ADA CINTA DI BALIK RASA 36
(Tien Kumalasari)
Daniel tertegun. Ia masih terpaku di tempatnya berdiri, ketika Raharjo sudah menggandeng tangan Marjono keluar dari ruangan itu.
“Namanya Nilam, apakah Nilamsari? Wajah itu … “
“Nak, sepertinya Anda sudah ditinggalkan pasien Anda,” kata Suri yang tahu bahwa Daniel adalah perawat dari pakaian yang dikenakannya.
“Oh, iya. Maaf.”
“Biar saya yang menunggui anak saya ini,” lanjutnya.
Daniel melangkah keluar. Ia heran, mengapa Nilam adalah anak wanita yang asing baginya? Pasti hanya masalah nama. Tapi wajah dan mata itu, mata bulat yang sangat dikenalnya ketika masih kanak-kanak .…
Daniel tidak tahu di mana kamar Anjani. Ia justru memerlukan menuju ke ruang perawat yang mengawasi pasien-pasien berkelas disekitarnya.
“Mas Daniel, bagaimana pasien kamu?”
“Baik. Tapi aku mau tanya, pasien di kamar 108 itu namanya siapa?”
“108. Dia, nona Nilamsari.”
“Tuh, Nilamsari kan? Nama orang tuanya?”
“Raharjo… Eh.. sebentar, ada yang memanggilku,” kata rekan kerja Daniel saat di rumah sakit, yang kemudian berlalu.
Daniel tak ingin menanyakan nama lengkap orang tuanya. Dia sudah melihat sendiri ibunya ada di sana.
Daniel menghela napas. Ia tak ingin menanyakan di mana ruang rawat Anjani. Dia kan tidak diperlukan. Lalu dia duduk disebuah bangku tunggu.
Bayangan puluhan tahun silam melintas. Saat kedua orang tuanya meninggal, lalu kedua orang adiknya dibawa oleh adik ibunya, sedangkan dia dipungut oleh seorang yang berkecukupan, disekolahkan. Sebenarnya Daniel ingin menjadi dokter, tapi ia sadar, orang tua angkatnya tak memiliki biaya sebanyak yang dibutuhkan untuk kuliah di fakultas kedokteran. Lalu ia memilih sekolah perawat. Pertimbangannya adalah, agar dia bisa langsung mendapat pekerjaan, sehingga tidak memberatkan kedua orang tua angkatnya.
*
Sementara itu, karena pintarnya Raharjo membujuk Marjono sebelumnya, ia tak begitu panik ketika ternyata sang anak juga terbaring sakit, tak ubahnya seperti Nilam yang baru saja dilihatnya.
“Bapak tidak perlu khawatir. Anjani tidak apa-apa,” kata Anjani sambil mencium tangan ayahnya.
“Begitu pintarnya Daniel membujuk aku, sehingga aku sama sekali tidak membayangkan bahwa kamu juga mengalami kecelakaan itu. Pak Raharjo juga dengan pintarnya mengatakan hal sakitmu ini, sehingga ketika melihatmu tampak segar, aku jadi tidak merasa khawatir.”
“Bapak memang tidak perlu khawatir, karena Miko selalu menjaga Anjani. Baru saja dia pulang, sebelum Bapak datang.”
“Syukurlah. Tapi benarkah kamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa Pak, hanya sedikit pusing, tidak masalah. Kata dokter, nanti juga pasti akan sembuh.”
“Kamu harus cepat sembuh, jangan membuat bapak khawatir.”
“Iya Pak. Apakah pak Daniel merawat Bapak dengan baik?”
“Sangat baik. Tadi juga ikut kemari. Barangkali sedang menunggu, atau bertemu teman-teman perawatnya.”
“Syukurlah, jadi Anjani tidak usah terlalu khawatir.”
“Pikirkanlah kesehatan kamu sendiri, jangan memikirkan bapak. Bapak sudah tidak apa-apa. Bapak juga bisa melakukan semuanya sendiri. Daniel hanya membantu menyiapkan makan dan obat-obatan bapak.”
“Iya, justru itu yang lebih penting kan Pak. Makan yang banyak, dan tidak melupakan obat.”
“Iya, nak Daniel banyak membantu bapak.”
“Bapak duduk saja, jangan berdiri, nanti capek.”
“Pak Raharjo tadi mana?”
