Energi Alternatif Biogas Ramah Lingkungan

Kissparry menurunkan artikel tentang energi alternatif biogas ramah lingkungan, yang sudah selayaknya mulai diperhatikan guna mengatasi permasalahan krisis energi.

Permasalahan Krisis Energi

Energi memiliki peran penting dan tidak dapat dilepaskan dalam kehidupan manusia. Terlebih, saat ini hampir semua aktivitas manusia sangat tergantung pada energi. Berbagai alat pendukung, seperti alat penerangan, motor penggerak, peralatan rumah tangga, dan mesin-mesin industri dapat difungsikan jika ada energi. Pada dasarnya, pemanfaatan energi seperti energi matahari, energi air, energi listrik, energi nuklir, energi minyak bumi dan gas, serta energi mineral dan batubara memang sudah dilakukan sejak dahulu.

Pemanfaatan energi yang tidak dapat diperbaharui secara berlebihan dapat menimbulkan masalah krisis energi. Salah satu gejala krisis energi yang terjadi akhir-akhir ini yaitu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), seperti minyak tanah, bensin, dan solar. Kelangkaan terjadi karena tingkat kebutuhan BBM sangat tinggi dan selalu meningkat setiap tahunnya. Sementara itu, minyak bumi bahan baku pembuatan BBM berjumlah terbatas dan membutuhkan waktu berjuta-juta tahun untuk proses pembentukannya.

Kelangkaan energi tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di negara lain. Pasalnya, populasi manusia yang terus bertambah setiap tahun mengakibatkan permintaan terhadap energi juga meningkat. Karena kelangkaannya, harga minyak mentah di dunia pun setiap tahun terus meningkat. Hal ini secara tidak langsung akan berdampak terhadap perekonomian negara, terutama bagi negara miskin dan sedang berkembang, termasuk Indonesia.

Biogas, Energi Alternatif Ramah Lingkungan

Biogas adalah gas yang berasal dari limbah organik. Gas ini mengandung campuran antara gas methana dengan karbondioksida sehingga mudah terbakar dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar yang ramah lingkungan. Salah satu ternak penghasil biogas yang banyak dikenal ialah sapi. Sapi laktasi yang mempunyai bobot badan 450 kg membutuhkan rumput kurang lebih 30 kg, konsentrat 6 kg, air 50 liter per ekor per hari serta menghasilkan limbah berupa kotoran dan urin kurang lebih sebanyak 25 kg per ekor per hari (Wiryusuhanto dan Sudono dalam Wahyuni 2008). Selain itu, sapi juga menghasilkan limbah yang terdiri dari limbah padat, cair, dan gas. Harahap et al. (1978) menyatakan bahwa gas bio memiliki nilai kalor yang cukup tinggi, yaitu dalam kisaran 4800-6700 kcal/m3.

Proses Pembentukan Biogas

Biogas terbentuk pada media reaktor biogas atau yang disebut digester. Ada 3 tahap dalam pembentukan biogas yaitu Pemecahan polimer atau hidrolisis, Pembentukan asam (asidogenesis), dan Pembentukan metan (metanogenesis). Pemecahan polimer atau hidrolisis. Pada tahap hidrolisis terjadi pelarutan bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer (Tarumengkeng dan Purwantara, 2003). Digesti pada fase ini mengubah protein menjadi asam amino, karbohidrat menjadi gula sederhana, dan lemak menjadi asam lemak rantai panjang.

Pembentukan asam (asidogenesis). Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari gula-gula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen, dan amonia.

Pembentukan metan (metanogenesis). Bakteri-bakteri anaerob yang berperan dalam ketiga fase diatas terdiri dari:

  1. Bakteri pembentuk asam yang merombak senyawa organik menyadi senyawa yang lebih sederhana, yaitu berupa asam organik, CO2, H2, dan H2S.
  2. Bakteri pembentuk asetat (Acetogenic bacteria), yang merubah asam organik, dan senyawa netral yang lebih besar dari metanol menjadi asetat dan hidrogen.
  3. Bakteri penghasil metan (metanogen), yang berperan dalam merubah asam-asam lemak dan alkohol menjadi metan dan karbondioksida. Bakteri pembentuk metan antara lain methanococcus, methanobacterium, dan methanosarcina.

Cara Operasional Biogas

  1. Siapkan kotoran ternak yang masih baru (2 – 3 hari)
  2. Aduk dan campur dengan air dengan perbandingan 1 : 2 (1 kotoran : 2 air), kemudian alirkan ke dalam reaktor biogas
  3. Pengisian kotoran dilakukan melalui saluran inlet hingga digester terisi 60% dari kapasitas volumenya, sehingga bila diisi kotoran lagi akan mengalir ke saluran outlet
  4. Diamkan selama 11 – 20 hari dengan posisi kran gas kontrol dan kran gas yang terhubung ke kompor dalam keadaan tertutup. Hal ini bertujuan agar terjai fermentasi bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi anaerob
  5. Hasil proses fermentasi akan terlihat pada hari ke 14 – 21, yaitu biogas sudah terkumpul pada bagian atas kubah dan siap dialirkan oleh kran menuju kompor
  6. Selama biogas digunakan setiap hari, jumlah biogas pada digester akan berkurang, maka dari itu pengisian kotoran dan air harus dilakukan setiap hari, dengan tujuan untuk menstabilkan produksi gas
  7. Hindari adanya pemasukan air detergent atau air sabun ke dalam digester.
p811
Pemanfaatan Biogas (sumber PT. Swen Inovasi Transfer

Pemesanan dan Konsultasi :

Sri Wahyuni, MP.  (WA. +62 813-1120-0203), atau
Lik Kasjo (Sunaryo, M.Si.) salah satu administrator blog ini.

Sumber :

  1. biogasswenit.com/single.html
  2. Sri Wahyuni, MP., “Biogas Energi Terbarukan  Ramah Lingkungan dan Berkelanjutan”,  Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional (KIPNAS) ke 10 Jakarta, 8 – 10 November 2011

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s