isolasicoronaseries
Episode 4
PINDAH LANTAI
Saat masuk rawat inap pertama di RS Pasarminggu aku dibawa ke lantai 9. Satu ruangan bertiga, perempuan semua. Yang lain lumayan pendiam, sibuk dengan diri mereka sendiri.
Tapi tak lama kami saling kenal nama, meski kemudian diam-diaman lagi. Sebut saja mereka A dan B.
Si A rupanya terpaksa meninggalkan bayinya karena semua gejala covid muncul. Aku lihat dia sering memompa ASI nya. Aku juga memperhatikan dia video call dengan anak-anaknya.
Terbayang penderitaannya harus meninggalkan bocah-bocah apa lagi masih ada yang seharusnya nenen, di rumah. Aku lebih bisa berkomunikasi dengan A ini karena barengan masuk IGD dan bed kami bersebelahan.
Sementara B adalah istri pekerja kapal pesiar. Hanya itu yang aku tangkap dari pembicaraannya dengan perawat. Selebihnya aku buta karena tidak banyak berkomunikasi dengannya.
Hanya sehari di lantai 9, sorenya aku dan A dipindah ke lantai 10. Deg-degan dong. Kenapa dipindah.
Jangan-jangan kami dicurigai benar ke arah covid. Saat aku tanya ke perawat kenapa kami dipindah, dia diam seribu bahasa.
Dia menyibukkan diri mengemasi barang-barang kami. Kami didudukkan di kursi roda. Barang kami pangku dan kami berdua didorong menuju lift.
Proses pindah lantai ini seru.
Mari aku gambarkan layout lantai itu sejauh tangkapanku.
Lantai 9 ini terbagi atas 2 kelompok ruangan. Sebut saja Sayap Barat dan Sayap Timur. Antara keduanya inilah terletak lift. Kalau tidak salah ada 5 lift.
Empat lift saling berhadapan, dan lift ke 5 terpisah. Antara Lift dengan Sayap Barat dan Timur dibatasi pintu, yang meskipun transparant karena pakai kaca, tapi cukup menutup rapat batas ruang.
Kursi roda kami berdua dari SayapTimur. Pas mau buka pintu menuju lift, security yang berada di bagian lift berteriak supaya perawatan yang mendorong kami untuk menunggu.
Rupanya ada orang keluar dari lift akan berurusan di lantai itu. Security, yang memang tidak menggunakan APD segera mengarahkan orang itu masuk dulu ke pintu emergency/exit tangga.
Setelah itu security masuk ke Sayap Barat jadi tetap bisa melihat kami dari balik kaca.
Ini gambaran situasinya:
“Stop, ada yang keluar dari lift!”. Suara langkah berderap, bergegas dan pintu terbuka dan tertutup lagi.
“Oke, sudah. Silakan keluar…!”
“Pakai lift berapa?”
“Lift 3…!”
Dan barulah kami diperbolehkan keluar dari Sayap Timur menuju lift yang terpisah, untuk ke lantai 10. Semuanya dilakukan dengan cepat, bergegas dan terkesan buru-buru.
Hadhuh, proses pindah lantai ini menurutku seru. Ada pengaturan. Ada instruksi-instruksi yang harus diikuti, supaya meminimalkan paparan. Teriakan-teriakan security mengatur flow lalu lintas kami. Instruksinya disampaikan tegas. Mendebarkan.
Saat di lift itulah pertanyaanku dijawab oleh perawat. Bahwa yang dipindahkan ke lantai 10 adalah yang lebih stabil kondisi kesehatannya. Lega rasanya.
Di lantai 10, aku dan A dimasukkan ke kamar yang berbeda. Dia di kamar 1001, sementara aku masuk kamar 1002. Di ruangan baru inilah aku nanti bertemu dengan roommate yang luarbiasa. Kisah berlanjut.
#isolasicoronaseries
#sedangberlangsungsaatini
Ya Allah.. dua kematian di depan mataku…
*gemeteran belum bisa cerita *
#isolasicoronaseries
#updateterkini
Saat ini di ruang isolasi, aku ditinggal dengan dua jenazah di depanku.
Menyaksikan mereka sakaratul maut dalam waktu berdekatan itu sesuatu banget.
*Gemeteran… *
#isolasicoronaseries
Episode 5
DUA PASIEN SERUANGANKU DIJEMPUT MAUT
Cerita tentang dua roomateku yang luarbiasa di ruang isolasi covid aku tunda dulu. Mereka saat ini sudah keluar dari rumah sakit dan sedang isolasi mandiri.
Aku ingin bercerita dulu tentang dua pasien yang jadi ‘teman’ baruku dua hari ini. Pagi ini mereka dijemput maut dalam waktu berdekatan. Jenasah keduanya masih bersamaku di ruangan isolasi.
Ini bukan kematian yang terjadi pertama kali di depan mataku. Dulu kelas 5 SD aku menghadapi sakaratul maut eyang putriku. Jadi bukan hal baru.
Kondisiku saat ini baik-baik saja. Soal jenasah, nggak apa-apa kok. Aku tidak takut ditinggal sekamaran sementara ini. Aku tahu suster sedang menghubungi keluarga mereka. Aku hanya kudu sabar saja.
Aku juga dalam kondisi siap kalau mau diambil Gusti Allah. Wis pasrah. Tapi asli. Saat ini aku sehat. Tidak ada keluhan berarti.
Jadi aku menulis ini dalam keadaan baik-baik saja. Hanya tadi lumayan gemeteran karena emosional, kok iya gerak cepat betul malaikat maut menjemput keduanya… hanya hitungan menit dan terjadi di depanku.
