Wanita yang Pertama Masuk Surga “Siti Mutiah”

Kisah ini mungkin sudah sering kita mendengarnya, namun tidaklah berlebihan apabila Kissparry mengutip kisah ini untuk tayang di blog ini, agar menjadi pembelajaran dan keteladanan dalam mengarungi hidup dan kehidupan dalam berumah tangga.

Utamanya era disrupsi saat ini, hal yang terjadi pada kisah yang akan Anda baca ini, mungkin mampu sedikit menjadi pencerah dan pembimbing dalam mengarungi samudra hidup dalam keluarga.

Inilah kisahnya.

Suatu ketika, Siti fatimah bertanya kepada Rosulullah. Siapakah Perempuan yang kelak pertama kali masuk surga?
Rosulullah menjawab:” Dia adalah seorang wanita yang bernama Muti’ah”.

Siti Fatimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa justru orang lain, padahal dia adalah putri Rosulullah sendiri? Maka timbullah keinginan Fatimah untuk mengetahui siapakan gerangan perempuan itu? Dan apakah yang telah di perbuatnya hingga dia mendapat kehormatan yang begitu tinggi?

Setelah minta izin kepada suaminya, Ali Bin Abi Thalib, Siti Fatimah berangkat mencari rumah kediaman Muti’ah. Putranya yang masih kecil yang bernama Hasan diajak ikut serta.

Ketika tiba di rumah Muti’ah, Siti Fatimah mengetuk pintu seraya memberi salam, “Assalamu’alaikum…!”

“Wa’alaikumussalaam! Siapa di luar?” terdengar jawaban yang lemah lembut dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.

“Saya Fatimah, Putri Rosulullah,” sahut Fatimah kembali.

“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini Fatimah, putri Rosulullah, sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam. Suara itu terdengar ceria dan semakin mendekat ke pintu.

“Sendirian, Fatimah?” tanya seorang perempuan sebaya dengan Fatimah, Yaitu Muti’ah seraya membukakan pintu.

“Aku ditemani Hasan,” jawab Fatimah.

“Aduh maaf ya,” kata Muti’ah, suaranya terdengar menyesal. Saya belum mendapat izin dari suami saya untuk menerima tamu laki-laki.”

“Tapi Hasan kan masih kecil?” jelas Fatimah.

“Meskipun kecil, Hasan adalah seorang laki-laki. Besok saja Anda datang lagi, ya? saya akan minta izin dulu kepada suami saya,” kata Mutiah dengan menyesal.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala , Fatimah pamit dan kembali pulang.

Besoknya, Fatimah datang lagi ke rumah Muti’ah, kali ini ia ditemani oleh Hasan dan Husain. Bertiga mereka mendatangi rumah Muti’ah. Setelah memberi salam dan dijawab gembira, masih dari dalam rumah Muti’ah bertanya:

“Kau masih ditemani oleh Hasan, Fatimah? Suami saya sudah memberi izin.”

“Ha? Kenapa kemarin tidak bilang? Yang dapat izin cuma Hasan, dan Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerimanya juga, “ dengan perasaan menyesal, Muti’ah kali ini juga menolak.

Hari itu Fatimah gagal lagi untuk bertemu dengan Muti’ah. Dan keesokan harinya Fatimah kembali lagi, mereka disambut baik oleh perempuan itu dirumahnya.

Keadaan rumah Mutiah sangat sederhana, tak ada satupun perabot mewah yang menghiasi rumah itu. Namun, semuanya teratur rapi. Tempat tidur yang terbuat dengan kasur juga terlihat bersih, alasnya yang putih, dan baru dicuci. Bau dalam ruangan itu harum dan sangat segar, membuat orang betah tinggal di rumah.

Fatimah sangat kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu, sehingga Hasan dan Husain yang biasanya tak begitu betah betah berada di rumah orang, kali ini nampak asyik bermain-main.

“Maaf ya, saya tak bisa menemani Fatimah duduk dengan tenang, sebab saya harus menyiapkan makan buat suami saya,” kata Muti’ah sambil mondar mandir dari dapur ke ruang tamu.

