Meja Belajar Seperti Apa yang Cocok

Masih adakah meja belajar seperti itu?
Kalimat ini yang mengawali Bp Hasprabu dalam perbincangan di group WA Patri Pokja Pendidikan, walaupun sepertinya candaan, akan tetapi memiliki makna yang mendalam. Dilihat dari konstruksinya meja dan kursi menjadi satu, selain itu pasti lebih kokoh. Ada makna lain bahwa meja dan kursi dijadikan satu,  bahwa anak-anak SD/MI, mereka masih senang bermain, sehingga tidak cepat rusak. Makna lain lagi bahwa mereka belum dapat mandiri secara penuh, berbeda dengan meja belajar di Perguruan tinggi.

Ini pemahaman menurut penulis,  kalau menurut Anda?

Meja belajar menyatu dengan kursi

Dari pertanyan awal tadi ditimpali oleh Bp Slamet, “Nggak ada lagi Pak Prabu  meja itu dari kayu kelas 1 sehingga tidak cepat rusak. Sekarang maunya khan yang cepat rusak. He he he. “

“Betul Prof. dulu masih ada sabak, grip, tinta liberti, hero, atau parker. Ditaruh di atas bangku yang ada lubangnya”, sahut Pak Hasprabu.

Hmm.. Nostalgia Sekolah Rakyat..

“Ya mainannya kasti, gobak sodor, panggalan, pris-prisan, main kelereng, dll. Semuanya itu lenyap. Itu sudah harus masuk di Musium Transmigrasi,” sambung Prof.  Muhajir.

Renungan untuk kita, agar kelak menjadi media pembelajaran generasi mendatang.

“Ya…!, seiring berlalunya waktu, seiring berganti tahun dan zaman di dukung dengan di iringi kebijakan penguasa maka bergantilah apa yang dahulu pernah menjadi barang-barang unggulan….”, jelas Pak Pryanto B.

Apa harus demikian ?
“Ditempat saya masih ada, tetapi mulai 2012 sudah tidak dipakai lagi pak”, kata Pak Suwarno.

Pertimbangannya adalah kepraktisan, bangku-bangku tersebut kami ganti dengan yang baru.
Ketika sekolah kami mendapat proyek rehab sekolah, tahun 2012, bangku-bangku lama tersebut kami modifikasi..

Memang jika property kita rawat tentunya akan lebih awet dan menjadi kenangan tersendiri.

Diskusinya sementara sampai disini, dan tidak ada yang nyambung lagi.

Ulasan

Tim Redaksi berusaha mengulas apa yang menjadi perbincangan diatas, sebagai berikut.

Model lama yang dimaksud adalah model meja dan kursi yang digabung menjadi satu.

  1. Meja dan kursi model lama yang menjadi satu, jelas lebih kokoh dan kuat, sehingga tidak mudah rusak.
  2. Tempat duduk sepertinya juga kurang luas, sehingga kurang nyaman, tetapi bentuk alas meja tulis yang miring sangat bagus.
  3. Modelnya tidak mobile, atau tidak mudah dipindah, kalau boleh dibilang termasuk kelemahannya, sehingga kurang praktis.
  4. Untuk membersihkan area dibawah kursi sedikit kesulitan.
  5. Biaya perawatan lebih besar, termasuk pengadaannya, karena harus sekaligus meja dan kursinya.

Model baru yang dimaksud adalah model meja dan kursi dipisah.

  1. Model baru tidak sekokoh model lama, namun karena kaki-kaki meja dan kursi lebih banyak, kekuatanya sudah cukup layak.
  2. Tempat duduk bisa lebih luas dan lebih nyaman, untuk penyesuaian letak badan siswa juga mudah, karena kursi bisa digeser ke depan ke belakang.
  3. Modelnya praktis dan mobile, kursi dan meja bisa diangkat tidak bersamaan, misalnya ruangan akan dipakai untuk lesehan, dengan mudah dan ringan untuk dipindah sementara.
  4. Kalau pas anak-anak piket bersih-bersih ruang, mereka dengan ringan mengangkat kursi ke atas meja, sehingga bersih-bersih juga lebih cepat, dan lebih bersih.
  5. Biaya pengadaan dan perawatan, mungkin lebih ringan, karena meja sendiri dan kursi sendiri.
  6. Model alas meja yang miring sangat bangus, mestinya bisa dicontoh untuk model yang baru.

Kesimpulan

Dengan ulasan itulah, sehingga kebanyakan sekarang menggunakan model yang kedua yaitu meja dan kursi di pisah, bahkan untuk sekolah swasta saat ini sudah ada yang menggunakan kursi yang didepannya ada meja lipatnya, lebih praktis lagi, karena tidak memakan tempat yang luas.

Sepertinya sekolah negeri itu mengikuti sekolah swasta ya.., seingat kami, karena ketika kami (Kissparry Semarang) di sekolah dasar swasta (dulu 1980-an) model meja dan kursi sudah di pisah.

Yang jelas kalau anak-anak diajak kerja bakti angkat meja kursi itu mereka tidak keberatan.

Sekian ulasan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s