2. Ganyong

Tanaman Ganyong atau Ganyong (Canna edulis KERR) adalah tanaman ubi-ubian yang  dapat dimakan dan kebanyakan digunakan sebagai makanan cadangan. Dikutip dari bbpp-lembang.info.

Nama lainnya adalah Canna. Queensland arrow root, Indian shot (Inggris). Ganyong (Jawa, Sunda), buah Tasbeh (Jawa), ubi pikul (Sumatera), daun tasbeh, ganyong, pisang sebiak (Malaysia).

Sampai saat ini, tanaman ganyong belum diusahakan secara serius dan intensif, tetapi memberikan harapan untuk menunjang program diversifikasi pangan dan gizi, memanfaatkan lahan kosong dan meningkatkan ketahanan pangan.

Ganyong, garut, kimpul, dan kentang klici

Ganyong menghasilkan ubi yang dapat dimakan mentah atau masak, baik setelah direbus atau diolah menjadi
Tepung ganyong dapat dibuat dengan cara membuat pati yang berasal dari umbinya.

Caranya yaitu bersihkan kulit ganyong dengan cara mencuci bersih atau mengupasnya, kemudian parut dan peras airnya dengan menggunakan saringan, air saringan diendapkan sampai endapan dan airnya terpisah, setelah itu endapannya baru dijemur di bawah sinar matahari sampai kering, bila ingin baik hasilnya lakukan penggilingan dan siap untuk digunakan.

Tanaman Ganyong

Di pedesaan banyak dijumpai tanaman Ganyong yang ditanam dipekarangan sekitar rumah, bahkan saat ini sudah mulai dibudidayakan.

tanaman Ganyong (sumber: ilmudasar.ID)

Pati ganyong ini dapat digunakan dalam pembuatan berbagai jenis makanan, soun, lem, dll.

Kegunaan lainnya adalah :
(a) tanaman muda dimakan sebagai sayuran hijau;
(b) daunnya digunakan pembungkus atau alas makan;
(c) daun dan umbinya bisa digunakan sebagai pakan ternak (sapi);
(d) tanaman dan bunganya dapat dijadikan sebagai tanaman hias;
(e) bijinya yang hitam dan berkulit keras digunakan sebagai kalung atau tasbeh; dan
(f) sebagai tanaman obat.

Di Vietnam, patinya dijadikan bahan baku pengganti kacang hijau dalam pembuatan mie bening (soun) berkualitas tinggi.

Di Jawa, biji ganyol dihancurkan dan digunakan sebagai luluran untuk menghilangkan sakit kepala. Sari umbi hasil ekstraksi digunakan untuk mengobati diare.

Bubur umbi yang dididihkan digunakan sebagai obat penyakit kulit tropis di Kamboja.

Di Hongkong umbi yang telah hancur dididihkan digunakan untuk mengobati hepatitis akut. Di Indo China umbi sebar yag dihancurkan digunakan untuk mengobati trauma.

Di Filipina, umbi yang telah dihancurkan, direndam dan dihancurkan, direndam dan dilembutkan dalam air digunakan untuk menghilangkan mimisan.

3. Garut

Garut, ararut atau irut adalah sejenis tumbuhan berbentuk terna yang menghasilkan umbi yang dapat dimakan. Garut tidak pernah menjadi sumber pangan pokok namun ia kerap ditanam di pekarangan di pedesaan sebagai cadangan pangan dalam musim paceklik. Dikutip dari wikipedia.

Tanaman garut (Maranta arundinacea L) dapat tumbuh maksimal di bawah lindungan pohon dengan kadar matahari minimum, sehingga tanaman ini potensial diusahakan di hutan rakyat, tanah pekarangan, maupun daerah-daerah penghijauan.

Tanaman ini mampu tumbuh pada tanah yang miskin kesuburannya, meskipun untuk produksi terbaik harus dipupuk. Tanaman ini tidak membutuhkan perawatan yang khusus serta hama dan penyakitnya relatif sedikit.

Umbinya mulai dapat dimakan saat umur tanaman 3-4 bulan.

Tanaman Garut

Tanaman Umbi Garut (sumber Eka Farm)
Umbi Garut (doc. BBPPL Lembang)

Tanaman garut banyak dikenal di seluruh Indonesia dengan beberapa nama lokal seperti lerut (Pekalongan), angkrik (Betawi), patat (Sunda), sagu (Ciamis dan Tasikmalaya), tarigu (Banten), sagu Belanda (Padang, Ambon dan Aceh) atau larut, pirut, kirut (Jawa Timur).

Tepung pati garut dapat digunakan sebagai alternatif untuk pengganti atau substitusi tepung terigu sebagai bahan baku pembuatan kue, mie, roti kering, bubur bayi, makanan diet pengganti nasi, disamping digunakan di industri kimia, kosmetik, pupuk, gula cair dan obat-obatan.

Umbi garut termasuk tanaman umbi-umbian yang mempunyai kandungan protein cukup tinggi. Umbi garut mempunyai kandungan protein 2-5%, pati 10-20%, lemak 0,1-0,3% dan serat 1-3%.

4. Kentang Kleci (Kentang Jawa)

Disini sengaja dipisahkan antara kentang dengan kentang klici, karena teksturnya yang berbeda, dan ini sesuai dengan gambar yang kami sertakan (kebetulan kentang hitam, kentang klici (kleci)).

