Ayo Muhasabah (Introspeksi Diri) menuju Hidup yang Berkualitas

Kissparry menurunkan artikel ringan tapi penting yaitu tentang muhasabah atau  introspeksi diri, juga boleh dikatakan evaluasi diri, sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup kita. Sebuah institusi biasanya melakukan evaluasi diri, sehingga seseorang sebaiknya juga introspeksi diri.

Pembahasan akan kita mulai dengan pengertian muhasabah (introspeksi diri) dari berbagai sudut pandang, setelah itu baru diuraikan paparan simpul-simpul contohnya berkaitan dengan muhasabah.

Materi muhasabah Kissparry dapatkan dari kiriman di Media Sosial (Medsos) beberapa hari yang lalu dari seorang teman masa kecil (dulu). Kissparry tidak menanyakan dan tidak merunut sumber aslinya tulisan tersebut, namun kami yakin penulis aslinya semoga tidak memasalahkan karena ilmu dan ajakannya ditularkan kepada orang lain.

Dalam sajian ini kami akan sesuaikan bahasanya dengan bahasa Kissparry, dengan sedikit editing. Untuk itu pula kami menyampaikan terima kasih kepada pengirim dan penulis utamanya.

Apa itu Muhasabah?

Asal kata dari muhasabah yaitu kata hasibah yang artinya menghisab atau menghitung. Dalam hal pemakaian katanya, muhasabah dapat disepadankan atau identik dengan introspeksi diri, menilai diri sendiri, dan atau evaluasi diri.

evaluasi-diri-kompasiana
Evaluasi Diri (dok. kompasiana)

Evaluasi berarti menguji kembali semua yang telah dilakukan, sekaligus membuat antisipasi dan sikap mawas diri terhadap hal yang mungkin terjadi. Sikap evaluasi diri berarti menyadari bahwa mungkin kita tidak mampu mengontrol situasi di sekitar, namun kita bisa memberdayakan diri sendiri seoptimal mungkin, seperti di kutip dari wongsodiardjo.wordpress.com.

Evaluasi diri adalah cara untuk mengetahui dengan tepat kemampuan dan kondisi tantangan yang harus dihadapi. Sehingga target dan sasaran dapat diraih dengan sukses.

Sedangkan mengenai introspeksi yang kami kutip dari id.wikipedia.org, bahwa introspeksi berarti proses pengamatan terhadap diri sendiri dan pengungkapan pemikiran dalam yang disadari, keinginan, dan sensasi.

Proses tersebut berupa proses mental yang disadari dan biasanya dengan maksud tertentu dengan berlandaskan pada pikiran dan perasaannya. Bisa juga disebut sebagai kontemplasi pribadi, dan berlawanan dengan ekstropeksi yang berupa pengamatan terhadap objek-objek di luar diri. Introspeksi mempunyai arti yang sama dengan refleksi diri.

Mari Muhasabah (Introspeksi Diri)

Berikut gambaran tantangan terhadap muhasabah.

  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun kita sholat lima waktu sehari semalam serta tepat pada waktunya.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun kita bersedekah setiap hari malah lebih banyak nilai disedekahkan.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun hari-hari kita banyak memberikan nasehat dan menegur orang lain yang berbuat khilaf.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun kita sudah pakai jubah, bersorban, berhijab menutup aurat dengan sempurna.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun setiap malam kita melakukan sholat tahajud, witir, dan amalan sunah lain.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun hari-hari kita ke masjid atau surau untuk beribadah dan menambah ilmu.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun setiap saat update status motivasi nasehat dan dakwah.
  • Jangan merasa diri kita “baik” walaupun setiap saat kita menolong orang lain.

Allah berfirman di dalam Al-Qur’an, surah An Najm, ayat 32:

فلا تزكوا أنفسكم هو أعلم بمن اتقى

“Janganlah kamu menganggap diri kamu suci (orang baik) karena Allah-lah yang lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.” (QS. An-Najm, 32)

Siti Aisyah radiyallaahu`anha berkata, “Siapakah orang yang buruk?” Dijawab olehnya, “yaitu orang yang merasa dirinya baik.” Beliau ditanya lagi, “Siapakah orang yang baik?” maka dijawab “Yaitu orang yang merasa dirinya buruk.”

Jangan merasa diri kita lebih baik daripada orang lain, mengapa?
Karena kita takkan pernah tahu dimanakah dan bilakah saat hati kita ikhlas melakukan amalan-amalan sholeh, menasehati orang serta beramal ibadah lain yang bakal diterima oleh Allah Subhaanahu Wa Ta’aala.

Kita tak tahu amal manakah yang Allah terima. Namun demikian kita harus tetap beramal dengan senantiasa selalu introspeksi diri, sesuai dengan tuntunan.

Penempatan Diri

Selalu letakkan diri kita dalam keadaan,

“..Aku banyak kekurangan dan kelemahan, semua orang lain lebih baik dari aku karena hati manusia masing-masing hanya diketahui Allah.”

“Akulah yang paling buruk dikalangan manusia. Aku sedang perbaiki diriku dan mencoba bantu orang lain untuk menjadi lebih baik.”

Karena Allah hanya memandang isi hati hamba-Nya. Tidak merasa diri sebagai orang baik hendaklah ada sehingga dia menghembuskan nafas yang terakhir.

Wujud keikhlasan atau sekedar penuh riya’ dan hasad.

Jadi, laksanakanlah sesuatu kebaikan hanya karena mengharapkan ridho Allah. Karena orang yang terus beramal sambil memperbaiki diri dan memeriksa niatnya akan ditarbiah oleh Allah akan hatinya.

Dengan cara ini, seseorang itu akan melatih dirinya untuk bersifat tawadu’ dan menjauhkan dirinya dari penyakit ujub (merasa kagum terhadap diri sendiri) dan takabur.

Di samping itu, kita senantiasa berusaha untuk memperbaiki diri sendiri, serta menyampaikannya kepada orang lain tentang kebaikan dengan kelembutan dan kasih sayang.

Semoga Allah melimpahkan Taufik serta hidayah-Nya kepada kita semua. Aamiin.

Mohon ma’af bila kurang berkenan
Semoga bermanfaat.

Kissparry

Kiriman : Ibu Yono Pematang dari WhatsApp (Medsos)
Editor: Wea Kissparry
Ilustrasi : Google – Iswimewa – BlogUB -Kompasiana

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s