Meraih Restu Orang Tua dalam Pernikahan Kita

Menikah adalah sunnah Rasul. Menikah adalah ibadah dalam kehidupan. Dalam pernikahan ada banyak kebaikan. Selayaknya ibadah dan kebaikan lainnya, kita diperintahkan untuk menyegerakannya. Bahkan ada sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan orang tua untuk segera menikahkan anaknya jika sudah mampu dan ada lelaki sepadan yang meminangnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Namun dalam hal menyegerakan, jangan sampai diri kita melanggar rambu-rambu syar’i yang telah Allah tetapkan dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan. Jangan pula kita tidak mengindahkan hal-hal yang bisa mendatangkan keberkahan. Salah satu rambu syar’i dalam pernikahan adalah adanya restu orang tua (dalam hal ini ayah) bagi seorang muslimah. Dan dalam hal keberkahan, restu orang tua menjadi salah satu hal utama yang harus ada.

kang sugeng
Mantenan – Adat Jawa (Saudara dari KissParry di Solo)

Sahabat, fokuslah untuk mendapat restu orang tua.

Karena, “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua”. (HR Tirmidzi)

“Ada tiga do’a yang akan dikabulkan Allah tanpa di ragukan lagi, yaitu do’a orang yang dizalimi, do’a kedua orang tua, dan do’a seorang musafir (yang berpergian untuk maksud dan tujuan baik).” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Perhatikan sahabat, itulah tiga jenis do’a yang tanpa di ragukan lagi akan dikabulkan Allah. Pertanyaannya, sudahkah kita dengan serius meminta restu untuk menyegerakan menikah dan meminta dido’akan oleh orang tua kita?

Bukankah kedua orang tualah yang paling tulus, murni, tanpa pamrih dalam memberikan sesuatu dan menginginkan kebaikan bagi kita, anaknya. Termasuk do’a. Siapa yang paling ingin dan paling tulus do’anya untuk kebaikan anaknya selain orang tua?

Sahabat, sebelum melangkah untuk menikah. Pastikan bahwa orang tua telah memberikan restu untuk dirimu, dan bila sudah mendapat restu maka segera menikah. Engkau yang sedari kecil dilahirkan, dirawat, diasuh, dididik, dibesarkan kedua orang tuamu, sampai engkau besar, pintar, mandiri, mengerti ilmu agama, bahkan sudah siap untuk menikah seperti sekarang ini.

Tak mungkin engkau tega mengecilkan peran mereka dalam proses menuju pernikahan yang sangat penting dalam hidupmu. Tak mungkin engkau ingin melakukannya tanpa meminta restu beliau berdua. Tak mungkin engkau ingin menjalaninya tanpa melibatkan dan memohon nasihat dari kedua orang tua.

Pernikahan adalah ibadah besar yang akan berlangsung mulai akad nikah, dan insyaa Allah sampai sepanjang kehidupan kita. Kebaikan dan keberkahan kita usahakan dari awal prosesnya, dan salah satu yang utama adalah restu dan ridha orangtua.

images
Sungkeman

Beberapa Kiat Mengupayakan Restu Orang Tua

Sahabat, berikut saya coba sampaikan beberapa kiat dalam berusaha mendapatkan restu orang tua dalam proses menuju pernikahan penuh keberkahan.

– Minta restu orang tua dahulu, sebelum mencari calon pasangan.

Restu orang tua untukmu menikah adalah yang utama. Sebaiknya mengupayakan restu sebelum mencari calon pasangan. In syaa Allah dengan mengupayakan restu dan mengkomunikasikan rencanamu untuk menikah sebelum mencari calon pasangan, akan memperkecil terhambatnya restu.

– Lakukan jauh-jauh hari.

Jika kamu sudah punya rencana untuk menikah dan kemantapan hati untuk menikah, maka sampaikanlah rencanamu ini sedini mungkin. Bahkan boleh beberapa tahun sebelumnya. Karena, bisa jadi orang tuamu (seperti umumnya orang tua) terkadang masih memandang dirimu sebagai anak kecil kesayangan mereka yang belum siap menikah. Tidak ada salahnya mewacanakan hal ini jauh-jauh hari sebelum proses menjemput jodohmu.