Mendekati tengah hari , masakan itu sudah siap semuanya, kemudian ditaruh di atas nampan. Muti’ah mengambil cambuk, yang juga ditaruh di atas nampan.

“Suamimu bekerja dimana?” Tanya Fatimah

“Di ladang,” jawab Muti’ah.

“Pengembala?” Tanya Fatimah lagi.

“Bukan. Bercocok tanam.”

“Tapi, mengapa kau bawakan cambuk?”

“Oh, itu?” sahut Muti’ah dengan tersenyum. ”Cambuk itu kusediakan untuk keperluan lain. Maksudnya begini, kalau suami saya sedang makan, lalu kutanyakan apakah masakan saya cocok atau tidak? Kalau dia mengatakan cocok, maka tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau dia bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya, agar punggung saya dicambuknya, sebab berarti saya tidak bisa melayani suami dan menyenangkan hatinya.”

“Apakah itu kehendak suamimu?” Tanya Fatimah keheranan.

“Oh, bukan! Suami saya adalah seorang penuh kasih sayang. Ini semua adalah kehendakku sendiri, agar aku jangan sampai menjadi istri yang durhaka kepada suami.”

Mendengar penjelasan itu, Fatimah menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian ia meminta diri, pamit pulang.

“Pantas kalau Muti’ah kelak menjadi seorang perempuan yang pertama kali masuk surga,” kata Fatimah dalam hati, di tengah perjalannya pulang,

“Dia sangat berbakti kepada suami dengan tulus. Perilaku kesetiaan semacam itu bukanlah lambang perbudakan wanita oleh kaum lelaki, Tapi merupakan cermin bagi citra ketulusan dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama.”

Tak hanya itu, saat itu masih ada benda kipas dan kain kecil.

“Buat apa benda ini Muthi’ah?” Siti Muthi’ah tersenyam malu. Namun setelah didesak iapun bercerita. “Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras memeras keringat dari hari ke hari. Aku sangat sayang dan hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat-cepat kusambut kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Ia-pun berbaring ditempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas”

Sungguh mulia Siti Muthi’ah, wanita yang taat kepada suaminya. maka tidaklah salah jika dia wanita pertama yang masuk surga.

Ulasan Redaksi

Redaksi Kissparry bukan bermaksud menentang dan mengabaikan kisah di atas, akan tetapi di era disrupsi atau sering disebut era industrialisasi generasi ke-4, mestinya ada beberapa penyesuaian, terlebih peran wanita saat ini sangat jauh berbeda dengan era-era sebelumnya.

Saat ini alat komunikasi sangat maju, untuk minta izin cukup dengan

Contoh kecil kehidupan di kota besar, berapa banyak wanita bekerja di luar rumah karena desakan ekonomi dan biaya hidup.

Perlu menjadi perhatian adalah saat mengawali hidup berumah tangga, ada izin dan komitmen lain secara general terkait perizinan tersebut. Jadi sejak awal sudah ada kata sepakat diantara keduanya tentang hal-hal mendasar dalam keseharian.

Hal-hal yang mendasar itu sudah dibicarakan sejak awal mula, agar di kemudian hari menjadi acuan bersama. telepon, nulis WA atau SMS, namun sebaiknya untuk hal tertentu harus telepon.

Kegiatan yang Sudah di Izinkan, misal :

  • menerima tamu datang ke rumah (siapa yang boleh, yang tidak boleh, dan lainnya)
  • pergi berbelanja ke warung yang dekat (bukan ke mall), misal beli cabe, sayur dan lainnya
  • menengok orang sakit, tetangga dekat
  • menolong menurunkan cucian tetangga saat hujan akan turun, ketika tetangga tidak di rumah

Kegiatan yang Sudah di Izinkan sekali dan untuk seterusnya, misal :

  • pergi pengajian rutin, yang tempatnya dekat dengan tempat tinggal
  • mengantar dan menjemput anak ke sekolah terdekat

Kegiatan yang perlu izin saat itu, misalnya :

  • pergi ke tempat jauh dengan berbagai urusan, termasuk takziah atau menengok orang sakit

Semoga Bermanfaat…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s