Arsip

Jagong Jeget Aceh, Transmigrasi 39 Tahun Lalu 16 Februari 1982

Di ujung jalan masuk lorong seorang petugas dari UPT Transmigrasi menyambut kami yang sedang menuju ke rumah yang telah disediakan oleh pemerintah, para kepala keluarga sudah mengantongi nomor rumah hasil undian di transito tempat kami menginap semalam di kabupaten.

Kehadiran transmigran di Kabupaten Aceh Tengah angkatan pertama di lokasi Jagong Jeget tahun 1982 disambut oleh Bupati Aceh Tengah, Beni Bantacut. Ketika menuju ke lokasi trans di ibu kota kecamatan Linge Isak juga disambut oleh Camat dan jajarannya dan kami disuguhi tarian adat.

16 Februari 1982 Jagong Jeget

Setelah itu rombongan mobil bus yang membawa orang dan truk pembawa barang pun melaju ke lokasi trans yang dituju.

Suasana di jalan nampak lengang, hutan lebat di sisi kanan dan kiri menambah rasa menakutkan, badan jalan yang masih merah tanpa batu apalagi aspal itu pun dilalui dengan perlahan-lahan.

“Akan dibawa ke mana kami ini,” pikir sebagian orang yang terbiasa hidup di suasana desa yang padat dan ramai ini. Nampak diantara mereka mulai meneteskan air mata.

Tapi diantara mereka juga ada yang tetap tegar, tekad untuk merubah arah hidup yang lebih baik terus menyala, terbayang baginya lahan pertanian yang akan diolah menjadi kebun untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, untuk mengukir masa depan yang lebih cerah, dari pada ia harus kerja merantau ke kota, menjadi kuli bangunan atau apa saja yang kadang berujung buntung dan tak pasti.

“Bapak rumah nomor berapa?” sapa petugas UPT Transmigrasi ramah. “Nomor 3 Pak,” jawab ayahku. “Itu, Pak!” balas Pak Iwan sambil menunjuk ke arah rumah yang dimaksud.

Warga trans mengetahui nama Pak Iwan setelah berinteraksi bila ada keperluan di kantor UPT Transmigrasi Jagong Jeget.

Kami tiba di lokasi Jagong Jeget tangal 16 Februari 1982. Dan oleh pemerintah Kecamatan Jagong Jeget dijadikan sebagai Hari Jadi Jagong Jeget yang biasanya dibuat acara ulang tahun.

Tak seindah yang dibayangkan. Ternyata lahan pertanian yang akan kami garap bukan siap tanam, tumpukan kayu gelondongan berserakan di sekitar rumah yang akan kami huni, bahkan hampir saja rumah itu tak kelihatan, batang kayu besar menjadi sebuah pemandangan yang mengerikan sekaligus mengagumkan.

Betapa suburnya hutan ini, sehingga bisa menumbuhkan batang kayu besar berdiameter 1-2 meter.

Kembali ke kampung sepertinya tak mungkin. Karena warga trans harus patuh pada aturan, tidak boleh keluar dari lokasi, selain itu jarak lokasi yang sangat jauh dengan pusat kota kecamatan.

Dan tekad yang kuat nampaknya tak luntur, tantangan dan hambatan bahkan menjadi motivasi untuk mewujudkan cita-cita. Bekerja, berdoa, dan bersyukur atas nikmat Allah adalah sesuatu yang harus dilakukan bagi setiap insan agar hidup nyaman.

Selamat Ulang Tahun Jagong Jeget yang ke-39.

Oleh Ahmad Dardiri*)

*Salah satu putra Tgk H Chusain Turmudzie (Ketua Rombongan Trasmigrasi Pertama dari Kab. Cilacap di Jagong Jeget).

Telah terbit di disnakermobduk.acehprov.go.id dengan judul Memori 39 Tahun Yang Lalu : Catatan Tentang Jagong Jeget

diunggah oleh Lik Kasjo
editor Eswedewea

Kategori:Arsip, PATRI, transmigrasi

Tagged as: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.