Cara Lolos Berangkat Naik Pesawat Terbang Jika Lupa Membawa KTP, Kisah Nyata

Sahabat Kissparry, jangan lupa setiap bepergian selalu membawa kartu identitas terutama Kartu Tanda Penduduk (KTP), jika lupa membawa KTP apa ada cara lain, inilah kisahnya.

Ibu Kissparry sebagai sesepuh Fortuga Kissparry tentu tidak ingin ketinggalan kumpul bersama anak-anak dan cucu-cucu serta saudara lainnya di Batam yang baru saja berlangsung, beliau mengandalkan anak-anaknya terkait menyimpan dokumen-dokumen penting saat dirumah, maklumlah sudah sepuh, 70 tahun lebih usianya, bahkan saat akan berangkat seingatnya KTP sudah berada ditangan anaknya (LikKasjo) yang akan bersamanya.

Rombongan Kissparry Sekayu (Palembang) tiba di Bandara Hang Nadim Batam (BTH) menunggu tim penjemput – 19/12

Baca Juga : Puisi Kaum “Sepuh”

“Mbok KTP-ne pundi”, tanya LikKasjo, Mbok atau Simbok cara memanggil (Jawa) anak-anaknya kepada ibunya, maklumlah anak desa zaman lawas, mungkin sekarang sudah jarang panggil mbok simbok, setidaknya ibu- bapak, ibu-ayah, mama-papa. Kami tetap biasa memanggil Simbok.

Diapun membuka dompetnya, “Lho ora ana neng dompet iki…, apa Ndakir wingi ora ngekei KTP, deweke sing nyimpen”, simbok menjawab sambil kebingungan, “Wah lha terus piye iki”, lanjutnya.

Penumpang pesawat terbang wajib menunjukkan kartu identitas diri, seperti KTP, Kartu BPJS, Kartu SIM, Paspor atau yang lain yang syah, dan untuk yang belum ber-KTP karena usia kurang dari 17 tahun, siap-siaplah membawa kartu KK (Lembar Kartu Keluarga).

Beliau ingat masa lalu atau zaman dahulu, ketika akan pergi jauh biasanya datang ke kantor desa ketemu Kades untuk minta surat keterangan guna bepergian jauh, isinya antara lain menyatakan identitas pembawa surat. Masyarakat desa kami dulu seperti itu.

“Jika nggak bisa diurus kita kehilangan uang banyak dalam satu rombongan ini”, celetuk salah satu rombongan disini.

“Ngene, saiki urusen kowe khan duwe gambar KTP-ku neng HP ndisik kowe pernah nyimpen gambarku, nek ora ono njaluko Ndakir, deweke mungkin nyimpen. Mengko nek ora bisa diurus aku tak bali ora melu menyang Batam, liyane mangkato, duwite ora ilang kabeh”, ibu kami ini memang luar biasa penalarannya sekaligus kasih solusi. Maklumlah, beliau sudah ditinggal suaminya (bapak kami) 40 tahun silam, jadi selama itu ia juga merupakan ibarat bapak kami, karena beliau enggan nikah lagi.

Baca Juga : Sepuh, Sepah, Kolot.. : Orang Tua dalam Bahasa Indonesia, Renungan

Bukit Layang Kuning, Ibu Kissparry kerudung coklat tua

Lik kasjo selalu menyimpan scan dokumen-dokumen pribadi di smartphone-nya, baik KK, KTP dan Katu BPJS, termasuk dokumen-dokumen simbok.

Ketika petugas check in menanyakan identitas simbok, LikKasjo menunjukkan seluruh scan yang ada pada smartphone, namun petugas itu minta dokumen asli, tidak ada dalam bentuk softcopy. Seandainya sebagai member (anggota) maskapai tersebut, mungkin cukup menyebutkan Nomor Anggota.

Calon penumpang harus membawa menunjukkan dokumen identitas. Karena tidak membawa KTP atau dokumen lain maka LikKasjo minta diberi solusi untuk tetap bisa berangkat terbang ke Batam, bagi Simbok. Petugas memberi solusi, untuk membuat surat keterangan identitas ke administrasi maskapai.

Selain harus mempunyai alasan yang kuat, tentu tujuan utama hanya Batam ini yang memudahkan administrasi keberangkatan.

Lik Kasjo beserta simbok mendatangi kantor perwakilan maskapai, kebetulan yang digunakan adalah Citilink. Sampai diruang pelayanan harus antri beberapa yang sedang dilayani, untunglah punya waktu yang cukup untuk mengurus, jika tidak maka bisa ketinggalan pesawat.

“Mari ibu bapak silakan duduk, kami dari Citilink ada yang bisa kami bantu”, petugasnya menyapa dengan santun dan penuh harap tentu bisa membantu kami. Biasanya entah itu bahasa bisnis atau memang staf harus seperti itu, urusan yang begini agak susah juga, dia benar-benar merapkan SOP.