Misal kamu sekarang masih kuliah semester 5, sampaikan bahwa sehabis kuliah kamu ingin menikah. Jangan meminta restu begini, saat ditanya, “Kapan mau nikahnya?”, kamu jawab dengan enteng, “Besok sore mah pah”. Orang tua bisa pingsan Hehehe .
Dengan jauh-jauh hari kamu juga ada masukan apa saja hal-hal yang penting untuk kamu penuhi agar orang tua merestui, dan kamu punya waktu cukup untuk melengkapinya.

– Jelaskan alasan-alasan yang membuatmu bertekad segera menikah.

Kamu yang sudah bertekad dan berencana segera menikah, sampaikanlah keutamaan-keutamaan menyegerakan pernikahan bagi yang sudah mampu melaksanakan. Namun ingat, mengkomunikasikan alasan-alasan untuk segera menikah ini jangan dilakukan dengan sok dewasa dan menggurui.

Hadits ini saya tampilkan lagi, karena bisa kamu sampaikan kepada orang tua. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Ali Ra: “Hai Ali, ada tiga perkara yang janganlah kamu tunda-tunda pelaksanaannya, yaitu shalat apabila tiba waktunya, jenazah bila sudah siap penguburannya, dan wanita (gadis atau janda) bila menemukan laki-laki sepadan yang meminangnya.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Jelaskan juga karakter calon yang akan engkau cari sebagai pendamping hidupmu: baik agamanya, mulia akhlaknya, bertanggung jawab, mempunyai kebiasaan dan aktivitas positif, baik kelurganya, dan lainnya.

– Menanyakan Harapan Akan Calon Menantu

Saat menyampaikan niatmu untuk segera menikah dan meminta restu kedua orang tuamu, kamu bisa bertanya kepada keduanya tentang harapan akan calon menantunya.
Komunikasikan dengan jelas bahwa kamu meminta masukan-masukan mereka akan calon pasanganmu. Selama masukannya tidak bertentangan dengan ajaran Islam, upayakan sepakati dan jadikan pertimbangan dalam mencari pasangan. Hal ini in syaa Allah akan memperkuat kekokohan rumah tanggamu kelak.

– Jelaskan kerugian-kerugian yang bisa timbul jika menunda menikah.

Jelaskan dengan baik dari sisi agama maupun tantangan lingkungan zaman ini, kerugian jika menunda menikah.
Dari sisi agama, kembali dengan penuh kelembutan sampaikan keutamaan menyegerakan menikah jika sudah mampu.

Sampaikan juga tentang beratnya perjuanganmu menjaga diri di zaman penuh fitnah ini. Barangkali beberapa orangtua belum benar-benar sadar bagaimana kondisi di lingkungan anak muda yang sangat mungkin mengotori hati putra-putrinya. Aurat hampir setiap saat tersingkap di mana-mana. Bacaan, suara, tontonan yang penuh dengan godaan syahwat bertebaran hampir di semua tempat. Di rumah-rumah, di sekolah dan tempat kuliah, di tempat kerja dan di jalanan. Belum lagi banyaknya godaan dari gadis dan pemuda lain dengan rayuan dan ucapan yang mengotori namun di bungkus dengan indah.

Hendaklah jujur menyampaikan kondisi ini, kegelisahan ini. Kita menginginkan menikah in syaa Allah karena sudah mampu dan kita ingin segera segera membentengi diri. Kita ingin menjaga kehormatan diri dan kehormatan keluarga.

– Jajaki hal-hal yang menjadi hambatan orang tua merestui.

Ada orang tua yang belum merestui karena menganggap sang anak belum mampu mandiri secara ekonomi. Ada orang tua yang berat karena merasa kasihan pada anak yang lebih tua yang belum menikah dan “dilangkahi” adiknya. Adapula yang berpendapat bahwa pernikahan itu tidak perlu cepat-cepat. Dilain tempat, ada orang tua yang merasa khawatir dengan pasangan anaknya nanti, apakah sholeh atau tidak, berakhlak baik atau tidak, bisa membahagiakan atau tidak, dan lainnya.