“Sudah keluar, pasti ada di kamar mbak Nilam.”
“Kasihan, bagaimana kalian berdua bisa menemui kecelakaan berdua?”
Lalu Anjani menceritakan kejadian yang mereka alami, sejak menonton bioskop, lalu jalan-jalan, duduk-duduk di taman, kemudian ada tukang sate di seberang jalan, dan mereka ingin makan sate itu di taman, tempat mereka duduk-duduk bersama.
Marjono mendengarkan dengan seksama, dan bersyukur karena tidak terjadi sesuatu yang membahayakan mereka.
*
Raharjo sedang menyusuri koridor rumah sakit, untuk menemui dokter yang merawat Nilam dan Anjani, untuk menanyakan kesehatan mereka. Ruangan dokter itu tinggal beberapa langkah lagi, ketika tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang sedang melintas.
Raharjo membuka matanya lebar-lebar. Ia seperti melihat pengemis yang ada di luar rumah makan, dimana siang itu dia sedang makan bersama Nilam.
Jarak mereka tidak begitu jauh. Laki-laki itu berjalan terbungkuk seperti ketika ia melihatnya pertama kali. Hanya saja, waktu itu Raharjo tak begitu memperhatikan karena sedang bersiap mengendarai mobil. Tapi kali ini Raharjo melihatnya dengan jelas. Laki-laki bercambang dan kumuh. Raharjo mana bisa melupakan bekas karyawannya yang bertahun-tahun lalu nyaris membuat nyawanya melayang?
Raharjo heran, apa yang dilakukannya di tempat ini? Raharjo bergegas mendekati sambil berteriak memanggil.
“Baskoro!!
Laki-laki kumuh itu menoleh, dan Raharjo semakin yakin bahwa dia tidak salah orang.
“Baskoro. Kamu Baskoro kan?”
Laki-laki itu tiba-tiba merasa seperti ketakutan. Setengah berlari dia meninggalkan tempat itu, menjauhi Raharjo, orang yang memanggil-manggil namanya.
“Baskoro! Tunggu! Aku tahu, itu kamu!”
Raharjo menghentikan langkahnya. Ada begitu banyak belokan dan lorong-lorong. Kemana perginya Baskoro?
Raharjo mencari-cari. Lalu tiba-tiba Daniel memburunya.
“Bapak mencari siapa?” tanya Daniel.
“Itu, ada orang yang aku kenal, tapi dia tampak ketakutan. Ada aku, bekas atasannya, mengapa dia kabur?”
“Memangnya kenapa Pak?”
“Ehm itu … aku seperti melihat orang yang aku kenal.”
“Ke mana dia?”
“Entahlah, begitu aku memanggil namanya, dia kabur. Ya sudah, biarkan saja. Kamu masuklah, pak Marjono pasti mencari-cari,” kata Raharjo yang tak ingin mengatakan siapa dan mengapa ada orang yang dikenal tapi kabur.
Raharjo kembali kearah semula, ruang dokter, di mana dia akan berbincang tentang penyakit Nilam dan Anjani.
*
Suri masih menunggui Nilam, sambil menawarkan ini-itu, barangkali Nilam menginginkannya.
“Tidak Bu, Nilam tidak ingin apa-apa. Ibu istirahat saja di sofa. Nanti ibu capek.”
“Cuma duduk, bagaimana bisa capek? Ibu akan membelikan kamu makanan, apa yang kamu inginkan?”
“Bukankah ibu sudah membawa makanan dan bapak juga membawakan buah-buahan.”
“Tapi kamu tidak ingin memakannya. Roti ya, atau jeruk saja?”
“Sebentar Bu, Nilam masih merasa mual dan pusing.”
“Sedikit saja, ibu suapin? Buah atau roti? Ini roti lapis coklat kesukaan kamu.”
“Nanti kalau ingin, Nilam akan minta pada Ibu.”
“Aku seperti melihat Baskoro,” tiba-tiba Raharjo sudah ada di dekat mereka.
Nilam, apalagi Suri, terkejut.
“Baskoro?”
“Itu pengemis yang kita lihat di rumah makan itu, bukan?” tanya Nilam.
“Sepertinya iya. Tapi ketika bapak memanggil namanya, dia kabur. Bapak cari-cari, tapi tidak ketemu.”
