Sahabat Kissparry, kali ini kita akan menampilkan tentang fitrah seksualitas anak, yang akhir-akhir ini sedang menyebar di medsos.

Fitrah seksualitas yang merujuk pada judul, dalam tulisan itu diartikan tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Dinyatakan juga bahwa pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada ayah dan ibu.

Pulau Kumala (Tenggarong) Kaltim

Fitrah berasal dari akar kata f-t-r dalam bahasa Arab yang berarti membuka atau menguak. Fitrah sendiri mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal, dikutip dari Wikipedia.

Sedangkan seksualitas manusia adalah bagaimana manusia mendapatkan pengalaman erotis dan mengekspresikan dirinya sebagai makhluk seksual; kesadaran diri pribadi sebagai laki-laki atau perempuan; kapasitas yang mereka miliki atas pengalaman erotis dan tangapan atas pengalaman itu, masih dari Wikipedia.

Apakah fitrah disini juga bisa artikan sebagai sebuah naluri atau insting, sehingga jika dituliskan menjadi naluri seksualitas anak perlu dijaga atau diterapkan pada judul yang sesungguhnya menjaga naluri seksualitas anak.

Naluri atau insting adalah suatu pola perilaku dan reaksi terhadap suatu rangsangan tertentu yang tidak dipelajari tetapi telah ada sejak kelahiran suatu makhluk hidup dan diperoleh secara turun-temurun. Dikutip dari wikipedia.

Karena naluri itu (seksualitas) telah ada maka tentang seksualitas sudah mulai menjadi perhatian semenjak bayi, atau bahkan dikatakan semenjak dalam kandungan, hingga menginjak dewasa.

Matahari terbit di Karimunjawa, menikmati indahnya pagi di Karimun

Inilah kutipan dari penyebaran topik tentang “Menjaga Fitrah Seksualitas Anak”.

Menjaga Fitrah Seksualitas Anak

Ada suami yang sikapnya kaku dan kasar. Tidak memahami perasaan istri. Tidak akrab dan mesra dengan anak. Coba tanyakan, dekatkah beliau dengan ibunya di masa sebelum akil baligh.

Ada suami yang selalu “linglung” saat membuat visi dan misi keluarga. Selalu bingung bagaimana bersikap sebagai ayah. Akhirnya bergantung pada istrinya. Coba tanyakan, dekatkah dia dengan ayahnya pada masa kanak-kanak.

Ayah dan bunda adalah figur yang harus ada sepanjang masa pendidik anak, sejak lahir hingga akil balig. Kehadiran ayah bunda penting untuk menjaga fitrah seksualitas anak.

Fitrah seksualitas adalah tentang bagaimana seseorang berfikir, merasa dan bersikap sesuai fitrahnya sebagai lelaki sejati atau sebagai perempuan sejati.

Pendidikan fitrah seksualitas berbeda dengan pendidikan seks. Pendidikan fitrah seksualitas dimulai sejak bayi lahir. Menumbuhkan Fitrah ini banyak tergantung pada kehadiran dan kedekatan pada ayah dan ibu.

Menurut Elly Risman, riset banyak membuktikan bahwa anak anak yang tercerabut dari orangtuanya pada usia dini baik karena perang, bencana alam, perceraian, dan persoalan sosial lainnya akan banyak mengalami gangguan kejiwaan, sejak perasaan terasing (anxiety), perasaan kehilangan kelekatan atau attachment, sampai kepada depresi.

Kelak ketika dewasa memiliki masalah sosial dan seksualitas seperti homoseksual, membenci perempuan, atau curiga pada hubungan dekat.

Dalam mendidik fitrah seksualitas, ayah bunda menghadapi beberapa tahapan sesuai usia anak.

  1. Usia 0-2 tahun, anak lelaki dan perempuan didekatkan pada ibunya karena masa menyusui.
  2. Usia 3 – 6 tahun, anak lelaki dan anak perempuan harus dekat dengan ayah ibunya agar memiliki keseimbangan emosional dan rasional apalagi anak sudah harus memastikan identitas seksualitasnya sejak usia 3 tahun.

Kedekatan dengan ayah bunda membuat anak mampu membedakan sosok lelaki dan perempuan. Sehingga mereka secara alamiah paham menempatkan dirinya sesuai seksualitasnya.

Sikap mereka sesuai dengan jenis gendernya. Baik dari cara bicara, cara berpakaian maupun cara merasa, berfikir dan bertindak sebagai lelaki atau sebagai perempuan dengan jelas.

Ego sentris mereka harus bertemu dengan identitas fitrah seksualitasnya, sehingga anak di usia 3 tahun dengan jelas mengatakan “saya perempuan” atau “saya lelaki”.

  1. Usia 7 – 10 tahun, anak lelaki lebih didekatkan kepada ayahnya. Anak lelaki sudah punya tanggungjawab moral, kemudian di saat yang sama ada perintah Sholat.

