Bisnis dan Wirausaha Ekonomi Galeri Gaya Hidup Ide kreatif mutiara Pendidikan

Makna Kesederhanaan Tips Tetap Eksis dalam Segala Suasana, Belajar dari Pembantu

Berdasar pengalaman seseorang tetapi dapat dijadikan bahan renungan, bagaimana dalam bersikap keseharian soal belanja atau soal ekonomi, ada yang menarik untuk diambil pelajaran.

Secara keuangan, orang kaya hidup dibawah standar kemampuannya, sehingga bertambah kaya. Sedang orang miskin hidup diatas kemampuannya sehingga bertambah miskin.

Kutipan diatas adalah sebagian isi dari kisah tulisan yang seutuhnya dapat dibaca di bawah ini, sungguh bermakna tulisan tersebut untuk menjadi renungan dalam keseharian kita.

Biasanya seseorang itu berkeinginan atau berkhayal ingin punya ini dan itu. Orang kaya akan membeli apa saja yang ia kehendaki (mungkin) bisa terlaksana, tetapi orang miskin kadang untuk makan sehari-hari saja kesulitan.

Bagaimana kemudian tulisan diatas bisa muncul! Hal itu mungkin penulisanya mengamati dalam kesehariannya, dan ini adalah pengalaman yang panjang. Ia berkisah sejak 1975 sampai sekarang, ditulis secara ringkas.

1 set meja kafe – material tresmbesi utuh – dok. fasa store Jepara

Inilah tulisan selengkapnya.

BELAJAR DARI PEMBANTU

Saat itu saya masih mahasiswa, antara 1975 – 1980. Menjelang hari raya, pembantu yu Reni kakak saya yang dipanggil mbok, pamit pulang ke kampung.

Dia menitipkan perhiasan emasnya ke kakak saya. Kakak saya menanyakan mengapa perhiasannya tidak dipakai selama lebaran di kampung ? Bukankah itu akan membuat mbok bangga.

Jawaban mbok luar biasa, dan selanjutnya saya pakai sebagai pedoman hidup saya.

Dia menjawab dengan bahasa jawa, tetapi bahasa Indonesianya begini :”Kalau saya yang memakai, meskipun emas asli, akan dianggap imitasi. Sebaliknya kalau jeng yang pakai (beliau memanggil kakak saya jeng), imitasipun akan dianggap sebagai asli”.

Kalimat itu terus mengiang di telinga dan semakin lama semakin terbukti kebenarannya. Bukan apa yang dipakai tetapi siapa yang memakai itu yang paling penting.

Jack Ma bahkan mengatakan :”Kalau kamu tidak punya uang, kata kata motivasimu akan terdengar seperti kentut. Kalau kamu memiliki banyak uang, kentutmu bahkan bisa memotivasi”.

Saat menjadi dokter umum di Puskesmas Kerek, saya sudah dianggap paling kaya oleh teman teman, karena pasien saya memang sangat banyak. kalau hari Senin sekitar 100 orang, hari lain 50 an.

Suatu saat kacamata saya tertinggal di Dinas Kesehatan Tuban (saat itu masih menjadi satu dengan Rumah Sakit). Saya sendiri sudah lupa dengan kacamata itu karena itu kacamata murahan, 10 ribu dapat 3.

Ketika saya berkunjung lagi ke sana, kepala kantor pak Eko menemui saya membawa sebuah bungkusan.

Rupanya ada karyawan yang menemukan kacamata itu dan tahu itu milik saya. Pak Eko mengatakan kepada stafnya kalau milik pak Sigit pasti mahal, jadi mereka simpan dengan hati hati.

Ketika saya katakan bahwa ini kacamata 10.000 dapat tiga, beliau tidak percaya dan menganggap saya bergurau.

Begitulah kehidupan saya, tidak pernah aneh aneh. Baju dan celana juga yang murah murah.

Celana pendek untuk di rumah sama dengan yang dipakai sopir mertua. Ibu mertua saya yang suka sewot kalau saya memakai celana atau kaos yang sama dengan yang dipakai sopir. 😊

Sampai menjadi spesialispun, kacamata baca masih saya beli di pinggir jalan. Semua menganggap itu mahal, kecuali orang yang ahli tentunya. Suatu saat, ketika kontrol pasca melahirkan, pasien saya yang pemilik toko kacamata memberi saya hadiah kacamata baca.

Dengan serius beliau mengatakan :”Dok, saya yang malu melihat dokter pakai kacamata 10 ribuan”. Rupanya beliau tahu nilai kacamata saya. Saya yang pakai, dia yang malu. Yang salah siapa ya ?

Bu Wati lebih gila lagi. Sewaktu di Batu, beliau biasa saja naik angkot maupun ojek.

Suatu hari naik angkot turun di depan Klinik saya. Kondektur teriak rumah sakit dokter Sigit dan mengira isteri saya akan periksa. Padahal dialah pemiliknya.

Bagitulah, kami beranggapan bahwa apapun yang kami pakai akan nampak mahal, meskipun sebenarnya murah. Itulah perasaan kaya yang sesungguhnya.

Tidak perlu harus mengada adakan supaya dianggap kaya. Karena percuma saja, bawah sadar kita akan memvibrasikan kondisi kita yang sebenarnya.

Secara keuangan, orang kaya hidup dibawah standard kemampuannya, sehingga bertambah kaya. Sedang orang miskin hidup diatas kemampuannya sehingga bertambah miskin.

Semoga bermanfaat.
Sigit Setyawadi


Singkong rebus original (Kissparry Semarang)

Tipsnya Tetap Eksis Apa?

Membaca dari tulisan diatas, ada beberapa hal yang bisa kita ambil hikmahnya.

Modal Sosial

Anggapan sebagian orang, jika orang yang terpandang atau bisa dikatakan kaya, maka segala pernak pernik termasuk pakaian yang dikenakan, pasti akan dianggap harganya mahal, dan sebaliknya jika orang yang kurang mampu maka pakaian yang mahal pun mungkin tetap dianggap harganya biasa-biasa saja.

Kebiasaan dari pandangan masyarakat yang seperti ini memang tidak bisa dipungkiri, dan yang terpenting kita bisa selalu tampil maksimal dengan apa yang kita miliki apa adanya.

Oleh sebab itu, kita dalam tatanan kehidupan sehari-hari, kita perlu menyesuaikan diri.

Standar Kemampuan

Standar kemampuan seseorang berbeda-beda sesuai dengan tingkat kebutuhan dan keperluannya, sebagai contoh tentang membayar listrik bulanan mereka.

Seorang yang kaya dengan rumah luas tingkat, mungkin listrik bulanan mereka di atas Rp 3.000.000,- (tiga juta rupiah) sementara orang yang biasa-biasa mungkin listrik bulanan hanya berkisar Rp 190.000,- (seratus sembilan puluh ribu rupiah).

Kebiasaan membelanjakan diatas kemampuan sudah harus mulai dikoreksi atau diubah.

Relasi (Persaudaraan)

Jangan memutus relasi, tetapi tetap menyambung relasi.

Semangat

Tetap semangat dalam mengaruhi kehidupan, dan esok masih ada hari.

Gurame pedas ala Ngrembel Asri

Sekian, semoga bermanfaat.

oleh Eswedewea
editor Eswedewea

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: