Inilah yang Dilakukan Saat ke Tempat Tujuan dengan Share Lokasi di WhatsApp dengan Google Maps, Berdasarkan Pengalaman Pribadi

Halo sahabat Kissparry dimana saja berada, kali ini kita akan bahas penggunaan share location WhatsApp dan ini berdasarkan pengalaman pribadi.

Tadi malam (red Senin malam 2 Oktober 2022) saya akan ke tempat teman yang baru saja kembali dari menjalankan ibadah umrah di tanah suci Mekah, yang beralamat di Jangli Krajan.

Gambaran lokasi rumah teman saya tersebut sudah dalam bayangan pikiranku karena dekat dengan rumahnya saudara saya di Jangli Krajan.

Sebelum berangkat saya tahu ada teman yang sudah sampai di rumah teman saya tersebut, sehingga saya minta share lokasi pada WhatsApp.

Setelah dapat gambar lokasinya kemudian saya buka sekilas, oke, kemudian dengan sepeda motor yang telah saya siapkan berangkatlah menuju lokasi sesuai peta di Google Maps.

Namun, karena saya sudah ada bayangan lokasi yang akan saya kunjungi, sehingga tidak sepenuhnya memanfaatkan Google Maps. Saya hanya memperhatikan bagian akhir peta perjalanan yang ada di petanya Google.

Disini ditunjukkan dengan titik titik sehingga dapat diartikan sebagai gang kecil. Saat berada di titik terdekat memang ada gang kecil, kemudian saya mencoba masuk gang tersebut yang ternyata semakin kecil dan saya putuskan untuk kembali ke jalan raya.

Saya, dapat telepon dari teman saya, setelah mondar mandir atau bolak balik tiga kali mencoba mendekati lokasi rumah.

Sepertinya ada seorang warga setempat yang mengawasi saya, entah curiga atau kebetulan tahu ada orang mondar mandir perlu diperhatikan.

Teman saya telepon, njenengan sampai mana kok nggak sampai sampai di tempate pak Ali, tanyanya kepada saya.

Ini aku sudah dekat lokasi, sesuai share lokasi, jelas saya.

Temanku bilang, itu dari pertigaan kecamatan Candisari silakan belok ke kanan nanti gang pertama belok ke kiri, katanya.

Siap, aku tadi tidak melalui jalan di kantor kecamatan tapi masuk dari gang sebelumnya, dalam pikiran saya karena se RT dan RW kakak saya di Jangli maka saya masuk ke gang terdekat, tentu mengikuti petanya Google, yang titik titik.

Ya, kalau begitu saya akan kembali ke pertigaan kecamatan, mencari jalan sesuai arahan. Ini sudah dimulai dan makan makan.

Saya hanya berfikir, kok jaraknya dengan share lokasi jadi terbalik ya. Ya sudah saya kan sudah paham tempat disini, sudah sering menyambangi Jangli Krajan. Ini koreksi Google Maps kok lebih dari 100m.

Dari tempat saya mondar mandir saya kearah kantor kecamatan, dan sesampainya di pertigaan saya otomatis belok ke kiri, kemudian kembali untuk belok ke kanan dari pertigaan pasar atau kantor kecamatan.

Dalam berjalan kearah kecamatan saya memperhatikan gang pertamanya kemudian belok ke kiri. Sambil berguman, iki kok kiri jalan, padahal neng maps kudune kanan jala. Sing penting dicoba. Setiap gang saya ingat ingat harus beloknya dimana sesuai percakapan di telepon genggam saya.

Gang pertama saya masuki, ternyata sampailah gang buntu, karena jalan ini berakhir di depan pintu sebuah rumah. Lalu saya putar balik tanpa menemukan keramaian seperti yang disampaikan teman saya melalui percakapan telepon genggam.

Wah ini berarti bukan gang pertama yang disebutkan temanku, berarti gang setelah ini, dan masuklah gang kedua.

Di gang pertama yang kedua saya berjalan hampir 500 meter, tetapi belum menemukan keramaian orang yang sedang berkumpul dan menyantap hidangan, maka saya putuskan kembali ke jalan raya utama.

Di perempatan kecil tersebut kemudian saya berhenti, motor saya matikan dan mengambil kaca mata guna memandangi peta agar lebih jelas.

Saya sudah mulai bimbang dan ragu antara tempat lokasi yang disampaikan temanku gang kecamatan pertama belok kiri dengan maps Google.

Maka saya memutuskan untuk mendekati lokasi sesuai Google Maps mengingat penunjuk arah teman saya melalui telepon tidak berhasil menemukan lokasi.

Kalau terpaksa nanti gang yang saya masuki sesuai peta gang buntu lagi, maka saya akan ke rumah kakak agar ditunjukkan tempatnya.

Atau saya ambil gang lebih besar untuk jalan masuk, sehingga sudah menemukan alternatif jalan sesuai share location.

Saat sampai titik terdekat saya berhenti akan melalui jalan yang saya lewati pertama kali apa gang setelahnya yang lebih besar, jika gang yang lebih besar tidak menemukan pula, alternatif akan masuk gang dimana sebelahnya gang ke rumah kakak saya, kalau tidak ketemu langkah terakhir tanya kakak.

Telepon berdering, oh telepon datang dari teman, sudah sampai mana tanyanya.

Ini tadi belok ke kiri gang pertama ternyata gang buntu terus aku gang berikutnya belum menemukan lokasinya kataku.

