Transmigrasi Harapan Baru

Belum terlupakan 20 tahun yang lalu, ketika baru pertama menginjakkan kaki untuk menggapai masa depan sebagai transmigran di Pelabuhan Malahayati Tanah Nangro Aceh Darussalam (NAD), setelah selama 7 hari mengarungi lautan. Sebelum Menuju Permukiman Transmigrasi SP 3 Kecamatan Geumpang Kabupaten Pidie.

Hal demikian dirasakan Saudara-saudara kita transmigran dari DI Yagyakarta, yang diberangkatkan menuju lokasi Parudongka, Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara. Perjalanan yang panjang menuju harapan baru. (dikutip dari FB Penyelenggaraan Transmigrasi DIY).

Doc Penyelenggaraan Transmigrasi DIY
Barang Bawaan Transmigran (doc Penyelenggaraan Transmigrasi DIY)

Selamat berjuang dan semoga menjadi transmigran yang sukses.

Di Kaki Gunung Peuet Sagoe Geumpang

Ya… dari Banda Aceh menuju Kecamatan Geumpang kurang lebih 6 jam Perjalanan darat, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju lokasi, walaupun jarak tempuhnya dekat namun menajak dan berkelok. Lokasi SP. 3 Geumpang berada di kaki gunung Peuet Sagoe.

Gunung Peut Sagoe Pidie
Gunung Peuet Sagoe Kab. Pidie (gunung berapi)

Sungguh perjalanan yang tidak terlupakan, pada awal perjalanan menuju lokasi transmigrasi, seluruh transmigran dan keluarganya masing-masing dengan ceria (sekitar pukul 07.00 WIB), ada yang memanggul, memikul, menggendong barang bawaan, juga sebagian ibu-ibu menggendong, menggandeng anaknya.

Dengan langkah pasti dan keyakinan yang mendalam di atas sana ada rumah baru kita, untuk masa depan yang gemilang.

Separuh perjalanan kaki mulai letih, badan mulai gemetar karena beban bawaan, dari pengeras suara petugas Trasmigrasi yang mengawal para transmigran menginstruksikan supaya meninggalkan barang bawaan di pinggir jalan jika sudah tidak mampu membawanya, dan bawa secukupnya atau yang berharga dijamin aman dan nantinya akan ada mobil yang mengangkutnya (mobil angkut yang di sana hanya 4 WD atau yang sering disebut dobel gardan), sejurus suara itu, di pinggir jalan berjajar barang bawaan.

Yang semula diperkirakan tiba di lokasi sebelum pukul 12.00 WIB dan pembagian ransum makan siang di lokasi, akhirnya dibagi ransum makan siang diberikan disepanjang perjalanan. Ternyata, bahkan ada yang tiba di lokasi kurang lebih Pukul 19.00 WIB, sangat melelahkan tapi menyenangkan.

Perjalanan seharian yang melelahkan itu terlupakan setelah warga transmigran mulai berbenah rumah dan menggarap lahan pekarangan sekitar rumah. Bibit pertanian bekal dari Kementerian Transmigrasi sebagai modal awalnya.

Hari demi hari mulai menuai hasil dari bertanam cabai, karena suburnya lahan tanaman cabai rawit dapat mencapai 1 meter tingginya dan dalam 2 minggu sekali dapat dipanen (2 kg per batang hasilnya), luar biasa…. ya…. LUAR BIASA.

Faktor Keamanan

Faktor keamanan yang menyebapkan kami harus hengkang dari Nangro Aceh Darussalam di tahun 1999.

IMG20170128100939_1
doc. Lik Kasjo pegang cangkul di Tenggulang Baru SP.5

Tahun 2000-2001 Kami kembali menapakkan kaki di Bumi Sriwijaya (Pulau Sumatera) sebagai Transmigran dengan status “EKSODAN ACEH”, tepatnya di Transmigrasi Pondok Pesantren SP. 5 Air Tenggulang, Kecamatan Sungai Lilin (Kecamatan babat Supat .. setelah pemekaran) Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan.

Lokasi di SP. 5 Air Tenggulang adalah Pasang Surut, dan Program TU BUN kelapa sawit.

Sahabat KissParry sampai sini dulu ya… he he he …

Tunggu cerita KissParry edisi : Perjalanan Eksodus dari Aceh.

Terima Kasih…. By. Lik Kasjo

Iklan

One thought on “Transmigrasi Harapan Baru”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.