Cagar Budaya

Sejarah Ringkas Lawang Sewu di Tugu Muda Kota Semarang

Siapa yang tidak kenal Lawang Sewu, bangunan yang dibangun abad XX ini sudah ada sejak zaman pendudukan Belanda.

Bangunan Lawang Sewu merupakan karya arsitektur terbaik di Indonesia pada dekade pertama abad XX. Dibangun pada 27 Februari 1904 – 1 Juli 1907. Lawang Sewu tidak hanya menjadi kantor pusat Perusahaan Kereta Api Swasta pertama di Indonesia, tetapi juga menjadi tempat perjuangan mempertahankan kemerdekaan yang diusung oleh Angkatan Muda Kereta Api dalam Petempuran Lima Hari di Semarang. Dikutip dari prasasti Lawang Sewu.

Lawang Sewu dari sisi selatan setelah loket masuk, pintu masuk tampak dipandangan kanan anda pada gambar ini (29/4)

Awal Penguasaan Pengambilalihan

Areal Lawang Sewu menempati lahan seluas 14.216 M2 dan luas bangunan yang didirikan tempat ini seluas 11.124 M2, didapatkan dari pengambilalihan penguasaan dari zaman pendudukan Belanda dan Jepang.

Diawali dari penguasaan kantor Seibu Kyoku (Eksploitasi Barat) yang terletak di Stasiun Jakarta Kota dapat dikuasi tanpa perlawanan, pada 4 September 1945. Selanjutnya dilakukan pengambilalihan di semua stasiun, dipo lokomotif, dipo kereta, dan kantor-kantor di sekitaran Jakarta.

Berlanjut di Lawang Sewu sebagai Kantor Eksploitasi Tengah (Chubu Kyoku) berhasil diambil alih pemuda kereta api bersama Komiter Perjuangan yang dipimpin Prawiro Koesoemo. Pada tanggal 10 September 1945 bendera merah putih dapat berkibar di Lawang Sewu. Dengan teriakan “Merdeka!!” bendera merah puti dijaga siang dan malam.

Lawang Sewu Kota Semarang, wisata sejarah budaya di Semarang, gedung utama tampak dari belakang, (29/4/2019)

Diakhiri di Surabaya, dengan penyobekan bendera Belanda di Hotel Yamato tanggal 19 September 1945 menyulutkan pengambilalihan kantor Eksploitasi Timur. Tanggal 30 September 1945 berhasil mengambil alih kantor inspeksi, stasiun, bengkel, gudang, dipo lokomotif, dan dipo bengkel, dipimpin oleh Roeslan Abdul Gani dan Moeljono.

Wisata Lawang Sewu

Lawang Sewu telah berusia lebih dari 100 tahun dan tengah di pugar untuk pemanfatan fungsi baru, yakni sebagai ruang usaha komersial dan konservasi. Hasil dari usaha komersial ini diharapkan dapat mendukung pelestarian bangunan Lawang Sewu.

Gedung ini memiliki keunikan dan keindahan arsitektur yang merupakan Living Museum, konsep pemanfaatan gedung akan diutamakan guna mendukung kegiatan dan industri kreatif. Gedung Lawang Sewu akan difungsikan gedung sarana ruang pameran, ruang pagelaran seni, ruang seminar dan rapat, shopping arcade dengan menyuguhkan berbagai produk retail serta di fungsikan juga untuk ruang sewa perkantoran, ruang sewa pertemuan dan pesta taman.

Lawang Sewu – pintu bagian dalam, tembus menjadikan pemandangan tersendiri

Selain itu Lawang Sewu bukan sekadar warisan sejarah (historical heritage) tapi harus mampu menjadi sumber daya budaya (culture resource), sebagaimana layaknya sumber daya alam, manusia, dan sosial.

oleh Kissparry
editor Eswedewea

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.