Lanjut ke konten

Berlatih Puasa Diperbolehkan

ORANG Jawa menyebut puasa dengan pasa, yang berarti mencegah semua keinginan bercorak libidinal, seperti hiburan yang menyeret hawa nafsu. Begitu pula puasa Ramadan.

Orang Islam yang diwajibkan puasa hanya yang sudah dewasa. Bahasa agamanya, sudah akil balig. Ciri sosialnya, jika laki-laki sudah khitan. Istilah anak madrasah, pernah bermimpi sampai keluar sperma. Untuk anak perempuan, ditandai oleh haid alias menstruasi. Begitu kata guru saya di madrasah dulu.

Meski sudah balig, untuk alasan tertentu, boleh tidak berpuasa, asal kelak nyaur utang menurut bahasa kampung. Wanita pasca melahirkan alias nifas atau “didatangi bulan” atau bepergian jauh untuk alasan ibadah atau muamalah hasanah disebut musafir. Musafir boleh menunda puasa Ramadan, tetapi harus mengganti sesuai dengan bilangan yang ditinggalkan.

“Kalau nggak mau ngganti?”

“Ya, terserah. Wongini urusan agama. Bukan urusan negara. Dasarnya iman dan percaya sebagai kewajiban agama. Itu saja.” Begitu penjelasan guru madrasah.


Ilustrasi menjelang buka puasa (liputan6)

ANAK-ANAK santri, meski belum balig, disuruh orang tuanya berlatih puasa. Namanya berlatih, cara puasa mereka tak harus sama dengan orang tua, yakni sejak imsak sampai magrib. Namun menurut kekuatan.

Karena itu, anak-anak, terutama dari kalangan santri, mengenal lima jenis puasa. Pasa padhang payon, pasa sapi, pasa bedhug, pasa asar, dan pasa dina.

Pasa padhang payon adalah puasa anak usia lima tahunan. Si anak ikut sahur, lalu tidur. Kalau bangun terlalu pagi, pukul 06.00 misalnya, di rumah masih gelap, si anak tak boleh makan atau minum. Baru saat sinar matahari masuk ke lubang dinding, payon alias atap rumah sudah terang, anak boleh buka.

Meski sudah boleh buka alias makan atau minum, si anak masih punya kewajiban satu lagi, yaitu pasa sapi. Artinya, sesudah makan atau minum, harus segera membersihkan mulut. Disebut pasa sapi sebab usai makan harus segera mengusap mulut. Kenapa? Supaya sang kakak yang berusia tujuh tahun, yang pasa bedhug, tidak mokah alias membatalkan puasa. Anak usia tujuh tahun boleh berbuka setelah mendengar bunyi beduk pertama alias tanda shalat zuhur.

Pada usia itu, kalau sanggup pasa asar, dijanjikan baju dan sarung bagus yang bisa dipakai saat shalat id. Menginjak usia sembilan tahun, anak santri umumnya disuruh pasa dina. Kalau membangkang, tak mau atau mokahsebelum magrib, si anak ditakut-takuti; tidak hanya dosa, tetapi juga gak duwe bada. Artinya, tak berhak merayakan hari raya.

Lapar sekali memang. Namun karena ingin jadi anak saleh dan punya hari raya, mereka tetap berpuasa penuh (pasa dina).

Proses melatih anak berpuasa seperti itu, selain dibalut konsep agama, juga sebagai pembiasaan. Dampak psikologisnya, kalau tahun ini kuat berpuasa penuh, hampir pasti tahun depan lancar berpuasa. Artinya, jika tahun lalu si anak berusia 10 tahun sudah mampu berpuasa sehari penuh, berarti tak mungkin tahun berikutnya mundur, misalnya pasa asar.

Begitulah latihan yang ditradisikan secara merata di kalangan santri. Untuk membangkitkan rasa senang dan antusiasme berpuasa, anak-anak diajak pergi menyaksikan megengan atau dugderan. Saat megengan, orang tua biasanya membelikan tiga jenis barang. Pertama, celengan. Kedua, warak ngendhog beroda empat. Ketiga, pakaian kelengkapan mengaji.

Warak Ngendog Mainan

Begitulah cara orang tua melatih anak berpuasa setiap tahun. Orang tua membelikan celengan agar si anak membiasakan diri menabung. Uang jajan harian, termasuk uang pemberian bude dan pakde, bisa ditabung dan kelak dibobok saat hari raya. Warak ngendhog, sampai rumah endhog (telur) boleh dimakan, warak diberi tali, lalu ditarik berkeliling kampung setiap sore bersama anak-anak sebaya.

Setelah tua, saya mengerti alasannya. Pertama, orang tua mengajarkan jenis-jenis pasa, dari pasa padhang payon sampai pasa asar, sepenuhnya sebagai proses pembelajaran dan pembiasaan yang baik.

Susah rasanya setelah tua baru belajar puasa. Bukan karena sulit, melainkan karena lapar. Mirip kesusahan bikin skripsi bagi mahasiswa yang belum pernah berlatih menulis karya ilmiah.

Setelah tua, saya baru tahu mengapa kuda dari kertas warna-warni itu disebut warak. Konon, dari kata “wiraki” alias metafora untuk menyebut orang yang mampu mencegah hasrat perut alias berpuasa dengan rasa iman dan ihtisaban. Pahalanya sangat besar; diampuni atas dosa setahun lalu dan setahun kemudian. Ampunan dosa alias nol dosa itu mirip angka 0, mirip bentuk telur.

Jadi mengapa warak diberi dua telur dan mengapa dulu orang tua membelikan warak berdua telur, tidak mobil-mobilan misalnya? Itulah cara mengejawantahkan agama dalam kebudayaan. Mirip perintah menghormati ibu, sebagaimana perintah agama, lewat legenda si Malin Kundang.

Jadi agama meresap dalam diri pemeluk tidak karena diajarkan secara verbalistik sebagai dalil dan teori. Namun lewat cara-cara simbolik. (44)

Mudjahirin-thohir-06EM11L16MGU-03
Mudjahirin Thohir (SM)

Sumber : SUARA MERDEKA –
GAYENG SEMARANG – Oleh Mudjahirin Thohir
Judul Asli BERLATIH PUASA
http://berita.suaramerdeka.com/smcetak/berlatih-puasa/
Ilustrasi SM, Liputan6, Google

Keterangan:
pasa = puasa
nyaur, ngganti = membayar
utang = hutang
wongini=ini, khan ini
padhang = terang
payon = atap rumah
pasa sapi = habis makan karena puasa harus di usap/dibersihkan
mokah = membatalkan puasa
dina = hari (pasa dina = puasa sehari)
gak duwe bada = tidak punya lebaran atau tidak berhak merayakan hari raya
celengan = tempat untuk menabung (biasanya terbuat dari tanah liat)
dibobok = dibuka

 

Kissparry Lihat Semua

Kissparry, dokumentasi dan publikasi untuk kehidupan yang bermakna

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: