Liberalisasi Demokrasi dan Nasib Transmigrasi di Indonesia

Kissparry kali ini menayangkan hasil diskusi online dari Rumah PATRI berkaitan dengan liberalisasi demokrasi dan nasib transmigrasi di Indonesia. Seperti kita tahu bahwa transmigrasi merupakan program pemerintah Indonesia, dan mungkin hanya satu-satunya negera di dunia yang melaksanakan program ini.

LIBERALISASI DEMOKRASI DAN NASIB TRANSMIGRASI

Sebelum memasuki era Reformasi, pemilihan eksekutif dan legislatif dilakukan secara demokrasi perwakilan. Untuk Kepala Daerah, anggota DPRD memilih satu dari beberapa calon yang diajukan partai.

Indonesia yang menjujung tinggi demokrasi bukan lagi mengacu pada demokrasi Pancasila, namun sudah mengarah kepada liberalisasi atau liberalisasi demokrasi.
Apa iya?

Melalui Rumah PATRI kami berdiskusi tentang demokrasi dan transmigrasi. Diskusi ini bukan tanpa sebab, hal itu berawal dari ramainya jagad media berbicang dan membicarakan tentang Pilkada DKI Jakarta, terutama putaran kedua.

Mungkinkah kita membicarakan tentang Demokrasi dan Nasib Transmigrasi? Mau tidak mau kita harus berpikir tentang masa depan negeri sendiri, ala bangsa sendiri. Kalau bukan kita siapa lagi.

Sekedar untuk merenungi apa yang lebih bermanfaat untuk negeri dan bangsa dalam Bhinneka Tunggal Ika yang ber-Pancasila.

Apa pula liberalisasi demokrasi itu? Kita menilik sekilas pengertiannya.

Pengertian

Demokrasi adalah bentuk pemerintahan di mana semua warga negaranya memiliki hak setara dalam pengambilan keputusan yang dapat mengubah hidup mereka. Demokrasi mengizinkan warga negara berpartisipasi—baik secara langsung atau melalui perwakilan—dalam perumusan, pengembangan, dan pembuatan hukum. (Wikipedia).

Demokrasi Pancasila adalah paham demokrasi yang bersumber dari kepribadian dan falsafah hidup bangsa Indonesia, yang perwujudannya seperti dalam ketentuan-ketentuan Pembukaan UUD 1945. (Prof. Dardji Darmo Diharjo – edukasinesia)

Liberalisasi, berbicara liberalisasi maka tidak lepas dari kata liberal yang berarti kebebasan dalam menyampaikan pendapat, bebas berpolitik, dan kesempatan yang luas untuk berkembang dan maju. (portalgaruda)

Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari pulau yang padat/ramai ke daerah/pulau yang masih sepi/penduduknya jarang. Merupakan program pemerintah Republik Indonesia untuk persebaran dan pemerataan penduduknya pada suatu wilayah/daerah, yang berawal pada tahun 1950.

Liberalisasi Demokrasi 

Sebelum memasuki era Reformasi, pemilihan eksekutif dan legislatif dilakukan secara demokrasi perwakilan. Untuk Kepala Daerah, anggota DPRD memilih satu dari beberapa calon yang diajukan partai.

Dibandingkan dengan pemilihan secara langsung ala demokrasi liberal, sistem perwakilan ini banyak dampak positifnya. Diantaranya: biaya sangat murah, hampir tidak ada gejolak sosial, amat jarang terjadi money politic, dan stabilitas keamanan lebih terjaga.

Mungkin bagi penganut demokrasi liberal, cara ini dianggap kurang mewakili aspirasi masyarakat. Tetapi, jika kita mengacu kepada Sila ke 4 Pancasila; “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan“, sistem pemilu demokrasi liberal ini berseberangan. Boleh dikatakan, sistem pemilu yang dianut saat ini, merupakan suatu sistem demokrasi yang sangat memiskinkan.

