Sahabat Kissparry, seseorang itu pasti memiliki kisah sendiri-sendiri, yang ia lakoni, baik secara sendiri maupun bersama keluarga mereka, kita bisa mengambil makna atas kisah tersebut.

Suatu kisah itu menurut mereka terkadang dianggapnya wajar dan biasa saja, karena dalam keseharian seperti itu, dan rutin seperti itu, mengalir setiap hari, misal berangkat ke sekolah berjalan kaki 8 km pergi pulang setiap hari.

Karena itu sudah menjadi bagian hidup mereka, maka kadang sudah tidak bisa berkata-kata atau berkisah, bahkan sudah habis air matanya untuk diceritakan, karena setiap hari penuh air mata perjuangan.

Dikarenakan sangat berkesan akan perjuangan hidupnya, yang sangat frontal menurutnya tentang masa lalu mereka dan apa yang terjadi kini, akhirnya ia ingin bertutur dan bercerita secara terbuka.

Tempat tinggal mereka berpindah-pindah, dan terakhir di Ketapang Kalimantan Barat, berawal di Magelang Jawa Tengah kemudian ke Lampung Utara ikut trans.

Ahmadi Marzuki, Ketapang Kalimantan Barat aslinya dari Magelang Jawa Tengah

Berbagi cerita dari Ketapang, Kalimantan Barat

Kisah perjalanan mantan da’i transmigran, yang berjuang di Ketapang dan tetap menjadi seorang da’i.

Perkenalkan, saya Ahmadi Marzuki. Dulu (1972) dari Trans Way Abung, Lampung. Sekarang tinggal di Ketapang, Kalimantan Barat.

Cerita perjalanan hidup Transmigran, semuanya sama. Termasuk beban berat jadi anak trans. Beban itu secara psikologis dan juga ekonomi.

Transmigran diidentikkan orang buangan. Bahkan saya sebagai anak trans dalam hati ingin berontak. Ingin membuktikan, anggapan itu salah.

Asal mulanya, saya dan orang tua dari Magelang. Pekerjaan buruh tani. Tahun 1972 ikut Trans Umum ke Way Abung, Lampung Utara. Tepatnya di Desa Mulyoasri Kecamatan Tulang Bawang Tengah.

Tempat itu sekarang menjadi Kabupaten Tulang Bawang Barat.

Masa Sekolah

Sekolah Dasar, saat sekolah dasar waktu itu tempatnya berpindah-pindah. Sekolahnya numpang di rumah kosong. Setelah 2 tahun baru dibangunkan sekolah Negeri.

Alhamdulillah, selama sekolah saya selalu mendapat ranking 2 besar. Hal itu membuatku semangat untuk sekolah.

Dalam hatiku tertanam benih-benih motivasi, bahwa anak trans itu tidak seperti yang dituduhkan.

Saat itu untuk melanjutkan jaraknya sekitar 60 km. Lokasi trans ke kecamatan sekitar 20 km. sayapun hanya sesekali ke kota. Jika ada upacara terkadang ikut naik truk ke kota kecamatan.

Dalam tekadku, walau anak trans tidak mau kalah dengan kawan-kawan sebaya yang ada di Jawa. Bagaimanapun caranya, harus sekolah, saya harus semangat untuk sekolah.

Setelah tamat Sekolah Dasar 6 tahun saya melanjutkan SMPN (Sekolah Mengengah Pertama Negeri) selama 3 tahun. Lulus dengan mendapat rangking 2 se rayon, sangat membanggakan.

Kemudian melanjutkan pendidikan di SMA (Sekolah Menengah Atas) Jurusan A3. Lulus ranking 2 se rayon.

Lulus SMA mendaftar ke UNILA (Universitas Lampung) dan IAIN (UIN). Alhamdulillah di terima di UIN Raden Intan.

Pada waktu itu (1988) anak trans se kimtrans yang kuliah masih jarang. Karena faktor ekonomi dan jarak yang jauh.

Orang tua hanya mampu membayar SPP dan uang saku semampunya. Untuk kos harus usaha sendiri, inilah termasuk perjuangan yang harus saya lakoni.

Karena itu selama kuliah saya ikut orang (ngenger) setahun, bantu kerja. Pada tahun berikutnya bersama teman berempat jadi marbot di Masjid MAN 1 Sukarame Bandar Lampung.

Saat semester 5 saya Nikah. Sehingga saat lulus saya sudah punya anak satu, dan pada tahun 1994 lulus kuliah.

Pulang Kampung Halaman

Setelah lulus jadi pengangguran, maksudnya tidak langsung bekerja. Dan sebagai anak kuliahan, saya malu nganggur di Lampung, karena semua saudara kenal saya.

Saudara saya semua kerja di PT GMP pabrik gula. Sedangkan saya lulusan IAIN. Bukan jalurnya kerja di pabrik gula.

