Kuliner Al-Maidah

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh.. Sejak akhir 2016 sampai sekarang, penduduk Indonesia seolah-olah dibuat sibuk dan bingung atas kehadiran Surah Al-Maidah. Itu berkait dengan keberlangsungan pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak di seluruh Indonesia. Yang paling seru, ketika isu mengenai penistaan agama yang dilakukan calon gubernur petahana, Ir Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dilansir dari suaramerdeka.com di tulis oleh Prof. Dr. Abu Su’ud dalam Gayeng Semarang.

Sejak saat itu, kalangan umat Islam justru mulai menekuni Surat Al-Maidah 51 yang dianggap telah dinodai Ahok. Isi Al-Maidah 51 itu jelas, yaitu pembinaan terhadap pemeluk Islam supaya tak memilih orang Yahudi atau nasrani menjadi pemimpin mereka. Konten Surat Al-Maidah tak ada beda dari larangan bagi internal pemeluk Islam yang memerlukan petunjuk dalam hidup. Seperti larangan makan babi, larangan berjudi, atua larangan berzina. Jika tidak percaya, tanya saja Google. Pasti ia banyak bercerita mengenai konten itu.

Hampir dalam setiap pemilihan kepala daerah, ayat itu sering atau biasa digunakan untuk mencari pemimpin yang tidak dilarang agama Islam. Seperti itulah yang dikobarkan FPI atau FUI. Sampai detik-detik terakhir Pilkada, terutama saat memilih calon gubernur di DKI, isu itu berada di puncak. Mereka merencanakan gerakan besar-besaran berupa Tamasya Al-Maidah.

Selama ini ada kesan, Surah Al-Maidah merupakan surah dalam Alquran seperti seolah- olah merupakan genderang perang melawan kekuatan politik yang menjadi lawan umat Islam. Namun tahukah Anda, ada hal menarik mengenai Surat Al-Maidah yang berkait dengan kuliner yang intinya mengenai jenis makanan kesukaan manusia. Anda boleh tanya pada Google atau bisa juga membaca konten Surat Al-Maidah secara keseluruhan.


0Sate Cilegon
Sate Cilegon, Ilustrasi sesuai Al-Maidah

NAMA ”Al-Maidah”, menurut pendapat para ahli tafsir Alquran, berarti kuliner surgawi atau makanan dari surga. Konten surah itu dalam ayat-ayat bagian awal disebutkan, makanan dari hewan ternak halal dimakan, terutama yang disembelih bukan untuk berhala, bukan mati ditanduk hewan lain, bukan karena jatuh dari ketinggian, kecuali sebelum mati disembelih dengan bacaan basmallah.

Bahkan hewan yang disembelih oleh para ahli kitab (nasrani dan Yahudi) dihalalkan dimakan umat Islam. Semua itu dianggap halalan thayyiban — jika menurut kesehatan hewan itu tidak mengandung penyakit atau sesuai dengan larangan dokter. Misalnya, kambing dilarang bagi orang dalam kondisi kesehatan tertentu.

Dalam ayat-ayat berikutnya dilarang pula mengonsumsi segala minuman yang memabukkan. Pada ayat 110-120 dapat kita ketahui, kuliner apa gerangan yang disebut Al-Maidah atau kuliner surgawi.
Pertama, semua makanan, terutama buah-buahan yang didatangkan oleh Ruhul Kudus (Malaikat Jibril) bagi Bunda Maryam selama mengandung Nabi Isa dan hidup mengasingkan diri di bagian timur kota.
Kedua, makanan surgawi atau Al-Maidah juga pernah diberikan para malaikat kepada Bunda Maryam ketika bertugas sebagai biarawati dari keluarga Ali Imron.
Ketiga, kuliner surga itu merupakan hadiah yang diminta para pengikut Nabi Isa atau Al-Hawariyun yang berjumlah 12 orang.

Menurut versi Islam, kuliner surgawi itu diberikan sebagai hadiah setelah mereka melaksanakan perintah puasa 30 hari. Namun seperti para pengikut Nabi Musa, mereka pun tidak serta-merta dengan gembira hati menerima kuliner surgawi itu. Mereka masih tetap meminta makanan itu lebih dulu disantap Nabi Isa. Tampaknya Nabi Isa agak kecewa atas sikap Hawariyun. Lalu Nabi Isa memberikan sebagian makanan itu kepada orang sakit, fakir miskin, orang cacat. Mereka diberi kesempatan memakan hidangan itu. Terjadilah keajaiban. Orang sakit itu tiba-tiba sembuh. Orang cacat menjadi normal setelah memakan hidangan itu. Setelah melihat keajaiban itu, para hawariyun menyesal tidak segera menyantap hidangan itu untuk kali pertama.

Dalam versi nasrani, peristiwa hidangan surgawi itu bisa kita saksikan pada upacara Perjamuan Kudus. Itulah ketika Nabi Isa memberikan minuman anggur dan roti sebagai lambang darah dan daging Nabi Isa. Begitu konon menurut Google.

Pada bagian akhir Surah Al-Maidah dapat kita pahami belas kasihan Nabi Isa kepada kaumnya (hawariyun). Dia memohon Tuhan memaafkan dan mengampuni para hawariyun karena Tuhan mahapengampun.

Demikianlah kisah mengenai Surat Al-Maidah, yang dianggap sebagai surat genderang perang. Padahal, nyatanya berisi kisah mengenai kuliner surgawi dan permohonan uluran ampunan bagi Al-Hawariyun yang belum mantap. Luar biasa sekali sikap Nabi Isa bukan? Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (44)

Sumber asli: http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/kuliner-al-maidah/
Ilustrasi: Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s