“Mengapa dia ada di sini? Apa dia sakit?” tanya Suri, yang juga pernah mendengar Nilam bercerita tentang pengemis yang pernah dilihatnya, di mana wajahnya seperti Baskoro, bekas suaminya.
“Entahkah, baru saya menyapa, dia langsung kabur.”
“Beberapa hari yang lalu Nilam juga bertemu dia lagi, dan Nilam sempat bertemu muka. Tapi ketika Nilam menyebut namanya, dia juga langsung kabur. Nilam tak bisa menemukannya.”
“Mas Wijan berjanji akan menanyakannya di penjara, tapi belum dilakukannya.”
“Jadi benar, dia telah dibebaskan.”
“Mengapa dia ada di rumah sakit?”
“Mungkin dia ingin mengais rejeki juga di sini, dan tidak mengira akan bertemu bapak.”
Suri merasa miris mendengar kata-kata itu. Mengais rejeki di sini, dan itu berarti mengemis bukan?
Tak pernah dibayangkan, laki-laki yang dulu sangat dicintainya, sehingga rela berkorban untuk hidup sederhana, kemudian mengkhianatinya, dan memetik buah yang ditanamnya. Tapi ia tak pernah membayangkan sang mantan sekarang menjadi seorang peminta-minta. Guratan sedih itu tertangkap oleh Nilam yang sejak tadi memperhatikannya.
“Apakah ibu masih mencintainya?” tanyanya. Nilam yang suka berterus terang, tak ingin menyembunyikan apa yang dipikirkannya. Itu sebabnya dia langsung mengatakannya pada sang ibu angkat.
“Apa? Tidak. Kamu bilang apa sih Nilam?”
“Tapi ibu tampak sedih.”
“Hanya sedih memikirkan kehidupannya. Tapi cinta itu tak ada lagi. Ibu juga tak ingin mensyukuri penderitaannya walaupun ibu pernah disakiti. Sebagai manusia, wajar kalau masih memiliki rasa kasihan. Semoga Allah swt segera mengampuni dosanya, dan memberikan kehidupan yang lebih baik.”
“Aamiin,” kata Nilam dan Raharjo hampir bersamaan.
“Oh iya, sebentar lagi Nugi pulang, ibu harus mengingatkan ojol langganan supaya tidak terlambat menjemputnya,” kata Suri yang segera mengambil ponselnya.
*
Raharjo harus segera mengajak Marjono pulang, karena Daniel sudah mengingatkan kalau sudah saatnya Marjono meminum obat.
Sebelum pulang, Anjani wanti-wanti agar Daniel menjaga ayahnya dengan baik.
“Titip bapak ya Mas, dan maaf kalau kami merepotkan mas Daniel.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini sudah menjadi kewajiban saya,” kata Daniel sambil tersenyum, lalu memegangi lengan Marjono untuk diajak pulang.
“Besok bapak pasti kemari lagi,” kata Marjono sebelum meninggalkan anaknya.
Ditengah jalan, ia bertemu Jatmiko yang akan masuk ke ruangan.
“Bapak sudah mau pulang?”
“Iya nak, sudah sejak tadi bapak ada di sini. Nak Daniel sudah mengingatkan bapak, saatnya minum obat. Jadi bapak harus segera pulang.”
“Bapak hati-hati ya, dan jangan terlalu memikirkan Anjani, saya akan terus menjaganya.”
Marjono menatap Jatmiko lekat-lekat. Sepertinya yang kelihatan sangat menyukai Anjani itu Wijan, tapi sekarang Jatmiko lah yang penuh perhatian terhadap anak gadisnya. Marjono menggeleng-gelengkan kepalanya. Sulit menebak pemikiran anak-anak muda.
“Terima kasih ya Nak,” hanya itu yang diucapkan Marjono sebelum kemudian berlalu.
Jatmiko masuk ke ruangan, melihat Anjani masih terjaga.
“Mengapa tidak tidur?”
“Bapak ada di sini dari pagi. Baru saja pulang. Kasihan kalau kecapekan.”
“Iya, kami bertemu di luar pintu tadi. Syukurlah, bapak tak apa-apa.”
“Karena pintarnya pak Raharjo mengajaknya bicara, memberi tahu pelan-pelan sehingga membuat bapak tidak terkejut.”
“Syukurlah, hal yang membuat aku khawatir ternyata tidak terjadi.”
“Kamu sudah makan?”
“Sudah.”