Njenengan posisi dimana, silakan di foto dan kirim ke saya biar di jemput saja, pinta temanku.

Posisiku sudah akan sampai gang sebelah pada gang yang saya lalui pertama kali. Maka, kuputuskan kembali lagi ke lokasi paling dekat di Google Maps.

Baik saya potret ya, nanti saya kirim, kataku melalui telepon. Dan saya harus putar balik kearah semula.

Kebetulan disini juga ada sepertinya pertemuan warga kampung atau orang syukuran karena di angkringan.

Tidak terlalu lama seorang teman yang menjeputku pun datang. Ayo pak ngerutne aku, katanya. Oke siap. Saya pun mengikuti temanku tersebut.

Seorang ibu yang sedang duduk di dekat saya berhenti, nyeletuk, oawal iki rak koncone njemput.

Akhirnya saya sampai di rumah teman saya yang baru saya kembali dari Mekah untuk melaksanakan ibadah umrah.

Saya pun berjabatan tangan dengan sebagian yang telah hadir sebelumnya, dan saya diberi secangkir zam-zam.

Dari kisah pengalaman ini mungkin para pembaca sudah bisa menarik pelajaran, namun, disini saya juga akan menyampaikan hal hal apa menurut pendapat saya mengenai kisah ini.

Miskomunikasinya Dimana?

Ini bukan termasuk miskomunikasi, tetapi hanya arah yang berbeda. Mengapa? Saya berasal dari Tegalsari dan teman saya dari Jomblang.

Dari Jomblang benar, setelah kantor Kecamatan Candisari belok ke kanan lalu ada gang pertama belok kiri, maka sampailah lokasi yang dituju.

Jika dari Tegalsari saya melalui Jl Ksatrian maka di pertigaan kantor kecamatan, saya belok ke kanan kemudian gang pertama belok kekiri, saya menemukan jalan buntu atau gang buntu.

Selanjutnya, langkah saya kembali ke Google Maps, dengan beberapa alternatif jalan yang akan saya lalui, namun belum sampai jalan alternatif, sudah mendapat telepon yang isinya silakan berhenti dan kirim gambar, penjemputan akan segera dilaksanakan.

Google Maps Mencatatat Rute yang Saya Lalui

Setelah acara usai saya kembali ke rumah, dan karena masih penasaran, kemudian membuka kembali Share Location yang sebelumnya. Anehnya, saya mendapati gambarnya tidak putus-putus lagi tetapi langsung mengarah ke lokasi dengan garis biru penuh.

Saya belum melacak, apakah pencatatan rute perjalanan ada kaitannya dengan saya sebagai Local Guide Google.

Google Maps secara otomatis mengkoreksi rute yang pernah diberikan kepada pemakainya, jika rute yang diberikan sebelumnya belum tepat.

Secara tidak langsung Google Maps terbantu dengann pencarian lokasi yang mondar-mandir bolak-balik.

Langkah-langkah Apa yang Kita Lakukan dengan Share Location di WhatsApp

Saya akan menyimpulkan atau memberi masukan kepada Anda, saat menggunakan fitur share location WhatsApp.

Bagi yang Akan Membagikan Lokasi

Menjadi catatan penting, saat membagikan lokasi, silakan berjalan menuju ke jalan didepan rumah, jangan di dalam rumah, kemudian membagi lokasi.

Hal tersebut, sangat penting, karena dengan membagi lokasi dan kita berada di jalan depan rumah, akurasi dari lokasi akan lebih baik dibanding anda membagikan lokasi tetapi berada di dalam rumah.

Jadi, silakan keluar rumah menuju jalan di depan rumah, kemudian bagikan lokasi Anda.

Bagi Anda yang Menggunakan Lokasi yang Dibagikan

Berikut ini adalah beberapa usulan kepada Anda, saat akan menggunakan Google Maps dari aplikasi Share Location (Berbagi Lokasi).

  • Bukalah lokasi yang dibagikan, dan pelajari secara seksama, bila perlu perbesar gambar petanya agar mengetaui detil jalan ke arah lokasi dimaksud.
  • Jangan terburu-buru berangkat ke tempat tujuan, sebelum memahami wilayah yang dituju, termasuk jalan-jalan alternatif, sebab terkadang Google Maps belum memahami lokasi secara detil.
  • Peta Google dapat membantu kita menemukan lokasi yang dituju dengan alternatif rute, dan kita bisa menggunakan ilmu titen. Perintah Direction rute yang akan dilalui hanya digunakan sebagai pegangan awal berjalan menuju lokasi. Kondisi kenyataan dilokasi mungkin tidak dikenali oleh Google Maps, seperti jalan di tutup oleh masyarakat setempat karena suatu acara.

  • Jika mendapati jalan tutup atau tidak dapat dilalui, sebaiknya memukul gong, memukul gong maksudnya menggunakan mulut kita untuk bertanya kepada seseorang disini. Alternatif jalan saat kita berubah arah, mungkin tidak terlalu menolong untuk segera sampai ke tempat tujuan.
  • Kita bisa menanyakan kepada seseorang, saat sudah dekat dengan titik lokasi, akan lebih cepat menolong kita untuk sampai ke tempat tujuan.

Semoga bermanfaat dan menambah referensi..

Salam

oleh Eswede Weanind
editor Kissparry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.