Bagaimana tidak? Hanya borjuis saja yang berani bilang demokrasi dan berani berperan didalamnya, sementara yang lain hanya diam membisu. Tanpa uang, itu mana mungkin? Berapa orang yang menjadi korban demokrasi liberal, betul-betul melarat ketika semua modal telah habis terjual, untuk berjuang menegakkan demokrasi. Itu artinya memang demokrasi itu butuh dana besar, dan kalau begini maka para konglomerat itulah yang akan menguasai negeri ini.

Yang paling bahaya adalah memiskinkan ideologi tentang Pancasila dan NKRI, mengapa? Mungkin Anda bisa menjawab sendiri, namun setidaknya dengan politik biaya super tinggi itu, akhirnya sangat mungkin menghalalkan segala cara untuk menempuhnya atau melakoninya. Istilah kata menghalalkan itu berarti sebenarnya sesuatu itu tidak halal (tidak boleh) tetapi dibuat halal (boleh). Kalau sudah begini maka kehancuran siap dihadapan kita.

Apa dampaknya bagi Transmigrasi?

Sungguh luar biasa kontra produktif. Karena untuk berkuasa memerlukan biaya sangat besar, maka para calon kepala daerah berlomba-lomba mencari sponsor. Pada umumnya sponsor membidik daerah yang masih banyak deposit bahan tambang, dan tanah-tanah luas untuk perkebunan. Sehingga, daripada tanah diberikan kepada calon transmigran yang sebagian besar orang tidak mampu, lebih “untung” diberikan kepada perusahaan.

Hal ini banyak dirasakan di lapangan. Ketika negara memerlukan lahan untuk transmigrasi, biasanya dijawab sudah habis. Sebaliknya, ketika pengusaha datang perlu lahan Hak Guna Usaha (HGU) perkebunan, ternyata masih banyak. Bahkan lahan yang dahulu sudah diserahkan dan dicadangkan melalui SK Kepala Daerah untuk kawasan transmigrasi, direvisi berulang kali. Hingga luasannya makin habis.

Semuanya itu, lagi-lagi karena didesak kebutuhan biaya Pilkada yang super mahal. Karena itu, kita tidak boleh pasrah dengan skenario gila ini. Kita harus segera menyudahi sistem pemilihan yang rakus dan menguras habis-habisan potensi negeri ini. Atau kita rela terpasung utang, rentan diadu domba, dan akhirnya negeri ini mudah dipecah belah. Tammat NKRI. Astaghfirullah.

Akankah Kembali Demokrasi Pancasila?

Kader PATRI yang bakat berpolitik, teguhkan hatimu menggalang opini dan potensi untuk merevisi sistem yang kian memiskinkan ini. Tapi Saya juga wanti-wanti. Jangan sampai, setelah masuk sistem malah lupa diri.

Realitanya yang terjadi kita lagi menjalankan demokrasi liberal bukan demokrasi pancasila bila terus dibiarkan seperti ini akan menghancurkan sel-sel ekonomi masyarakat, contoh kecil saja lahan transmigrasi selalu bersengketa padahal dibanding dengan lahan perusahaan luasnya sangat jauh berbeda, sedangkan lahan milik perusahaan-perusahaan besar nyaman dan aman ini juga saya kira tidak lepas dari dampak Pilkada yang menggaet sponsor, sehingga transmigran benar-benar termarjinalkan karena sistim politik yang salah kaprah, ayo kembalikan demokrasi pancasila, agar rakyat sejahtera, tidak menjadi objek perpolitikan.

Wahai warga PATRI jangan mau kalah dengan orang liberal atau borjuis.. kita ini ibarat lidi.. sungguh ini ibarat lidi yang tersebar di berbagai wilayah

Tapi power kita pun tak mampu berdaya, kenapa?

Ya karena kita masih berserakan dan sebagian lidi itu telah dirubah menjadi tongkat-kecil kecil oleh kalangan borjuis sehingga mereka lupa akan lidinya terdahulu. Bahkan menjadikan lidi itu sebagai yang harus mereka hancurkan.
Jadi, ini lah kelemahan kita terpecah oleh kalangan itu. Tidak jarang anak-anak transmigran kalah dalam pesta politik karena lidi tersebut tak menyatu. Bahkan ada yang tega menghancurkan kawan lidinya sendiri.