Anda tentu pernah menjumpai kentang kleci. Kentang berkulit hitam sebesar ibu jari ini banyak ditemui di pasar-pasar tradisional. Dalam kehidupan kita, umbi kecil ini biasanya dikukus untuk dikonsumsi atau terkadang dicampur dalam sayuran. Rasa kentang hitam ini seperti juga kentang-kentang lainnya.

Namun, tahukah Anda kandungan yang ada di dalamnya? Bernama latin Coleus tuberosus, kentang kleci ternyata selain sebagai sumber karbohidrat, juga mengandung senyawa-senyawa antioksidan dan antiproliferasi (antiperbanyakan sel kanker) golongan triterpenic acid.

Kentang hitam (kentang klici) – doc.satuharapan

Tanaman Kentang Klici

5. Talas

Tanaman talas hampir mirip dengan kimpul dan beberapa jenis lainnya. Talas (C. esculenta (L. Schott) di beberapa negara dikenal dengan nama lain yakni Abalong (Philipina),Taioba (Brazil), Arvi (India), Keladi (Malaya), Satoimo (Japan), Tayoba (Spanyol) dan Yu-tao (China).

Di Indonesia talas bisa di jumpai hampir di seluruh kepulauan dan tersebar dari tepi pantai sampai pegunungan diatas 1000 m dpl., baik liar maupun di tanam.

Ada beberapa jenis talas yang dikenal di Indonesia yaitu Kimpul, Mentega, Sutera, dan Ketan. Kimpul memiliki ukuran yang lebih kecil, sedangkan yang lain berukuran lebih besar bonggolnya.

Talas Sutera memiliki daun yang berwarna hijau muda dan dan berbulu halus seperti Sutera. Di panen pada umur 5-6 bulan. Umbinya kecoklatan yang dapat berukuran sedang sampai besar.
Talas Ketan warna pelepahnya hijau tua kemerahan. Di Bogor dikenal pula jenis talas yang disebut talas Mentega (talas Gambir atau talas Hideung), karena batang dan daunnya berwarna unggu gelap.

Talas memiliki kandungan gizi yang baik untuk kesehatan terutama pencernaan, karena granula patinya tergolong kecil dan kadar seratnya yang cukup tinggi. Di Hawai dan kepulauan Pasifik, talas telah digunakan sebagai makanan pendamping ASI.

Namun, talas memiliki getah (orang Jawa Timur menyebutnya ‘dadak’) yang sangat banyak pada umbinya. Saat dikukus atau direbus, teksturnya cenderung lembut dan pulen, tapi berlendir. Nilai karbohidrat yang cukup tinggi, dapat menjadikan talas sebagai sumber makanan pokok pengganti beras.

Kadar air yang cukup tinggi (62%) dan penanganan pasca panen yang tidak benar dapat menyebabkan talas mudah rusak oleh mikroorganisme.

Tanaman Talas

Talas

6. Kimpul

Tanaman kimpul (Xanthosoma sagittifolium) merupakan makanan pokok alternatif di berbagai daerah Indonesia, baik dengan cara dikonsumsi langsung dengan cara dikukus, dipanggang, atau direbus.

Tanaman kimpul termasuk salah satu komoditas sebagai sumber karbohidrat yang sampai sekarang masih belum mendapat perhatian baik dalam pembudidayaan atau dalam proses pengolahan. Kandungan karbohidrat dalam kimpul berkisar antara 70-80%, dikutip dari dkp3.banjarbarukota.go.id.

Ukuran dan bentuk kimpul bergantung pada jenis bahan tanam dan juga faktor ekologi, terutama karakteristik tanah. Di daerah dataran tinggi biasanya kimpul berbentuk bulat agak memanjang. Tanaman ini terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kulit, korteks, dan inti. Kulitnya halus, berserat dan tertutup oleh sisik.

Tanaman ini dapat tumbuh hingga dua meter atau lebih. Daunnya berbentuk seperti anak panah, tebal, dan tangkai daunnya panjang. Panjang tangkainya bias mencapai dua meter atau bahkan lebih, dengan bilah yang panjangnya mencapai satu meter hingga lebar 0,7 meter

Kimpul (makanan pengganti) dan kunir asem (minuman kesehatan), sarapan kedua pagi ini (27/6)

Dalam dunia industri penggunaan tepung sebagai bahan baku industri pangan atau industri lain meningkat setiap tahunnya.

Pemanfaatan umbi-umbian lokal sebagai tepung dapat menjadi alternatif dengan mengetahui sifat fisik kimia dan karakteristiknya, sehingga kimpul dapat diolah menjadi tepung yang dapat diaplikasikan menjadi beragam produk makanan.

Kimpul dapat digunakan untuk membuat berbagai jenis makanan ringan, seperti krupuk, kripik, stick, perkedel, emping, atau bahkan hanya direbus saja.

Bobot dari kimpul yang dapat digunakan adalah 80% per 100 gram serta menghasilkan energi sebesar 145 Kal.

Kandungan gula dan lemaknya yang cukup rendah membuat kimpul cocok dikonsumsi oleh pasien dengan diabetes, jantung, osteoporosis, dan hipertensi.

Kimpul juga baik untuk kesehatan gigi karena memiliki sifat basa sehingga tidak merusak gigi

Tanaman Kimpul

7. Uwi

Uwi …. panen sendiri (bundanya Naufal – panen kita hari ini 26/9)


Halaman berikutnya Suweg, Porang, Iles-iles

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.