“Aku bawakan makanan, sate lontong yang urung kita makan tadi malam,” kata Jatmiko sambil tertawa.
“Ya Tuhan, gara-gara sate lontong itu, aku jadi harus menginap di sini.”
“Tapi gara-gara sate lontong itu, lalu terjadi kecelakaan atas kamu, yang kemudian membuka mata hatiku, bahwa aku takut kehilangan kamu. Bahwa kamu sangat berharga untuk aku. Bahwa kamu harus selalu ada untuk aku.”
“Miko, sebenarnya ke mana arah pembicaraan kamu?”
“Ini kelanjutan dari pembicaraan kita yang belum selesai. Aku hanya ingin mengungkapkan isi hati aku yang sesungguhnya.”
Anjani tersenyum. Ada sedikit makna ungkapan Jatmiko yang tertangkap olehnya, tapi ia menganggapnya belum jelas. Anjani masih berharap, Jatmiko bicara lagi, dan ia akan menyambutnya dengan segala suka cita dan bahagia yang ada.
“Miko, kamu belum mengatakannya secara jelas.”
“Oh, kurang jelas? Bukankah apa yang aku katakan itu memiliki arti bahwa aku mencintai kamu?”
Mata Anjani berkaca-kaca. Ia selalu bermimpi, bahwa ikatan tentang gelang mote itu akan membuahkan sebuah angan yang menjadi nyata. Bahwa Anjani selalu mengharapkan pertemuannya dengan Jatmiko, yang tidak hanya akan menjadi sahabat masa kecil yang terus menjadi sahabat, tapi lebih dari itu. Dan ikatan itu bernama ‘cinta’.
Jatmiko menatap Anjani, lalu mengusap air matanya yang menetes dengan selembar tissue.
“Mengapa kamu menangis? Kamu menyesal mendengar aku yang mengucapkannya, dan bukan mas Wijan?”
Anjani menoleh ke arah Jatmiko, mengulaskan senyum manis dari bibirnya yang pucat.
“Mengapa menyebut nama mas Wijan?”
“Bukankah mas Wijan menyukai kamu?”
“Apa kamu cemburu?”
“Tentu saja aku cemburu. Kalau aku tidak cemburu, bukan berarti cinta itu namanya.”
Anjani mengusap lagi air matanya dengan jemarinya sendiri.
“Sudah lama aku menunggu kamu mengucapkan itu. Bukankah kamu selalu menganggap bahwa kita adalah sahabat masa kecil?”
“Sahabat masa kecil, sahabat yang akan abadi selamanya, seiring sejalan dalam mengarungi kehidupan. Tahukah kamu keinginanku, Jani? Kalau bapak sudah benar-benar sembuh, aku akan segera melamarmu,” bisik Jatmiko dengan pandangan mesra.
Tangis Anjani pecah. Air matanya membuncah.
“Anjani,” bisik Jatmiko kebingungan.
“Aku bahagia mendengarnya, sangat bahagia, Miko.”
*
Beberapa hari telah berlalu. Nilam merasa sudah sehat, atau setidaknya, kalaupun masih diharuskan beristirahat, lebih baik dia beristirahat di rumah.
Belum ada yang datang menjenguknya. Nilam keluar dari kamar, bermaksud mengunjungi Anjani yang kamarnya tidak jauh dari kamarnya sendiri.
Tapi dia agak heran, melihat ada polisi berjalan dari arah depan. Karena penasaran, dia bertanya pada perawat yang kebetulan berpapasan dengannya.
“Suster, kenapa ada polisi masuk ke rumah sakit ini? Apa ada polisi yang sakit?”
“Oh, yang sakit bukan polisinya. Sudah hampir sepuluh hari ada narapidana yang menderita sakit, dan dititipkannya di sini. Karenanya selalu ada polisi yang menjaganya.”
Nilam tertegun. Ada narapidana sakit, lalu ada pertemuan ayahnya dengan Baskoro. Pikiran Nilam berlarian ke mana-mana.
*
Besok lagi ya.
at March 07, 2024
Share
by Tien Kumalasari
diunggah Indarsih Weanind
Ada Cinta Dibalik Rasa | 36, Cerbung Tien Kumalasari
tags: cerbung, cerita bersambung, Tien Kumalasari, Kumalasari, Tien, Seni Budaya, Bahasa Indonesia, kisah, cerita,