Simbok (Ibu), Cerpen

Cerita pendek (Cerpen) dalam satu adegan yang dapat menggugah jiwa pembacanya, mampu memberi semangat untuk selalu berbagi dalam keadaan yang serba pas-pasan atau dalam kesederhanaan seorang ibu.

Mudah-mudahan mampu memberi motivasi dan menginspirasi pembaca dan kita semua akan arti kekayaan yang sesungguhnya.

Cerpen ini kami turunkan sebagai pelengkap untuk mengisi kegiatan Hari Klub Wanita Internasional (WIC) yang jatuh pada tanggal 27 Maret, sekaligus menyambut Hari Kartini untuk masyarakat Indonesia yang jatuh pada tanggal 21 April mendatang.

simbah_dan_simbok_by_djampot1995-d9ddeh7
Ilustrasi gambar Simbah dan Simbok (koleksi djampot1995)

S I M B O K

“Mbok, kita kan sekarang cuma tinggal berdua, kenapa simbok tetap masak segitu banyak? Dulu waktu kita masih komplet berenam saja simbok masaknya selalu lebih, mbok yao dikurangi, mbook… ben ngiriit..“, kataku dengan mulut penuh makanan masakan simbokku siang ini: nasi liwet anget, sambel trasi beraroma jeruk purut, tempe garit bumbu bawang uyah, sepotong ikan asin bakar, dan jangan asem jowo.
Benar-benar menu surga bagiku.

Sambil membenahi letak kayu-kayu bakar di tungku, simbok menjawab, “Hambok yo ben toooo…

“Mubazir, mbok. Kayak kita ini orang kaya saja..”, sahutku.
Opo iyo mubazir? Mana buktinya? Ndi jal?”, tanya simbok kalem.

Kadang aku benci melihat gaya kalem simbok itu.
Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya pasti aku bakal kalah argumentasi.

“Lhaa itu?, tiap hari kan yo cuma simbok bagi-bagikan ke tetangga-tetangga too?
Orang-orang yang lewat-lewat mau ke pasar itu barang??”, aku sedikit ngeyel.
“Itu namanya sedekah, bukan mubazir.. Cah sekolah kok ra ngerti mbedakke sodakoh karo barang kebuang..”, gumam simbok.

“Sodakoh kok saben dino?! Koyo sing wes sugih-sugiho wae, mbooook mbok!“, nadaku mulai tinggi.
“Ukuran sugih ki opo to, Kir?”, katanya.
Ah, gemes lihat ekspresi kalem simbok itu!
Hayo turah-turah leh duwe opo-opo.. Ngono we ndadak tekon!”, sahut saya.

“Lha aku lak yo duwe panganan turah-turah too? Pancen aku sugih, mulo aku iso aweh…”, simbok seraya menjelaskan.

Tangannya yang legam dengan kulit yang makin keriput menyeka peluh di pelipisnya. Lalu simbok menggeser dingkliknya, menghadap persis di depanku.
Aku terdiam sambil meneruskan makanku, dan aku mulai kehilangan selera untuk berdebat, adu argumentasi dengan simbok.

Le, kita ini sudah dapat jatah rejeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama; sabisane mungkin memberi kanggo liyan. Sugih itu keluasan atimu untuk memberi, bukan soal kumpulan banda brana. Nek nunggu bandamu mlumpuk lagek aweh, ndak kowe mengko rumongso isih duwe butuh terus, dadi ra tau iso aweh kanthi ihklas. Simbokmu iki sugih, le, mban dino duwe pangan turah-turah, dadi iso aweh, tur kudu aweh.”, katanya sambil sedikit berkhotbah gaya bahasa orang tua.

Lanjutnya, “Perkoro simbokmu iki ora duwe banda brana, iku dudu ukuran. Sing penting awake dewe iki ora kapiran, iso mangan, iso urip, iso ngibadah, kowe podo iso sekolah, podo dadi uwong.. opo ora hebat kuwi pinaringane Gusti Allah, ingatase simbokmu iki wong ora duwe tur ora sekolah?“, simbok tersenyum adem.

“Iyo, iyoooooh..”
“Kowe arep takon ngopo kok aku masak akeh mban dino?”
“He eh.”
“Ngene, Kir, mbiyen simbahmu putri yo mulang aku.”,

Kandane mbahmu, “Mut, nek masak ki diluwihi, ora ketang diakehi kuwahe opo segone. E…. mbok menowo ono tonggo kiwo tengen wengi-wengi ketamon dayoh, kedatangan tamu jauh, atau anaknya lapar malam-malam, kan paling ora ono sego karo duduh jangan..”.. ngono kuwi, le.

Dadi simbok ki dadi kulino seko cilik nyediani kendi neng paran omah kanggo wong-wong sing liwat, nek mangsak mesti akeh ndak ono tonggo teparo mbutuhke.
“Pancen niate wes ngono kuwi yo dadi ra tau jenenge panganan kebuang-buang… Paham?”

Aku diam.
Kucuci tanganku di air baskom bekas simbok mencuci sayuran.
Aku bangkit dari dingklikku di depan tungku, mengecup kening keriput simbokku, trus berlalu masuk kamar.

Ah, simbok.
Perempuan yang nggak pernah makan sekolahan dan menurutku miskin itu hanya belajar dari simboknya sendiri dan dari kehidupan, dan dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dengan caranya sendiri, aku menggerutu sendiri.

Sementara aku, manusia modern yang bangga belajar kapitalisme dengan segala hitung-hitungan untung rugi, selalu khawatir akan hidup kekurangan, lupa bahwa ada Tuhan yang menjamin hidup setiap mahluk yang bernyawa.

Simbokku benar,
sugih itu kemampuan hati untuk memberi kepada liyan,
bukan soal mengumpulkan untuk diri sendiri.


Kiriman LikKasjo
** redaksi berusaha menyajikan dalam terjemahan dalam bahasa Indonesia

Catatan Redaksi:
Bahasanya masih campuran, teks aslinya seperti itu, dan untuk terjemahan dari kosa kata tersebut akan kami sampaikan seperti dibawah ini.
Simbok = ibu
Mbok = panggilan singkat seperti bu
segitu = begitu
mbok yao = kalau bisa
anget = hangat
mbok ben ngirit = biar sedikit berhemat
anget = hangat
uyah = garam
jangan = sayur
hambok yo ben to = ya biarkan saja
opo iyo = apa ya
ndi jal = coba mana
barang = juga
ngeyel = berargumen
cah = anak
kok rak ngerti mbedakke = apa tidak paham membedakan
karo = dengan
kok saben dino = apa setiap hari
Koyo sing wes sugih-sugiho wae = seperti orang yang kaya raya saja
ki = itu
turah-turah = lebih lebih (berlebihan)
duwe = punya
opo-opo = barang-barang
ndadak = harus
takon = bertanya
mulo = oleh sebab itu
sugih = kaya
iso = dapat
aweh = memberi
dingklik = kursi kecil
persis = pas (tepat)

 

Iklan

One thought on “Simbok (Ibu), Cerpen”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.