Qodaran, Pitutur Poso (Malam Lailatul Qodar)

Mari kita simak cerita singkat berikut ini, cerita yang Kissparry kutip dari cerita ringan di media sosial grup asatidz, yaitu tentang Qodaran (bahasa Jawa) atau lebih kurang kalau bahasa umumnya yang kita kenal adalah … baca selengkapnya…..

Qodaran yang dimaksud kemudian dalam kisah cerita di bawah ini adalah …. (lailatul qadar)

Lailatut Qadar, lailatul adalah bahasa arab yang berarti malam sedangkan Qodar atau qadar adalah sesuatu yang telah ditentukan atau ditetapkan sejak zaman azali. Berarti lailatul qadar adalah malam ketetapan.

Lailatul Qadar adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur’an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur’an.

Itulah sekilas tentang lailatul qadar, dan marilah kita ikuti kisah berikut ini, dalam bahasa Jawa

Qodaran

Ada seorang pemuda yang melihat seorang nenek tua berjualan pisang disekitar area pasar di suatu tempat di pinggir jalan.

Pisang Kepok Gepeng
Pisang Kepok Gepeng

“Wah…pisange sae-sae, mbah.” jareku karo ndoprok ngarepe simbah sing dodol gedang.

“Lha monggo diborong, niki pisang panen piyambak.” kata simbah itu riang.

Wis sepuh tapi sik semangat dodolan.
“Iki pisang kepok kuning, enak dikolak. Sing niki kepok putih, yen digoreng legi. Sing niku pisang pista, kulite tipis, wangi. Tapi mpun ditumbas mergo dereng mateng.”

Aku hanya diam memperhatikan gerak tangane sing cekatan, meskipun rodok ndredheg.
“Sadeane mpun dangu, mbah?”
“Dereng. Niki nguber rejeki damel riyaden.”
“Putrane pinten, mbah?”
“Kathah, glidik sedanten.”
“Kok mboten istirahat mawon, siyam-siyam koq sadean.”
“Lha nggih mergi siyam niku, mboten angsal istirahat. Mumpung Gusti Allah paring ganjaran kathah.”

Cleguk….. krungu jawaban ngene rasane kudu nguntal sandal. Jawabane menohok.
Tak delok simbah ngelap kening dan dahinya sing dleweran keringet nganggo pucuke jilbab.
Diantara para penjual dipinggir jalan depan pasar, simbah iki nggelar dagangane tanpa iyup iyup.
Padahal panase ruarr biyasah.
Wis kudu mokel, raup es dawet.

“Jenengan wangsul jam pinten, mbah?”
“Sakderenge ngashar kulo mpun wangsul. Kulo kedah ndamelaken wedang kangge lare-lare TPQ.”
“Koq kedah nyiapaken? Ingkang mengharuskan sinten mbah?”
“Njih klo piyambak?”
“Ooo….ngaten. Nopo sakben dinten siyam?”
“Njih, wong cuma lare seket.”
“Wah…. hebat-hebat mbah.”
“Halah cuma wedang kalih jajan alit-alit. Sing penting lare-lare niku rajin ngaji kulo mpun remen. Pokoke ojo niru mbahe sing cuma iso patekah.”

Cleguk maneh. Ngene iki enake nguntal opo neh?
Kumasukkan semua pisang yang ditawarkan ke dalam tas kresek.
“Koq kathah, bade damel nopo?” si mbah heran.
Aku hanya tersenyum.
“Sedoyo pinten, mbah?”
Simbah menyebutkan nominal yang membuatku tercengang.
“Koq murah mbah?”
“Mboten nopo, niku mpun pas. Kulo mboten kulakan, panen piyambak.”
“Njih mbah maturnuwun.” kataku sembari mengulurkan uang.
“Waduh…ngapunten, kulo mboten enten susuke. Dereng kepayon.”
“Kulo tukar riyen mbah.”

Aku sengaja meninggalkan simbah.
Pisang telah kuletakkan di motor.
Agak menjauh dari perempuan sepuh itu.
Kumasukkan beberapa lembaran uang yang masih baru, ke dalam amplop.
Cukup dibagi satu satu untuk anak TPQ
yang katanya “cuma lare saket”.
Penutup lem amplop kubuka lalu kurapatkan.
“Niki mbah, sampun pas njih, pisange kulo tumbas.”
Simbah nampani amplop karo tangane sik dredheg.

Tanpa menunggu jawaban, aku segera pergi.
Esoknya aku mampir lagi, tapi kosong.
Berikutnya aku mampir lagi, kosong juga.
Penasaran kutanyakan pada ibu pedagang sebelahnya.
“Mbahe koq mboten sadean, mbak?”
“Oh mboten, piyambake sadean nek panen mawon.”
“Sampeyan ta sing mborong gedange wingi? Mbahe sampek nangis ngguguk. Jarene aku bejo banget entuk Qodaran.”

Qodaran, barangkali maksude Lailatul Qodar.
Malam yang konon lebih baik dari 1000 bulan.

Para malaikat turun dari langit,
Langit hati kita. Menyelesaikan segala urusan.
Allah melapangkan rejeki dan kemuliannya bagi yang dikehendaki.
Pun mempersempit bagi yang dikehendaki pula.
Rejeki sesuai kapasitas kita.
Lantas siapakah yang mendapatkannya ?

Barangkali perempuan sepuh, bakul gedang iku sing entuk.
Bukan karena ia ahli ibadah….
Bukan pula karena I’tikafnya yang kuat di masjid.
Tapi dialah pelaksana dari yang katanya “cuma iso patehah”.

Kesungguhan I’tikaf yang luar biasa.
Bertindak, berlaku, dan berpasrah dalam keriangan rasa.
I’tikaf di masjid yang digelar dalam keluasan yang maha.
Bukan masjid yang sekedar bangunan ibadah.
Kecintaannya yang sederhana dengan penyiapan wedang dan jajanan bagi seketan bocah selama puasa, sungguh bukan perkara mudah.
Hanya cinta tuluslah yang bisa.

Maka…malam terbaik dari 1000 bulan bukanlah instan.
Tak bisa dijujug dengan akhiran,
semua butuh proses, karena karunia terindah butuh wadah.
Yang dibangun dengan menapis kebaikan sebelum, selama dan sesudah Ramadhan.
Itulah sesungguhnya…. QODARAN.

Negara tentrem amarga para satria pinandhita.
Bengi shalat tahajud, awan sregep makarya.
Sugeng siyam ramadhan poro sederek muslim.
Latihan pasa sewulan mugi kita dados manungsa takwa.

Aamiin

*maturnuwun mbah, sampun paring hikmah kagem kulo.

Kiriman Ambarwati TPQ
Editor : Kissparry WA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s