Ayah mempunyai tanggung jawab untuk menuntun anak lelakinya untuk memahami peran sosialnya, diantaranya adalah sholat berjamaah, berkomunikasi secara terbuka, bermain dan bercengkrama akrab dengan ayah.

Semua ini sebagai pembelajaran untuk bersikap dan bersosial kelak, serta menghayati peran kelelakian dan peran keayahan di pentas sosial lainnya.

Maka menjadi tugas para ayah untuk menjadikan lisannya sebagai narasi kepemimpinan dan cinta.

Menjadi tugas ayah untuk mendidik anak lelakinya terampil dalam urusan kelelakiannya dan keayahannya, Ayah harus jadi lelaki pertama yang dikenang anak anak lelakinya dalam peran seksualitas kelelakiannya.

Ayah pula yang menjelaskan pada anak lelakinya tata cara mandi wajib dan konsekuensi memiliki sperma bagi seorang lelaki.

Begitupula anak perempuan didekatkan ke ibunya agar peran keperempuanan dan peran keibuannya bangkit.

Maka wahai para ibu jadikanlah tangan anda sakti dalam merawat dan melayani, lalu jadikanlah kaki anda sakti dalam urusan keperempuanan dan keibuan.

Ibu juga harus jadi wanita pertama hebat yang dikenang anak anak perempuannya dalam peran seksualitas keperempuanannya.

Ibu pula orang pertama yang harus menjelaskan makna konsekuensi adanya rahim dan telur yang siap dibuahi bagi anak perempuan.

Jika sosok ayah ibu tidak hadir pada tahap ini, maka potensi homoseksual dan kerentanan penyimpangan seksual semakin menguat.

  1. Usia 10 – 14,. inilah tahap kritikal, usia dimana puncak fitrah seksualitas dimulai serius menuju peran untuk kedewasaan dan pernikahan.

Di tahap ini secara biologis, peran reproduksi dimunculkan oleh Allah SWT secara alamiah, anak lelaki mengalami mimpi basah dan anak perempuan mengalami menstruasi pada tahap ini. Secara syahwati, mereka sudah tertarik dengan lawan jenis.

Islam memerintahkan pemisahan kamar lelaki dan perempuan. Pada usia ini juga ada peringatan keras kepada anak saat ia lalai dalam shalatnya. Yang artinya mereka tidak mengenal Allah. Bahkan jika pada usia 10 tahun masih meninggalkan sholat ada hukuman untuk anak.

Persiapan ini sesuai dengan fitrahnya karena inilah masa terberat dalam kehidupan anak, yaitu masa transisi anak menuju kedewasaan termasuk menuju peran lelaki dewasa dan keayahan bagi anak lelaki, dan peran perempuan dewasa dan keibuan bagi anak perempuan.

Maka dalam pendidikan fitrah seksualitas, di tahap usia 10-14 tahun, anak lelaki didekatkan ke ibu, dan anak perempuan didekatkan ke ayah.

Anak lelaki didekatkan ke ibu agar seorang lelaki yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis. Pada masa ini mereka harus memahami secara empati langsung dari sosok wanita terdekatnya, yaitu ibunya, bagaimana lawan jenisnya harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata perempuan bukan kacamata lelaki. Bagi anak lelaki, ibunya harus menjadi sosok wanita ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Anak lelaki yang tidak dekat dengan ibunya di tahap ini, tidak akan pernah memahami bagaimana memahami perasaan, pikiran dan penyikapan perempuan dan kelak juga istrinya. Tanpa ini, anak lelaki akan menjadi lelaki yang tidak dewasa, atau suami yang kasar, egois, atau kaku.

Pada tahap ini, anak perempuan didekatkan ke ayah agar seorang perempuan yang di masa balighnya sudah mengenal ketertarikan pada lawan jenis.

Pada masa ini mereka juga harus memahami secara empati langsung dari sosok lelaki terdekatnya, yaitu ayahnya, bagaimana lelaki harus diperhatikan, dipahami dan diperlakukan dari kacamata lelaki bukan kacamata perempuan. Bagi anak perempuan, ayahnya harus menjadi sosok lelaki ideal pertama baginya sekaligus tempat curhat baginya.

Semoga bermanfaat.

Sumber: Elly Risman (chanelMuslim)
dari : N Hidayah

Catatan : Elly Risman Musa (lahir di Aceh pada 21 April 1951) adalah seorang psikolog asal Indonesia spesialis pengasuhan anak dan menjabat sebagai direktur pelaksana di Yayasan Kita dan Buah Hati. Elly dikenal sebagai tokoh yang gigih dalam menyuarakan perlunya orang tua mengasuh dan mendidik anaknya secara sungguh-sungguh.

diunggah : Kissparry
editor : Eswedewa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.