Sadarkah kita bahwa PATRI merupakan power politik?

PATRI memang bukanlah partai, tapi PATRI adalah gelang pengkikat sejumlah lidi yang dihimpun untuk bersatu berdaya guna.
Semua bersumber dari lemahnya persatuan, mari merapatkan perserikatan, sebagai modal bersaing dengan kalangan bermodal/kapitalis.

Apa itu tidak memungkin?

Kita tersadar dari keluhan kita, untuk membenahi kelemahan kita, Sehingga mewujudkan sesuatu yang besar, memang butuh proses dan perjuangan.

Doa-kan kami, mengawali dari yang generasi muda PATRI perlahan menghimpun kekuatan dengan para calon sarjana anak transmigrasi kemudian merambah ke pemuda transmigran, yang tergabung didalam PMAT, dengan harapan kelak bersama PATRI kami berkarya. Walaupun tak semudah membalik telapak tangan.

Mengapa Pilkada DKI Jakarta Menjadi Sorotan Dunia?

Pilkada DKI Jakarta Putaran kedua, menjadi viral di media sosial dan media pemberitaan lain, termasuk Rumah Patri. Hampir seluruh elemen masyarakat ikut membicarakannya. Sebelum dan sesudah cobolosan, sangat ramai membicarakan Pilkada itu. Ternyata magnet Jakarta masih sangat kuat.

Banyak tulisan di media sosial, yang sangat beragam dari candaan hingga cemoohan, diantaranya seperti dibawah ini.

“Ternyata Paslon 2 maupun Paslon 3 tidak akan pernah terpilih menjadi Gubernur DKI. Ketua KPU Drs. Sumarno, M.Si dengan tegas menyatakan bahwa siapapun yg jadi Gubernur DKI, harus Legowo. Sekali lagi.!! Bukan Paslon No. 2 atau Paslon No. 3, tapi LEGOWO…!!!”
Jika tidak cermat dalam membaca tulisan diatas, akan menjadi bingung.

“Sampai jam 11.28 perhitungan cepat pilkada DKI ulang versi kissparry adalah : Paslon No. 2 = 0%, dan Paslon No. 3 = 0%, Masih sama-sama kuat.”
Jelas saja sama kuat, karena jam 11.28 waktunya pemungutan suara, kotak suara baru akan dibuka pada pukul 13.00, he he….

Diskusi bertambah menarik setelah, salah satu warga group Rumah Patri menyampaikan pendapat, “Ini grup kok rame bahas Pilkada DKI, SARA dan lain-lain sich… Dimana sich letak netralitas yang jadi visi PATRI…!!!”.

Fenomena

Dari sisi kualitas demokrasi, Pilkada DKI Jakarta tersebut gagal menjadi teladan bagi daerah lain. Pilkada seharusnya menjadi ajang kompetisi politik yang fair, bukan medan agitas politik yang penuh rekayasa, kampanye hitam, dan deskriminasi perlakuan. Dampak Pilkada akan menjadi penghambat rekonsiliasi warga Ibu Kota.

Adalah pelajaran penting dari Pilkada DKI Jakarta 2012 dan 2017, yaitu calon yang diusung oleh mayoritas partai, kalah dengan calon yang didukung oleh sedikit partai. Jangan terlalu percaya diri untuk menang meski memiliki segalanya. Manusia hanya berusaha, Tuhan yang menentukan ending-nya.

Apakah ini fonomena alam, apakah ini ulah ihktiar anak mamusia, karena apa yang terjadi di muka bumi ini adalah akibat dari dua hal. Perubahan fenomena alam dapat terjadi karena kehendak Allah, karena Allah bersifat rahman rohim, dan perubahan fenomena alam ini akibat ulah anak mausia, dari betuk-bentuk ihktiarnya, ini contoh ulah manusia dari karya temuan ilmiah sebagai bentuk keberhasilan ihktiarnya. Listrik, bom, mesin, elektronik, perangkat lunak, satelit, robot, kimia, toleskop, signal, dan kedokteran, merupakan contohnya.