LikKasjo sudah menyiapkan jurus yang mujarab, ia mulai menjelaskan “Ibu saya ini bersama saya hendak berangkat terbang ke Batam hari ini, tiket telah dibeli, kami sudah sampai ke tempat lapor keberangkatan (check in), karena ibu lupa tidak membawa KTP, oleh petugas check in dinyatakan tidak bisa berangkat karena dokumen tidak lengkap. Ibu saya ini sehari-hari tidak tinggal bersama saya tetapi tinggal bersama adik saya di Tenggulang Baru, sedangkan saya tinggal di Kota Sekayu Kab Musi Banyuasin”, Lik Kasjo harus menjelaskan runtut kepada staf maskapai ini.

Menjelaskan memang harus runtut, sambil menunjukkan tiket yang telah dibeli, dan sementara kami belum melakukan check in untuk seluruhnya menunggu urusan selesai, entah gagal atau berhasil, baru check in.

“Karena kebiasaan saya menyimpan dokumen dalam softcopy, dokumen dimaksud ada disini (sambil menunjukkan kepada staf). Ibu saya tadi sempat bilang jika tidak bisa diurus akan pulang kembali tidak ikut terbang ke Batam, padahal disana merupakan acara 3 tahunan keluarga kami untuk silaturahmi, jadi seluruh anak dan cucu simbok kumpul disana, ada dari Semarang, Jambi, Sekayu Muba, Tenggulang Muba dan Batam sebagai tuan rumah, ada 2 keluarga yang di Batam”, jelasnya.

“Dokumen simbok yang menyimpan adik saya dan biasanya yang membawa KTP-nya ya… adik saya, mereka berangkat dengan kapal laut, saat ini tidak bisa dihubungi, mungkin dibawa oleh mereka”, LikKasjo sedikit kasih argumen.

Acara yang sepenting ini, untuk itu kami tadi minta solusi dari petugas check in harus bagaimana, sementara saya membawa dokumen softcopy yang menguatkan, oleh petugas check in disarankan datang ke kantor perwakilan maskapai untuk minta surat keterangan identitas, maka datanglah saya kesini, ini maksud tujuan saya, Lik Kasjo menjelaskan panjang lebar seakan akan tidak bisa disela bicaranya.

Sampai dengan menyampaikan maksud tujuan, alasan, dan sebagainya kemudian ia berhenti bicara.

Staf maskapai mulai angkat bicara, “begini bapak-ibu, sesuai aturan penerbangan memang harus membawa identitas diri, sampai saat ini aturannya itu dalam bentuk fisik bukan dalam softcopy, untung saja bapak bawa meskipun dalam bentuk softcopy, sehingga saya bisa bantu, namun jika tidak harus menghadap atasan saya untuk menyelesaikan, jadi jika tadi ditolak oleh petugas check in memang sudah seharusnya seperti itu, sehingga kami mohon maaf”, sambil memerhatikan dokumen yang saya tunjukkan.

Tidak lama kemudian, ia menerbitkan surat keterangan identitas keberangkatan penumpang, bukan yang lain yang harus diberikan kepada petugas check in. Lembaran itu disampaikan untuk ditandatangani simbok dan tandatangan dari maskapai.

Alhamdulillah, akhirnya bisa berangkat dan berkumpul dengan keluarga Kissparry.

Catatan untuk Kita

Zaman dahulu jika ingin berangkat jauh datang ke Kades minta surat keterangan pengantar bepergian yang isinya termasuk identitas pembawa surat tersebut.

Setelah zaman KTP apalagi KTP-elektronik yang berlaku secara nasional maka tidak lagi datang ke Lurah, tetapi cukup membawa KTP atau identitas lain ketika bepergian. Untuk pelajar dapat membawa kartu pelajar, ini pengalaman ketika Kissparry Semarang bersama anak-anaknya naik pesawat terbang ke Jakarta sementara anak-anak belum memiliki KTP, tetapi punya Kartu Pelajar, disamping waktu itu menyiapkan Kartu KK.

Teknologi yang telah ada sekarang, untuk dan perlu kita manfaatkan semaksimal mungkin, termasuk penyimpanan dokumen penting bisa secara maya dalam softcopy. Ada ruang penyimpanan maya gratis dari Google namanya Google Drive.

Baca Juga : Tutorial Menggunakan Google Drive dan Cara Menyiapkannya (HP Android dan Laptop)

Saat membawa dokumen softcopy, setidaknya menjadi alternatif adanya jalan ketika ditanya tentang identitas atau dokumen lainnya.

Salam

oleh Eswede Weanind
editor Lik Kasjo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.