Kisah Perjalanan Eksodan Aceh dan Berjuta Kenangan dari Tanah Rencong NAD

Kesempatan kali ini Kissparry bakal menyajikan kisah selama beberapa tahun di Tanah Rencong Serambi Mekah yakni Nanggroe Aceh Darussalam yang berada di ujung Sumatera, seperti halnya yang sudah pernah kami janjikan sebelumnya. Baca transmigrasi harapan baru.

Kisah tersebut masih menyisakan sejuta kenangan saat keluarga Kissparry berada di Aceh. Bagaimana tidak masa-masa yang penuh harapan tiba-tiba sirna karena harus hengkang dari Aceh, Tanah Rencong, yang juga terkenal dengan Serambi Mekah.

Kissparry bermukim di Kimtrans SP3 Kecamatan Geumpang Kabupaten Pidie Provinsi Aceh, merupakan wilayah yang berada di kaki Gunung Peuet Sagoe, gunung berapi aktif. Tanahnya subur, merupakan tanah khas pegunungan.

Usaha yang Maju, Pertanian yang Subur

Dalam sebuah rintisan usaha kelontong yang dilakukan Kissparry di Aceh, di samping tanah pertanian yang subur, saat mengikuti transmigrasi program pemerintah di tempat tersebut menjadikan keluarga besar Kissparry tertarik dan boyong ke Aceh secara mandiri.

Ada diantara keluarga Kissparry yang datang ke Aceh dengan bekal sendiri, tentu dengan sejuta cita dan harapan untuk bisa lebih makmur, rela meninggalkan Jakarta yang menjadi tujuan banyak orang, tetapi memilih datang ke Aceh, itu semua karena mendengar pengalaman saudara lainnya suasana alam di Aceh waktu itu.

Tanah pertanian benar-benar masih sangat subur, tanaman pohon cabe bisa setinggi 1,5 – 2 meter dengan buah cabe yang berlimpah. Tanaman yang lain pun demikian, pohon singkong buahnya sebesar paha orang dewasa.

Angan dan harapan, dua tahun di Aceh harus sudah bisa memiliki kendaraan roda empat untuk mengangkut hasil pertanian dari panen sendiri dan panen masyarakat sekitar.

Ladang penduduk pun dibeli untuk melebarkan sayap pertanian, meningkatkan produksi pertanian, yang kalau diperhatikan penduduk asli setempat kurang tekun memanfaatkan ladang dengan maksimal, cenderung seadanya. Sedang para pendatang benar-benar menemukan hal yang luar biasa.

Hengkang dari Aceh karena Krisis Keamanan

Namun kisahnya menjadi lain dan harus membayar mahal untuk bisa bertahan, kala itu terjadi krisis keamanan sehingga para pendatang tidak boleh keluar Aceh sementara mendapat teror dari sang pengacau keamanan.

Rasanya harus segera keluar dari Aceh yang subur makmur gemah ripah, meskipun baru beberapa tahun, Kissparry sudah merasa cukup mapan dengan berhasil membeli beberapa ladang untuk melebarkan sayap usaha pertanian di samping tetap berdagang aneka kebutuhan masyarakat setempat.

Hari demi hari, bulan ke bulan terlewati dengan keadaan yang semakin tidak menentu, akhirnya setelah Kissparry bermusyawarah sekeluarga di sepakati bersama untuk sebaiknya dengan diam-diam meninggalkan rumah dan segala yang ada untuk keluar dari Aceh. Barang barang yang bisa di jual ke penduduk setempat dijual, sedang tanah dan bangunan rumah tidak laku dan tidak ada yang mau membeli, ya sudah harta harus ditinggalkan yang penting nyawa selamat.

Ada tetangga yang berkenaan mengantarkan Kissparry keluar kampung secara bertahap dan bergiliran karena takut ketahuan kawanan anggota kelompok pengacau keamanan, maka nyawa benar-benar jadi taruhan. Dan beberapa pendatang minta bantuan Polisi atau Tentara agar di antar ke Agen Bus terdekat.

Sesampainya di terminal bus rombongan Kissparry mencari aman, barang bawaan hanya dibawa secukupnya agar tidak dicurigai oleh kelompok pengacau keamanan dan kami atur strategi duduk berpencar dan tidak satu armada bus yang membawa kami keluar dari Aceh.

Ketika anggota pengacau keamanan menginterogasi semua penumpang bus kita harus pura-pura tidak saling mengenal, kami terpaksa kasih tips kepada kru bus yang mengangkut kami agar aman dan barang bawaan saat itu diamankan supaya tidak ketahuan.

Bus pun melaju melewati beberapa wilayah di Provinsi Aceh, sekitar 8 jam hati dan pikiran masih belum tenang karena masih ada kemungkinan di hadang oleh kelompok pengacau keamanan. Senantiasa selalu berdoa untuk keselamatan, bila bus berhenti di terminal yang itu masih wilayah Aceh, pikiran masih dag-dig-dug, rasa tidak nyaman muncul.