Cari tahu dengan jelas. Orang tua pasti punya alasan, dan alasan itu tentu karena sayangnya mereka pada anaknya. Jika alasannya tidak melanggar agama dan bisa kamu penuhi, maka fokuslah untuk bisa memenuhinya dengan segera.

– Doa dengan sungguh kepada Allah.

Jika benar sungguh ingin memohon pertolonganNya, maka berdoalah dengan tulus dan khusyu. Diwaktu terbaik. Tahajudlah. Di waktu terbaik ini, kamu khusyu berdoa kepada Allah agar diberikan jalan keluar.

– Perbanyak Istighfar.

”Barangsiapa yang senantiasa istighfar, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan,kelapangan dari setiap kesedihan dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. (HR Abu Dawud).

– Tunjukkan Perbaikan dan Kesiapan.

Hal paling besar yang melatarbelakangi orang tua tak kunjung mengizinkan adalah rasa sayang kepada anak. Khawatir kalau anaknya akan kesulitan untuk mandiri dan apalagi menafkahi. Khawatir jika putrinya nanti akan kesulitan dan berat jika harus dipimpin oleh orang lain yang pasti tak bisa menyayangi seperti mereka. Dan banyak kekhawatiran lainnya.

Karenanya, kamu hendaknya menunjukkan kepada orang tua mu bahwa kamu sudah layak menikah. Sudah mampu. Bukan lagi anak kecil yang manja. Bukan sekedar anak yang meminta uang terus-terusan kepada orang tua. Bukan lagi gadis yang jika ada masalah langsung galau, sedih dan merengek-rengek membuat susah hati mereka. Bukan….kamu akan menunjukkan kamu bukan seperti itu. Kamu akan tunjukkan bahwa kamu mampu, mandiri bahkan berprestasi.

Jika kaitannya dengan kemandirian. Sampaikan kondisimu yang sudah punya mata pencarian dan usahamu menabung untuk persiapan pernikahan. Sampaikan pula langkah-langkahmu ke depan dalam memenuhi kebutuhan dasar saat sudah menikah, juga rencana-rencana lanjutannya. Jika perlu, libatkan kedua orang tua untuk memberi masukan dan tentu saja doa agar rencana-rencana itu Allah berikan kemudahan.

Tunjukkan usaha keras untuk memperbaiki diri. Tunjukkan kedewasaan, kemandirian dan tanggungjawab di depan orang tua, in syaa Allah orang tuan akan luluh hatinya dengan kegigihanmu.

– Meminta Bantuan Kepada Seseorang Yang Didengarkan atau Dituakan Orang Tua.

Terkadang ada orang tua yang pola komunikasi dengan anaknya atau juga karakternya yang agak sulit jika perkara restu ini disampaikan langsung oleh anaknya. Bisa jadi bila menemui karakter orang tua yang seperti ini, bisa saja kamu meminta tolong kepada sosok-sosok yang dekat dan didengarkan nasehatnya oleh orang tua. Sosok itu bisa jadi kakek, nenek, uwak, om, tante. Bisa pula ustadz atau ustadzah tempat orang tua banyak belajar agama. Atau bahkan ke sahabat karib orang tua yang beliau percaya.

Yem Parmo
Pernikahan Saudara dari KissParry di Jakarta

Materinya diambil dari buku terbaru : Aku Tersentuh Cinta
By Ustadz Arif Rahman Lubis, ST

FKDI GRUP KAJIAN UMUM & PARENTING ISLAMIYAH

Edisi : Ahad, 9 Juli 2017
Pemateri : Ustadz Arif Rahman Lubis, ST
Editor : LikKasjo Kissparry

Ilustrasi dari Google dan dokumen pribadi
Artikel telah diterbitkan di fkdi-indonesia.com dengan penyesuaian bahasa

[LikKasjo juga Editor web fkdi-indonesia.com]

Iklan

One thought on “Meraih Restu Orang Tua dalam Pernikahan Kita”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.