Apakah ini semua sudah mampu merubah keadaan fenomena alam atau dunia. Sebenarnya Allah suka terhadap orang-orang yang berakal.

Warga PATRI jangan tersulut perang kata-kata pendukung utama Cagub-Cawagub DKI Jakarta, ‘mungkinkah ada diantara kita terlibat didalamnya’. Untuk itulah Rumah PATRI kali ini mengadakan diskusi terbuka secara online, ini merupakan upaya PATRI dalam rangka rekonsiliasi terbatas, agar perang dingin warga DKI segera terobati, terutama warga PATRI di DKI Jakarta.

Ayo Bangkit untuk NKRI

PATRI berjuang mengangkat harkat dan martabat kita. Kita harus bangkit ekonomi, bangkit politik, bangkit segala sisi, bagaimana kita bisa berbuat sama dunia jika bangsa kita saja masih di injak-injak harga dirinya. Mereka masih saling bertikai untuk sesuap nasi, sayang-nya sesuap nasi itu kebanyakan disuguhkan pihak asing.

Satu kasus saya sampaikan, mahasiswa anak trans di UIN Raden Patah Palembang untuk asrama mereka, kami harus ngontrak Ruko, sehingga perlu perhatian.

PATRI harus menjaga keutuhan NKRI kita tercinta, karena leluhur kita sudah susah payah demi mewariskan kemerdekaan untuk kita semua. Mari kita sama-sama menjaga keutuhannya yang nampaknya sudah mulai memudar ini, sehingga para investor asing mau berinvestasi di negara kita.

Pilkada langsung maupun tidak langsung, pastilah bukan penyebab perpecahan. Permusuhan sesama warga negara pasti akibat kebodohan.‬‬

PATRI, berhipun dari berbeda suku, bahasa, ras, agama dan pilihan tapi tetap jua yakni Indonesia‬‬.

Dalam hal tidak ada yang salah, tinggal bagaimana kita dalam menyikapinya, dalam memilih dan memilah, karena kita sangat memerlukan berbagai informasi, seperti, politik, sosial budaya, hukum, agama, ras, ilmiah, adat istiadat, kabar berita, dan lain sebagainya.

Kita bisa dewasa itu dari perbedaan tersebut‬‬. Asal jangan menganggap paling benar, paling pintar, paling hebat dll.

Kita harus berbagi, saling mengingatkan, jika berbeda arah pemirikan hal yang wajar. Apa arti sebuah persaudaraan jika ada yang mengingatkan pada suatu hal yang berbeda harus sikapi dengan pikiran yang dingin.

Agar kita terhindar dari perpecahan sikapilah apapun tulisan dari saudara kita, jadikanlah informasi dan bacaan saja bila tidak sepakat, agar tidak meninggalkan nilai kepatrian.

Tapi jika memang ada sudut pandang berbeda kemudian diarahkan untuk satu langkah dengan kepentingan bersama kenapa tidak. Dalam berdiskusi harus menjunjung tinggi nilai kekeluargaan.

Guyup Rukun di Rumah PATRI 

Mengapa PATRI menggunakan RUMAH TRANSMIGRAN sebagai simbol organisasinya? Saya yakin, dari simbol rumah dapat diungkapkan berbagai makna. Beberapa waktu yang lalu saya pernah menjelaskan makna rumah transmigran itu. Saya ingin menambahkan lagi makna rumah transmigran dari sudut berbeda.

Setelah duabelas tahun berjalan, PATRI ternyata mempunyai kekayaan yang mencengangkan. Kekayaan itu berupa modal personal dan modal sosial potensial. Tiap waktu kekayaan itu terus bertambah banyak dan beraneka ragam.

Seperti sering disebut, saat ini anak keturunan transmigran telah banyak yang menjadi “orang” sukses. Mereka juga datang dari aneka latar belakang profesi dan organisasi. Ada aktivis NGO, Koperasi, pegiat anti narkoba, profesor, seniman, jurnalis, wiraswasta, guru, pengacara, tentara, polisi, politikus, petani, dalang, pegawai negeri, dokter, ulama, pejabat negara, penulis, pembekam, dan masih banyak lagi. Kadang heran juga. Walaupun beraneka ragam latar belakang, tetapi kita bisa guyup rukun. Allah Akbar.

