Kades Yayuk Tutiek S Mengubah Tawangsari dengan Naluri Srikandi

DINAMIKA mencolok yang dicapai Desa Tawangsari Kecamatan Teras Kabupaten Boyolali, membuat banyak orang terharu tapi sekaligus juga tercengang. Hal itu rupanya juga dialami para mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang yang melakukan kunjungan ke desa itu Selasa (17/10).

0Yayuk_jalan
Kades Yayuk bersama Mahasiswa UIN Walisongo (foto Suaramerdeka)

Antusiasme para mahasiswa jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam itu bisa dimaklumi, karena mereka ingin membutikan perubahan Tawangsari setelah selama ini mereka mendengar betapa memrihatinkannya kondisi desa. “Iya nih rasanya pingin lihat wahana river tubing, atau aktivitas pengolahan sampah, kampung buah dan produksi UMKM warga desa,” kata Kurnia, salah satu mahasiswi asal Jepara ditemui di sela kunjungan.

Tawangsari di masa lalu adalah sebuah desa yang relatif miskin dengan banyaknya permasalahan kesejahteraan sosial.

“Persoalan sosial itu menghimpit desa ini bertahun-tahun. Tapi setelah dipimpin Bu Yayuk, hasilnya menjadi berbeda. Selama empat tahun terus berbenah, akhirnya menjadi maju dan mandiri,” kata Sadiman Al Kundarto, pekerja sosial yang memrakarsai kegiatan kuliah lapangan para mahasiswa itu.

Pesatnya industri dengan banyak berdirinya pabrik di sekitar Boyolali, Sukoharjo dan Surakarta, membuat 80 persen penduduk usia produktif di Tawangsari memilih bekerja di pabrik. Akibatnya banyak permasalahan sosial terjadi secara berantai di desa yang luasnya 231,3475 ha itu. Misalnya banyaknya kasus anak-anak terbengkalai karena mereka tidak dalam pengasuhan langsung orang tua. Juga perilaku pemuda sulit dikontrol, karena mereka lebih banyak menganggur. Kalau pun bekerja tapi hasilnya tidak tetap.

“Akibatnya banyak anak bermasalah. Perilaku negatif meresahkan orang tua yang sibuk bekerja di pabrik. Permasalahan itu misalnya minum keras, berjudi, berkelahi dan perilaku negatif lain. Itu yang membuat saya betul-betul pusing dan stres ketika baru tiga bulan memimpin desa di sini. Saya bingung, apa yang harus saya kerjakan,” kata Yayuk Tutiek S Kepala Desa Tawangsari.

Babat alas

Bagaimana mengubah pola pikir (mindset) warga Tawangsari agar mau beralih profesi dan memilih memberdayakan desa adalah pekerjaan super berat bagi Yayuk. Karena ia ternyata bekerja sendiri. Melakukan sepakterjang sendiri. Mencari donasi dari program CSR (corporate social responsibility) di banyak perusahaan besar. Lalu mondar-mandir Boyolali – Jakarta ke kementerian terkait.

Yayuk melakukan babat alas bagaikan tokoh wayang Srikandi tanpa takut berada di depan. Mirisnya, dalam sepakterjangnya untuk memberdayakan warga desa itu, tidak ada perhatian penuh dari pemerintah setempat.

Dibanding dengan desa lain yang mendapat perhatian dan lancar menerima gelontoran dana. Tapi Desa Tawangsari nyaris tak tersentuh dana bantuan, kalau pun ada prosesnya lambat. Apakah hal itu membuat Yayuk surut? Tidak. Karena ia malah bertantang untuk terus melakukan perubahan.

Tak pernah surut selangkah pun, terlihat saat Yayuk pernah melakukan demo dengan cara memblokir akses jalan desa terkait pembangunan jalan tol Tingkir – Solo. Masalahnya saat awal pembangunan dulu tidak ada pemberitahuan resmi ke kelurahan dari pelaksana proyek. Kalau pun ada pemberitahuan itu hanya ke warga sekitar saja.

“Tapi sekarang masalahnya sudah selesai. Karena pemerintah (pelaksana proyek) sudah membuka jalan khusus untuk menghindari dampak pembangunan tol. Tapi peristiwa itu sempat membuat kaget pemerintah dan bahkan saya mau diperjarakan segala. Ya, silakan saja kalau mau penjarakan, wong saya kan membela rakyat kecil,” cerita Yayuk.