Begitu sampai di wilayah Sumatera Utara (Medan) rasanya sudah plong, dan Alhamdulillah hati terasa lega dapat keluar dari Aceh dan sudah melewati saat yang sangat mencekam, dan susah untuk diungkapkan dalam kesempatan ini.

Selepas keluar Aceh baru mulai memikirkan hendak ke mana, yang penting tujuan utama Palembang (Sumatera Selatan) terlebih dahulu.

Sampailah di Palembang sebagai Eksodan Aceh

Akhirnya bus sampai juga di Riau (Pekanbaru), di sini bus transit agak lama, kemudian melanjutkan perjalanan melewati Provinsi Jambi, dan sampailah di Palembang (Sumatera Selatan).

Ongkos kami hanya sampai Palembang, bekal masih harus dijaga agar tidak habis hanya diperjalanan, maka kami sepakat segera ke Kantor transmigrasi di Palembang.

Kami pun juga Pos Polisi terdekat untuk minta bantuan di antar ke Transito (Kantor Transmigrasi Provinsi Palembang), setelah cukup panjang lebar berkisah dengan penjaga Pos Polisi, dari pos di antar ke kantor Polisi, dari kantor Polisi baru di antar ke kantor Transmigrasi.

Kami diterima di Kantor Transmigrasi Palembang sebagai eksodan Aceh, kami menginap di penampungan (Transito) beberapa malam. Dari Transito kami diantar ke Dinas Sosial Provinsi untuk dipulangkan ke Jawa, kami mengikuti saja, meskipun pernah di Sumatera Selatan tapi tentang Palembang belum begitu paham.

Saat itu belum ada alat komunikasi seperti sekarang apalagi mengenal Google Map atau Google Street atau Drive Here.

Oleh sebab itu sekarang ini kita mesti banyak bersyukur atas perkembangan teknologi yang semakin maju dan mudah dalam segala hal.

Sesampainya di Dinsos tidak banyak cerita, mungkin sudah ada kontak Dintran dengan Dinsos langsung di tampung di penampungan sementara, sambil menunggu bus pengangkut yang akan mengangkut kami ke arah Jawa. Saat di tanya petugas kami katakan akan kembali ke Jawa, dan mengatakan ada saudara di Boyolali dan Semarang, tapi tujuan Semarang saja.

Dari Palembang di Angkut ke Lampung

Prosedur seperti halnya dengan di transito maka kami akan diantar menuju Dinsos terdekat. Dari Palembang diturunkan di transito Lampung (Dinsos Lampung). Di sini menunggu lagi dengan sabar untuk diangkut melanjutkan perjalanan dengan armada yang berbeda.

Yang namanya naik turun bus, dengan menaikkan dan menurunkan barang bawaan meskipun tidak banyak tetapi bagaimana juga badan terasa capai. Di sini mulai merasakan capai, padahal perjalanan dari Aceh ke Palembang dilalui tidak teras capai sama sekali. Mungkin karena situasi yang membuat harus tetap tegar dan semangat.

Perjalanan memang terasa panjang, tetapi apa daya kami harus mengikuti saja, kami pun tidak merasa terlantar karena Dinsos dan Dintran alhamdulillah mengurusi dan membantu kami. Meskipun kalau orang lain mungkin menyebutnya sebagai orang terlantar, bagaimana pun ini tekat kami untuk bisa kembali ke Jawa dengan selamat.

Kami di antar bersama dengan rombongan lain ke Jawa dengan bus yang disiapkan oleh pemerintah melalui Dinas Sosial dan di beri uang saku selama perjalanan kembali ke Jawa.

Pikiran sudah mulai tenang bisa kembali ke Jawa meskipun harus rela meninggalkan Aceh yang sebenarnya telah siap atas segala sesuatu untuk maju dan berkembang di Aceh. Tanah, rumah dan segalanya ditinggalkan demi keamanan dan keselamatan.

Bus yang membawa kami melaju ke arah Jawa. Detik demi detik berlalu ke menit demi menit pun berlalu, jam ke jam berganti terasa lama sekali tidak kunjung sampai. Tiba-tiba sampailah di penyeberangan pelabuhan Bakauheni menuju Merak. Setelah antri beberapa menit bus masuk ke kapal.

Akhirnya kami benar-benar sudah menginjakkan kaki di pulau Jawa, bus kemudian membawa kami ke Dinas Sosial DKI Jakarta. Bus yang membawa kami meninggalkan tempat, kami sempat menyampaikan terima kasih kepada kru bus yang telah menganggut kami dari Lampung ke Jakarta.

Lampung menuju DKI Jakarta, Kumpulan Eksodan Aceh

Pengangkutan dari Lampung ke DKI Jakarta menggunakan armada bus yang berbeda lagi.

Di Jakarta ternyata banyak eksodan Aceh, menunggu untuk di proses lebih lanjut, terutama yang sudah tidak memiliki sanak saudara di Jawa, sedangkan eksodan yang masih memiliki saudara di Jawa dan ingin kembali untuk menumpang di tempat saudara, termasuk Kissparry, difasilitasi angkutan ke daerah masing-masing.