Saya mengibaratkan, PATRI sebagai bangunan rumah. Untuk bisa kokoh berdiri, rumah justru dibangun dengan bermacam ragam unsur berbeda. Ada yang bernama fondasi, dinding, tiang, plafon, pintu, dan jendela. Ada jenis bahan bangunan berupa pasir, batu kali, semen, paku, kayu, dan lainnya. Semua beragam unsur dan bahan itu merasa SENASIB SEPENANGGUNGAN berhimpun, sehingga tercipta bangunan RUMAH PATRI yang kuat.

Apa tidak ada masalah? Oo…Tidak mungkin. Saudara yang satu perut ibu saja kadang bertengkar, apa lagi yang lahir dari jutaan perut ibu berbeda. Misalnya, ada aktivis tertentu merasa paling utama dibagian rumah itu.

Ketika salah satu unsur menganggap dirinya paling berguna, maka segera ada unsur lain yang menolaknya. Semuanya ingin dihargai dan dianggap berguna.

Ini seperti paku. Walaupun kecil dan murah, dia tidak mau diremehkan oleh semen atau kayu. Maknanya, semua kader disini harus bisa mengendalikan dirinya, untuk saling mengerti. Karena di atas langit masih ada langit.

Saya yakin, sejalan dengan bertambahnya usia rumah ini, diharapkan Warga rumah ini semuanya bisa kian bijaksana. Bisa mengendalikan perasaan, sikap, dan ucapan yang dapat menyakiti penghuni lainnya.

Anak transmigrasi memang harus bangkit, paradigma harus dirubah kearah positif.
Ki Hadjar Dewantara sudah memberikan paparan upaya untuk bersatu saling asah, asih, dan asuh. Tanpa pebedaan dari semua segi. Agar tidak mudah terpecah belah.

Memahami argumen, tujuan dan perjuangan‬‬ sungguh menarik memang di setiap grup WA pasti memiliki karakter dan ciri khas masing-masing yang disesuaikan dengan tujuan grup WA itu di buat. Dari grup angkatan anak SD, anak pejabat, alumni kuli bangunan sampai dengan komunitas intelektual. Perdebatan selalu ada tapi biasanya tidak jauh dari tujuan grup itu dibuat atau kurang lebih sekedar pendalaman pemahaman konsep dari tujuan grup atau komunitas itu sendiri.

Ego untuk mempertahankan pendapat sama memperjuangkan argumen, biasanya yang sering akan dianggap menjadi masalah besar bagi mereka, karena kita sering lupa “setiap perdebatan tidak semuanya berakhir dengan kemenangan, maka belajarlah untuk mengalah” dan perlu digarisbawahi itu semua berlaku jikalau anggota didalamnya dari latarbelakang yang sama baik secara suku, agama, etnis, hobi dan satu perjuangan atau lebih tepatnya tidak ada yang harus merasa dikorbankan dan mengorbankan. Tidak ada yang merasa jadi mayoritas dan minoritas.

Jadi jika ada anggota yang membahas diluar konteks dari tujuan group itu dibuat, tentu akan “malu hati” kalau istilah orang timur bilang.

Tentu akan sangat berbeda masalah yang akan dihadapi, jika grup itu dibuat hanya dilandaskan “senasib sepenanggungan”, hanya ikatan emosional (permasalahan akan lebih kompleks). Latar belakang yang berbeda-beda baik secara suku, ras, agama dan etnis. Belum lagi dengan tingkatan pendidikan dari pendidikan SD sampai yang bergelar Prof, Dr, dan Master di tambah lagi basic pendidikan yang berbeda dari eksakta sampai sosial, yang tentunya akan mempengaruhi cara pandang dalam menyikapi setiap masalah.

Yang jadi pertanyaan.?? Ketika saudara-saudaraku di ajak bergabung dengan grup yang didalamnya beraneka ragam segalanya itu, sudah paham belum tujuan dari grup yang saudara-saudaraku ikuti.? Dan sudah paham belum apa yang perlu disampaikan dan informasikan.? Sudah paham belum didalamnya ada siapa saja.? Atau hanya sekedar memenuhi rasa gak nyaman dengan seseorang yang sudah mengajak.? Dilema.!!