Diawal memimpin Tawangsari, Yayuk pun perlu membuat peraturan desa (perdes) hitam di atas putih, misalnya menentapkan tanah kas desa seluas satu hektare untuk tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), pengolahan air bersih, perenakan ayam, sapi dan budidaya burung puyuh, juga penghijauan dengan penanaman pohon buah jambu, sirsat, nangka, pisang sehingga munculnya penamaan kampung sesuai dengan jenis buahnya masing-masing.

BAB pun Diatur

Bu Yayuk, panggilan akrab wanita itu, adalah wanita pertama dalam sejarah kepemimpinan Tawangsari. dengan naluri Srikandi-nya yang tegas, cerdas dan welas asih, ia memberdayakan wanita warganya menjadi produktif. Misalnya membuat kerajinan kerupuk karak yang berawawasan kesehatan (tanpa boraks) atau kerajinan tangan berbahan kain-kain perca.

Di sektor pariwisata Tawangsari kini tengah mengembangkan Kali Pepe sebagai wahana River Tubing yang mulai banyak didatangi para pendatang untuk berekreasi. Setelah diberdayakan sebagai wahana rekreatif, Yayuk pun membuat peraturan untuk menjaga kebersihan sungai. “Maka kini tidak boleh lagi ada warga BAB (buang air besar) di sepanjang kali. Warga dengan gotong royong menjaga kebersihan sungai,” kata Yayuk

Bukan sulapan, bukan sihir, dalam waktu empat tahun, kini Tawangsari telah berubah. Itu terbukti dengan terjadinya pertumbuhan di sektor ekonomi sebesar 3,5 persen.

“Kini para perempuan desa tidak mabrik lagi (menjadi buruh di pabrik) tapi lebih banyak di rumah karena mereka punya pekerjaan sendiri sebagai UMKM dengan hasil Rp 2,5 – Rp 3 juta per bulan. Bahkan jam kerja pun fleksibel, sehingga anak-anak kecil lebih mendapat perhatian. Persisnya 60 persen sudah beralih profesi,” lanjut Yayuk.

Perkenalan tanpa sengaja pada sebuah pejalanan di atas pesawat dengan Sadiman Al Kundarto, ternyata mengubah hidup Yayuk. Karena Sadiman ternyata banyak berkiprah di belakang keberhasilan Desa Tawangsari. Sadiman-lah yang membujuk Yayuk agar menjadi kepala desa lika tahun silam.

“Kalau hanya menjadi warga biasa, Bu Yayuk paling bisa menggerakkan paling 100 orang. Tapi berbeda kalau menjadi kepala desa, bisa menggerakkan ribuan orang,” kata Sadiman saat itu pada Yayuk agar mencalonkan diri di pilkades.

Sadiman mencatat, melalui kepemimpinan Yayuk Tutiek, kini terdapat lahan buah naga seluas 4 ha, nangka satu dukuh, sirsat 1 dukuh, burung puyuh 500.000 dalam satu dukuh, krupuk menir tanpa pewarna tanpa pengawet satu dukuh. “Bahkan tiap minggu dikirim ke Surabaya sebanyak tujuh ton, kripik pare, tomat rasa kurma, anggur buah naga, sirup buah naga, dodol buah naga, manisan lombok, dendeng burung puyuh, arun jeram, sapi perah,” kata Sadiman.

Masih kata Sadiman yang juga dosen tamu UIN mata kuliah patologi dan rehabilitrasi sosial, kini Tawangsari telah maju di bidang bimbingan anak luar sekolah, dan penanganan  Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS), dan dapat memberdayakan Potensi Sumber Kesejahteraan Sosial (PSKS).

Karena tak pernah surut dalam membela lingkungan pada tahun 2015, Tawangsari meraih penghargaan Kalpataru dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Kemudian meraih Juara 3 Nasional dalam pengolahan sampah, dan Juara 2 Nasional di bidang pertanian, serta penghargaan lain.

Soal Kalpataru ini Yayuk pun bercerita, saat memberitahukan bahwa Tawangsari menerima Kalpataru, pemerintah bukan merespon dengan bangga, tapi malah sebaliknya. Waktu itu salah satu pejabat dalam sruktur pemerintahan hanya menyambutnya dingin.

(Bambang Isti /SMNetwork /CN41 )

Foto dan artikel telah terbit di Suaramerdeka.com Liputan khusus, 10 Oktober 2017
suaramerdeka.com/news/detail/4202/Yayuk-Tutiek-S-Mengubah-Tawangsari-dengan-Naluri-Srikandi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s