THT Pulih, Berkah Tuhan

Berkah Tuhan
by Erizeli Jely Bandaro

Sudah sejak tahun 2013 telinga saya kurang mendengar. Lambat laun saya semakin sulit bicara. Kadang kalau bicara sulit di mengerti orang. Karena artikulasinya tidak bulat. Tapi bagaimanapun saya bersyukur dengan keadaan tersebut karena beberapa tahun sebelumya saya pernah sama sekali tidak mendengar dan ngomong sulit. Tuhan kasihan saya sehingga dengan cara tak terduga saya dapat kembali mendengar walau tidak sempurna. Saya sebetulnya tahu penyakit saya. Pernah mau di operasi di Shanghai tapi saya menolak.

Bulan lalu, sepulang dari luar negeri. Telinga saya tinggal 5% kemampuan mendengarnya. Suara saya juga sudah sulit bicara. Saya berkesimpulan bahwa inilah tandanya Tuhan ingin saya berhenti bicara. Beberapa hari saya merasakan kesunyian. Namun tak nampak saya kawatir karena saya sedang berencana menata hidup saya sebagai orang invalid.

Istri saya desak saya ke dokter. Ibu saya juga paksa saya ke dokter. Malam saya bangun sholat tahajud, saya curhat kepada Allah. ” Kalau memang kehendak-Mu Ya Allah mengharuskan aku tidak bisa mendengar, berilah kesabaran orang-orang terdekat denganku. Jangan beri beban mereka karena kekuranganku.” Tiga hari setiap malam doa saya selalu sama.

Akhirnya saya patuhi. Istri saya ajak saya ke dokter specialis THT. Dokternya masih muda. Saya pasrah saja ketika di periksa. “Bapak tenang sekali”, kata dokter. Saya katakan pekerjaan saya lebih banyak menghadapi screen computer sebagai trader pasar uang. Jadi sebetulnya saya enggak butuh telinga.”Dia tersenyum mendengar sikap saya”. Yang membuat saya terharu dia memeriksa saya dengan cinta.

Nampak sekali dia tulus. Mungkin butuh lebih 30 menit saya di periksanya. Setelah itu saya mulai konsumsi obatnya. Seminggu kemudian saya diajak teman untuk bertemu dengan tabib. Saya tahu teman itu peduli sama halnya dengan keluarga saya. Saya terharu.

Keesokannya saya bangun pagi dengan perasaan terkejut karena terdengar suara TV di kamar. Istri saya sedang nonton kuliah subuh. Saya merasa asing dengan kebisingan tersebut. Dan ketika saya sholat subuh dengan suara. Saya sempat menangis. Karena suara saya kembali normal Ayat quran dapat saya lafalkan dengan jernih.

Dan setelah sholat subuh saya telepon teman di NY (New York, red), dia terkejut karena suara saya bersih sekali tidak seperti sebelumnya. Kini suara saya sama seperti ketika 10 tahun lalu. Telinga juga kembali normal. Saya kangen karaoke sama istri yang bertahun tahun tidak lagi kami lakukan bersama karena suara saya…

Saya tidak tahu apakah saya sembuh karena obat dokter atau tabib. Tapi itu tidak penting. Karena penyakit itu dari Allah dan Allah pula yang menyembuhkan dari sumber tak terduga dan kita tidak tahu kapan sembuh. Tugas kita bersabar! dan bersiap diri dengan segala kemungkinan terburuk untuk mendapatkan hikmah..
(WN)

Kisah inspiratif religius ini dikirim oleh
Rinin Vogler kontributor Kissparry tinggal di Australia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s