Terkait masalah debat dan beda pendapat itu sudah sangat wajar dan sangat di butuhkan dalam setiap mengurai masalah. Namun apakah perlu harus mencederai atau menyudutkan anggota yang lainnya dengan konteks yang menurut saya sudah jauh diluar tujuan awal grup rumah PATRI dibuat, karena cara mengajak itu tidak harus membandingkan atau mengorbankan suku, ras, dan agama serta etnis orang lain tapi cukup memberi gambaran tentang bagaimana caranya untuk mampu mandiri ekonomi seperti yang sudah di contohkan Bu Sri “melalui biogas dan wirausaha lainnya”.

Memberi informasi itu bukan menyebarkan berita yang bernada sinis dan saling membenarkan (cukup yang memotivasi dan membangun).

Akhirnya

Luar biasa grup RUMAH PATRI hari ini. Dalam rangka turut mengawal dan menyukseskan PILGUB DKI Jakarta, telah dilakukan DISKUSI kader antar provinsi secara ONLINE. Semoga banyak pelajaran penting yang dapat dipetik dari diskusi hari ini.

Bagi yang tidak biasa, monggo (mari) ditenangkan sejenak. Lupakan. Jangan sampai kena efek:

E=mc2
Endhasku=mumet.cekot.cekot

Ketika orang lain ramai-ramai menyalakan orang lain saya selalu berusaha menyalahkan diri sendiri.

Ibarat “kenapa saya harus membunuh 100 orang yang sudah membodohi saya, sedangkan saya pasti akan dibodohi lagi oleh orang yang ke 101 karena memang saya bodoh dan layak di bodohi”.
Yang jadi pertanyaan, sebenarnya salah siapa orang yang membodohi saya atau saya yang bodoh dan tidak mau belajar sehingga selalu dibodohi.

Mungkin kita sering baca terkait kisah didirikan nya tembok Cina. ” Tujuannya untuk menangkis serangan musuh dari luar. Tapi yang perlu digaris bawahi dari kisah itu selama berdirinya tembok besar cina, beberapa kali terjadi serangan yang berhasil masuk ke istana, tidak sedikitpun harus merusak bangunan itu” yang jadi pertanyaan, apa permasalahannya.?? MENTAL.?!
Ya mental dulu yang harus dibangun.

Dan ada apa dengan mental bangsa kita pada hari ini, bangsa yang dulu dengan Gagah perkasa ditakuti dan disegani bangsa lain dan mampu menaklukkan bangsa-bangsa dengan wadah Nusantara. Mana kejayaan Majapahit, Sriwijaya, Kutai Kertanegara, Tidore dan kerajaan-kerajaan lainnya, yang dengan percaya diri tinggi mengibarkan bendera kedaulatan. Bukan bangsa yang sekarang, Bangsa yang cengeng, Bangsa yang hanya bisa menyalahkan tidak bisa mengoreksi diri, Bangsa yang ingin sebuah perubahan tapi berharap perubahan itu datang dari orang lain, tidak mau di mulai dari diri sendiri, Bangsa yang malu dengan simbol, budaya dan karakter bangsa sendiri.

Ayo saling mengingatkan, mulai perubahan dari diri sendiri, selalu koreksi diri dan kurangi menyalahkan orang lain.

Sekian

Diskusi Rumah Patri
Narasumber : Hasprabu.
Edisi : 19 April 2017
Dirangkum oleh : Sunaryo, SE., M. Si.

Kontributor Diskusi
1. Hasprabu
2. Suripno Sumas
3. B. Utomo
4. Sunaryo
5. Andi zulfikar
6. Iwan Iskandar
7. Rahmat Hidayatullah
8. Az Santoso
9. A. Bambang
10. Isti KTT
11. Farida
12. Joko Perwanto
13. A. Karto
14. Asat Aman
15. Rahima Sahidwa

Kissparry (WN)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s