Setelah menginap satu malam di Jakarta, dari sini diangkut dengan beberapa bus menuju daerah asal yang berbeda-beda. Kissparry dan beberapa rombongan dalam satu bus tersebut di antar ke arah Semarang dan Solo. Untuk yang ke Semarang dan sekitarnya di turunkan di Transito Semarang, bus melanjutkan perjalanan ke arah Solo.

Bus yang ditumpangi berbeda lagi, dan begitu sampai di Semarang turun dari bus, kami pun berucap Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Semarang, kemudian barang bawaan diturunkan dari bus yang mengangkut kami.

Transito Semarang

Di Semarang kami diturunkan di transito, saat itu belum memberi tahu saudara apabila keluarga Kissparry telah melarikan diri dari Aceh, dan baru sehari setelah itu memberitahukan kepada saudara yang ada di Semarang.

Setelah mengurus administrasi secukupnya dengan Dinas Sosial dan Dinas Transmigrasi rombongan diperbolehkan ke daerah asal masing-masing, termasuk Kissparry dijemput keluarga di Semarang. Tentu untuk menumpang sementara.

Sempat Menjalankan Usaha Membuat Kerupuk Terung di Semarang

Ternyata tidak menumpang sementara, di Semarang tinggal beberapa tahun sambil terus kontak dengan Kantor Urusan Transmigrasi.

Dalam benak dan pikiran Kissparry adalah masa depan keluarganya, karena kalau hanya dengan menumpang itu usaha pasti juga kurang berkembang, terlebih modalnya juga pas-pasan.

Prinsipnya ‘obah yo mamah, lan kudu obah ben iso mamah’ (bergerak/berusaha bisa makan, dan harus bergerak/berusaha biar bisa makan), usaha yang dipilih adalah membuat kerupuk terung, mulai 1 kilo, 2 kilo dan seterusnya.

Prinsip Kissparry tidak cukup itu (obah mamah), namum untuk tempat tinggal harus punya meskipun hanya sejengkal, kalau di Jawa sepertinya masih jauh dari harapan. Paling mungkin adalah di luar Jawa yang harga tanah belum melambung tinggi, lagi-lagi dana yang kurang mendukung.

Karena harus punya tanah, maka yang paling mungkin adalah mengikuti program transmigrasi kembali.Kissparry sudah pesan dengan Departemen Transmigrasi kantor Provinsi Jawa Tengah untuk berhubungan dengan kantor provinsi yang lain.

Tawaran Mengikuti Program Transmigran Pesantren di Air Tenggulang, Sungai Lilin

Kissparry didatangi petugas dari kantor transmigrasi Jawa Tengah, Ia mengabarkan ada transmigrasi percontohan namanya transmigrasi pesantren dari Jawa Timur, dan menawari jika bersedia. Kami pun siap sedia, dan rela meninggalkan usaha kerupuk untuk mengikuti program tersebut.

Kami pun akhirnya bersama rombongan tiba di Air Tenggulang, mengikuti transmigran percontohan pesantren, Musi Banyu Asin, Sumatera Selatan. Saat pemekaran wilayah yang dahulu masuk wilayah Kecamatan Sungai Lilin, sekarang masuk wilayah Kecamatan Babat Supat.

Penelusuran Google Street Lokasi Aceh

Hari ini (20/4/2018) berdasarkan penelusuran di Google Street belum menunjukkan tanda-tanda wilayah Kabupaten Pidie (Kota Sigli) ke arah Kecamatan Geumpang di kaki Gunung Peuet Sagoe, dilalui proyek Google Street, bahkan di Kota kabupaten.

Tempat tinggal sewaktu di Aceh, Kissparry bermukim di Kecamatan Geumpang di kaki Gunung Peuet Sagoe, untuk menuju ke kota kabupaten dari Geumpang masih 105 km lagi, sedangkan tempat tinggal kami dari kota kecamatan masih sekitar 7 km lagi, sehingga total 112 km.

Gunung Peuet Sagoe merupakan gunung api yang masih aktif, dengan ketinggian 2780 MPDL. Gunung setinggi ini untuk mendakinya memakan waktu sampai 7 hari perjalanan (5 hari untuk mendaki dan 2 hari untuk turun), hal ini mengingat akses jalan ke base camp. Bila dibanding Gunung Lawu yang tingginya 3265 MPLD bisa ditempuh dalam waktu 6 – 7 jam saja.

Sejuta Kenangan di Era Disrupsi, Exponential Era, Industrialisasi Generasi ke-4

Beberapa tahun belakangan di prediksi bakal terjadi era disrupsi atau exponential era, tidak ketinggalan Kissparry mengikuti arus globalisasi perubahan dunia yang meloncat dengan cepat.

Dunia seolah serba instan, itu sebenarnya berkait dengan teknologi digital, banyak produk dijual secara daring, bahkan ojek juga lewat daring.

Tetapi panen kelapa sawit atau deres karet tidak bisa daring, ya…., namun kami tidak meremehkan perubahan.

Semoga bermanfaat.

Kissparry
— masih akan diadakan penyempurnaan — mengingat kejadian itu sekitar tahun 1999

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s