Ada kawan bapak yang berkata: “Ngapain sekolah tinggi nanti juga nganggur. Kalau tidak punya koneksi dan saudara pejabat, susah.”

Untuk menenangkan pikiran, saya ke pulang kampung daerah asal yaitu Magelang (Provinsi Jawa Tengah).

Singkat cerita, di Magelang saya ikut mertua. Saya berharap kakak ipar yang jadi ASN di Depag pada waktu itu bisa memberi jalan untuk kerja di Depag. Selama 2 tahun di Magelang tidak ada peluang.

Dari Anak Trans menjadi Da’i Transmigran

Akhirnya tahun 1996 saya mendaftar Trans PIR kelapa sawit ke kecamatan Tumbang Titi, Ketapang, Kalimantan Barat.

Ikut program Da’i trans, kontrak selama 3 tahun. Diberi honor Rp 100.000 perbulan. Di Ketapang Saya di tempatkan di desa Jairan jaya, kecamatan Sungai Melayu Rayak.

Dulunya masih ikut wilayah Kec. Tumbang Titi. Jarak dari kota kab 69 km, dan ke Kecamatan 20 km. Tetapi lokasinya dekat jalan poros kabupaten.

Sebagai Da’i trans selain merintis bidang keagamaan juga di bidang pendidikan. Saya ditunjuk menjadi kepala Sekolah SDN Persiapan.

Dengan fasilitas seadanya, menumpang di balai desa. Istri ikut mengajar TK. Di rumah ada TPA (TPQ) Taman Pendidikan Alquran.

Sesekali kalau ke kota kabupaten harus naik sepeda 7 jam, karena jalan banjir kadang berlumpur.

Kalau menumpang truk malah kadang sampai 1 hari. Jalan rawan amblas, karena melewati tanah gambut.

Setelah 2 tahun SD Negeripun jadi, dan para guru sudah datang. Saya mengundurkan diri dan membuat warung kecil. Tahun 1997 terjadi krisis moneter (krismon).

Harapan ingin sukses jadi petani pun hampa. Kebun Sawit yang dijanjikan belum dibagikan. Untuk menyambung hidup, bersama kawan orang Trans mencari emas sebagai penambang liar. Saat itu marak Borneo sebagai tambang emas.

Akibat itu banyak warga tidak kerasan. Ada yang pulang ke Jawa, ada yang kerja ketempat lain, ada di PT, dan ada ke kota.

Setelah tepat 2 tahun di kimtrans saya tengok ke Magelang dan Lampung. Harapan di Kalbar masih tidak menentu. Saya tinggalkan Ketapang sekitar 6 bulan.

Saat di Magelang ada info, kebun mau di bagi. Betul dibagi. Hatipun senang. Tetapi ada kekecewaan. Tanaman belum memadai. Lebih cocok disebut pembagian lahan.

Kontrak sebagai da’i trans selesai, tekad cita-cita memiliki kebun sawit kandas. Hampa.

Dalam kegalauan itu saya dengar informasi dari RRI Jakarta. Ada pembukaan ASN di kabupaten masing-masing.

Saya daftar, dan Alhamdulillah diterima di Depag. Dari 10 peserta, diambil 5 orang termasuk saya.

Setelah hampir 25 tahun kondisi lokasi berubah. Jika dulu ke kabupaten dicapai 5 jam, sekarang bisa di tempuh 1 sd 1.5 jam saja.

Listrik sudah masuk, air bersih ada, dan wilayah desa trans sudah mekar menjadi 4 kecamatan baru. Terbentuk dari desa trans. Yaitu kec Sungai Melayu Raya, Pemahan, Singkup, dan Air Upas.

Saat ini (September 2020) sudah banyak warga trans yang menunaikan ibadah haji, dan kesuksesan lainya.

Mulai tahun 1999 saya jadi ASN, ditugaskan sebagai Kepala KUA. Alhamdulillah punya anak 4 orang. Anak pertama lahir di Lampung, kedua lahir di Jawa, anak ke 3 lahir di Ketapang.

Ketiganya laki-laki dan ada satu anak asuh wanita. Ada 2 orang sudah sarjana. Sulung ASN, yang ketiga masih kuliah dan yang kecil sekolah TK (PAUD).

Dari mantan da’i tetap menjadi da’i (tapi banyak di ruang kantor).

Semoga cerita ini ada manfaatnya. Nilai-nilai jiwa ketransmigrasian.
Selamat, salam sukses warga PATRI.

Ketapang, 16 September 2020
Ahmadi Marzuki (sumber)

Kisah ini dikutip dari Medsos FB PATRI, dengan editing seperlunya.

Beberapa istilah/singkatan :

  • PIR
  • TPA (TPQ)
  • SDN
  • SMPN
  • SMAN
  • IAIN
  • UIN
  • UNLAM
  • KUA
  • TK / PAUD
  • ASN

diunggah oleh Eswede Weanind
editor Kissparry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.