Sarapan belum aku sentuh. Ora kolu. Nggak bisa nelan. Nggak apa-apa. Aku juga tidak merasa lapar. Apapun, aku masih termangu dengan kejadian pagi ini.
Seperti biasa pagi ini suster masuk jam 05.00 WIB. Membawakan sarapan dan obat pagi. Dia meletakkan sarapan dan obat di meja kami masing-masing.
Mejaku, meja sebelahku dan meja pasien seberangku.
Bersamaan, pasien sebelahku memanggil dia, sebut saja namanya LIA.
“Suster, seseg..”
“Baik Bu Lia, sebentar ya,” ujar suster yang kemudian menghampirinya. Memasangkan selang oksigen. Tapi, kemudian dia bergegas keluar ambil selang lain dan ventolin, dan segera memasangnya ke Lia.
Setelah selang ventolin terpasang baik, suster beranjak ke pasien seberang. Sebut saja namanya SRI.
“Bu Sri, Bu Sri… Maaf ya mau memasukkan susu lewat selang,”
Sri ini saat masuk dua hari lalu sudah dalam keadaan tidak sadar. Stroke. Meski tak sadar, hari pertama gelisah. Kaki dan tangannya bergerak terus meski lemah. setiap suster visit, namanya dipanggil sudah tidak merespon.
Hari berikutnya Sri lebih tenang. Dari jauh aku lihat nafasnya masih ada. Saat suster visit pun nadinya masih bagus, hanya suhu tubuhnya tinggi.
Semalam jam 23.00 WIB, tensinya masih bagus. Suhunya sayang masih tinggi. Dan pagi ini jam 05.00 pagi, susunya tak jadi dituang lewat selang infus.
Suster malah bergegas mengambil EKG dan alat-alat lain. Suster kedua merendenginya.
Keduanya segera disibukkan dengan Sri. Semua alat mengindikasikan penurunan fungsi tubuh. Dari dialog kedua suster aku menangkap tensinya tinggal 60/30 dan terus drop. Tingkat oksigennya juga drop.
Dari kejauhan aku tahu Sri sedang meregang ajal. Hatiku mencelos. Tidak pernah mudah melihat kematian di depan mata.
Aku alihkan ke Lia. Nafasnya tersengal tapi masih teratur. Ventolin masih dihirupnya. Entah kenapa, hatiku mengatakan dia juga akan ‘hilang’. Aku perhatikan semakin lama nafasnya tak beraturan. Kepalanya terkulai.
“Suster, nafas Lia melambat,” ujarku ke kedua suster yang sedang melepaskan peralatan di tubuh Sri. Jelas Sri sudah meninggal.
Mendengar panggilanku, kedua suster langsung menuju ke tempat Lia. Semua alat diboyong mendekat ke tempat tidurnya. Keduanya sibuk memberikan pertolongan. Tapi lagi. Lia juga pergi. Tak bisa terselamatkan.
Hhhh…. narik nafas panjang
Sesaat aku tidak bisa memahami perasaanku. Seperti kebas. Tak merasakan apa-apa. Berikutnya, perlahan otakku mencerna. Ada dua kematian di depan mataku. Berurutan. Hanya dalam hitungan menit.
Tubuhku gemetaran.
Tidak. Aku bukan sedang takut kalau nyawaku diambilNya juga. Aku pasrah kok. Dan aku tahu kesehatanku cukup baik hari ini. Cuma, melihat kematian ganda dengan cara seperti ini tetap meruntuhkan pertahananku. Kepengen nangis rasanya.
Emosional.
Aku tunggu sampai suster selesai dengan kedua jenasah. Melepas semua alat bantu. Merapikan jenasah. Dan akhirnya menutup kain pembatas.
Setelah mereka keluar. Ruangan sepi. Hanya ada aku dan dua jenasah yang senyap. Aku segera menelepon anakku. Nangis.
,*
#isolasicoronaseries
Episode 6
JENASAH DIPULASARA DI TEMPAT
Sedari pagi aku menunggu sendirian di kamar isolasi. Jenasah masih di tempatnya, tertutup kain pembatas.
Aku hanya bisa duduk diam.
Sesekali membalas texting anak-anakku yang kuatir dengan kondisi simboknya ini, juga beberapa teman yang mencoba membesarkan hatiku. Terimakasih untuk semua doa dan semangat kalian. Aku sangat menghargainya.
Sejam…dua jam…tiga jam… Belum juga jenasah dipindahkan.
Waktu segitu terasa lama. Tapi aku juga jadi punya kesempatan merenung. Betapa hidup ini singkat. Kita tidak punya kuasa apa-apa kalau takdir kematian sudah jatuh.
Rayakan lah hidupmu sebaik-baiknya, Nina. Berguna lah untuk yang lain meski sekecil apapun.
Jam 11.30 WIB, kunci pintu dibuka. Empat orang masuk. Rupanya mereka yang akan memindahkan jenasah. Salah satu permisi menutup kain pembatasku, agar aku tak perlu melihat mereka memprosesnya.
Dari balik pembatas aku mendengarkan semua. Dan ini yang bisa aku tangkap berdasarkan indera pendengaranku:
Mereka mentayamumkan jenasah, mengafani, membungkusnya dengan plastik, memasukkannya ke peti mati, dan menyemprot peti mati dengan desinfectant. Semua dilakukan di kamar. Barulah peti mati didorong keluar.
Kematian…
Semoga waktuku masih cukup untuk melihat anak-anakku menjadi orang. Semoga hidupku memberikan manfaat bagi orang lain.
Rayakan lah hidupmu teman.
Selagi kau bisa, syukuri kehidupan.
Jangan habiskan waktu untuk menghujat dan mencerca. Berbuatlah.
Selagi waktumu ada.