Tradisi Padusan Menjelang Ramadhan

Masih ingat waktu Kisspary kecil di desa, tepatnya di Tawangsari, Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, ada PADUSAN menjelang bulan ramadhan yang kelak ternyata padusan hanya merupakan  tradisi masyarakat setempat atau mungkin masyarakat Jawa.

Padusan merupakan ritual mandi besar seperti mandi-mandi biasa dengan keramas, dan membersihkan seluruh badan. Padusan biasanya dilakukan di umbul atau mata air, misalnya di dekat kami ada UMBUL PENGGING, Umbul TLATAR, dan masih banyak lagi.

Umbul-pengging-boyolali-DSCN7886
Umbul Pengging (Tirto Marto) Boyolali

Atau padusan bahkan bisa mandi di kali atau sungai yang besar – SUNGAI PEPE – yang waktu itu airnya masih jernih dan layak untuk mandi. Paling sederhana PADUSAN dilakukan di mbelik (mata air kecil), yang kala itu sebelah barat kampung dan sebelah timur kampung ada mbelik.

Bila Ramadhan datang, dapat masyarakat akan berbondong-bondong ke tempat padusan, seperti tersebut di atas. Yang paling ramai adalah ke UMBUL terdekat, sekaligus rekreasi, karena biasanya di Umbul disajikan berbagai macam hiburan, misal Orkes, Ndangdut, dan lain-lain.

Kegiatan padusan dilakukan mulai 3 hari menjelang ramadhan sampai sehari menjelang ramadhan.

PADUSAN dan MAAF MEMAAFKAN

Padusan berasal dari kata adus (bahasa Jawa) yang artinya mandi, dan tradisi ini hanya dilakukan menjelang bulan ramadhan, dengan tujuan membersihkan jiwa dan raga untuk mempersiapkan diri menghadapi datangnya bulan ramadhan, inilah makna padusan yang beredar dikalangan kami. Oleh sebab itu bersamaan padusan biasanya dilakukan pula ritual maaf memaafkan. (ritual bisa dibaca ibadah).

Membersihkan raga dengan cara mandi besar atau padusan dan membersihkan jiwa dengan cara saling maaf memaafkan. Dalam ritual maaf memaafkan tidak seperti saat hari raya Idul Fitri, paling hanya sesama teman. Kalau sekarang sudah semakin luas karena bisa dengan media sosial.

Namun yang terpenting dalam ritual padusan adalah membersihkan jiwa (hati dan pikiran) dan raga (badaniah) dalam menghadapi bulan suci ramadhan. Sehingga tradisi padusan hanya ada menjelang datangnya bulan suci ramadhan.

Dalam perkembangannya kami hanya mandi keramas dirumah masing-masing, dan pergi ke Umbul hanya rekreasi, dan maaf memaafkan saat ini sudah biasa dilakukan melalui medsos.

Padusan tidak Berkait Langsung dengan Puasa

Mandi besar atau padusan dalam prosesi padusan ternyata tidak ada kaitannya dengan puasa, mengapa? Karena puasa adalah menahan makan, minum, dan segala yang membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari, dengan memperhatikan rukun dan syaratnya puasa.

Sedangkan mandi besar itu yang terkait lebih dekat dengan pekerjaan itu adalah ibadah shalat, karena orang yang menjalankan shalat harus suci dari hadas besar maupun hadas kecil. Bersihnya hadas besar dan kecil antara lain dengan membersihkan diri melalaui mandi.

Hanya saja, pada bulan ramadhan ada ibadah qiamul lail atau shalat malam seperti shalat sunah tarawih. Karena akan shalat tarawih tersebut maka mandi besar harus dilakukan. Mungkinkah waktu itu, ada orang yang pergi shalat tarawih sementara shalat wajib lima kali sehari tidak dilakukan sepenuhnya? Kami tidak akan menjawab pertanyaan ini.

Makna yang terkandung pada tradisi padusan diharapkan seseorang sudah siap-siap menghadapi bulan suci ramadhan, dengan cara menyucikan jiwa dan raga melalui padusan.

Tidak Ada Padusan Kalau Tidak Datang Bulan Puasa (Ramadhan)

Inilah pandainya orang-orang Jawa dalam membuat tradisi, dan tradisi tersebut termasuk padusan pasti ada yang melatar belakangi kemunculannya. Kira-kira latar belakangnya apa sehingga padusan ini ditradisikan. Untuk mengingatkan bahwa dalam waktu dekat sudah akan datang bulan suci ramadhan, oleh sebab itu jiwa dan raga harus disucikan dengan mandi besar (mandi keramas) bahkan slulup (menyelam seluruh tubuh sambil keramas), mungkin saja ada yang punya hadats besar yang kelupaan atau karena ketidaktauan masyarakat saat itu sehingga jiwa dan raga tidak bersih, maka muncullah tradisi padusan.

Semula, padusan hanya dilaksanakan di tempat khusus pemandian dengan sumber air dari mata air atau umbul, yang mana airnya mengalir sepanjang tahun, karena harus slulup. Sampai saat ini ditempat-tempat yang ada mata airnya mengalir deras masih menjadi ikon padusan, contoh Umbul Cokro Klaten, Umbul Pengging Boyolali, Umbul Tlatar Boyolali. Saat ini, bila warga masyarakat yang tidak mau jauh-jauh ke umbul yang besar, biasanya cukup di mbelik (umbul kecil), bahkan mandi di kamar mandi sendiri.

Waktu-waktu tertentu di acara padusan diisi dengan tausiyah atau ceramah agama Islam atau siramah rokhani dengan materi menghadapi puasa ramadhan, tetapi disela-sela itu juga diisi hiburan-hiburan musik, baik qosidah, ndangduth atau yang lain.

Akhirnya, tradisi PADUSAN memang berkait dengan Bulan Suci Ramadhan, karena tradisi ini ada, hanya saat menjelang puasa bulan suci ramadhan.

Apakah Puasa Sah Kalau Tidak Padusan

Sudah kami jelaskan di atas bahwa puasa tidak ada kaitan langsung dengan padusan, sehingga meskipun tidak melakukan padusan maka puasa tetap sah, sepanjang memenuhi syarat dan rukun puasa.

Terpenting saat puasa, juga harus bersih sebagaimana kebersihan sewaktu akan melaksanakan shalat wajib. Karena awalan puasa sudah melewati shalat wajib yaitu shalat subuh, maka diharapkan saat puasa raga sudah dalam keadaan bersih.

Hukumnya Padusan Apa?

Mandi bisa diberi hukum wajib dan diberi hukum sunah, atau bahkan mubah. Mandi wajib seperti apa contohnya, misalnya mandi janabah (junub) baik pria dan wanita, apa lagi contoh yang lain, mandi wanita selepas selesai menstruasi, apa lagi contoh yang lain yaitu mandi ketika mimpi basah baik pria dan wanita.

Bila demikian hukumnya padusan apa? silakan menggunakan pendekatan kegunaan dari padusan itu sendiri.

Itulah sekelumit tentang PADUSAN, sedangkan untuk yang terkait dengan puasa, maaf memafkan, tarawih, dan lainnya, kami sajikan di topik masing-masing.

Semoga bermanfaat.

Oleh: Kissparry
Editor: Kissparry Wd

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.