan diletakkannya di atas meja, piring dalam genggamannya miring sehingga menumpahkan saus ikan tersebut ke atas tas saya.
Saya merasa sangat marah.

Akan tetapi sebelum mengatakan sesuatu, putri saya berdiri kemudian menghampiri pelayan tersebut seraya tersenyum dan menepuk pundaknya kemudian berkata “Tidak apa-apa…”.

Sungguh saya terkejut dibuatnya apalagi saat gadis yang merasa bersalah tersebut ketakutan seraya meminta maaf, “Maaf ibu, akan saya ambilkan lap untuk membersihkannya”.

Tetapi apa yang dikatakan putri saya? Dia mengatakan dengan sangat lembut seperti pelayan itu adalah sahabatnya… “Sudahlah, tidak apa-apa nanti akan saya bersihkan saat pulang”.

Hal inilah yang membuat emosi saya berpindah dari kepada pelayan jadi kepada anak saya sendiri. Hampir saja acara makan malam itu menjadi makan malam tidak menyenangkan seandainya putri saya tidak bercerita.

Dia mengatakan waktu kuliah di Eropa beberapa tahun lalu, dia sempat bekerja di sebuah restoran untuk mengisi liburan, karena kami tidak memperkenankannya pulang selama menjalani pendidikan.

Putri saya mengatakan, pada hari pertama bekerja dirinya melakukan kesalahan fatal saat ditugaskan mencuci gelas-gelas didapur.

Saat itu tanpa disengaja dia memecahkan tumpukan gelas mahal.
Mulutnya tergetar saat bercerita bahwa saat itu dirinya serasa berada di neraka.
Akan tetapi bagaimana reaksi bosnya? Bosnya menghampiri lalu memeluk sambil berkata “Kamu tidak apa-apa kan?”.

Putriku hanya mengangguk, kemudian bosnya menyuruhnya melakukan pekerjaan lain yaitu melayani tamu sementara bosnya meminta pegawai petugas kebersihan untuk membersihkan pecahan kaca. Sebuah tamparan yang lebih menyakitkan dibanding dimarahi kemudian disuruh menyelesaikan keselahannya.

Akan tetapi saat itulah terjadi kesalahan lainnya. Karena masih gemetar akibat peristiwa sebelumnya, saat menuangkan minuman kedalam gelas tamu, minuman tersebut terpercik pada gaun tamu. “Matilah aku” kata putriku, “pasti bos akan langsung memecatku”.

Tanpa disangka tamu tersebut tidak mempermasalahkan dan berkata… “Tidak apa-apa nanti bisa saya bersihkan”, sambil berdiri menepuk pundak putriku lalu menuju toilet.

Putriku menatap mataku sambil menutup ceritanya, “Ma, apabila orang bisa memaafkan saya saat melakukan kesalahan. Apakah mama tidak bisa memaafkan orang lain jika melakukan kesalahan hampir sama…?”

Sungguh saya terenyuh mendengar cerita pengalamannya. Sebuah kesalahan telah membuat sikapnya menjadi lebih bijak untuk bisa memaafkan orang lain.

Menyadari kita juga bisa melakukan kesalahan, akan membuat kita lebih bijak untuk bisa memaafkan orang lain.

Cerita ini tidak hanya untuk diri saya saja, maka saya share untuk manfaat kita bersama. Kasih itu lemah lembut, Kasih itu memaafkan, Kasih itu tidak pendendam!!
💞👌


Ulasan Redaksi

Kisah ini merupakan kisah umum, dan bisa saja terjadi pada diri seseorang pada suatu waktu.

Contohnya ketika masih kecil, adalah hal biasa kalau misalnya main-main “gelut” kemudian menjadi “gelut” sungguhan. (Red. Gelut adalah seperti adu jotos). Sangat repot di sini apabila kemudian orang tua ikut campur main-main anaknya tersebut.

Oleh sebab itu momen seperti Hari Raya Idul Fitri digunakan untuk saling memaafkan menjadi sangat tepat, ketika hari-hari biasa merasa susah untuk memaafkan, maka memaafkan itu lebih baik sebelum orang datang kepada kita meminta maaf.

Memaafkan juga sebaiknya dilakukan sesegera mungkin ketika ada sedikit hal yang terasa ada kesalahan. Lha pada saat hari Idul Fitri itu dimanfaatkan mungkin ada salah yang tidak tersengaja.

Apakah sudah ketemu, dimana memaafkan kekinian tersebut? Bagi yang sudah menemukan silakan memberi komentar.

Semoga bermanfaat.

Baca Juga : Password Wifi “Makan Dulu” pak?

Kisah dikirim oleh Daryono
Editor Kissparry WN

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s